Le prime 131 righe.
Gawat.
Ceroboh sekali, Kugisaki.
Ini punya Pak Gojou, 'kan?
Pak Ijichi menyerahkan kemeja selesai cuci
kepada kita dan langsung pergi,
dan aku yang menumpahkan kopi,
siapa yang bersalah?
Kau.
Lakukan perlahan, perlahan saja.
Sedang aku kerjakan.
Mirip gaya Marimekko, ya.
Jangan meremehkan fesyen.
Sudahlah, kemungkinan besar ini hanya barang murah.
Fushiguro, coba cek merek di labelnya.
Termasuk pajak?
Belum termasuk pajak, tetapi apa ini penting?
Tak ada pilihan lain, aku akan mengeluarkan 90.000.
Kalian keluarkan 80.000.
Selamat pagi.
Kata Ijichi, kemejaku ada sama kalian...
Kau kenapa, Megumi?
Tak apa-apa.
Kugisaki.
Tidak. Tak bisa.
Kugi...
Ternyata kemampuanku
sungguh mengerikan!
Akulah...
Akulah kutukan
yang sebenarnya!
Kilatan Hitam!
Lagian kau ini
mengira bisa mengusir hama
atau melakukan eksorsisme seperti di dalam dongeng!
Kau datang kemari dengan mental seperti itu, 'kan?
Jangan naif, Bocah Sialan!
Aku beri tahu kepadamu, ini medan perang!
Bukan medan perang untuk memperbaiki kesalahan,
melainkan untuk memaksakan kebenaran ke pihak lawan!
Keadilan yang banyak teori dan banyak omong itu!
Kau adalah aku, Yuji Itadori.
Seperti aku yang membunuh orang tanpa berpikir terlebih dahulu,
kau juga akan menolong orang tanpa berpikir terlebih dahulu!
Insting kita,
serta martabat yang diperoleh oleh akal budi kalian!
Perang ini menentukan pihak mana yang akan bertahan seratus tahun dari sekarang!
Orang yang bahkan tak bisa menyadari hal sekecil ini,
mana mungkin bisa menang dariku?
Hei, Yuji Itadori.
Pernah menghitung berapa kutukan yang telah kau bunuh?
Tidak, 'kan? Aku juga tidak.
Karena berapa pun manusia yang dibunuh, itu sama sekali tak penting.
Tak butuh waktu lama,
aku juga akan melupakanmu sepenuhnya.
Bunyi lonceng Gion Shoja
menggemakan ketidakkekalan akan semua hal.
Warna dari bunga sala
mengungkapkan kebenaran bahwa kemakmuran harus menurun.
Hanya saja,
kami ini pengecualian.
Episode 44
Benar atau Salah Bagian 3
Duel Magis
Duel Magis
Pusat Kota Stasiun Metro Shibuya Basemen Lantai Lima, Platform Jalur Shintoshin
Orang-orang ini...
SMA Kyoto, Kelas 1, Arata Nitta
Seharusnya masih hidup, 'kan?
Sepertinya Suguru Geto sudah pergi dengan membawa Alam Penjara.
Bagaimana bisa?
Ubah cara berpikir.
Dari bertarung demi menolong Satoru Gojou,
menjadi bertarung demi menolong rekan dan berusaha melemahkan lawan.
Saat ini, tujuan sudah sepenuhnya berubah.
Gerak cepat.
Saudaraku pasti datang ke sekitar sini.
Ternyata dia punya saudara?
Aku kira dia anak tunggal.
Apa yang terjadi?
Luka di wajahnya itu.
Tadi posisiku ditukar.
Dia Penyihir Jujutsu yang membuat Hanami terpojok?
Senior Todo.
Aku sudah selesai menolong gadis di sana,
tetapi sepertinya dia sudah pasti mati.
Tolong jangan salahkan aku pada saat seperti ini.
Jangan omong kosong lagi, tolong bantu saudaraku juga.
Bangunlah, Saudaraku.
Pertempuran kita baru akan dimulai sekarang.
Pertanda buruk.
Todo.
Aku tak bisa
bertarung lagi.
Bukan hanya Kugisaki, Nanami juga mati.
Sukuna membunuh banyak orang.
Jadi...
Aku harus membantu lebih banyak orang.
Tetapi aku tak bisa melakukannya.
Aku hanya seorang pelaku pembunuhan.
Hal yang aku percayai selama ini
pada akhirnya hanyalah mencari-cari alasan untuk diriku!
Aku sudah
tak bisa memaafkan diriku lagi.
Suaramu pelan sekali, menjadi tak kedengaran!
Sungguh menarik.
Meskipun aku tahu triknya, tetapi tetap kesulitan.
Saudaraku.
Pria jantan sepertimu tak boleh meremehkan diri.
Kita adalah Penyihir Jujutsu.
Tak peduli aku,
ataupun kau,
Kugisaki,
Pak Nanami,
juga setiap rekan-rekan lainnya, kita semua sama-sama Penyihir Jujutsu.
Asalkan kita masih hidup,
rekan-rekan yang sudah mati
belum benar-benar dikalahkan!
Ini tak berhubungan dengan dosa dan hukuman,
melainkan momen pilihan untuk menjadi Penyihir Jujutsu.
Hidup kita
tak dapat mencakup segala sesuatu dalam karma.
Kalau harus mencari makna dan alasan untuk setiap nyawa yang hilang,
terkadang ini malahan menjadi semacam penghinaan terhadap almarhum.
Meski demikian...
Apa yang mereka percayakan kepadamu?
Tak usah segera menemukan jawabannya.
Tetapi kau tak boleh berdiam diri sebelum menemukan jawabannya.
Bagi Penyihir Jujutsu yang masih hidup,
ini adalah hukuman paling mendasar.
Sekarang aku belum perlu memberi tahu "hal tersebut" kepada saudaraku.
Aku memakaikan Teknik Terkutukku kepadamu.
No comments yet. Be the first to leave one.