Le prime 200 righe.
Kau terlambat. Ayo lari.
Pasti tidak nyaman. Kita harus berganti penerbangan,
dan hanya kursi ini yang tersedia.
Tidak ada kelas bisnis?
Bisa turunkan tanganmu?
Maaf.
Maaf kita ketinggalan pesawat karena aku.
Kau akan terus membuat masalah?
Aku ada urusan mendadak.
Masalah penting apa sampai kau membuat semua orang terlambat?
- Aku sudah minta maaf. - Benar sekali.
Jadi, apa yang membuatmu melakukan ini hingga merasa bersalah?
Aku harus menjemur cucian.
Baiklah. Pasti bukan masalah besar jika kau bisa berbohong soal itu.
Jika kau mau mencari alasan seperti ini, bilang saja kau berhenti.
Kenapa kau tidak meninggalkanku? Kenapa mengizinkanku ikut?
Bawel sekali.
Apa kalian berdua pengantin baru?
Kami seperti itu saat seusiamu.
Bu, kami tidak punya hubungan apa pun.
Kita pernah seperti mereka, ingat?
Entah kenapa kita sering bertengkar saat itu.
Kami tidak seperti kalian.
Kenapa In-hyung pergi ke Jepang sendirian?
Kubilang aku akan menemaninya,
tapi dia merasa tidak enak karena dia hanya figuran.
Ya, jadi, aku bertanya kenapa dia ke Jepang?
Untuk syuting iklan.
Kau tidak tahu?
Dia In-hyung, jadi, kupikir kau tahu.
Iklan? Iklan apa?
Iklan untuk SP Group yang kusebutkan sebelumnya.
Mereka minta siapa saja untuk datang,
lalu In-hyung menawarkan diri untuk pergi.
Kau tidak bilang memberikan tawaran itu kepadanya.
Benar?
Apa produknya? Kenapa dilakukan di Jepang?
Minuman kopi. Who-joon model utamanya.
Mereka hanya butuh siapa saja sebagai partnernya.
Kau tidak bilang
itu iklan Who-joon.
Tadinya aku mau melapor,
tapi kau menyuruh kami mengurus hal semacam...
Tidak, maafkan aku.
Apa dia tahu siapa model utamanya?
Ya.
- Keluar. - Apa?
Keluar dari sini sekarang!
Maafkan aku.
Selamat menikmati.
Permisi. Aku penggemar berat.
Boleh minta tanda tangan?
Tentu.
Bisa pegang ini?
Ini. Terima kasih.
Kau tidak mau makan?
Makan saja.
Hei, kudengar Who-joon makan ini?
Kita mungkin bisa menjualnya dengan harga mahal di internet.
Itu sebabnya bintang papan atas tak pernah menyentuh apa pun bahkan di hotel.
Sulit menjadi selebritas.
Kau lihat Who-joon?
Pasti berat menjadi setampan itu.
Aku harus ke toilet.
Astaga.
Astaga. Yang benar saja.
Maafkan aku.
Astaga. Apa kau gila? Kenapa kau tidak mengunci pintunya?
Lihat ini. Ponselku.
Astaga, kau mengejutkanku.
Astaga, kalian tidak mau menjauh sedetik pun, dasar pengantin baru.
Astaga, kau pasti lelah setelah perjalanan.
Senang kau bergabung, Geun-young.
Akhirnya kau datang.
Aku sangat cemas kau tidak akan datang.
Kau yakin tidak merasa, "Baguslah"?
Ayolah, memangnya aku seperti apa?
Aku merasa, "Kami takkan syuting jika dia tidak datang."
Astaga.
Kau bisa menurunkan barang-barangmu nanti.
Bagaimana jika kita ke sana dan bicara?
- Ayo. - Silakan lewat sini.
Aku yakin Who-joon sering ke Jepang,
dan ini bukan kali pertamamu, 'kan?
Astaga, semua orang pernah ke Jepang.
Kini sudah tidak asing lagi.
Kedengarannya bagus.
Geun-young, kau akan menjadi pemandu Who-joon hari ini.
- Aku? - Ya.
Kau belum pernah ke jalanan di Jepang
karena kau mungkin kemari untuk urusan bisnis.
- Kurasa begitu. - Jadi hari ini,
kau akan berjalan-jalan seperti turis biasa, bukan bintang top.
- Bukankah itu bagus? - Bukankah orang-orang akan berkerumun?
Tidak akan ada yang mengenalinya jika dia memakai topi dan berjalan-jalan.
Dia akan lebih menonjol jika menutupi tubuhnya seperti selebritas.
Benar. Seharusnya aku tidak mengatakan itu.
Orang akan berpikir mustahil Who-joon ada di tempat terbuka
- tanpa penyamaran. - Ya.
- Bukankah begitu? - Benar.
Kalian akan mengikuti mereka?
- Kami akan di belakang... - Benar juga.
Kita harus mencari tempat syuting berikutnya.
Apa? Sudah ada.
- Baiklah. - Tunggu, tidak.
- Mari? - Di mana Ra-ra dan Kang-yeon?
Kami meminta staf iklan untuk membantunya.
- Begitu rupanya. - Ayo.
Geun-young, sapalah kameranya.
Halo.
Biasanya kau pergi ke mana saat berada di Jepang?
Begini.
Aku selalu mampir ke Shibuya terlebih dulu.
Shibuya ada di Tokyo.
Benar sekali.
Maksudku sayang sekali Shibuya tak ada di sini.
Begitu rupanya.
Baiklah. Kau pasti sering datang ke Jepang.
Ke mana kita harus pergi?
Karena kita di Jepang, kita harus makan susyi lebih dulu.
- Sushi sepertinya enak. - Ya.
Kalau begitu, kupercayakan kepadamu dan mengikutimu.
Baiklah.
Kita jalan sekarang?
Sial.
- Ayo. - Baiklah.
Aku sedang tur ke restoran yang enak bersama Geun-young.
Kita ke sini atau ke sana?
- Ke sana? - Ya.
Semuanya masih terlihat sama.
Kurasa bukan ini.
- Lewat sini? - Ke restoran yang lezat.
Hei, kurasa di sana.
Lewat sini?
Apa kita lewat sini?
Tunggu, kurasa bukan ini.
- Berapa lama lagi? - Tidak lama lagi.
Apa kita akan kembali ke sini?
- Tempat ini pasti enak. - Ya.
Astaga, aku penasaran seenak apa.
Aku sangat menantikannya.
- Di mana? - Kupikir mungkin ada sesuatu di sini.
Dia tidak tahu arah.
Geun-young. Geun-young?
Akan lebih mudah mencari jika kita tahu patokannya.
Bagaimana jika kita cari di peta?
Benar. Sepertinya aku tidak ingat.
Astaga. Maafkan aku.
Tidak apa-apa.
Hei, kurasa itu tempatnya.
Sebelumnya kau bilang sepertinya itu.
- Di sana. - Sudah empat kali kau bilang begitu.
Tidak, kali ini sungguhan.
Tanyakan saja nama tempatnya.
Dia kebetulan menemukannya.
Kalau begitu, biar kucoba.
Ini luar biasa.
Hei, matikan.
- Matikan. - Kenapa?
Tiap kali kau mematikan ini,
matikan yang di belakang juga. Suara kita direkam.
Kau belum pernah ke Jepang, 'kan?
Aku bisa tahu dari caramu makan.
Kau seperti orang yang pertama kali makan susyi di Jepang.
Kita berjalan jauh untuk makan ini? Astaga.
Terserah. Aku hanya punya nafsu makan besar.
Kau benar. Aku syok saat kau makan dua porsi di pesawat.
Dan ini kali pertamamu di sini, 'kan?
Berhentilah berpura-pura.
Tidak, aku pelanggan tetap di sini.
Aku menyantap makanan di pesawat agar kau tidak terkena masalah.
Demi kebaikanku? Saat kau selesai,
kau bilang, "Boleh aku minta dua lagi?"
Kau sulit dipercaya.
- Kau tidak tidur. - Kau belum kenyang?
Astaga. Apa yang kulakukan di sini?
Indahnya.
Kekhasan Jepang adalah bir lokal,
dan inti dari perjalanan bisnis adalah bolos kerja.
Ya, minumlah.
Jadi, kau sudah menyerahkan episode pertama kita?
Episode pertama?
Tunggu, kau menyuntingnya dengan cara aneh di belakangku?
Tidak, aku yakin kau juga akan menyukainya.
Apa yang kau lakukan?
Rahasia.
Apa yang kau lakukan? Kenapa kau membuatku penasaran?
Jika acara ini gagal lagi, kita tak akan bertemu sepuluh tahun lagi.
Ayolah. Bukankah kau kembali karena merindukan masa-masa itu?
Aku membuat dua kesalahan hari itu.
Pertama, membuat merpati itu terbakar.
Kedua, menghabiskan malam panas bersamamu.
Sulit kupercaya.
Kenapa matahari terik sekali? Kulitku akan menjadi kecokelatan.
Coba kulihat. Kulitmu menjadi kecokelatan?
Lihat. Kulitku sudah menggelap.
Dasar matahari sialan.
Nona No, saat kulitmu kecokelatan,
- kau akan terlihat seksi. - Aku tahu.
- Sangat. - Aku tahu.
No comments yet. Be the first to leave one.