Le prime 162 righe.
ZainuddinAri
mempersembahkan
apa yang disembunyikan tangan kiriku
hidari te ni kakushita
berisikan penuh dengan harapan
negai ha negai no mama de
dalam mimpi yang tiada henti
samenai yume miteta
tangan kananku berisi kenangan hampa
migi te ni ha kara no kioku
tentang setiap orang asing di penjuru dunia
daremo shiranai sekai no hate
di kala ku terjebak dalam hujan abadi
yamanai ame ni utareteita
ku butuh kekuatan 'tuk melindunginya
mamoritai mono wo mamoreru tsuyosa
walau kelemahan pudarkan keyakinanku
sore wo shinjirarenakunaru yowasa
semua tetap kubawa dalam pencarian hari esok
subete wo ukeirete ashita wo sagasu
lebih berani saat ulurkan tangan
Brave Shine, te wo nobaseba mada
lewati malam walau penuh luka
Stay the Night, kizu darake no yoru
karena selamatkanku bagai barisan pedang
You Save My Life, kazashite yaiba no saki ni
kenangan pun semakin bertumpuk
omoi wo kasaneta
hingga doaku pun sanggup leburkan waktu
inori ha toki wo koete
Your Brave Shine
Tumpukan Pedang Tiada Batas
Hanya itu saja kemampuanmu?
Kau memang imitasi tulen.
Kau takkan sanggup selamatkan apa pun.
Si Archer palsu itu pun mengatakannya, 'kan?
Idealismemu adalah pinjaman.
Pria yang tak bisa hasilkan apa pun, besar kepala ingin coba raih sesuatu?
Kau terlalu serakah.
Pahlawan?
Dunia di mana tak ada satu pun yang tersakiti?
Konyol sekali.
Umat manusia adalah jenis binatang yang tak bisa nikmati hidup tanpa berkorban.
Kebohongan indah yang bernama kesetaraan
hanya diucapkan oleh orang lemah yang tak bisa lihat pekatnya kegelapan.
Dan hanya sekadar alasan untuk tutupi hidupnya yang buruk.
Ya, dia memang benar.
Perasaanku ini hanyalah pinjaman.
Kepura-puraan yang kutunjukkan adalah tiruan dari seseorang yang pernah selamatkan orang lain.
Saat itu terjadi, diriku merasa sangat hampa.
Semua orang mati,
dan aku tak bisa selamatkan satu pun dari mereka.
Kalau aku tak pernah bisa mengerti bagaimana sosok manusia sebenarnya,
aku pasti takkan pernah merasa hidup.
Karena itulah...
Karena itulah aku sangat kagumi idealismenya.
Apa pilihanku salah?
Apa perasaan ini disebut palsu hanya karena bukan berasal dari diri sendiri?
Apa aku dilarang junjung prinsip ini, hanya karena palsu?
Salah.
Aku tahu betul kalau itu salah.
Meskipun palsu, tapi hak untuk inginkan sesuatu, tetaplah diperbolehkan.
Aku tahu bahwa mustahil bisa selamatkan semua orang.
Aku tahu bahwa mustahil bisa selamatkan seseorang tanpa pengorbanan!
Saat tahu kalau idealisme seperti itu sangatlah tinggi,
justru aku akan terus mengejarnya lebih gigih lagi.
Meski aku harus sakiti satu orang untuk selamatkan banyak orang,
aku akan terus kejar kebahagiaan di mana tak ada lagi yang terluka.
Dan di akhir dari segalanya, di sinilah tujuan terakhirnya.
Ada seorang pria yang bilang padaku,
"Apa yang kaupercaya dan yakini, semuanya adalah bagian dari kemunafikan."
Tapi pada akhirnya,
pria yang katakan kata-kata itu terus berada dalam sisi kemunafikan sampai akhir.
Artinya, aku tetap bisa melakukannya.
Meski hanya pinjaman atau kepalsuan, aku tak peduli.
Aku akan tetap menerimanya.
Shirou Emiya akan terus kejar impiannya!
Meski pada akhirnya, dia tetap tak temukan satu pun yang dicarinya!
Ya ampun.
Ternyata hanya begitu saja.
Meski aku sendiri enggan menggunakannya,
tapi tentunya kau sudah rasakan sendiri dahsyatnya energi dari Ea.
Kalau kau punya banyak senjata,
kenapa malah ragu menggunakannya meski hanya satu kali saja?
Hanya penguasa tertinggi saja yang bisa pakai pedang itu.
Seharusnya, kau bahkan tak punya hak untuk menatapnya terlalu lama.
Saber?
Apa kau baik-baik saja, Shirou?
Biar aku yang melanjutkannya.
Tidak, lebih baik kau bantu Tohsaka saja.
Aku bisa atasi Gilgamesh sendirian.
Apa yang kaukatakan, Shirou?
Mustahil seorang penyihir bisa tandingi Servant.
Memang, tapi dia dan aku adalah pengecualian.
Percayalah.
Aku pasti akan mengalahkannya!
Semoga beruntung.
Aku pasti akan lindungi Rin.
Saber.
Aku tak bisa selamatkanmu.
Sepertinya, Cawan Suci kali ini tak bisa kauharapkan.
Jadi, tolong saksikan baik-baik,
agar kau tak lagi salah ambil langkah di lain kesempatan.
Shirou?
Maaf, aku tak bisa menjelaskannya dengan baik.
Sepertinya, aku memang tak cocok untuk jadi Master-mu.
Jadi...
Jangan rendahkan dirimu.
Kaulah Master-ku, Shirou.
Aku harus penuhi tugasku sebagai Servant.
Jadi, kita lanjutkan lagi pembicaraan ini di lain waktu.
Kau ini sudah sinting, ya?
Bukannya manfaatkan bantuan Saber, tapi kau lebih pilih bunuh diri?
Dasar tolol.
Korbankan diri sendiri adalah penipuan terbesar dari imitasi sepertimu.
Meski aku sudah tahu sejak melihatmu pertama kali,
tapi ternyata kau memang benar-benar rajanya munafik.
Penipu dan munafik, ya?
Memang benar, itu semua karena aku ini imitasi.
Tapi, aku tidaklah salah sama sekali.
Sebenarnya, Sihir Proyeksi-ku bukanlah penciptaan pedang.
Karena, hanya ada satu yang bisa kulakukan.
Yaitu, memberi bentuk pada apa yang ada di dalam pikiranku.
Tubuhku terbuat dari bilah pedangku!
Diriku berhati baja, dan berdarah api.
Telah kulewati lebih dari ribuan peperangan.
Tanpa mengenal kekalahan,
pun dengan kemenangan.
Seraya terus bertahan seorang diri,
untuk menempa besi demi hentikan terjangan pedang.
Hingga akhirnya, hidupku hampir tanpa makna.
Tubuhku pun tertutupi tumpukan pedang tiada batas!
Benar, aku bukanlah ciptakan pedang.
Tapi yang kuciptakan, adalah dunia yang berisikan pedang dalam jumlah tak terbatas.
Itulah satu-satunya sihir yang bisa dilakukan oleh Shirou Emiya.
Realitas Marmer, ya?
Lalu?
Apa yang bisa kaulakukan dalam hamparan tanah ini?
Jangan terkejut dulu.
Semua yang ada di sini adalah imitasi.
Tapi, tak ada teori mutlak yang mengatakan imitasi mustahil bisa tandingi yang asli.
Kalau kau memang punya segala keaslian,
aku hanya perlu lampaui dan kalahkanmu.
Kita mulai, Raja Pahlawan.
Apa kau punya cukup persediaan senjata?
Kau terlalu percaya diri, Anjing Kampung.
Apa-apaan itu?
Pemanggilan yang keliru bisa buatnya berubah sebesar itu?
Rin!
Di mana kau, Rin?
Saber?
Rin!
Jangan, Saber!
Tapi...
Sudahlah, jangan gegabah.
Gumpalan lumpur ini setara dengan Servant.
Kalau kau sampai menyentuhnya, aku tak tahu lagi apa yang akan terjadi.
Aku mengerti.
Kalau begitu, cepatlah kemari, Rin.
Setelah kau keluar dari situ, akan kuselesaikan sisanya.
Ya, sih. Oke, kuserahkan sisanya padamu.
Tapi, kalau aku tak sempat keluar dari sini, kau langsung saja lakukan tugasmu.
No comments yet. Be the first to leave one.