Le prime 200 righe.
Drafeir -
SERIAL NETFLIX ORIGINAL
EPISODE 4
Dia belum menelepon.
Dia juga tak menjawab teleponmu?
Tidak. Mungkin dia tak mendengar karena bar berisik.
Tapi bukankah seharusnya bar sudah tutup?
Dia belum membaca pesan. Firasatku buruk.
Kau tak tahu dia bertemu siapa?
Maaf. Seharusnya aku periksa.
Aku akan terus mencari.
Tolong jangan terlalu cemas. Sebaiknya kau tidur.
Hyeong-seok keluar?
Aku kira dia sudah tidur.
Kau bertemu Jin-woo di sini, 'kan?
Dia bilang apa?
Dia mengatakan hal lain
selain sapaan biasa?
Perceraian pertama yang terberat. Yang kedua mudah.
Kenapa kau bertanya?
Kami hanya berpapasan.
Kami hanya menyapa. Memangnya bicarakan apa?
Bertahan setahun. Cukup. Makin lama bosan.
Bukankah kau juga begitu?
Kurasa kau salah paham. Bukan itu maksudku.
Aku tak akan kembali.
Jelas?
Aku tak akan kembali.
Siapa yang menyangka kau sebenarnya ayahku?
Hanya saat Jin-woo meninggal...
Kenapa menangis?
Bukankah aku yang seharusnya menangis?
Su-jin.
Aku tak marah kepadamu.
Kau harus memahamiku, ya?
Dari semua orang di dunia...
hanya kau yang mendukungku.
Jangan tunggu aku.
Aku mau bertemu seseorang.
Siapa?
Kau tak perlu tahu.
Sudah pukul 05.00.
Mungkin dia mabuk dan tertidur di jalanan.
Apa sebaiknya aku mencari juga?
Su-gyeong.
Kau masih punya nomornya, 'kan?
"Nomornya"? Siapa?
Maksudmu Jin-woo, iparku?
Kenapa kau terus menyebutnya ipar? Dia bukan suamiku lagi.
Astaga, benar. Pak Yoo Jin-woo.
Aku terbiasa memanggilnya begitu.
Kenapa kau bertanya?
Kurasa dia pergi menemui Jin-woo.
Kenapa mereka bertemu?
Mereka sudah tak akrab untuk bertemu dan minum bersama.
Beri aku nomornya untuk jaga-jaga.
Kau tak punya nomornya?
Aku sudah menghapusnya.
Hei, kau tak apa?
Hei.
Hei! Ada orang?
Siapa saja?
Hei! Ada orang mati!
Hee-ju!
- Hee-ju. - Ya?
Periksa buku tabunganmu.
Apa?
Periksa tabunganmu dan pastikan uangnya masih ada.
Dalam mimpi nenek, semuanya sudah ditarik dari tabungan.
Aku yakin masih ada. Memangnya bisa ke mana?
Bangun dan periksa saja.
Dalam mimpi nenek, saldonya menjadi nol.
Astaga, bagaimana jika kita ditipu?
Nenek sangat khawatir.
Astaga, jangan cemas.
Dia terkenal. Dia tak bisa menipu.
Semua penipu meyakinkan. Jika tidak, mana bisa menipu.
Periksa tabunganmu sekarang.
Cukup masuk akal.
Kenapa kirim uang lalu ditarik?
Astaga, periksa saja saldonya.
BANK SB JUNG HEE-JU
Uangnya hilang? Hilang, 'kan?
Pasti tak ada. Saldonya nol, 'kan?
Astaga, ini bencana.
Sudah nenek duga.
Masih ada.
Apa?
Sepuluh miliar wonnya masih ada.
Nenek, kau sungguh menakutiku.
Nenek membuatku gila.
- Biar nenek lihat. - Ini, lihatlah.
Satu, dua, tiga, empat, lima,
enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh,
sebelas digit. Total sepuluh miliar won.
Astaga.
Apa nenek sedang bermimpi?
Meski dilihat terus, nenek tetap tak percaya.
Ini bukan mimpi, Nenek.
Kita sungguh kaya sekarang.
Hee-ju.
Kau sudah bekerja keras.
Nenek tahu keadaan sangat berat bagimu.
Nenek.
Kau sudah berhasil.
Nenek.
- Kau memasak mi instan? - Ya.
Ada daging sirloin di kulkas. Makanlah. Gratis.
- Serius? - Ya, tentu saja.
Benar.
Kami juga punya kudapan.
Juga, kau boleh minum bir di kulkas dan anggur di sana.
- Semuanya gratis. - Sungguh?
Ya, sungguh.
Perasaanku sedang baik hari ini.
Silakan ambil, ya.
Asyik. Terima kasih, Hee-ju!
Maaf. Mulai bulan depan, kami tak sediakan kamar.
Bukan begitu. Kami akan tutup setelah bulan ini.
Ya, kami tak mengelola hostel lagi. Kami menjual gedungnya.
Baiklah, maaf.
Min-ju, mau beli mobil baru?
Mobil baru?
Mobil kita sudah tua.
Bagaimana jika van seperti itu?
- Tapi van mahal. - Bahkan yang paling mahal tak akan
- lebih dari seperseratus uang kita. - Sungguh?
Bagi kita, van murah sekali.
Maka kita harus beli satu.
- Setuju? - Setuju.
Aku kunjungi dealer saat Se-ju pulang.
Belajar yang rajin.
Dah.
Hai, Hee-ju.
- Apa kabar? - Baik!
- Hai, Jordi. - Hei, apa kabar?
- Hai, apa kabar? - Hai, selamat pagi.
- Aku mau ini sepuluh. - Tentu.
Dan ini lima.
Aku juga mau ini.
Apa ini hari istimewa? Kenapa membeli banyak bunga?
Tidak, aku hanya membelinya karena mereka sangat indah.
- Kini aku bisa sedikit boros. - Sempurna.
Ini dan sepuluh batang itu.
- Tiga. - Sempurna.
Kau mau masuk?
TOKO GITAR BELLIDO
Jaga dirimu, Nona Jung.
Teruslah bermain gitar klasik.
Omong-omong, kau bisa main gitar, Nona Jung?
Bukankah kau mahir bermain gitar klasik?
Bagaimana kau tahu?
Aku sudah berhenti sejak lama.
Kenapa berhenti? Kau berbakat.
Kau punya uang sekarang, kenapa tak bermain lagi?
Jujur saja, kau jauh lebih menarik
saat memainkan gitar.
Di mana dia pernah mendengarku bermain?
YOO JIN-WOO
YOO JIN-WOO
YOO JIN-WOO, DIREKTUR J ONE HOLDINGS
Sang-beom?
Halo, selamat...
Tepat sekali kemari.
Kau tahu aku di sini?
YOO JIN-WOO
Terima kasih.
Aku tak fotogenik, 'kan? Aku lebih tampan aslinya.
Kau jauh lebih tampan aslinya. Astaga.
Orang-orang di hostel bilang kau ada di sini.
Kau tak hanya bermain musik, tetapi juga membuatnya.
Ya, aku masih belajar.
Bagaimana bisa ada di sini?
- Taksi. - Bukan itu maksudku.
Kenapa ke Granada lagi?
Kukira kau sudah kembali ke Seoul.
Kemarin Pak Seo bilang tak ada alasan kau kembali.
Sesuatu membawaku kembali.
Ini bagus.
Aku agak sedih saat kau pergi begitu saja kemarin.
Nenek juga merasa bersalah kami belum pernah menjamumu.
Kau sibuk?
Kau harus bekerja sekarang?
Aku tak sibuk. Aku sedang mengerjakan proyek pribadi.
Kalau begitu mau ikut denganku?
- Ke mana? - Aku butuh bantuanmu.
TOKO GITAR BELLIDO
Ke mana dia?
Apa?
Pria itu masih di sini?
BERPENUMPANG
Kau butuh bantuan soal apa?
Aku butuh penerjemah.
Bahasa Spanyol? Itu keahlianku. Kau mendatangi orang yang tepat.
Pak Seo akan membayarmu nanti...
Astaga, jangan cemas. Kau tak perlu membayarku.
Pekerjaan adalah pekerjaan.
Sungguh tak apa. Aku kaya sekarang.
Aku tak bekerja untuk bayaran kecil.
Aku anggap ini pekerjaan sukarela.
No comments yet. Be the first to leave one.