Le prime 200 righe.
Aku tahu siapa kau.
Kau Eun-u, 'kan?
Bagaimana bisa tahu?
Bagaimana bisa tahu?
Tebaklah.
Ayah, siapa dia?
Menurutmu, aku siapa?
Coba tebaklah.
Ibu?
Kenapa bilang begitu?
Ayah bukan mengomelimu.
Ayah tak mengomelimu!
Eun-u!
Tak perlu begitu.
Eun-u, kau suka dinosaurus, 'kan?
Itu yang kudengar. Salahkah aku?
Aku suka dinosaurus.
Lihat.
Aku punya banyak.
Mari kita lihat.
Astaga, lihatlah berbagai macam dinosaurus ini.
Lihat. Ini.
Hebat, keren sekali, ya?
- Hei. - Yang ini apa?
Spinosaurus.
Spinosaurus?
- Ji-ho? - Kalau yang ini?
Velociraptor.
Velociraptor?
EPISODE 5
Maaf.
Soal apa?
Dia tak pernah bilang begitu. Aku yakin kau terkejut.
Memang. Sangat terkejut.
Aku tak tahu kau ayah yang jahat.
Dia buat kesalahan, jadi...
Sebenarnya kau yang salah.
Kau tak perlu marah.
Apa maksudmu...
Tak memukul itu pun omelan.
Kau mudah marah karena masalah sepele?
Aku tahu kau akan malu, jadi, berusaha meredakan suasana.
Kau kira aku akan berterima kasih?
- Apa? - Aku tak bilang apa-apa.
Walau saat aku masih kecil, kupikir tidaklah adil
saat orang dewasa membaca situasi sesuka mereka.
Saat orang tuaku begitu, aku mau kabur dari rumah.
Astaga. Bagaimana kalau anakku kabur dari rumah?
Minta maaf kepadanya.
Dia sudah tak apa-apa.
Kau kira anak-anak melupakan perkataan kejam itu?
Mereka ingat segalanya.
Kau tak mau rasa sakit itu mengubahnya menjadi remaja nakal.
Seperti kenalanku?
Baiklah. Aku akan minta maaf.
Aku mau minum kopi denganmu.
Tak perlu. Kau harus tetap bersama putramu.
Aku harus kembali bekerja.
Baiklah. Terima kasih sudah menyempatkan waktu.
Tak masalah.
RUANG MEMBACA ANAK-ANAK
Kau dari mana?
Toko alat tulis di depan. Kau?
Aku? Aku kedatangan tamu.
Begitu. Siapa namanya?
Sepertinya aku kenal dia.
- Dia si apoteker itu. - Benar!
Bagaimana kau bisa kenal?
Dia alumnus kampus Gi-seok.
Begitu. Aku penasaran siapa pria barumu itu.
Itu imajinasimu saja.
Kau tak seperti biasanya akhir-akhir ini.
Tidak juga.
Tidak, pasti ada sesuatu.
- Apa? - Perilakumu aneh.
Eun-u.
Ya?
Bisa lihat ayah?
Ayah minta maaf soal kejadian tadi.
Kenapa meminta maaf?
Ayah marah padamu walau kau tak berbuat salah.
Sebab itulah, ayah benar-benar minta maaf.
Baiklah.
Kau memaafkan ayah?
Tentu.
Kenapa?
Sebab kau ayahku.
NAM SI-HOON
PERINGATAN TERAKHIR
Manajer komite alumni hebat.
Bagaimana bisa memesan hotel untuk reuni?
Itu yang kurencanakan pertama, dan untuk semua alumnus.
Dong-jun izinkan aku mengadakan pestanya di hotelnya.
Walau pelit, dia baik.
Kakak dan kakak iparmu menyumbang lima juta won.
RS mereka pasti sukses.
Kau harus memberi kontribusi juga...
- Kalau sepuluh juta won? - Apa?
Sungguh?
Tak perlu menghamburkan semuanya.
Itu bahkan tak banyak, diamlah dan pukul bolamu.
Kau serius?
Manajer komite alumni pasti tahu cara berpesta.
Dari istriku.
- Aku harus angkat ini. - Baik.
- Pukul bolamu. - Baik.
Bukan masalah, sobek saja.
Ganti alamatmu.
Sudah kubilang, aku tak mau lama berpisah.
Ganti ke alamat ayahmu. Mau kulakukan untukmu?
Kau sibuk berpikir, ya?
Kau memanfaatkan orang tuaku?
Baik, silakan saja.
Aku penasaran kau mau bilang...
- Aku mau jual rumahnya. - Apa katamu?
Baiklah.
Coba saja.
Mari kita lihat seberapa lama kau bisa sembunyi.
- Gi-seok. - Ya?
Kapan kau mau mulai berkencan?
Pacarku kerja di perpustakaan. Dia tak selalu dapat libur akhir pekan.
Dia bahkan kerja sampai malam.
Kalian berkencan begitu lama karena jarang habiskan waktu bersama.
Itu tak bagus.
Hubungan penuh renjana bisa dengan mudah meredup.
Sebaiknya jangan berkencan terlalu lama.
Kenapa?
Tak ada sisi baiknya.
Kau dan pacarmu bak pasangan yang sudah menikah.
Kalian bukan pasangan yang membuat jijik.
Kau mau kami memamerkan kemesraan di hadapanmu?
Kalian diam-diam bermesraan?
Yang benar saja.
Tetap saja seperti itu aneh.
Kenapa aneh? Semua pasangan seperti itu.
Ya, benar. Itu cukup penting.
Tak ada respons fisik berarti tak ada perasaan lagi yang tersisa.
Pikirkanlah yang sebaliknya.
Responsnya akan otomatis.
Halo.
RUANG MEMBACA ANAK-ANAK
Eun-u.
- Yu Eun-u? - Ya?
Saat di perpustakaan...
Kau bisa lihat ayah?
Kenapa kau bertanya...
apakah dia ibumu?
Bisa beri tahu, kenapa kau bilang begitu?
Tak akan kulakukan lagi.
Ayah tak bilang kau salah.
Kau tak pernah bicara soal ibumu,
jadi, ayah penasaran.
Dia sudah tertidur?
Dia pasti kelelahan.
Kenapa belikan dia buku lagi, sementara banyak yang belum dia baca?
- Ada yang memberikan padanya. - Siapa?
Kau mau makan?
Kami sudah makan sebelum pulang.
Ikut kami.
Bukan, agak ke bawah.
Kambuh lagi?
Wajar di usia kami.
Jika kau tak mau menginap, pergilah sebelum larut.
Eun-u pernah bahas
soal ibunya?
Ibu apa?
Ibunya?
Kenapa? Dia bilang sesuatu?
Aku hanya bertanya. Dia pernah katakan sesuatu?
Dia tak pernah menanyakan hal semacam itu.
Ada apa?
Suatu hari dia akan bertanya.
Tak perlu disembunyikan.
Saat dia sudah lebih tua, ceritakan semuanya.
Tetap saja, kita tak bisa...
Lebih baik daripada membual.
Kau juga. Jujurlah pada siapa pun yang kau kencani.
Hidupku tidak sepenting itu.
Kenapa tak sepenting itu?
Kau tak bisa terus melajang.
Bahkan ada yang mencampakkan anaknya,
jadi, kau masih lebih baik.
- Ibu, sudahlah. - Kau cinta anakmu, 'kan?
Ibu pun mencintai anak ibu.
Cukup omong kosongnya.
Kau harus pulang.
Kapan pun itu, aku mau memberitahunya soal ibunya, jadi...
Tentu. Tak perlu khawatir.
- Kalau begitu, aku pergi. - Eun-u bilang apa?
Biarkan dia pulang.
Pulanglah, Ji-ho.
Aku kembali di akhir pekan.
Jalani kehidupanmu. Tak perlu selalu kemari.
Aku sedang senggang. Kabari aku jika ada apa-apa.
Ibumu dan ayah belum setua itu.
Jangan lupa makan, ya.
Tak akan.
Selamat malam.
Kau si apoteker, 'kan?
Kau tinggal di sini?
No comments yet. Be the first to leave one.