Le prime 184 righe.
Sanosuke Sagara.
Usia 19 tahun.
Lahir di tahun 1860 sebagai putra sulung petani di Shinshu.
Pada usia 9 tahun, kabur dari rumah untuk bergabung dengan Pasukan Sekiho.
Berguru kepada kapten mereka, Sozo Sagara yang disegani,
hingga kelompok mereka dikambing hitamkan,
dan Sozo dihukum pancung,
sekaligus pembubaran Pasukan Sekiho.
Kemudian merantau ke Tokyo, menjadi petarung yang dijuluki Zanza,
dan punya nama di dunia hitam,
tetapi dikalahkan seorang pengembara bernama Kenshin Himura.
Sejak itu mulai sering mampir ke Dojo Kamiya,
dan saat ini menjalani kehidupan yang santai sebagai gelandangan.
Episode 18 Sanosuke dan Lukisan Nishiki
Lukisan Nishiki?
Hari ini ada kiriman yang baru,
tetapi karena dilukis oleh seniman terkenal,
barangnya menjadi cepat sekali laku.
Sudah begitu, pekerjaanku hari ini tak bisa ditinggal.
Makanya, menyuruh aku membelinya?
Ya.
Boleh minta tolong, tidak?
Tinggal suruh Yahiko saja...
Aku juga kerja di sini, Goblok!
Dasar!
Gelandangan saja sok-sokan!
Ya, sudah.
Biar kubelikan buatmu.
Hitung-hitung, balas budi sering makan gratis.
Semua itu tak gratis, lo.
Semua dicatat dalam bon utangmu.
Tak usah pakai ribet, lah.
Jadi, mau beli punya siapa dan seperti apa?
"Pendekar Pedang Hachiro Iba" karya Tsunan Tsukioka!
Oh, pendekar tampan terpopuler di Zaman Bakumatsu,
"Iba-Hachi si Tangan Satu", ya?
Anu...
Tidak, bukan apa-apa.
Katakan saja kalau mau bilang sesuatu, Nona Mungil.
Tidak.
Ya, sudah.
Jadi, dua salinan Iba-Hachi karya Tsunan Tsukioka, 'kan?
Sano memang mantap!
Peka sekali jadi cowok!
Ya, kalau saja dia tak hobi berutang.
Tetapi meski Sano yang baik seperti itu bagus,
yang dahulu juga keren banget, ya?
Ya!
Zanza!
Dia kelihatan sering senyum, tetapi seperti punya muka tak puas begitu!
Ibarat bom yang bisa meledak kapan saja!
Matanya juga selalu melirik tajam.
Lukisan Nishiki.
Di Zaman Edo, kebanyakan tentang selebriti dan pemandangan,
tetapi mulai merambah ke objek lain sejak Zaman Meiji,
dan menjadi budaya yang lebih populer secara umum.
Di zaman modern,
dianggap sebagai sarana penting untuk melestarikan budaya dan tradisi Meiji.
Silakan.
Ya.
Sano?
Oh, kalian.
Lukisan Nishiki, ya?
Tumben sekali.
Cari cewek cantik, ya?
Bukan.
Gambar yang erotis?
Jangan sembarangan omong!
Tae dari Akabeko yang menyuruhku.
Bukan aku yang cari.
Pak, masih ada dua salinan Iba-Hachi punya Tsunan Tsukioka?
Kau hoki sekali, Bang!
Kebetulan, itu dua lukisan terakhirnya.
Gambarnya Tsunan sangat terkenal, sampai laku keras.
Keduanya 10 sen saja.
Ah, aku tak punya duit.
Kalian mau pinjamkan?
Dih!
Meski namanya lukisan Nishiki semua,
macamnya banyak juga.
Kelihatannya banyak tokoh dari Zaman Bakumatsu dan para revolusioner, ya.
Memang benar.
Kisah perang revolusioner memang laku menjadi buah tangan dari Tokyo.
Orang kesyogunan seperti Iba-Hachi lebih diminati orang lokal.
Sano?
Gambar ini...
Kapten Sagara?
Oh, yang itu?
Itu juga karya Tsunan, tetapi sama sekali tak laku.
Tetapi dia tetap mengotot melukisnya.
Padahal kapten pasukan gadungan.
Tsunan Tsukioka.
Tsukioka?
Orang ini ada di mana?
Ha?
Di mana orang bernama Tsunan ini?
Sano!
Dobuita Nagaya di kota sebelah!
Tetapi dia sangat penyendiri, jadi, pasti tak akan mau ditemui!
Pasti mau.
Tak mungkin dia menolak bertemu denganku.
Tsukioka.
Tsukioka.
Kau ada di dalam, Tsukioka?
Kau di dalam, 'kan?
Mantan anggota magang Pasukan Sekiho!
Katsuhiro Tsukioka!
Sudah kuduga.
Ini hasil lukisanmu, ya?
Apa kau Sanosuke?
Bagaimana kau...
Lihat sekilas saja, aku bisa langsung tahu.
Karena di samping kapten ada kau
dan juga aku.
Orang lain tak akan melukis kedua anak ini.
Oh, begitu.
Tsunan Tsukioka juga penyintas anggota Pasukan Sekiho?
Ayo pulang, Nona Kaoru.
Tadinya kuikuti karena melihat tingkah aneh Sano,
tetapi mungkin tak ada masalah.
Juga selayaknya jargon "Badung" itu...
Pasukan Sekiho adalah kenangan istimewa Sano.
Orang asing tak diperlukan saat bernostalgia.
Omong-omong,
tak kusangka kau bakal menjadi pelukis.
Tetapi dari dahulu memang terampil, ya?
Memakai senapan atau mengolah bubuk mesiu yang rumit,
bisa kau tangani dengan mudah.
Kau sendiri melakukan apa sekarang?
Tak ada, cuma gembel serabutan.
Tetapi setidaknya masih bisa kunikmati.
Begitu, ya.
Jadi, kau menikmati hidupmu, ya?
Selama 10 tahun ini,
tak ada secuil pun yang bisa kunikmati.
Karena hujatan yang ditujukan kepada Kapten Sagara dan kita semua,
10 tahun ini kuhabiskan menahan dendam.
Ternyata kau lebih pemurung dari 10 tahun lalu, ya.
Sampai sekarang masih menyendiri, 'kan?
Tetapi aku bisa cukup memahami perasaanmu.
Saat segala persiapan sudah kuselesaikan,
siapa sangka bereuni denganmu begini?
Mungkin ini adalah bentuk dukungan kapten dari akhirat.
Katsu?
Sanosuke, bagaimana kalau kita berdua membangkitkan Pasukan Sekiho sekali lagi?
Ayo hancurkan pemerintahan revolusi yang menjebak kita,
lalu kita wujudkan zaman baru yang diimpikan oleh Kapten Sagara!
Kenshin si Pengembara
Kisah Heroik Pendekar Pedang Meiji—
Katsu, apa yang kau rencanakan?
Kenapa kau tanyakan segala?
Tujuan Pasukan Sekiho hanyalah satu.
Zaman baru dengan kesetaraan kasta, seperti yang diinginkan kapten.
Akan kuhancurkan pemerintahan Meiji yang mengganggu.
Kau bukannya lupa dengan Perang Seinan yang selalu kau gambar, 'kan?
Kagoshima tempat Saigo mengumpulkan pasukannya berada di tepi Jepang.
Mau berperang seperti apa di sana, semuanya sia-sia.
Sasaranku adalah pusat Jepang.
Yaitu prefektur Tokyo ini sendiri.
Kementerian Dalam Negeri yang mengatur urusan negara.
Pertama-tama, kita matikan segala kegiatan di sana.
Aku ingin menghancurkan angkatan darat, laut, dan udara sekalian,
tetapi mustahil kulakukan sendirian.
Sendirian?
Mana bisa aku percaya orang lain?
Seluruh rencana ini kurancang sendirian.
Tetapi meskipun sendiri, aku punya benda ini.
Lihatlah, Sano.
Kubuat ini dengan berbekal wawasanku di Pasukan Sekiho dahulu.
Bom bakar!
Sambil mencegahnya terlacak oknum, aku membuatnya selama 10 tahun.
Ini bisa menghasilkan ledakan dan menyulut kobaran api.
Akan kupakai ini untuk menghancurkan kementerian,
dan setelah kekuatan mereka berkurang,
seluruh samurai yang kecewa dan petani di sepenjuru negara
pasti akan mulai memberontak.
Pemerintahan saat ini yang masih letih karena Perang Seinan,
pasti tak akan berkutik.
Setelah itu, tinggal kutunggu efek bola salju yang terjadi.
Lalu akan kubangun zaman di mana seluruh kasta setara,
dan membersihkan nama baik Pasukan Sekiho.
Besok akan kumulai.
Malam Senin di mana sedang sangat sepi.
Sano, aku tak akan memaksamu.
No comments yet. Be the first to leave one.