A Series of Unfortunate Events

A Series of Unfortunate Events

Unduh Subtitle Indonesian

Musim 2

Informasi rilis

A Series Of Unfortunate Events S02E02 - The Austere Academy Part Two WebRip
Komentar oleh atonim
In a world too often governed by corruption and arrogance, it can be difficult to stay true to one's philosophical and literary principles.

Tag

webrip
web
BRip
TS
Diterbitkan pada: 2018-04-02
Unduhan: 35
Tuna Rungu: No

Pratinjau subtitle Indonesian

200 baris pertama.

A Series Of Unfortunate Events S02E02 The Austere Academy Part 2

Berpalinglah, berpalinglah.

Berpalinglah, berpalinglah.

Acara ini akan merusak siangmu, seluruh hidupmu dan harimu.

Setiap episode hanya mengecewakanmu.

Jadi berpalinglah. Berpalinglah, berpalinglah.

Di sekolah, yatim piatu Baudelaires dipaksa tinggal di gubuk tua.

Kenyamanan, kesenangan dan keselamatan termasuk yang tidak ada.

Mereka sering berlari, yang membuat mereka bugar.

Tapi kau yang harus ambil peluang ini untuk kabur.

Berpaling saja, berpalinglah.

Hanya ada horor dan kesusahan di sepanjang jalan.

Tanya orang waras "Haruskah kutonton?" Dan mereka akan katakan...

Berpalinglah, berpalinglah, berpalinglah.

Berpalinglah, berpalinglah.

Berpalinglah, berpalinglah.

Siapa yang tidak bisa kalah?

Kuda mati!

- Siapa yang tidak bisa kalah? - Kuda mati!

Siapa yang tidak bisa kalah?

Kuda mati!

- Siapa yang tidak bisa kalah? - Kuda mati!

"Jiwa Sekolah" adalah istilah menarik.

Frasa itu mungkin terdengar seperti...

tentang hantu atau roh orang mati...

yang menghantui sebuah tempat pendidikan...

seperti permen karet tua yang menempel pada lemari trofi ini.

Makna "Jiwa Sekolah" sebenarnya...

adalah kepercayaan bahwa sekolahnya sendiri lebih baik dari sekolah lain.

Sekolah kita lebih baik dari sekolah lain!

Tapi, seperti yang akan diketahui Baudelaires nantinya,

ada hal lebih buruk yang bisa menghantui sekolah.

Aku suka energinya. Aku suka!

- Baik, Semuanya, duduk diam. - Duduk diam?

Apa kalian dengar perkataan Wakepsek Shapiro?

- Nero. - "Duduk diam."

Betapa sering kudengar kata itu...

keluar dari telinga orang lain dan masuk ke mulutku.

"Diam," kata yang berarti "berhenti berusaha,"

dan "duduk," kegiatan mengarah turun yang tidak kusuka.

Biar kuceritakan sebuah kisah.

Beberapa tahun lalu, seorang wanita datang meminta bantuanku.

"Pelatih Genghis," dia bilang padaku,

"Aku orang gagal. Pengangguran. Kehidupan asmaraku kacau.

Aku tidak bisa menurunkan 9 kg berat badanku.

Aku yakin itu seperti kalian semua, bukan?

- Mereka anak sekolah. - Tepat sekali.

Dan apa yang kukatakan padanya? Menurut kalian kusuruh dia duduk diam?

Jawab aku, Bocah-bocah!

Menurut kalian kusuruh dia...

duduk diam?

- Mungkin tidak! - Mungkin tidak!

Benar sekali.

Aku menyuruhnya berdiri.

Menyuruhnya melaksanakan dan bertindak.

Aku menyuruhnya menempatkan mata di awan dan kakinya di bintang.

Apa kalian tahu apa yang terjadi?

Dia mati dalam kebakaran misterius.

- Tunggu, apa? - Duduk diam adalah tindakan pengecut.

- Tapi wanita yang tadi kau ceritakan... - Duduk diam memulai Perang Dunia I.

Baik, tapi ceritamu tadi...

Duduk diam adalah yang terjadi saat kau gigit bibirmu

dan bibirmu bengkak, jadi kau gigit bibirmu lagi...

lalu kau terus-menerus menggigit bibirmu.

Aku tidak mau itu.

Apa kalian mau itu, Sekolah Prufrock?

- Tidak! - Mulai permainan biolanya!

Seluruh sekolah tertipu oleh penjahat sinting.

Itu selalu terjadi saat apel penyemangat.

Hanya ini peluang menghentikannya. Sunny, tetap di sini.

Semoga berhasil!

Hentikan musiknya.

- Semuanya, tolong dengar! - Beraninya kau menyela jenius!

Dan pemain biolanya.

Pria ini bukan jenius. Pria ini penipu.

Yang benar "ahli improvisasi."

Guru olahraga ini adalah penjahat bernama Count Olaf.

Selama dia di Prufrock, tidak ada yang aman.

Itu tidak benar. Kau iri.

Singkirkan mereka dari panggung,

dan aku akan mulai tarianku dengan putaran ekstra.

Bagus sekali, pemandu sorak imut.

Pria ini Count Olaf. Kami bisa buktikan.

Baudelaires tampaknya orang yang jujur dan baik.

Kita harus dengar apa yang akan mereka katakan.

Duduklah.

Count Olaf, yang dicari polisi...

atas penipuan, pencurian, pembunuhan dan membahayakan anak-anak.

- Dan pembakaran. - Yang punya satu alis bukan dua.

Tidak ada salahnya berbulu tebal.

Jika kubuka bajuku sekarang...

- Jika Count Olaf lepas serbannya... - Tidakkah dia hebat, Semuanya?

Sayangnya dua alis mataku yang indah akan tetap...

di bawah serban ini, yang kupakai untuk alasan agama.

Dan agama apa itu?

Rekonstruksionis Judaism.

Rekonst... ism. Iya, itu.

Aku tidak akan pernah memintamu melepas serbanmu.

Aku menghormati agamamu, tapi yatim piatu itu tidak.

Olaf juga bisa dikenali dengan tato mata di pergelangan kakinya.

Tubuhku adalah kuil, Anak muda.

Aku tidak akan menodai kulitku seperti anak muda zaman sekarang

dengan gaya hidup hedonis penuh musik kencang dan pantangan.

Kenapa tidak kau lepas sepatumu untuk membuktikannya?

- Tentu tidak. - Apa untuk alasan agama juga?

Bukan, karena melepas sepatu dan kaus kaki sangat jorok.

Kita bisa bandingkan Genghis...

dengan foto Olaf di The Daily Punctilio.

Kau terdengar seperti pustakawan membosankan.

Ditambah, kita tidak butuh koran...

kini kita punya sistem komputer canggih.

Oh. Maksudmu komputer itu.

Dia berkeringat. Dia gugup.

Tidak, tidak benar. Aku punya pori-pori besar.

Bisa kau dan pori-porimu tolong berdiri...

di depan alat elektronik yang sangat mahal ini...

dan menyelesaikan masalah ini untuk selama-lamanya?

Aku...

Ini mengingatkanku pada sebuah kisah.

Ini bukan Count Olaf.

- Lihat? - Ya, lihat?

Kurasa kita perlu demokrasi,

jenis pemerintahan nomor 2 yang paling kusuka.

Berapa banyak dari kalian yang mau dengar tuduhan melelahkan...

yang diarahkan pada pria tidak bersalah dari yatim piatu?

Selidiki lebih lanjut!

Kami minta masalah ini diperiksa dengan teliti.

Dan siapa yang mau dengar program menarik baru...

yang akan meledakkan semangat sekolah kalian?

Murid-murid! Anggota fakultas!

Jangan cemas jika setiap program latihan yang kalian coba gagal...

karena aku di sini untuk semakin menggagalkan kalian...

dengan meletakkan "cambuk" ke "mencambuk kalian hingga bugar."

Semuanya, berdiri, dan mari coba sesuatu...

yang kuciptakan di satu malam sunyi di perhentian truk, namanya melompat.

Ini dia. Siap?

Satu! Dua! Oke. Baik. Baik.

Mari istirahat.

Jangan sampai urat kalian tertarik.

Oh, Tuhan, bisa seseorang katakan, "Kelas dibubarkan...

untuk air es dan mengambil napas?"

Aku tahu. Aku tidak apa. Hanya butuh waktu sebentar.

- Tapi... - Apa?

Apa?

Ya. Oh.

Ya! Ya! Satu hal terakhir.

Seperti yang diketahui semua orang yang pernah ke SMP,

yatim piatu seringkali punya tubuh kurang sehat,

yang menyebabkan paranoia, delusi, dan kekayaan yang belum dimanfaatkan.

Itu sebabnya kukembangkan Latihan Lari Spesial Yatim Piatu.

Atau disingkat L.L.S.Y.P.

Yang akan kutawarkan kepada murid tertentu saja.

Bisa tolong para yatim piatu berdiri?

Baik, baik.

Aku memilih...

kau.

Dan...

oh, kau.

Dan bayi sekretaris yang sering kudengar namanya.

Asisten administratif.

Kalian bertiga akan datang ke lapangan saat malam...

dan setiap malam hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Itu bukan berarti kalian boleh absen dari permainan biola malamku.

Kalian akan berhutang permen kepadaku.

Itu dia kepemimpinan yang kumaksud.

Kau jenius.

- Kau jenius karena menyadarinya. - Kau jenius karena mengatakannya.

- Kau jenius karena setuju. - Baik, aku yang jenius.

Sial! Semuanya bubar! Apel ini selesai.

Apa pun rencanamu, Count Olaf, kami akan menghentikannya.

Benarkah?

Karena jika kalian memang mampu menghentikanku,

kita tidak akan memiliki kumpulan episode dalam hidup barumu ini.

Orangtua kalian sungguh tidak mengajari kalian apa-apa.

Mereka mengajari kami cara bertahan hidup.

Kurasa bagi yang tidak bisa, harus mengajar.

Sampai jumpa saat malam.

Dia menemukan kita lagi. Dia selalu muncul untuk mencuri harta kita.

Bagaimana dia bisa dapat harta kita sebagai guru olahraga?

Ada tipuan yang bersembunyi dalam setiap program latihan.

Aku tidak percaya dia menipu semua orang lagi.

Tidak semua orang.

Jangan cemas, Baudelaires. Jangan merasa malu.

Kembar tiga Quagmire sedang menyelidiki kasus ini.

Kalian baik dan ramah, tapi kalian tidak boleh terlibat.

Violet benar. Olaf terlalu berbahaya.

Dia terlalu berbahaya untuk dihadapi sendirian.

Kita bisa kabur. Kita semua.

Orangtua kami pemilik toko Quagmire Sapphires yang terkenal,

jadi saat kami dewasa, kami bisa hidup mandiri.

Kita belum dewasa. Lagipula, kami pernah coba kabur...

dan berakhir bekerja di pabrik kayu. Count Olaf masih menemukan kami di sana.

Itu foto orangtua kami.

- Orangtua kami juga. - Mereka benar saling mengenal.

Kami punya foto ini di perpustakaan kami. Kami tidak pernah memperhatikannya.

Aku yakin ada misteri lain yang tidak pernah kita perhatikan.

- Misalnya teropong. - Atau buku.

Kita harus bertahan cukup lama untuk menemukannya.

Pustakawan bilang untuk kembali satu atau dua hari lagi.

Kita tidak punya waktu. Ini sudah hampir malam.

More Indonesian subtitles for A Series of Unfortunate Events

Komentar

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left