Le prime 200 righe.
MATA KULIAH FILSAFAT MARXISME
Tiga puluh menit lagi.
Silakan duduk.
Terima kasih.
Menyontek?
Ini Sertifikat Pengawasan Ujian.
Isi data pribadimu.
Tanda tangan di sini.
MENGEDARKAN KERTAS DI UJIAN
DISKUALIFIKASI DARI UJIAN MU CHENGHE
Apa maksudnya?
Kau tertangkap basah.
Aku sudah bilang
aku tak tahu
dari mana asal kertas itu.
Aku lihat sendiri. Tanda tangan.
Xue Tong sepertinya
bukan siswi yang suka menyontek.
Aku akan menyelidikinya.
Sudahlah.
Aku permisi.
Kau tertangkap basah lagi.
Ada apa denganmu?
Kembalikan penaku.
Aku tak akan asal menuduh.
Mu Chenghe, ya?
Akan kuingat kau.
DUA BULAN KEMUDIAN
SELAMAT DATANG DI KAMPUS BARU PARA DEWI FAKULTAS BAHASA ASING
UNIVERSITAS TUNG HU DENAH ASRAMA PUTRI
- Kita bertiga sekamar. - Kurasa begitu.
Aku tak keberatan.
KAMAR 301 WU MANXIAO, JIANG YU, YAO JIAQI, XUE TONG
Ada satu orang lagi.
- Kau kenal orangnya? - Tidak.
Namamu tak ada?
Kenapa harus ada?
Kau cukup kompeten.
Urusan kita belum selesai
untuk insiden dua bulan lalu.
Jangan bersikap keterlaluan.
Permisi.
Permisi.
Lumayan.
Bu, aku pesan satu porsi iga dan nasi.
Kau memakai kartu lama.
Harus diganti yang baru.
Begitu, ya.
Tunggu sebentar.
Bu, aku pesan ikan.
Halo.
Boleh pinjam kartumu?
Kartuku versi lama.
Nanti kubayar tunai.
- Baiklah. - Terima kasih.
Akan segera kubayar.
Bu, kami mau pesan iga.
- Baik. - Empat porsi.
Sisa dua porsi.
- Dua saja. - Baik.
- Terima kasih. - Ya.
Ayo.
- Sudah habis. - Tidak.
Halo, Pak.
- Halo, Xue Tong. - Ya.
Sudah mendaftar?
Ya.
Bagus. Datang ke lapangan sekarang.
Bawa pidatomu.
Baik, aku sedang keramas.
Aku ke sana setelah selesai.
- Ayah, berhenti. - Ada apa?
Aku lihat temanku.
Xue Tong!
Xue Tong!
Kau akan berpidato lagi,
Nona Pembicara Profesional?
Kudengar kau pembawa acaranya lagi, Putri Hummer.
Putri Hummer?
Kedengarannya seperti "hammer".
Kenapa tak memanggilku "Putri Palu"?
Aku akan berhenti berdebat.
Aku harus menemui Pak Chen Ting di lapangan.
Aku juga mau ke sana.
Ayo sama-sama.
- Mari bersama. - Ayo.
Latih pidatomu nanti.
Libatkan emosi
seolah-olah sedang berpidato.
Baiklah.
- Jiahang. - Ya?
Biar Xue Tong coba.
Baik, tak masalah.
Xue Tong, kau di kamar berapa?
Kamar 301.
Ada teman kita?
Semua dari Fakultas Bahasa Jepang.
Tak ada yang kukenal.
Tunggu apa lagi?
Ayo mulai.
Sambutlah perwakilan mahasiswa, Xue Tong, untuk berpidato.
"Yang terhormat Dekan, Para Dosen, dan Teman-teman,
selamat siang.
Saya belajar di Fakultas Bahasa Inggris.
Saya mahasiswi tingkat tiga, Xue Tong.
Sebagai mahasiswi...
Sebagai mahasiswi Tung Hu,
saya merasa bangga.
Beban berat di pundak selalu mengingatkan saya
untuk tak menyerah."
Hentikan!
Kemarilah, Xue Tong.
Berikan itu.
Apa ini pidato yang sama
dengan yang kau bacakan di tingkat satu?
Mata Bapak jeli.
Ini sama persis.
Kau tak tertarik berpidato, ya?
Benar.
Aku tahu tugas ini tak menyenangkan.
Kalau jadi kau, aku pun tak mau.
Namun, kau berbeda.
Kau bukan mahasiswi biasa. Kau mahasiswi teladan.
Kau dapat nilai 120 di Ujian Masuk Nasional.
Pak, tanpa 20 nilai ekstra itu pun,
aku tetap bisa diterima di sini.
Ya, kau benar.
Namun, kau dapat nilai itu.
Tak seorang pun pernah.
Jadi, kau berkewajiban
menyebarkan optimisme.
Biar kupertimbangkan...
Akan kubuatkan pidatonya.
Cukup hafalkan saja.
Tidak perlu. Aku akan tulis sendiri.
Maaf.
Aku buka pintu dan menghancurkan semangkamu.
Tak masalah. Aku tak perlu memotongnya lagi.
Kenapa begitu lengket?
Apa kata pembimbingmu?
Apa lagi? Aku dapat nilai buruk.
Kesal sekali!
Aku hanya mengintip ponselku.
Bagaimana mereka tahu?
Kudengar anak Bahasa Inggris
bernama Xue Tong
ketahuan di ujian Marxisme
dan lolos dari hukuman.
Aku bahkan tak perlu berpikir. Ada yang kecurangan terjadi di sana.
Kau pasti teman kamar kami dari Fakultas Bahasa Inggris.
Aku orang yang blak-blakan.
Tolong jangan sebarkan rumor tadi.
Aku Wu Manxiao. Siapa namamu?
Xue Tong.
Ayo, makan semangka.
Pak, aku tak menyontek di ujian itu.
Tak ada yang bilang.
Tak ada yang mengakui sebaliknya juga.
Kau bersikap konyol.
Bagaimana dengan Bapak sendiri?
Apa karena status istimewaku,
karena Bapak tak mau aku diperlakukan buruk,
atau karena Bapak cemas aku kehilangan kualifikasi
untuk berpidato setelah itu...
hingga Bapak membiarkannya?
Kau sangat keliru.
Itu karena aku percaya.
Kuyakin kau tak menyontek.
Mengerti?
Cukup. Aku harus berapat.
Pak, karena Bapak percaya kepadaku,
bisa selidiki lebih lanjut
dan umumkan bahwa aku tak menyontek?
Tidak ada yang namanya pengumuman seperti itu!
Terutama lagi, masalahnya masih perlu diselidiki.
Baik, biar kuselidiki sendiri.
Itu sudah berlalu! Apa yang kau perjuangkan?
Omong-omong...
Pak, tolong katakan
di mana Mu Chenghe.
LABORATORIUM MEKANIKA FLUIDA
Ada orang?
Kau bisa flu karena itu.
Hati-hati!
Aku baik-baik saja.
Maksudku, hati-hati modelnya.
Ternyata kau pun mahasiswa di sini.
Ini lab Fakultas Fisika.
Aku administratornya.
Kau tak boleh masuk tanpa izin.
Jangan sok berkuasa.
Aku datang untuk bicara baik-baik.
Tentang apa?
Di ujian semester lalu,
kau mendapatiku menyontek.
- Akhirnya kau mengaku. - Kau salah paham.
Kau harus buktikan aku benar.
Aku membuktikan yang kulihat.
Kau...
Kau di lab.
No comments yet. Be the first to leave one.