Le prime 200 righe.
SERIAL NETFLIX ORIGINAL
Modal recehan jadi Jutawan! Visi Mis Foya Foya, cuma di RECEH88
- Peter, semua beres? - Dunia kian kacau, Roel.
- Namun, aku tak apa. - Ya.
Halo.
PROFIL ESMÉ BAMERNI
Ya, Paulien.
- Mendapati sesuatu? - Kopi terlebih dahulu.
Tidak sempat. Ada pengarahan.
Tak akan dimulai tanpamu.
Aku sudah lihat rekan barumu.
- Dia cukup seksi. - Lupakanlah. Dia suka pria.
Aku bisa mengubahnya.
- Dia bukan tipemu. - Bagaimana kau tahu tipeku?
Kebersamaan kita selama ini.
Percayalah, aku tahu.
Bagaimana kau bisa minum ini? Terasa seperti air cuci piring.
Daripada ke ruang kopi tujuh kali sehari.
Jadi, apa yang kau dapat?
Lille?
Kau kira lebih dekat?
Bahasa Prancisku payah.
GSM VICKY TERLAMBAT. KERJA. MAAF.
- Ya, awal yang hebat. - Apa?
Baiklah, terima kasih.
- Kembalikan mug itu, ya? - Tentu.
Mungkin tak berkaitan, tapi kuterima pesan ini kemarin.
Pesan teks.
"Api neraka."
Mungkin terkait hal itu?
Tersangka kita agaknya teatrikal.
Nomornya dirahasiakan?
Paulien melacaknya.
Dikirim dari Lille dengan kartu prabayar.
Ini hanya lelucon konyol, bukan?
Pesan dikirim tepat sebelum Ferhad dibakar.
Jangan cepat menyimpulkan.
Tiada bukti kaitan dengan kasus ini.
Cara Ferhad ditemukan?
Panggilan darurat dengan ponselnya
usai api dipadamkan.
Telepon terus terhubung sementara Ferhad merintih.
Itu gila.
Ya, apa tindakanmu jika leher putrimu digorok?
Tiada bukti kedua kasus ini terhubung.
- Ayolah. - Aku tahu.
Namun, aku mau melihat kedua kasus ini secara terpisah.
Jika ada kaitan, kita akan segera tahu.
Di mana Vicky?
Dia akan terlambat.
Awal yang hebat.
Kau dan Vicky selidiki pembunuhan Esmé.
Akan kumulai dengan menanyai tersangka utama lagi.
Atau setidaknya, kucoba.
Jika Ferhad pembunuhnya, pasti ada yang memanggilnya,
mungkin membantunya juga. Temukan orang itu.
Kalian, cari pembakarnya.
- Baik. - Kabari aku.
Jangan ada pers sebelum ada tersangka.
Tambah minum?
Jangan buang waktuku.
Sudah dapat dokumenku?
Istriku menelepon kemarin.
Dia dihubungi nomor tak dikenal tiga malam berturut-turut.
Kemarin, dia merasa melihat seseorang di taman.
- Aku butuh dokumen itu, Peter. - Itu hanya kebetulan.
- Kebetulan? - Tak ada yang tahu kau sudah dibebaskan.
Kami akan urus dokumen itu. Perlu banyak proses birokrasi.
Sabarlah.
Satu bulan sudah aku bersabar.
Kau percaya aku, tidak?
Aku butuh bantuanmu lagi.
- Gadis dari pembunuhan rasa malu. - Ya.
Ferhad Peres.
Cari tahu siapa yang memanggilnya.
Pikirkan keluargamu, Hristo.
Dari mana kau?
Esmé punya kekasih.
Itu dia. Joren Desmet.
Terima kasih, Vicky.
Ya.
Kau bertindak sendiri?
Aku dapat ide saat hendak kemari dan tak mau buang waktu.
Jadi?
Dia terkejut, itu wajar.
Bagaimanapun, leher kekasihnya digorok.
- Kukira dia tahu lebih banyak. - Namun?
- Namun, apa? - Kenapa dia tak bicara padamu?
Siapa pria yang bersamanya?
Dia ketakutan, dan itu ayahnya.
Mereka menunggu pengacara
karena Simon dan Marnix kini menganggapnya tersangka utama.
Masuk akal, bukan?
Pemuda itu tak membakar Ferhad.
Maka Simon dan Marnix akan segera tahu.
Omong-omong, aku akan bicara pada Roze.
Kau tahu apa kata ibunya. Tidak tanpa pengacara.
Kita akan cari cara.
- Itu si pengacara terkenal. - Wanita jahat.
POLISI AALST
Kau bisa menyetir? Aku harus menelepon.
Lebih baik tidak.
Berapa lama kau dan Esmé berkencan?
Lima setengah bulan.
Kalian bertemu di mana?
Sebuah pesta.
Kalian sering bertemu?
Kadang kala.
Selalu diam-diam.
Diam-diam? Kenapa?
Sebab ibunya Esmé sangat keras.
Ibunya tahu tentang hubungan kalian?
Entah.
Tampaknya tahu.
Siapa lagi yang memanggil bedebah itu?
Bedebah itu belum terbukti bersalah.
- Kami harus selidiki... - Aku amat yakin dia pelakunya.
Joren, bukan itu pertanyaannya.
Kau tahu bedebah itu datang ke Belgia?
Aku tahu ada saudaranya yang datang sebab Esmé tak boleh keluar.
Bagaimana kau tahu...
Esmé telah dibunuh?
- Kabar angin. - Lalu, apa tindakanmu?
- Tidak ada. - Kau tak peduli, ya?
Apa?
Akan kulakukan apa pun demi dia.
- Aku harus bagaimana? - Hukum bedebah itu?
Itu tugasmu, bukan aku.
Kau juga tahu dari kabar angin bahwa Ferhad dibebaskan?
Ya.
Lalu?
- Lalu, apa? - Kau pikir kami tak bisa melakukan tugas.
Maka kau main hakim sendiri?
Kau akan lakukan apa pun demi Esmé. Dia mengatakannya, bukan?
- Kau gila. - Bukan aku yang gila di sini, Nak.
Hati-hati.
Kau bisa berlagak bodoh
dan pura-pura tak terlibat pembakaran itu.
Namun, jangan terlalu berharap. Kami tetap akan tahu.
Atau kau bisa berkata jujur sekarang.
Jika beruntung, kau bisa meyakinkan hakim bahwa kau hanya terdorong naluri
untuk melindungi kekasih dan bayimu,
- lalu dapat keringanan hukuman. - Tunggu, apa?
Bayi...
Esmé hamil?
- Ya, mungkin kita bisa... - Tunggu sebentar.
Atau kau yang membunuh Esmé?
Terlalu muda jadi ayah? Tujuh belas tahun.
Esmé mau aborsi? Begitukah?
Itu intimidasi, bukan pertanyaan.
Kita tahu Joren punya alibi di malam pembunuhan itu.
Ya, bagaimana kalau kita istirahat sebentar?
Marnix? Ayo?
Apa-apaan itu, Marnix?
Cukup jelas bahwa dia ingin balas dendam demi kekasihnya.
- Jelas, ya? - Jelas! Ya.
Bisa pikirkan siapa lagi yang punya alasan untuk membakar Ferhad?
Karena aku tak tahu.
Itu tak perlu.
Tak semua hal punya alasan, Marnix.
Ayolah. Pemuda 18 tahun.
Tanpa SIM, cengeng.
Dia nyaris mengompol saat kau memelototinya.
Kau pikir bocah itu bisa merobohkan pria yang lebih tinggi daripada dia?
Lalu mengikat, menculik, dan membakarnya?
- Pakai otakmu, Bodoh Gila. - Berhenti menyebutku gila!
Satu hal. Jika pengacaranya mempermasalahkan kita, kau urus sendiri.
- Kenapa dia mempermasalahkannya? - Intimidasi, contohnya.
Entah kau tahu atau tidak, dia penggila pers lebih daripada Liesy.
Ya. Terima kasih.
Ya.
Ferhad dibakar antara pukul 20.00 hingga 22.00.
Jadi, alibi Joren solid.
Dia di Café Carrefour semalaman.
Terlihat di rekaman kamera pengawas.
Jelas.
Bebaskan dia.
Sial.
Selamat siang, Roze.
Peter Devriendt dan Vicky Degraeve dari Kepolisian Kriminal Federal.
Ibuku tak ada.
Kami tak mencari ibumu.
Aku melihatmu di stasiun kereta pagi ini.
Ibuku akan segera pulang.
- Kami tak akan lama. - Ya.
Kau yang menelepon kami?
Kau takut terjadi sesuatu padamu juga?
Pamanku tak bisa melukaiku. Dia ada di rumah sakit.
Ya.
Siapa yang memintanya kemari?
- Ibumu? - Bukan.
Ibu tak akan lakukan itu.
Dia terlalu takut pada pamanku.
Namun, kau pikir pamanmu membunuh saudarimu.
Kau tahu saudarimu hamil?
- Maaf, Ibu, aku... - Pergi ke kamarmu.
Sudah kuminta jangan ganggu Roze.
Ya, tentu, Bu.
Namun, dengan segala hormat,
kau pikir Roze dan Esmé berbeda?
No comments yet. Be the first to leave one.