Le prime 200 righe.
SERIAL NETFLIX ORIGINAL
EPISODE 2
Siapa namamu?
Aku punya pertanyaan.
Bagaimana bisa kau memikirkan adegan seindah itu,
tempat Tuan Kim mengungkapkan cintanya di bawah pohon sakura?
Kalau itu...
Aku mengunjungi Yudalsan tahun lalu,
dan di sana aku begitu tersentuh. Dari sanalah ideku.
Yudalsan?
Kau salah.
Jika kau tak beri tahu namamu, akan kukembalikan buku ini padamu.
Maehwa.
Tulis namaku
sebagai Maehwa.
Alasan kau tak suka membaca novel Maehwa
karena tak tahu soal keindahan.
Kau?
Bisakah kau lepaskan...
Astaga, lepaskan tanganku.
Pria dan wanita tak boleh berpegangan.
Kau bilang buku Maehwa menyia-nyiakan kertas.
Kau juga bilang kau takut
delusi Maehwa akan menyebar ke seluruh kota seperti wabah.
Harus kukatakan, kau sendiri tak punya prinsip.
Kau bangsawan muda yang berharap Maehwa berhenti menulis,
atau penipu yang memanfaatkan nama Maehwa?
Pilih satu saja.
Tak heran kau sangat menyangkal.
Kau Maehwa?
Sungguh ide yang orisinal.
Kau mengunjungi tiap toko buku dan memuji diri sendiri.
Berapa yang kau jual berkat itu?
Kapan aku melakukan...
Kau penipu yang percaya diri.
Jangan berasumsi.
Ada alasannya aku melakukan ini.
Lalu? Kau memintaku untuk memahamimu?
Bukan itu maksudku. Aku hanya...
Bisa tunggu di kamar yang di sana?
Aku akan meminta maaf nanti.
Kau kira kau hanya berutang maaf padaku saja?
Ada apa ini?
Walau kau berpikir novelku tak layak,
cinta para pembaca karya Maehwa tulus.
Kau tak berhak menipu mereka demi mendapatkan uang.
- Jika mau minta maaf... - Aku harus minta maaf ke mereka.
- Maehwa! - Maehwa!
- Dia Maehwa. - Astaga.
Astaga!
- Astaga! - Maehwa sungguh datang!
Ada yang harus kukatakan pada kalian.
Aku...
bukan Maehwa.
- Apa? - Apa?
Walau bukan, aku pura-pura menjadi Maehwa
dan menipu kalian semua.
Aku minta maaf.
Dia sudah gila?
Apa? Kau bukan Maehwa?
Lalu tanda tangan apa ini?
Kau menipu kami?
- Astaga. - Sulit kupercaya.
- Beraninya dia? - Teganya dia begitu?
Tapi Maehwa sesungguhnya hadir di sini.
- Apa katanya? - Apa?
- Itu berarti... - Pria itukah?
- Pria itu Maehwa? - Astaga.
- Astaga. - Maehwa seorang pria?
- Diakah orangnya? - Sungguh?
- Astaga. - Yang benar?
- Dia pria. - Astaga.
- Astaga. - Sulit kupercaya.
- Ya, ampun. - Dia pria?
- Astaga. - Yang benar?
Jadi, bukan wanita?
Titah Raja!
Tangkap Maehwa dan sita semua bukunya!
Berhenti!
- Tangkap dia! - Kemarilah.
- Apa yang terjadi? - Astaga.
- Tangkap. - Mana bukumu?
Tangkap dia!
- Tangkap dia! - Tangkap.
Lepas! Lepaskan aku, Berengsek.
Hei! Kau!
Lepaskan. Kubilang, lepas!
- Tangkap dia. - Jangan sampai lepas!
- Lepaskan! - Tangkap mereka.
- Tangkap mereka! - Sita bukunya!
- Jangan lari. - Tangkap mereka!
Kau mau ke mana?
- Sial. - Tangkap!
- Kau! - Ambil bukunya.
- Apa ini? - Berhenti!
Kau sedang apa?
- Tangkap! - Ambil bukunya!
Tangkap mereka!
- Tangkap! - Sita semua bukunya!
- Lepaskan kami! - Ikut kami!
Lepaskan!
- Kemari. - Kumohon, lepaskan.
- Hei! - Tunggu di sana!
Dasar...
Dasar berengsek.
Tangkap mereka!
Kau, kemarilah!
Astaga!
Jangan maafkan aku, Pak!
Hei. Hei, Kau!
Hei! Astaga, lepaskan aku.
Hei!
- Kasim Heo! - Kasim Heo!
- Tak ada di perpustakaan. - Atau di taman.
Kalian sudah cari di setiap sudut?
- Ya, Pak. - Ya, Pak.
Ke mana dia pergi selarut ini?
Aku harus lakukan sesuatu. Akan kucari tahu.
Tunggu, kau mau ke mana?
Ini titah Raja, dia mungkin berada di Kantor Penyidikan, 'kan?
Perhatikan ucapanmu.
Kau wanita, tak boleh ke sana.
- Bagaimana kalau kau? - Astaga.
Apa aku tak dianggap sebagai wanita karena aku pelayan?
Bukan salah Nona kalau cendekiawan itu ditangkap.
Kudengar banyak bangsawan
yang kabur mencari cinta sejatinya
setelah membaca buku Maehwa.
Sebab itulah dia begitu dibenci.
Bagaimana bisa mereka menangkapnya hanya karena itu?
Menurutku, itu sangat aneh.
Hei, permisi.
Bukankah dia tak tahu malu?
Jika punya malu, seharusnya dia berhenti.
Tapi Maehwa sesungguhnya hadir di sini.
Jangan maafkan aku, Pak!
Hei. Hei, Kau!
Aku akan balas dendam.
Akan kuhancurkan kau!
Hei, kau bisa diam?
Tak lihat aku sedang tidur?
Kau ini buta atau apa?
Maafkan aku.
Aku akan balas dendam.
Akan kubalas kau!
Ada apa, Nona?
Ayo.
MAEHWA
Dasar berandal. Beraninya kalian!
Kenapa dilarang?
Bahkan kemarin tak ada masalah dengan buku itu.
Bagaimana bisa jadi terlarang dalam semalam?
Dasar maling!
Park Dal-pae, kau bersalah atas menulis buku terlarang.
Keluarlah untuk ditangkap!
- Sayang! - Lepaskan aku!
Suamiku bahkan tak menguasai aksara Han.
Kenapa kau menuduhnya menulis buku?
Ada apa ini?
Kalian sedang apa?
- Berhenti! - Sial.
- Sial. - Berengsek!
Dasar berandal! Kalian sedang apa?
- Astaga! - Nyonya!
Wanita tak berguna!
ASMARA SINAR REMBULAN
PENDERITAAN PEMUDA WERTHER
Astaga...
Kenapa menggeledah bukuku?
Apa?
Kau tak bisa beri tahu namamu?
Bukannya aku tak bisa memberitahumu.
Kau tak perlu tahu namaku. Itulah maksudku.
Dia diberi makanan basi saat di penjara?
Dengar, Maehwa.
Aku harus tahu namamu untuk laporanku agar bisa kulaporkan ke atas.
Apa kau perlu dipukul dahulu?
- Namamu. - Aku bukan Maehwa.
Dasar bajingan...
Tunjukkan pelat namamu.
Apa? Kau mau bilang kau tak punya pelat nama?
Kau kira aku bodoh?
Semua orang di Joseon harus punya...
Kau tak punya pelat nama?
Aku harus punya?
Apa pekerjaan ayahmu?
Maksudku... Apa pekerjaan ayah Anda, Pak?
Jika tak bisa memberi tahu detailnya, beri tahukan pangkatnya.
Pak, dia datang untuk menyerahkan diri.
Apa? Siapa?
Maehwa sesungguhnya.
Aku Maehwa, dasar berengsek.
KANTOR PENYIDIKAN
Yang Mulia!
"Yang Mulia"?
Dari caranya bicara dan berpakaian,
dia pasti dari keluarga terpandang.
Ikuti dan cari tahu dia tinggal di mana.
Baik, Pak.
Tulislah.
No comments yet. Be the first to leave one.