Le prime 200 righe.
Baca Si Kerudung Merah.
Tolong bacakan untukku!
Ayo pergi.
Serius?
Itu gila.
Iya!
KELAS CERIA
Gajah
Apa? Ini tentang aku?
Gajah
- Pendek! - Baik.
Bu Guru, dia memukulku lagi!
Selamat siang.
Kau Kokoro Anzai, bukan?
Aku Kitajima. Apa aku boleh duduk?
Kau siswi SMP 5 Yukishina, bukan?
Iya.
Dahulu aku juga.
Iya.
Ada kalanya aku bermimpi.
Akan ada murid pindahan muncul.
Dia gadis luar biasa yang ahli dalam segala hal.
Dia menyadari keberadaanku di tengah ramainya kondisi kelas,
tersenyum cerah padaku layaknya sang mentari,
lalu berkata, "Kokoro, lama tak jumpa."
Semuanya menghela napas.
Andai saja keajaiban seperti itu terjadi.
Aku selalu berharap begitu.
Namun, aku juga tahu bahwa keajaiban itu
tidak akan terjadi.
MEI
Aku pergi.
Hati-hati di jalan.
Ibu, perutku sakit.
Sakit bagaimana?
Seperti biasa.
Maksudmu?
Sakit saja.
Mau berangkat atau tidak?
Tidak, ya? Ibu mengerti.
Aku mau, tetapi tidak bisa.
Selamat pagi.
Ini terkait Anzai yang seharusnya masuk hari ini.
Tampaknya kondisinya sedang tidak sehat.
Dia tidak masuk hari ini.
Padahal perutku benar-benar sakit.
ANZAI
Moe...
Hei, ayo bangun.
Selamat datang, Kokoro Anzai!
Aku sudah menunggumu!
Apa ini?
Kastel?
Itu benar!
Kau sangat beruntung karena diundang menjadi tamu di kastel ini!
Jangan lari. Mau pulang?
Lepaskan.
Berisik! Diam!
Enam orang sudah lama menunggumu dan aku juga sudah muak.
Kau datang terakhir dan sekarang sudah jam empat.
Aku mau ini cepat selesai.
Lepaskan.
Aku tidak mengerti. Lepaskan.
Kau tidak penasaran?
Ada kastel di depan matamu!
Anak kecil sepertiku bicara seperti penguasa dan sangat kuat.
Apa kau tidak mengharapkan petualangan atau fantasi dunia lain?
Tidak!
Harapanmu bisa terkabul.
Aku akan mengabulkan satu harapanmu, apa pun itu.
Harapan?
Rekanmu sudah menunggu.
Selamat siang.
Semuanya sudah menunggumu.
Dia bilang kau yang terakhir.
Panggil aku Ratu Serigala.
Ratu Serigala bilang begitu. Tak boleh dimulai jika belum tujuh orang.
Kami sudah menunggu.
Sekitar satu jam, ya?
Ini tempat apa?
Kenapa aku ada di sini?
Kita senasib.
Cermin di rumahku bersinar dan terhubung ke sini.
Aku datang pertama dan anak-anak yang lain pun menyusul.
Aku sudah diberi penjelasan singkat,
tetapi jujur aku belum mengerti.
Apa? Kalian masih belum mengerti?
Belum.
Tidak sama sekali.
Ini penjelasan yang terakhir.
Dengar baik-baik.
Di kastel ini, ada sebuah ruangan kecil yang tidak bisa dimasuki siapa pun.
Ruang Harapan.
Jika bisa masuk ke ruangan itu, segala harapan kalian akan terkabul.
Namun, hanya satu orang di antara kalian yang bisa masuk ke dalam.
Si Kerudung Merah.
Katanya kita ini "Si Kerudung Merah" yang tersesat.
Ya...
Kalian perlu kunci agar bisa masuk ke Ruang Harapan.
Jika ada harapan yang ingin kalian wujudkan,
mulai hari ini hingga tanggal 30 Maret tahun depan,
kalian harus mencari kunci yang terletak di kastel ini.
Apa? Aku tak paham.
Benar, bukan? Penjelasannya rancu.
Harapan bisa terkabul? Apa-apaan itu?
Kenapa kami dipanggil ke sini? Kunci itu seperti apa?
- Ini di mana? - Berisik!
Diam!
Kau harus menjawabnya.
Kenapa kami yang dipilih?
Kalian tidak punya impian, ya.
Kalian tidak berpikir bahwa sudah terpilih menjadi tokoh utama?
Kalian juga punya kamar pribadi di lantai dua.
Kalian ini beruntung. Bersyukurlah.
Cara bicaramu menyebalkan.
Setuju.
Akan kutanya. Apa kalian tidak punya harapan?
Kalau tidak ada, ya tidak masalah.
Intinya siapa cepat, dia dapat.
Kalau ada yang menemukan kunci dan harapan terkabul, permainan berakhir.
Kastel ini akan terkunci dan jalan ke cermin akan lenyap.
Kalian juga tidak dipaksa untuk mencari kuncinya.
Hei...
Apa kami boleh datang ke sini kapan saja?
Ada batasannya.
Antara pukul 09.00 hingga 17.00 waktu Jepang.
Pukul 09.00 sampai 17.00? Seperti pegawai kantoran.
Apa pun kata kalian, ini adalah aturan yang wajib ditaati.
Jika kalian tidak pulang sebelum pukul 17.00,
kalian dimangsa serigala.
Olehmu?
Serigala sungguhan.
Ukurannya sangat besar.
Kalau tidak percaya, coba saja. Kalau diterkam, berakhir sudah.
Terlebih lagi, jika ada yang melanggar aturan,
rekan yang berada bersama pelanggar juga ikut bersalah.
Kalian semua akan diterkam.
Intinya, selama kalian menaati batas waktu,
kalian bebas melakukan apa pun di sini. Santai saja.
"Santai saja"?
Pukul 16.30.
Selagi menunggu tadi, apa kalian sudah berkeliling kastel?
Waktu hari ini terbatas, kutunjukkan saja.
Bagaimana? Jauh lebih mewah dari rumah kalian, bukan?
Sini.
Apa enak?
Aku segera kembali. Kalian saling berkenalan saja dahulu.
Dia menghilang!
Hantu?
Entahlah.
Aku yang pertama, namaku Aki.
Kelas 3 SMP, salam kenal.
Salam kenal juga.
Salam kenal.
Salam kenal.
Salam kenal.
Namaku Kokoro, kelas 1 SMP.
Salam kenal.
Aku Fuka, kelas 2 SMP.
Salam kenal.
Aku Rion, kelas 1 SMP. Salam kenal.
Namaku Subaru, kelas 3 SMP.
Salam kenal.
Aku Masamune, kelas 2 SMP.
Namaku juga nama jenderal, pedang, dan alkohol.
Aku sudah muak mendengarnya.
Itu nama asliku.
Ureshino!
Cara menulisnya?
Itu nama keluargaku.
Kanjinya adalah gabungan kata "Bahagia," dengan "Ladang."
Aku SMP kelas 1.
Semuanya anak SMP, ya.
Apa?
Hei.
Itu alarm pulang sebelum pukul 17.15.
Cepatlah. Kalian bisa diterkam.
Bagaimana cara kami pulang?
Cari nama kalian.
Ada!
JUNI
Sejak saat itu, aku tidak datang ke kastel.
Apa yang dilakukan anak-anak lain?
Lain kali, mainlah ke rumahku.
Apa boleh? Nanti aku ke sana!
Payung merah itu sangat imut!
Itu cocok untukmu, Moe!
Apa tugas sekolahmu sudah?
Ayo!
Hebatnya!
Ada satu.
Ada satu harapan yang ingin kukabulkan.
Apa pun caranya.
Ayo serang!
Sial!
Gagal?
Ya, aku mati! Sungguh mati!
Andai saja ada televisi di sini.
Jadi, aku bisa bertarung melawanmu.
Tak ada listrik.
No comments yet. Be the first to leave one.