Le prime 114 righe.
Kau...
Aku tak tahu apa maksudmu
tapi kenapa kau tak melakukannya demi bertahan hidup saja?
Dengan begitu, kau mampu selamatkan lebih banyak orang lagi.
Tak mudah selamatkan manusia.
Makanya, bukankah yang kau lakukan itu terlalu sia-sia?
Takkan ada bedanya kalau begini terus.
Kau mau apa?
Siluman, ya?
Tolong! Kau kenapa...
Maaf, tapi aku sendiri tak tahu.
Hyakkimaru.
Kau...
Ternyata benar kau.
Mengerikan sekali.
Episode 17
Kisah Pertanyaan dan Jawaban
"Kisah Pertanyaan dan Jawaban."
Ini memang kulit asli.
Kau sudah bisa tersenyum, ya?
Kau bisa dengar suaraku?
Aku bisa mendengarnya.
Bisa bicara. Menakjubkan.
Matamu masih buta, ya?
Tapi aku bisa merasakan.
Selalu.
Selalu merasakannya.
Begitu, ya. Aku tahu.
Aku ini bagimu...
Bagimu
aku ini apamu?
Aku bertemu denganmu, memberimu tubuh dan nama.
Tapi apa yang kulakukan itu sudah benar?
Itu seperti...
Ini.
Itu rusak, ya.
Kugunakan untuk bertarung.
Makanya, benda yang sama seperti ini
aku menginginkannya.
Kau pasti lapar, 'kan?
Ini. Aku ingin benda ini.
Pertama, kubuatkan dulu makan buatmu.
Nah, sudah masak, lo.
Tunggulah sebentar.
Tak apa. Aku sudah bisa rasakan panas.
Begitu pula dengan dingin. Semuanya bisa kurasakan.
Begitu, ya.
Sudah tak perlu seperti dulu, ya. Nah.
Benangnya makin rapuh, ya.
Kuganti yang baru.
Hanya ini satu-satunya kunci untukmu temukan keluargamu.
Kagemitsu Daigo.
Daigo.
Kau sudah bertemu dengan kepala keluarga ini?
Pria itu...
Dia tumbalkanku pada para iblis.
Masih memakannya.
Apa maksudmu?
Hyakkimaru, ceritakan padaku segala yang kau ketahui.
Apa yang dikatakan pria penguasa itu padamu?
Hyakkimaru!
Nyonya, Anda sudah bangun?
Aku akan panggil dokter.
Aku ini sungguh naif.
Tuan Muda, nyonya sudah bangun!
Itu berita bagus! Tuan Muda!
Aku sedang buru-buru. Nanti kutemui beliau kalau sudah pulang.
Harusnya dia jenguk dulu ibunya sebelum kita berangkat.
Ada siluman yang menampakkan diri di daerah kita. Apa boleh buat.
Tuan Muda sudah berubah.
Hyogo.
Tapi memang benar, dia sudah berubah.
Berarti, seluruh wilayah itu bergantung padamu.
Sungguh berat.
Aku menemukan dan membesarkanmu yang ternyata hanya buatmu hidup dalam neraka.
Aku butuh itu.
Aku mau itu.
Tidak, aku tak bisa memberimu kaki baru.
Kenapa?
Kau akan bertarung melawan iblis lagi, 'kan?
Kau mengalahkan iblis, mendapatkan kembali anggota tubuhmu
lalu wilayah yang bergantung padamu itu...
Tidak, itu memang tanggung jawab yang harusnya dipikul ayahmu, sebagai penguasa.
Memang benar, kau jadi lebih mirip manusia dibanding dulu.
Tapi bukankah dalam dirimu tak ada kemanusiaan?
Dari yang kulihat, kurasa kau tak hanya pernah membunuh siluman saja.
Aku sudah tahu.
Kaki buatan baru itu pasti hanya akan buatmu semakin dekat dengan neraka.
Aku tak mampu memberikannya.
Aku menginginkannya.
Maaf.
Kenapa?
Aku tak mampu selamatkanmu.
Tak mampu!
Aku tak mampu selamatkanmu!
Dokter bilang tak perlu cemas lagi.
Jangan bertingkah sembrono lagi.
Betapa sembrononya diriku ini.
Aku serahkan nyawaku, tapi apa berharganya nyawaku ini?
Tuan.
Kau ingat Dewi Belas Kasih berkepala buntung?
Ya, kau selalu berdoa padanya.
Kepalanya buntung saat Hyakkimaru lahir.
Kurasa itu adalah hadiah, tanda kepercayaan.
Aku pun terus berdoa demi anakku.
Saat mendengarnya hidup, kukira doaku sudah dijawab.
Sungguh sia-sia yang aku perbuat.
Jadi, Hyakkimaru mampu bertahan hidup
hanya karena dewi itu serahkan kepalanya pada para iblis.
Kenapa kepalanya bisa utuh, sedangkan anggota tubuhnya yang lain direnggut?
Aku merasakannya sama seperti hari itu, saat kepala sang dewi terpenggal.
Dari kedua belas iblis itu, ada satu yang gagal melahap anakku.
Sekarang, Dewi Belas Kasih sudah retak, perjanjianmu sudah tak berlaku.
Lalu, Hyakkimaru pasti merebut kembali tubuhnya.
No comments yet. Be the first to leave one.