Le prime 159 righe.
Eh.
Kenapa kau sebegitu pedulinya terhadapku, Masaki?
Tak ada maksud tertentu kok, aku hanya ingin lebih dekat saja denganmu.
Kau ingin melakukannya?
Apa?
Kau ingin melakukannya denganku?
Hubungan seks.
Jaga bicaramu, Orihata!
Tak apa-apa kok, kalau mau bilang saja.
Namanya adalah Aya Orihata.
Dia seumuran denganku, 15 tahun.
Sepertinya, kita saat ini berpacaran.
Aku tak yakin, karena awal pertemuan kita berdua itu bisa dibilang cukup rumit.
Dia juga orangnya cukup misterius.
Kau melakukan hal yang bodoh, ya.
Di tahun ketiga SMP saat musim dingin, demi bersekolah di Jepang
aku pun pindah dari Phnom Penh tempat tinggal orang tuaku, dan kembali ke Jepang.
Namanya Masaki Taniguchi.
Aku pindah ke SMP ini hanya supaya bisa lulus saja, tapi...
Berkat sikapku yang begitu
aku jadi tak bisa berbaur di kelas.
Menurut kakakku yang bernama Nagi, sih.
Memang begitulah.
Mereka hanyalah para pecundang yang takut pada orang dengan sikap berbeda.
Karena itulah, aku berusaha untuk tak menarik perhatian dan belajar sebaik mungkin.
Wah, jadi mudah dimengerti!
Pintar banget, sih! Murid pindahan memang jago, ya.
Tapi masih saja ada orang yang tak menyukaiku.
Hoi, Anak Pindahan.
Tingkahmu itu terlalu mencolok belakangan ini.
Begitu, ya? Akan kukurangi kalau begitu.
Dikurangi?
Ya, aku takkan terlalu menarik perhatian.
Apa-apaan coba? Ikut sini.
Aku belajar karate untuk bela diri, jadi, aku tahu cara bertarung
tapi kalau terlibat masalah bisa memengaruhi kesempatanku masuk SMA.
Jadi, akan kubiarkan mereka memukulku beberapa kali.
Begitulah tadinya pikirku.
Kau melakukan hal yang bodoh, ya.
Untuk apa semua ini?
Hal buruk apa yang dilakukannya sampai kalian mengeroyoknya begitu?
Apa? Siapa kau? Temannya?
Aku sedang tanya alasan kalian tadi.
Karena dia ini suka cari perhatian sama cewek.
Oh.
Berarti
alasan kemarahan kalian karena berahi seksual kalian yang terpendam, ya.
Apa?
Apa? Barusan kau bilang apa?
Kalau begitu, kalian bisa lampiaskan semua padaku.
Baiklah! Kalau kau bersikeras, aku takkan segan-segan.
Hoi! Tunggu!
Hentikanlah! Dia tak ada hubungannya!
Kenapa kau malah berlagak sok keren?
Kau cepat pergi sana!
Kami hanya mau senang- senang sama cewek itu.
Hentikan!
Hoi, kau yang di sana.
Aku hanya ingin pastikan tindakanmu ini.
Siapa kau?
Apa kau ingin menolong gadis itu?
Ya.
Aku mengerti. Kalau begitu sebaiknya kau serahkan ini padaku dan pergilah dari sini.
Baik, terima kasih banyak!
Hoi, tunggu!
Yang akan menunggu itu kalian.
Sekarang duduk dan tunggu aku di sini, ya.
Ya.
Aku akan segera kembali!
Hai, kau yang tadi.
Apa semua baik-baik saja?
Ya, daripada itu... Bagaimana dengan gadis itu?
Oh, aku menyuruhnya menunggu di stasiun.
Sebaiknya kau segera temani dia.
Baik.
Gadis itu, sebenarnya tak merasa tenang seperti kelihatannya.
Eh?
Oh. Terima kasih banyak!
Kau benar-benar membuatku terkejut. Tapi terima kasih banyak, ya.
Kenapa?
Habisnya, kau tadi menolongku, 'kan?
Kukira kau membenciku, jadi...
Eh? Kenapa aku membencimu?
Aku tak suka dibenci oleh orang lain.
Aku tak membencimu, tahu.
Tapi... Kau melotot.
Eh?
Kukira kau marah padaku.
Oh. Bukan, kalau itu...
Daripada itu, aku akan ganti pakaianmu dengan yang baru.
Tak usah.
Tapi...
Sungguh, tak usah. Terima kasih.
Namaku Aya Orihata.
Eh?
Siapa namamu?
Aku Masaki Taniguchi.
Masaki.
Nama yang indah, ya.
Kalau diingat-ingat, mungkin saat itulah aku jatuh cinta pada pandangan pertama.
Yakin mau pergi bersamaku?
Ya, aku kan ingin berterima kasih juga soal yang waktu itu.
Oh, tapi kalau sedang sibuk tak apa-apa, sih.
Terima kasih. Aku akan pergi.
Bagaimana? Mau lain kali saja?
Kenapa?
Karena antrean ini akan lama.
Kau tak mau menunggu?
Habis, lama begini bakal capek, 'kan?
Kalau begitu, aku akan menunggu. Masaki istirahat saja dulu.
Tidak, tidak. Kalau begitu, aku juga bakal menunggu.
Tenang saja, aku sudah biasa tak lakukan apa pun.
Ya, habisnya, aku lakukan ini untuk berterima kasih.
Oh, ya! Tunggu sebentar di sini, ya.
Ini Chesseburger dan Hot Dog-nya. Terima kasih banyak.
Sama-sama!
Oh, ada si anak pindahan.
Lagi apa di sini?
Oh, biasalah.
Pasti lagi biarkan cewek menunggu, ya?
Maaf ya, aku lagi buru-buru. Dadah.
Yakin tak apa-apa?
Ya. Aku tak pilih-pilih, kok.
Karena aku tak punya hak untuk membenci sesuatu.
Eh?
Daripada itu, Masaki, kukira kau takkan kembali lagi.
Itu mana mungkin, 'kan!
Malahan, aku sudah siap buat berdiri lama!
Ya, sudah bersih sekarang.
Kau senang?
Eh?
Masaki, jalan bersamaku tak membuatmu merasa bosan, 'kan?
Tentu saja tidak!
Syukurlah. Aku khawatir memikirkannya.
Orihata juga, tak merasa bosan pergi bersama.
Masaki itu hangat, ya.
Dengan begitu, aku akhirnya pacaran sama Orihata.
Tapi apa benar kami ini bisa disebut pacaran?
Dia ini seperti diselubungi banyak misteri.
Yang duluan menghubungi selalu aku.
Selalu saja begitu.
Aku bakal gelisah, dan dia bakal tenang.
Karena itulah aku sering-sering mengajaknya jalan keluar.
Oh, aku masih belum tahu.
Masih belum tahu? Belum memutuskan mau lanjut ke mana?
Kayaknya sih aku bakal ikut ujian masuk
tapi tujuannya masih belum tahu.
Orang tuamu tak kasih pilihan?
Aku tak punya yang seperti itu.
Eh? Apa maksudnya?
Aku tak punya orang tua.
Kalau begitu, saudara ada?
Apa harusnya aku tak tanya?
Maaf ya, Masaki.
Eh? Kenapa?
Maaf.
Aku tak bisa bilang.
Oh, tak apa-apa.
Meski begitu, di setiap akhir kencan, dia pasti selalu bertanya begini...
No comments yet. Be the first to leave one.