Le prime 200 righe.
Aku terlahir di pohon sikamor.
TAHUN 1950
Usia kehamilan Mama sembilan setengah bulan
berpikir apakah itu akan berakhir.
Dia tak melihat akhir itu akan tiba.
Jadi, dia akhirnya menemui penyihir yang dikenal nenekku untuk minta bantuan.
Yesus
Penyihir itu bertanya pada Mama apa dia ingin anaknya
untuk dipandu oleh takdir atau nasib.
Nah, takdir akan membiarkanku berbelok ke kiri atau kanan,
tapi nasib akan jadi jalan satu arah.
Nah, semua itu terdengar sama bagi Mama.
Jadi, penyihir itu membuat pilihan dan menunjukkan jalan padanya.
Tapi pertama, dia harus memanjat pohon sikamor
dan menyanyikan himne favoritnya. Hanya saat itulah aku akan datang.
Mama bilang aku yang tak lahir di tanah
artinya tak punya rasa takut alami akan jatuh...
Halo, Odette.
Jadi, aku terkutuk dengan hidup tanpa rasa takut.
Tapi temanku, Clarice, dikutuk dengan sesuatu yang sama sekali berbeda.
Hai, Manis.
Dia dikutuk lahir dari seorang mama
yang berpikir jika dia bisa memasang wajah dan pura-pura sempurna,
orang takkan tahu bahwa dia hanya seorang yang mudah goyah.
Para fotografer memotret dan mama Clarice memasang senyum terlatih,
yang terbiasa dia lalukan kapan pun suaminya tak ada.
KELUARGA BARU KULIT HITAM YANG MEMBERI INSPIRASI
Dengan aku yang terlahir di pohon
dan Clarice lahir di rumah sakit orang kulit putih,
sahabat kami, Barbara Jean, harus melakukan hal spesial
untuk datang ke dunia ini... dan dia sungguh melakukan itu.
Tapi tidak dengan cara yang diduga oleh mamanya yang liar dan bebas.
Dengar, Semua, Biar kuceritakan soal gadis cantik kami.
Majikannya membuat mabuk setiap ayah potensial
dan buat mereka menyombongkan wanitanya.
- Loretta... - Telingamu
pasti panas, karena... Itu bukan anakku.
Kau lakukan apa? Kukira kau cinta aku.
Mereka segera sadar
bahwa mereka menyombongkan wanita yang sama.
Semua orang percaya kami bertiga datang ke dunia ini
dengan cara tak biasa adalah pertanda buruk,
bahwa lukisan kami bukan mahakarya, tapi kekacauan.
Kekacauan yang akan didikte oleh takdir atau nasib.
Aku tak pernah cukup lucu bagi orang untuk mengabaikanku
sebagai orang menyebalkan.
Tapi Clarice dan Barbara Jean mencintaiku.
Kupikir aku di sini untuk mencintai mereka.
Tapi persahabatan tak selalu berakhir seperti itu.
Penyihir itu telah menempatkanku di jalan satu arah,
jalan yang mau tak mau mengarah pada buku milik Clarice, aku, dan Barbara Jean
dirobek dari sambungannya.
TAHUN 1968
Bravo, Clarice!
- Odette... - Bravo, Clarice.
Encore.
Duduklah, Odette.
Ya, Clarice, aku takkan menyimpan pialamu lagi.
Harus bawa pulang.
Koperku sudah penuh, Odette.
Entah harus diapakan.
Semua pemain piano lain melihat piala itu
seolah itu Kedatangan Kedua Yesus.
Kau lihat itu seolah ia berutang uang padamu.
Desainnya bisa lebih pandai.
Lihat ini.
Kau tak perlu cemas soal desain tiket pesawat ke New York itu.
- Beberapa tiket. - Lihat, sudah kubilang.
Sudah kubilang kesepakatan rekaman adalah piala bagi mamamu.
Lebih baik dia daripada aku, karena aku lelah pegang posisi itu.
Tak peduli bagaimana melihatnya,
itu tetap gaun paling jelek di dunia.
Sumpah, pakaianmu seperti asuransi keperawanan.
Mungkin harus kau pakai untuk jaga keperawananmu.
Aku tak pernah lihat orang berubah secepat itu,
dari Perawan Maria ke Mary Madeline.
Rumah gereja ke bordil.
Jangan memintaku memberitahumu apa pun lagi.
Yah, aku tak mengeluh, dan Richmond juga tidak.
Aku tak bisa memutuskan, Clarice.
- Kemarilah. - Baiklah.
Cobalah yang biru.
- Apa? Ayolah. - Lihat.
Tak masalah.
Semua ini agar kau dan Richmond bisa menjodohkanku
- dengan orang bisu. - James hanya agak pemalu, Odette.
Dan kau yang bicara kejam dan kasar begitu mungkin menakutkannya.
Aku wanita terus terang dengan mulut besar.
Dan jika James tak bisa hadapi itu,
maka dia bisa pergi ke tempat lain
karena aku takkan duduk...
- Dan apa gunanya ini? - Menonjolkan warnanya.
Rasanya kau mencekikku.
Yang penting nada tambahan, Odette.
Saat James melihatmu kali ini, dia takkan bisa tutup mulut.
- Dia hanya bisa tutup mulut. - Lihat dirimu.
Berputarlah... James, kemarilah...
Odette, antarlah ini
ke rumah temanmu, Barbara Jean.
- Barbara Jean? - Hari ini pemakaman mamanya.
Kubakar ayam untuk keluarganya.
Barbara Jean tak punya teman.
Sepupuku, Veronica, bilang dia melihatnya menyisir
dan seekor kecoak jatuh.
Diamlah.
Dan kami akan ke Big Earl's.
Barbara Jean tinggal di arah sebaliknya, aku pakai sepatu hak tinggi.
Odette akan bawa ayam ini ke rumah Barbara Jean
untuk tunjukkan kebaikan.
Kalau cemas soal sepatumu, pergilah telanjang kaki.
Takut kecoak, maka mundurlah.
Atau mungkin kau harus pulang saja, Clarice.
Akan kulakukan.
Wigmu tampak bagus.
Kejam dan kasar, ya?
Mamamu mengirim kita ke mana?
Ini alasanku tak pernah ke sini.
Kita di sisi lain Leaning Tree.
- Begini cara anak hilang. - Bagaimana kau tahu?
Sepupuku, Veronica!
Andai seseorang menculiknya.
- Hei, apa kabar? - Jangan mengobrol.
Yah, aku tak suka sikap itu.
- Mereka bisa saja bilang sesuatu. - Mereka melihat kita.
- Jika ibuku tahu aku di sini... - Bicara terlalu banyak.
- Apa itu? - Mau sepatunya kotor?
Odette, kita harus langsung pergi.
- Akan langsung pergi. - Langsung. Ayo.
Aku tahu ini pasti rumah yang benar.
Tinggalkan saja.
Kau ingin ambil peluangmu kabur dari mamaku
terbirit-birit, silakan saja.
Wanita itu ubah pukulan bokong jadi bentuk seni.
Odette.
Hai.
Mamaku, dia... Dia mengirim ayam ini untuk Barbara Jean.
Barbara Jean, temanmu datang.
Kami turut berdukacita.
- Mamaku mengirim... - Terima kasih.
Katakan pada mamamu, aku dan putri tiriku
menghargai kebaikannya.
Masuklah.
Ayo, masuk.
Tidak.
Di mana bibi dan sepupumu?
Kau tahu, untuk pemakamannya.
Kurasa, mereka tak peduli.
Maaf, di mana kesopananku?
Anak ini akan mengambil gelas untuk tamu kami.
Tidak.
Tidak, terima kasih, Pak.
Kami hanya datang untuk beri makanan dan jemput Barbara Jean.
Mamaku minta bawa dia ke rumah kami untuk makan malam,
dan tak terima penolakan.
Tidak.
Dia melalui banyak hal hari ini.
Kurasa dia harus bersama keluarga.
Kau mau itu, Barbara Jean?
Ya, benar.
Jika kau tak mau tangan itu patah,
sebaiknya jangan sentuh dia.
Aku tahu siapa kau.
Kau gadis penyihir gila yang seharusnya lahir di dalam pohon.
Katanya tak takut apa pun.
Yah, kurasa saatnya seseorang memberimu sesuatu untuk ditakuti, Nak.
Kau benar soal aku.
Ayahku adalah juara Golden Gloves.
Dan sejak aku kecil, dia sudah mengajariku
cara mengatasi pria bodoh yang ingin menakutiku.
Jadi, biarkan aku berterima kasih saat kau masih sadar,
karena beri peluang untuk tunjukkan
beberapa hal spesial yang dia ajarkan.
Bukakan ritsletingku.
Buka ritsletingku sekarang.
Aku tak mau bajuku terkena darah bajingan ini.
Yah, ayolah.
Di mana sabukmu? Ayo.
Ya. Gunakan sabukmu, ayo!
Aku tak punya waktu untuk hal gila ini.
Aku tak peduli padamu.
Pergilah.
Aku tak tahu ayahmu bertinju.
Berat ayahku 50 kg membawa batu.
Mau lawan siapa?
Yah, ayo, Barbara Jean.
Sebaknya ikut kami ke Earl's.
- Aku tak tahu. - Ayolah.
Kau sudah berdandan dan tampak cantik.
Terima kasih.
Dan Barbara Jean, apa pun yang terjadi,
jangan makan ayam mamaku.
Aku sakit perut selama dua pekan.
Rasanya, baunya.
STEREOFON WURLITZER
Hei, Sayang.
Aku dan mamamu, kau tahu, kami tak bisa membawanya.
Kau dan Lydia. Itu akan jadi tempat kalian.
Lihat Nona Gigi masuk ke sini dengan cantik.
Hei, kau... Hai.
SAMPAI JUMPA LAGI
No comments yet. Be the first to leave one.