200 baris pertama.
Tomas, kenapa kamu lama sekali?
Papi!
Iya, kenapa? Kenapa Diah?
Masuk rumah, masuk rumah! Mami, masuk! Bawa anak-anak.
Dimana keluargamu yang lainnya?
Cuma kita, tidak ada anak lagi.
Kamu bohong! Huh!
Bakar rumahnya!
Jangan! Jangan! Jangan, pak!
Jangan... Tolong, tolong, Tuan.
- Papi... - Papi...
Papi bangun!
Kamu sudah kasih tahu Amir?
Belum. Aku masih menunggu waktu yang tepat.
Dia itu nggak bodoh. Dan perut kamu sudah kelihatan.
Aku mau pastikan dulu.
Sudah berapa lama mualnya?
Dua minggu.
Memangnya, Amir nggak mau punya anak?
Omongannya hanya seputar revolusi...
Angkatan bersenjata.
Dasar laki-laki! Kalau bicara soal revolusi lancar...
Giliran disuruh bantu-bantu rumah, nggak becus.
Mas Amir, pulang cepat?
Maaf, boleh permisi sebentar?
Ada masalah penting.
Iya, tidak apa-apa.
Makasih, ya.
Aku ada berita penting.
Aku juga... Tapi mas dulu lah.
Begini... Mulai hari ini, aku terdaftar sebagai calon perwira.
Iya, aku paham. Mungkin ini bukan yang kamu mau.
Tapi aku pikir kamu bangga.
- Mas. - Melati.
Ini awal lahirnya Republik...
Dan layak kita perjuangkan.
Kenapa mas yang harus berjuang?
Bagaimana aku bisa menyebut diriku laki-laki...
... kalau aku tidak ikut berjuang?
Mas itu kan guru, bukan tentara.
Ya, memang baru calon, tapi aku yakin bisa.
Aku kira...
kita sudah siap punya anak.
Melati...
Justru ini aku lakukan untuk anak-anak kita.
Biar anak laki-laki kita itu merdeka.
Atau anak perempuan kita.
Lagipula, ini saat yang tepat untuk aku berjuang.
Mumpung aku masih muda dan belum punya banyak tanggungan.
Iya, kan?
Terima kasih.
Oh, iya. Kamu mau ngomong apa tadi?
Nggak penting.
Aku sudah menjahitkan kancing bajumu yang terlepas.
Terima kasih, Melati.
Kamu tahu betul, aku suka sekali kemeja ini.
Tapi aku lebih suka sama kamu.
Sepatuku mana, ya?
Aku tak percaya, kamu akan menjadi tentara.
Apalagi setelah apa yang terjadi pada papa dan mama.
Sudahlah! Kita kan sudah sepakat untuk tidak membicarakan itu lagi.
Memangnya mbak mau, kita jadi seperti mereka?
Bukan begitu, No.
Kamu itu adikku satu-satunya.
Setelah mama dan papa tak ada...
Kamu seharunya, tidak mengatur-atur aku.
Aku yang seharusnya mengatur dan mengurusmu.
Sekarang ini, aku yang jadi kepala keluarganya.
Mbak?
Bergabung degan tentara itu...
Adalah cara yang paling baik, supaya kita aman.
Lagipula, setelah aku pakai seragam nanti...
Pasti bisa membuat gadis-gadis tergila-gila.
Siapa?
Aku... Marius!
Aku sudah siap... Tunggu sebentar.
Dapat darimana itu?
Harusnya kau bertanya...
Bisa kita apakan botol ini?
Disini, barang itu haram!
Kita bisa diusir...
Aku tahu Soerono...
Tapi tidak ada salahnya kan kita bersenang-senang...
Sebelum kita maju ke medan tempur.
Aku tidak main-main, Marius.
Kapten Taufik itu Muslim yang taat, dan...
Aku, peminum yang taat.
Ikut?
Simpan, tuh.
Tunggu sebentar.
Siapa itu?
Bukan siapa-siapa, cuma teman.
"Kau masih muda, bintang pun bersinar..."
Ganteng... Tapi hati-hati.
Justru yang begitu yang biasanya bikin susah.
Bicara sama siapa kamu?
Bukan siapa-siapa.
Tapi cantik juga.
Ayo kita nikmati, malam terakhir kita, sebelum masuk neraka.
Maaf, bung.
Pakai mata.
Anda bicara apa?
Eh, Marius, sudahlah.
Aku bilang, kalau kau berjalan pakai mata.
Tidak lihat, kau sedang berhadapan dengan Tentara Republik.
Bung, anda ini juga calon perwira...
Sama seperti kita.
Eh, lebih baik kau kembali ke peternakanmu.
Bajumu ini bau kotoran kerbau, kau tahu?
Tai' ayam.
Mintalah baju baru dari ibumu.
Ibumu sedang selingkuh dengan peternakan baumu.
Apa kamu bilang?
Kemari.
Cukup! Cukup!
Gara-gara kamu, kita bisa diusir tadi.
Soerono, sekolah calon Perwira itu...
Hanya untuk orang dari keluarga baik-baik.
Kamu mengerti?
Kamu salah.
Sekolah calon perwira itu untuk pemimpin Marius.
Persis.
Kita yang memimpin, dan orang-orang macam dia mengekor di belakang.
Kamu fikir, dia mau mengekormu?
Ya.
Seperti hari ini, kau akan mengekorku Soerono...
Di tempat minum, kita akan berpesta.
Berikutnya!
Nama?
Tomas Dalamente.
Namamu tidak ada di daftar.
Berikutnya!
Kita di sini untuk bertempur, pak.
Kamu tidak lihat, kami sedang sibuk?
Lebih baik kamu bergabung saja dengan pasukan sipil,
Mereka pasti butuh banyak bantuan. Paham!
Ada apa ini?
Duduk.
Ingin jadi pejuang?
Iya, pak.
Kita bisa bertarung seperti macan, pak.
Kau Kristen?
Ya.
Agamamu mengajarkan, saat musuh menampar pipi kananmu...
Kau tawarkan pipi kirimu.
Benar, kan?
Orang juga diajarkan untuk membayar mata dengan mata, pak.
Seperti yang diajarkan agama bapak.
Baik.
Paraf di sini...
Dan jangan kecewakan saya.
Berikutnya!
Nama?
Saat menunaikan tugas negara,
Kalian posisikan untuk menghormati diri sendiri.
Juga kesatuan ini.
Selain Allah SWT, kalian harus patuh padaku.
Kalian pantang bertindak sebelum ku bilang, "LAKSANAKAN!"
Kalian pantang berbicara, sebelum ku perintahkan, "BICARA!"
Kalau aku bilang, "LOMPAT!"
Kamu perlu tanya, "BERAPA TINGGI?"
Perbuatan kalian tidak bisa ditolerir.
Sersan.
Siap.
Sekarang kalian berdua mendapatkan penghormatan...
Untuk melayani calon perwira...
Yang mulai berlatih di sini.
Tapi, pak...
Saya daftar di sini untuk menjadi Tentara Republik...
Bukan penggali lubang.
Saya pernah kuliah di universitas...
Dia juga.
Universitas?
Baik, kalau begitu kau ajarkan caranya.
Cepat! Cepat!
Ayo, cepat lompat!
Cepat!
Ayo Topan, cepat! Jangan lelet!
Ayo, buruan!
Lari... Lari...
Tiap hari!
Kotor-kotor berdoa.
Bukan Muslim.
Kristen barangkali.
Darimana dia?
Dia nggak cerita banyak.
Sulawesi, kali.
Anjing Belanda.
Mana mungkin bisa jadi lebih baik di sini.
Nggak perlu khawatir, Marius.
Aku dengar dia lumayan, hari ini latihan.
Aku duluan.
Ya, nanti aku menyusul.
Hey, bajingan!
Sudah bung, sudah, sudah! Tak ada gunanya.
Hey, bajingan! Kau kembalikan kalung saya itu.
Marius, sudah.
Siapa yang kau panggil bajingan?
Mana ku tahu.
Aku kasih satu kesempatan...
No comments yet. Be the first to leave one.