200 baris pertama.
Aku kirimin ibumu.
Udah beli roti?
Hei, mau bikin aku marah?
Aku bakal lakuin kok.
Hei!
Sistemnya lagi bermasalah. Harus klik dua kali.
Aku lagi mikirin Arsenal.
Oke, coba kita liat.
Dokter?
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengganggumu."
Aku nunggu dari jam enam, dan adikku lagi tidak enak badan.
Kau mengira kau satu-satunya orang di sini?
- Cuma kau yang ada di sini? - Maaf dokter kalau kamu bisa membantu...
- Tapi apa hanya kau yang ada di sini? - Maafkan aku, Pak.
Keluar dari sini! Nanti giliranmu aku akan...
Maafkan aku, dokter. Tak ada orang lain yang bisa membantu.
Bu. Segeralah keluar. Aku akan memanggilmu nanti saat giliranmu tiba.
Ya Tuhan.
Hei!
Aku tidak peduli sama Fernandes.
Total biayanya 60...
Ada apa denganmu?
Kalau ibu tadi ras murni gimana?
Suada.
- Kamu bakal ngomong gitu ke dia? - Ada apa denganmu?
Cukup. Cukup!
Bagaimana kalau dia bukan gipsi?
Kamu gila! Santai aja, ada apa...
Cowok tidak berdandan seperti itu.
Warna apa yang para cowok kenakan?
Biru, merah muda?
Seorang seniman harus sehat...
Sehat, harus sehat
Cowok ini datang dari mana?
- Kami menemukan dia di kamar Toni. - Iya.
Hai.
Ini mama kau?
Itu mama dan satunya lagi Dita.
Kamu siapa?
Namaku Ali. Hai.
Ini rumahnya, lho.
Dia juga mau tinggal di sini.
Tentu saja dia bisa tinggal.
Senang bertemu denganmu.
Aku mau telepon polisi.
Kenapa?
- Jangan usir dia. - Gak perlu telepon polisi segala.
Tenang saja, dia gak bakal telepon polisi, sialan.
Hei, jangan ngomong kasar!
Aku bisa pergi, tapi Toni... Toni bilang aku harus tetap tinggal.
Aku mau telepon polisi.
- Tapi kenapa polisi? Ini bukan... - Kau siapa, bu?
Jangan biarkan dia pergi!
Dia nggak bakal ngelakuin itu. Dia cuma pura-pura.
Maaf, Bu, tapi Toni bilang aku bisa tinggal untuk sementara.
Maafkan aku.
Rumah ini milikmu dan...
Dia idiot.
Di mana semua cewek bule?
Lagi terkena masalah.
Kata-kata kotor lagi. Itu jelek.
Di Wina?
Di Budapest?
Di sana juga.
Berlin?
Dua kali.
Kau ngeledek aku.
Percaya atau nggak, terserah kau.
Aku nggak peduli.
Omong kosong.
Terserah.
- Masih di situ, si homo? - Wow, tidak mungkin.
Kasih kami rokok, dong?
- Pelan-pelan. - Santai aja.
Biasanya, dua dari tiga orang itu pacaran.
- Tapi kita nggak pernah tahu siapa aja. - Oh, ya?
Orang tua mereka ngusir mereka.
Mereka pasti bohong. Seperti temanmu.
Dita nggak memungut biaya sewa dari mereka.
Untuk teman Toni, itu pasti rekor.
Nggak. Kamu ingat si Kosovar?
Dia tinggal selama tiga hari karena masalah visa.
Ya, tapi dia memang harus tinggal sih.
Dia di sini atas kemauan sendiri.
Sial. Kamu benar. Itu benar-benar rekor.
Tunggu, yang satu ini dari Shutka, kan?
Jadi, dia juga butuh visa, kan?
Astaga, benar. Shutka. Sialan.
Ada masalah dengan Shutka?
Shutka itu hebat. Kayak Paris versi mini.
Ibu kota gipsi dunia!
Shutka pantas dihormati.
Kau masih di situ, Nak?
Toni, kawan. Kita ini bukan PBB.
Dia merasa sebagai patriot dan menerima orang asing.
Macaroni lagi, sialan?
Kau jelek!
- Satu suap lagi. - Nggak.
Kamu yang makan itu.
Aku akan menamparmu.
Bagaimana kalau aku yang menamparmu?
- Toni bahkan nggak mau sama kita. - Berhenti, Mama!
Kamu mau taruhan? Shutka bakal deklarasi kemerdekaan.
Sejenak akan ada perang . Lima belas sampai dua puluh menit maksimal...
lalu masuk Uni Eropa dan kita masih menunggu.
Negara baru itu akan jadi bagian utara Makedonia Utara.
Bekas Republik Yugoslavia dari Kaum Gipsi.
Hei! Jangan ngomong kasar!
- Kata apa yang kasar? "Uni Eropa?" - Bukan, tapi "Gipsi."
- "Uni Eropa" lebih buruk. - Kamu bisa bilang begitu. Beritahu dia.
- Sebagai gadis cerdik mereka menyebutnya kaum Rom, bukan gipsi. - Kamu yang gipsi.
Siapa gadis pintarkum
- Jam berapa sekarang? - Hah?
Tapi kamu benar. Mereka akan masuk Uni Eropa sebelum kita.
Kamu pikir begitu?
Masih mau suapan lagi?
Masuk Uni Eropa? Tentu.
Sialan.
Hei!
Namamu Ali, kan?
Iya. Ali.
Salam kenal.
- Namaku Teuta. - Senang bertemu denganmu.
- Nikahi aku. - Wah.
- Maksud kau apa? - Jadikan aku istrimu.
- Kau terlalu muda untuk menikah. - Karena cinta? Nggak mungkin.
Untuk dapat visa juga nggak sih.
KANKER PANKREAS SALAH SATU CARA PENGOBATAN
Oke, makan malam sudah selesai. Kau sudah selesai?
Jadi? Ali?
Nikahi aku, kawan!
Di daerahku,
kau bisa saja jadi perawan tua.
Di daerahmu? Aku nggak ragu.
- Putar lagu "Healthy". - Shh, Adik kecil!
Ayo jemput aku!
- Bagaimana dengan Amsterdam? - Apa?
- Kamu pernah kesana? - Belum. Ayo kita pergi bareng.
Seperti gampang saja kita ke sana.
Kamlu nggak denger apanyang mereka katakan?
Dengan aku, kalian akan masuk ke Uni Eropa.
Kamu masih bau rokok! Ini ruangan makan tau!
Sialan!
Jangan sentuh, bajingan.
- Ya Tuhan, Nak! - Tapi bu, dia tadi mau mengambil HP-ku!
Nggak sama sekali.
Emang iya!
Nggak, dengarkan dulu penjelasanku. HP-ku sama.
Tidak mungkin! Ini omong kosong.
- Itu tanda. - Tanda apa?
Takdir, kawan. Itu berarti kita memang harus ketemu.
Hati-hati kawan, Vanesa bakal mencuri suamimu.
Nggak, Ali bakal nikah sama aku!
- Dia nggak ngerti apa-apa. - Sudahlah!
Dan aku terlalu muda untuk menikah? Dia lebih muda lagi!
Kamu tahu kan bagaimana. Kita kan gipsi.
Kita nikah muda.
- Kalau kita bisa bilang "gipsi", aku bisa... - Cukup!
Nggak, nggak ada yang bisa. Cuma Vanesa sama aku.
Selesaikan makananmu, sialan.
Kenapa kau memararahi dia?
Ayo ngomong yang jelas di hadapanku, pengecut.
Kau yang ke sini.
Pergi sana, lesbi.
Semoga kau tersendat.
Aku nggak nyangka ini terjadi.
Bikin rambut jadi kuning.
Bagaimana dengan warna ini?
Atau kau mau coba yang ini?
Kami belum selesai.
Kau masih di sini, Nak?
- Ayo. Tidur. - Nggak, kami belum selesai.
Sayang, kita berhenti dulu dan lanjut besok.
- Berjanjilah pada ibumu? - Sumpah demi empat saudariku.
- Kau bilang kau punya lima. - Aku punya empat yang berarti.
Kau juga, yang besar.
Tidur.
Aku mulai jam 10 besok.
Aku nggak peduli.
Kenapa kau bilang mulai jam 10?
Kami bilang jam 7 buat pilates.
Mungkin untuk kau. Bukan untukku.
Kamu mau cari pejantan di Amsterdam dengan bokong seksimu itu?
Aku muak dengan kau.
Aku jadi gay gara-gara kau.
Aku akan hajarmu.
Sumpah, demi Tuhan.
Aku keluar dari kamar Toni pagi ini,
aku lihat wajahmu, dan boom, langsung saja.
Itu dia. Aku akhirnya jadi homo.
Oke, selamat malam.
Ya Tuhan! Aku bilang aku mulai jam 10.
Hei!
Aku bilang jam 10!
Sial. Maaf.
Dia belum pernah lihat perempuan telanjang.
Kau lihat apa?
Tutup putingmu, pelacur.
Apa ini, tempat apa ini?
Apa? Aku telat.
No comments yet. Be the first to leave one.