194 baris pertama.
Hei, jangan mentang-mentang kau kaya, semuanya kau uangkan!
Kau kenapa tidak suka yang manis?
Aku lupa. Kau sudah manis, ya?
Apa?
Pergi.
Jangan mendorongku.
Ponsel lagi?
Berarti yang ini dari siapa?
Kau pilih yang mana?
Lily mau kembalikan ini.
Berarti aku harus menjadi Jourdy dulu agar kau mau menerima?
Seharusnya aku berubah, ya.
Dunia ini sudah berubah.
Termasuk kau.
Aku mau menantangmu balapan.
Pergi sama siapa?
Bibi.
Coba kau cerita. Memikirkan siapa?
Jourdy?
Kau adalah perempuan tercantik...
yang pernah aku temui dari dulu, sampai sekarang, dan sampai nanti.
Temanmu itu memang suka sekali mencari masalah.
Seperti itu terus.
Kawan, tenang. Kau kenapa marah-marah terus?
Pertama, aku bukan kawanmu.
Dan yang kedua, aku tidak marah-marah terus.
Aku cuma marah-marah di depanmu.
Baik. Aku minta maaf, ya.
Apa pun alasanmu yang membuatmu sangat membenciku...
sampai selalu marah-marah kepadaku,...
aku minta maaf.
Aduh, sudah, tidak usah berlebihan.
Kau ingat taruhan kita barusan?
Ingat.
Begini.
Aku ingin kau melakukan hal yang tak pernah kau lakukan sebelumnya.
Maksudmu?
Aku ingin kau bekerja.
Kau ingin aku bekerja apa?
Ya, pokoknya kerja.
Akhir pekan ke rumahku saja.
Nanti aku berikan alamatnya.
Kak.
Kenapa kau biarkan?
Sudahlah, Lily senang, Mira.
Kau tidak paham juga, ya?
Aku sudah berkali-kali bicara begini kepadamu.
Mira, Lily sudah besar.
Dan dia tak akan sepertimu.
Kita pulang.
Bisalah ajari.
Bisa.
Itu maksudnya apa? Agar aku takut?
Jourdy itu tak serius melawanmu. Dia membiarkanmu menang.
Terus, salahku kalau dia bodoh?
Kau itu kenapa?
- Harus berlagu sekali jadi... - Jadi apa?
Jadi perempuan?
Memangnya kalau perempuan mengalahkan laki-laki...
itu artinya berlagu?
Bung, ini tahun 2021, bukan Abad Pertengahan.
Kau itu masih anak baru, Gia.
Hati-hati.
Ribet hidupmu!
Dasar pecundang!
Lily.
Astaga, dia malah tidur.
Lily.
Sudah sampai.
Kenapa turunnya di sini?
Ya, sudah sampai. Ini rumahmu.
Tak mau sekalian depan kamar saja? Lily mengantuk.
Ya...
Ya, tak enak dengan ibumu. Nanti ibumu bangun.
- Ayo, turun. - Berkeliling lagi, yuk.
Mau ke mana?
Karena cuma di sini aku tak merasa jauh denganmu.
Besok, ya.
- Dah. - Awas menabrak.
Lily.
Sebentar.
Aku cuma mau bilang...
kalau aku tak pernah marah soal kolam renang.
Bagus. Aku lega.
Jourdy, jangan berjauhan lagi, ya.
Tak enak rasanya.
Ya.
Aku juga tak suka berjauhan denganmu.
Sukanya berdekatan.
Dari mana kalian? Kenapa baru pulang jam sebegini?
Habis nonton Jourdy balapan, Bu.
Tadi Lily perginya sama Jojo.
Jojo mana?
Ya sudah.
Lily masuk, ya.
- Mandi, terus tidur. - Baik.
Dah, Jourdy.
Maaf, Bibi.
Aku tak bisa jaga kesepakatan kita.
Kalau laki-laki sudah tak bisa pegang janji,...
jadi anak-anak lagi saja.
Aku sudah coba menjauh dari Lily, Bibi.
Aku sudah tolak ajakannya. Aku sudah coba jaga jarak, tapi...
Artinya pendirianmu gampang berubah.
Aku bisa berjanji aku akan menjaga Lily, Bibi.
Bagaimana kau bisa berjanji menjaga anak Bibi...
kalau kau saja tak bisa menjaga ibumu sendiri?
Ya, tapi...
Aku minta kesempatan satu kali lagi, Bibi.
Sebagai?
Sahabat...
atau pacar?
Pertanyaan segampang itu saja kau tak bisa jawab.
Bagaimana kau menjaga anak Bibi?
Anak satu-satunya Bibi.
Kau pulang saja, ya.
Terima kasih sudah mengantarkan Lily.
"Aku juga tak bisa jauh darimu, Lily."
Tidak ada ikan asinnya.
Pasti enak!
Anak Ibu masak.
- Hai, Bu. Aku masak. - Masak apa? Kenapa pintar?
Nasi goreng.
- Ibu dapat? - Dapat.
- Asyik. - Untuk Ibu.
- Baik. - Coba, Bu.
Kenapa kau bawa dua?
Untuk siapa?
Itu Jourdy sudah jemput.
Lily berangkat, ya?
Hati-hati, ya.
- Jangan lupa diulas. - Pasti.
- Dah. - Dah.
Selamat pagi.
Semangat sekali.
Aku ada kejutan untukmu.
- Apa? - Nanti saja. Nanti siang.
Misterius. Ini, pakai helm.
Astaga.
=I Love You Silly=
Gila!
Sial.
Sudah, kalian mendingan pergi. Sudah terlambat ke kelas ini.
Masuk!
Akhirnya satu sekolah tahu, ya.
Kalau kalian menang gara-gara dibantu perempuan.
Ini kenapa bisa jadi begini, Pak?
Mading ada di sini dan hasil rekaman CCTV juga ada di sini.
Aku sudah memeriksa hasil rekaman CCTV di ruangan sekuriti, Bu.
Anak baru yang rambutnya pirang. Dialah yang melakukannya.
Kita lapor Pak Jimmy.
Sialan.
Awas sampai Lily kenapa-kenapa.
Lily.
Lily.
Kau sudah tahu soal mading di depan?
Mira.
- Gia keren banget, ya? - Keren apanya?
Mencurigakan, tahu.
Kau tahu Jourdy dikerjai oleh siapa?
Jourdy!
Astaga, aku lupa.
Aku tadi pagi masak nasi goreng untuk dia makan siang.
Coba.
Coba, ya.
Enak, 'kan?
Kenapa?
Garamnya kebanyakan.
Sengaja.
Karena dia suka sekali nasi goreng ikan asin.
Aku tak punya ikannya, tapi yang penting asin.
Baik.
Lily.
- Aku lagi bahas Gia. - Ya.
Gia kira-kira buka pendaftaran atau tidak, ya?
Buat apa?
Buat jadi anggota gengnya. Mau.
Aku tanya.
Tak usah.
Kau di sini saja. Aku yang tanya.
Tanyakan bayar berapa.
Asin sekali.
Maaf. Kalian bukan anak sini, 'kan?
Pergi.
Kau dipanggil BP?
Belum.
Tapi sepertinya sedikit lagi.
Gara-gara mading di depan?
Pastinya.
Biasanya aku lumayan bisa baca orang.
Tapi aku akui, kau sama sekali tak bisa kubaca.
Kau buta huruf mungkin.
Lucu.
Tapi tak mempan untukku.
No comments yet. Be the first to leave one.