My Father's Violin

My Father's Violin (Babamın Kemanı)

Scarica il sottotitolo Indonesian

Informazioni sulla release

MY FATHER'S VIOLIN 2022 1080p WEBRip
Un commento di -ITA-
Netflix Retail

Tag

webrip
web
BRip
1080
Pubblicato il: 2022-01-22
Download: 28
Sottotitoli per non udenti: No

Anteprima dei sottotitoli in Indonesian

Le prime 200 righe.

NETFLIX MEMPERSEMBAHKAN

Ya Tuhan!

Tepuk tangan untuk para musikus

dan masukkan tip ke topi!

Terima kasih, Bu!

Tepuk tangan untuk para musikus dan masukkan tip ke topi!

- Lari! - Berhenti, kemari!

- Ada apa ini? - Kemari! Jangan lari!

Sayang, nanti kau kelaparan karena makananmu untuk anjing itu.

Ayah, jangan ganggu binatang malang ini. Biarkan saja.

- Ayah tidak apa? - Tidak apa.

Hanya tersedak tulang ikan.

Ayah?

Ya, Sayang?

Kenapa mereka selalu mengusir kita?

Mereka takut.

Takut siapa? Kita?

Bukan, mereka takut diri sendiri.

Mereka takut menyadari bahwa mereka bagian dari musik yang sama.

Maksud Ayah?

Dengarkan ini.

Lihat mereka.

Lihat, 'kan?

Setiap orang adalah melodi.

Tinggal pahami cara mendengarkannya.

Maaf, Maestro.

Sebagai anggota orkes ini, kau tidak boleh salah.

Sudah berminggu-minggu kita berlatih komposisi yang sama.

Maafkan saya.

Putra saya jatuh sakit.

Kini dia opname didampingi ayahnya.

Saya memikirkan mereka, maaf.

- Apa keluargamu yang utama? - Ya, Maestro.

Keluarga selalu saya utamakan.

Baiklah.

Berkumpullah dengan mereka.

Tak ada tempat untukmu di sini.

Baik. Mari kita lanjutkan.

Ya Tuhan!

Astaga, Ali Rıza. Kita sudah jalan sampai pegal!

Lihat, muncul ruam di kulitku! Jalanku seperti bocah baru disunat.

- Selamat malam. - Selamat malam.

Selamat malam.

- Bisa bukakan pintunya? - Ya.

Baiklah.

Ada apa? Kau membangunkan Ayah pagi sekali.

Ayah?

Ini kenapa?

Itu luka saat gunung meletus.

Ayah jatuh ke gunung berapi saat menolong orang.

Jangan bohong!

Pamanmu menyelamatkan Ayah.

Ayah bilang luka di kepala Ayah karena terserempet pesawat.

Sayapnya menggores ini sampai membekas, lihat?

Lalu yang ini kenapa?

Diterjang singa.

Mustahil. Di daerah kita?

Di daerah kita dahulu ada banyak singa.

Paman dan Ayah mengusirnya.

Kini pamanku di mana?

Kenapa pagi-pagi kau menanyakan hal rumit begini?

Aroma apa itu?

Oh, menemen-nya!

Wah, lihat semua makanan ini!

Sayang, siapa yang akan menghabiskan semua menemen ini?

Si Penyuka Manis banyak makan, tapi tak pernah kenyang.

- Kupanggilkan yang lain, ya. - Baik.

- Jangan makan sebelum semua kumpul. - Baik!

Hayo!

VIRTUOSO TERNAMA KONSER MALAM INI

Astaga, Ali Rıza. Hati kami koyak mendengar musik sia…

Mendengar musik gilamu.

- Hadap kemari, Pak Mahir. - Bisa hadap kemari juga?

Terima kasih. Sudah cukup, ya?

Hebat, Mehmet Mahir. Malam yang luar biasa.

Omong-omong, Ulrich Mertin pekan depan ke kantorku.

- Kau bisa bergabung? - Ya.

Tiket konsernya hampir terjual habis. Pasti akan ramai.

- Kita lihat saja. - Ini Merve, istriku.

- Sudah kenal? - Ingatanku buruk.

Sepertinya begitu, ini pertemuan ketiga kami.

- Sudah bertemu Bu Suna? - Ya, tentu.

Kami sedang membahas konsernya dengan Ulrich Mertin.

Dia virtuoso biola dari Berlin.

Pasti kau merasa terhormat bisa memainkan komposisinya.

Ya, tentu. Tentu saja.

Tapi konser akan dibuka dengan komposisiku.

- Belum ada pembahasan itu. - Aku suka kejutan.

Bu Suna beruntung sekali. Suamimu punya bakat unik.

Aku yang beruntung. Aku tak akan sukses tanpa istriku.

Yah…

- Demi kesehatan. - Demi kesehatan.

Tadi aku juga terkejut.

Komposisimu. Katanya kau punya komposisi.

Aku ingin mendengarnya.

Aku punya beberapa ide.

Kau selalu saja punya ide.

Kau harus menjadi yang terbaik dan terhebat, 'kan?

Mehmet Mahir Kamacı…

Jangan sekarang, Suna.

Pergilah, nanti kususul.

Wah.

Konser besar, ya?

Cuma ingin mengucap selamat?

Aku membawa ini.

Aku punya foto yang sama.

Sudah kurobek.

Simpan saja.

Kau sudah dewasa.

Kau sudah menua.

Aku berusaha menghubungimu, tapi…

- Apa alasanmu? - Ini bukan alasan.

Italia itu jauh.

Keluar daerah saja sulit bagiku.

Mana bisa keluar negeri?

Tapi akhirnya kau sukses.

Adikku kini pemain biola ternama.

Virtuoso biola.

Kenapa kau kemari?

Kau punya keponakan. Namanya Özlem.

Usianya delapan tahun.

Dia kecil-kecil cabai rawit.

Ibunya meninggal saat melahirkannya.

Sejak itu, kami tak bahagia.

Dia cerdas. Seperti saat kau kecil.

- Dia bisa bermain biola… - Kau mau apa?

Setelah 32 tahun, kau membicarakan putrimu seakan-akan tak ada masalah?

"Kalian serupa. Dia mirip dirimu."

Kalau begitu, semoga putrimu tidak kau tinggal kabur juga di kapal.

- Aku tak kabur. - Kau kabur, Ali Rıza.

Segalanya kuusahakan sendirian.

Jadi,

jangan tiba-tiba datang usai sekian lama untuk mengungkit keluarga.

Mehmet!

Aku sekarat.

Dokterku mengimbau

agar ini segera ditangani.

Kemudian, tinggal menunggu hari.

Aku tak takut mati.

Tapi, Özlem…

Dia sebatang kara sepeninggalku.

Tapi dia punya paman.

Kau sudah lama kuanggap mati, Ali Rıza.

Aku tak punya kakak atau keponakan.

Suna.

Aku bertemu Ali Rıza.

Siapa?

Kakakku.

Aku bertemu kakakku.

Dan namanya Ali Rıza.

Dan aku baru tahu sekarang.

Dia banyak berubah.

Hanya matanya yang sama.

Dan mungkin lukanya.

Dia menatapku seperti hari itu.

Saat dia meninggalkanku.

Sut, sudah!

Diam, banyak yang sudah tidur. Jangan berisik.

Si Koboi akhirnya bicara juga. Baik, Sheriff, kami akan tenang.

Kau mengayomi daerah ini agar damai, kami paham.

- Sekali-kali coba tak mabuk. - Memang kenapa?

Kau kenapa?

Ali Rıza?

Kau baik-baik saja?

Ya, aku tak apa. Tenang saja.

Kau tak baik saja, kau batuk berat. Biar kubawakan itu.

- Cepat sembuh. - Kau tak apa?

- Ayah tak apa? - Ya.

Ayah, mulut Ayah berdarah!

Ali Rıza!

Kenapa melihat saja? Panggilkan taksi!

- Hei. - Jangan menangis.

Halo? Kami menunggu. Kami menunggu di jalan.

Cepatlah.

- Ayah! - Baiklah.

Ayah tak akan meninggal, 'kan?

Cepatlah!

Ya, kami menunggu di jalan.

Ayah tak akan meninggal, Sayang.

Ayah akan selalu di sisimu.

Tiap kali kau bernapas,

Ayah juga.

Tiap kali angin berembus,

Ayah usap rambutmu.

Tiap kali hujan turun, Ayah kecup pipimu.

Tiap kau menyentuh tanah, Ayah genggam tanganmu.

Tiap kau memainkan biola,

Ayah sandarkan kepala di pundakmu.

Ayah akan selalu mendengarkan.

Ayah akan mendengarkan tiap kau bermain biola.

Bicaralah kepada Ayah.

Jangan berdiam saja.

Ayah akan selalu di sisimu.

DINAS SOSIAL PROGRAM KESEJAHTERAAN ANAK

Dalam periode ini, dia harus diasuh oleh negara.

Sementara kalian hanya bisa menemui Özlem pada hari kunjungan.

- Koboi? - Itu dia!

Si Kecil datang juga.

Kemarilah, Özlem sayang.

Özlem, Bu İnci kemari…

More Indonesian subtitles for My Father's Violin

Commenti

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left