Le prime 177 righe.
Seribu tembakan tiap hari.
Apakah dia bodoh?
Apa gunanya berlatih begitu keras?
Bukankah sudah jelas?
Itu karena
dia tak punya persyaratan dasar untuk basket, yaitu tinggi.
Seribu tembakan tiap hari.
Tujuh ribu tembakan per pekan.
Tiga puluh ribu tembakan per bulan.
Artinya dalam setahun, si pendek itu...
Persetan. Aku tak bisa berhitung.
Aku harus bergegas!
Aku harus ke ruang klub sebelum para senior
dan mulai berlatih sebelum mereka menyuruhku.
Aku yang pertama!
Apa yang kau lakukan?
Bukankah itu digunakan untuk menyimpan bola basket?
Lumayan, bukan?
Aku meminta pria dari klub renang
untuk mengisinya dengan air dari kolam air panas.
Kau mau berendam?
Tidak!
Bisakah kau menutupnya?
Astaga.
Aku datang lebih awal untuk latihan.
Apa yang menarik dari basket?
Apa maksudmu?
Misalnya, bagi orang yang tak tahu cara menembak.
Menurutmu, pria itu akan tertarik bermain basket?
Kurasa begitu jika dia berlatih keras untuk meningkatkan kemampuan.
Bagaimana jika kemampuannya tak meningkat?
Dia harus berlatih lebih keras.
Tak ada kesimpulan dari percakapan kita.
Tapi haruskah aku punya alasan untuk bermain basket?
Tunggu sebentar.
Kau mau membawaku ke mana?
Aku masih harus berlatih.
Biar kubuat kau memahami percakapan kita tadi.
Anggap saja ada anak yang benci makan wortel.
Baiklah.
Anak itu selalu mencoba makan wortel.
Menurutmu, apakah kelak dia akan mulai menyukai wortel?
Kurasa itu akan sulit
karena aku juga benci makan wortel.
Aku tak mengerti maksud pertanyaanmu.
Lihatlah sendiri.
Momoharu bermain basket?
Kenapa? Kenapa dia...
Biar kuberi tahu.
Itu karena dia melihat orang bodoh makan 1.000 wortel dengan bahagia.
Momoharu...
Meskipun ada masalah dengan otaknya,
dia takkan berubah menjadi orang yang suka makan wortel.
Tapi ini bagus.
Momoharu akhirnya ingin bermain basket sekarang.
Sial!
Ini harus masuk ke keranjang!
Tinggi sekali!
Dia terbang.
Meskipun bolanya tak masuk,
setengah lengannya melampaui ring basket.
Luar biasa.
Kau luar biasa, Momoharu!
Itulah yang disebut pecundang Kuzu!
Sepertinya kau tak seburuk itu.
Kudengar kau menghajar teman-temanku kemarin.
Aku datang untuk membalasmu.
Orang bodoh dari SMA Maru?
Aku mencarimu ke mana-mana.
Ternyata kau berlatih di sini.
Dasar blunder!
Apa yang kau lakukan?
Menunjukkan kau berhenti menjadi preman?
Kau ingin menikmati masa mudamu mulai sekarang?
Itu aneh. Dia basah kuyup dengan keringat.
Apakah dia akan serius bermain basket?
Meskipun berlatih keras, usahamu akan sia-sia.
Itu karena kau payah!
Aku tahu itu.
Dengan satu tangan.
Lepaskan dia, Berengsek!
Berengsek, aku takkan mengampunimu.
Minggir!
Ini membuatku kesal.
Preman sepertimu tak boleh kembali ke jalan yang benar.
Akan kupastikan kau tak bermain lagi!
Pendek, apa yang kau lakukan?
Jangan mengejek orang yang berlatih keras!
Apa maksudmu?
Jika kau berani mengejek Momoharu,
aku takkan membiarkanmu meninggalkan tempat ini.
Sial!
Kenapa mereka suka memukuli orang?
Masalah bisa dibicarakan.
Apa kau benar-benar sebodoh itu?
Tapi kita berdua berhasil menandingi banyak orang.
Anggap saja kemenangan bagi kita.
Ada suara aneh di telingaku.
Bagaimana ini?
- Bagaimana ini? - Bagaimana aku tahu, Bodoh?
Suaranya berdengung di telingaku.
Kau juga mendengarnya?
Kau mendengarnya?
Saat SMP,
aku pernah bermain basket.
Tapi tembakanku tak ada yang masuk.
Aku mengacaukan pertandingan pertamaku.
Setelah itu, aku selalu dicadangkan.
Aku berlatih lebih keras daripada orang lain.
Tapi akhirnya, aku berhenti main basket sebelum masuk tahun ketiga.
Biar kuluruskan.
Menungguku itu buang-buang waktu.
Entah apa yang kau harapkan dariku.
Tapi aku tak cocok bermain basket.
Kau melihatnya sendiri.
Tak ada tembakan yang masuk.
Ini gawat, Momoharu!
Jika kita tak pergi, tak ada waktu untuk berlatih!
Kau. Kau tak mendengarkan?
Maaf.
Ada suara bising di telingaku.
Kau tak mendengarkan ucapanku?
Sudah tak apa-apa.
Suara bising itu hilang.
Sudah tak apa-apa, Momoharu.
Ayo cepat ke gimnasium.
Tunjukkan lagi gerakan yang kau lakukan tadi.
Gerakan apa?
Itu dunk pertama yang pernah kulihat secara langsung!
Lakukan lagi.
Dengar.
Aku punya...
Bagaimana rasanya terbang?
Pemandangan apa yang kau lihat saat terbang dengan sayap asli?
Tolong beri tahu aku.
Kau mau ke mana?
Ke gimnasium.
Aku bisa bermain lebih baik di sana.
Baiklah.
Lupakan saja.
Aku akan menemaninya sekali ini saja.
Lagi pula, aku sudah berjanji kepadanya.
KLUB BASKET PUTRA
Apa?
Orang-orang bodoh dari SMA Maru datang untuk mencari masalah?
Tidak.
Ini permainan basket.
Jadi, mereka ingin berkelahi dalam permainan basket?
Tidak.
Bertanding dalam permainan basket.
Kudengar mereka membuat aplikasi lewat penasihat klub mereka.
Tapi aku tak tahu tingkat kemampuan mereka.
Sebelum mereka pergi...
Ingat ini.
Akan kupastikan kau menderita seumur hidup karena malu.
Dia memberikan peringatan itu.
Tampaknya dia sangat ingin menjadikan kita bahan tertawaan.
Tapi berdasarkan standar kita saat ini, kita hampir tak bisa bersaing.
Mereka sengaja mengajukan itu karena mengetahui itu.
Kalau begitu,
aku tak bisa lari seperti pengecut.
Bagaimana dengan kalian?
Aku takkan memaksa kalian.
Tentu.
Ayo keluar dan hajar mereka!
Mari kita tunjukkan cara bermain basket.
Yasuhara!
Kau harus lebih rendah.
Diam, Pendek!
Berhentilah memerintahku.
Terserah.
Kenapa kami harus menahan lengan?
Apa kami mencoba melucu seperti Ken Shimura?
Itu untuk bertahan melawan pemain bertahan lawan.
Tetap perhatikan ke depan.
Sial.
Kita tak boleh tertawa.
No comments yet. Be the first to leave one.