Informazioni sulla release

Angolmois: Sejarah Invasi Mongol - 10
Un commento di Inisial ZA
10. Pertanda Buruk

Tag

other
Pubblicato il: 2018-09-25
Download: 17
Sottotitoli per non udenti: No

Anteprima dei sottotitoli in Indonesian

Le prime 174 righe.

Kau mata-mata, ya?

Sejak kapan?

Apa air mata itu juga kebohongan?

Air mata?

Dua hari lalu, ketika kau lihat para penduduk pulau dibakar oleh pasukan Mongol.

Kau terlihat teteskan air mata.

Kau ternyata lebih lembut dari dugaanku.

Tapi aku tak berbohong.

Sudah kubilang 'kan, hal yang sama pernah terjadi padaku.

Ada tuan tanah yang memfitnahku

dan membuat orang-orang menganggapku sebagai penjahat.

Aku kehilangan segalanya.

Aku terusir dari wilayahku,

dan semua kenalanku saling terpisah.

Aku telat sadari kalau orang terdekatlah yang paling inginkan kejatuhanmu.

Saat itu aku tak berjuang sekuat tenaga.

Aku bertarung demi kembalikan klan serta wilayahku.

Entah apa pun caranya.

Bersiaplah, Jinzaburou Kuchii!

Baiklah.

Tachi milikmu

melawan Naginata.

Jelas, jangkauan seranganku akan lebih diuntungkan.

Akan kumanfaatkan itu

untuk menang!

Dihindari?

Kalau begitu, kau pasti akan langsung menyerangku.

Kalau kulepaskan senjataku dan menghindar,

aku bisa membunuhmu!

Tadi itu cerdik juga.

Gaya Gikei.

Sepertinya aku tak bisa menandinginya.

Akan kubalaskan dendam rekanku.

Demi Onami.

Beraninya kau khianati kami dan pulau ini!

Kalian jangan ikut campur!

Tatsu, biarkan saja.

Biarkan para orang buangan ini selesaikan urusannya sendiri.

Aku bisa lihat banyak roh dari mereka yang sudah mati di tanganmu.

Aku pun akan jadi salah satunya.

Sekarang, tebaslah kepalaku!

Aku bersyukur kalau air matamu waktu itu bukanlah kebohongan.

Saat itu, orang yang bertarung di sisiku adalah dirimu yang asli.

Aku senang mendengarnya.

Lima hari yang lalu,

kita hanyalah wadah kosong,

yang terhempas di atas perahu kecil.

Tapi kita sampai di pulau ini,

dan bisa bertarung sekali lagi.

Dengan cara kita masing-masing.

Benar.

Dan itu semua berkat dirimu.

Selamatkanlah pulau ini.

Dengan senang hati.

Kepala ini akan diletakan di mana?

Biar aku yang bawa.

Putri?

Orang buangan, Kazuhisa Shiraishi,

kau yang lupakan utangmu pada klan Sou dan berpihak ke Mongol,

lalu berusaha hancurkan pulau ini.

Tak bisa dimaafkan.

Kepala ini akan digantung di gerbang istana,

atau dibuang ke pinggir jalan masuk.

Kita tentukan berdasarkan aturan klan.

Tak ada masalah 'kan, Jinzaburou?

Terserah.

Shiraishi.

Kau yang sekarang sudah pergi ke dunia lain.

Dari sana kau akan awasi kami, 'kan?

Lalu matahari pun terbenam di malam tanggal 9 Oktober.

Apinya akan menghilang dua hari lagi.

Akan butuh waktu lama agar hutannya bisa tumbuh kembali.

Saat perang berakhir,

kita akan dirikan kuil untuk para leluhur

dan mengenang yang sudah tiada.

Kita juga harus buat kuburan bagi orang-orang Mongol.

Sudah jadi.

Ini daging babi hutan yang dibawa oleh Shiraishi.

Kalian tak mau?

Siapa yang mau.

Dia adalah pengkhianat.

Sayang sekali.

Kalau sendirian memang membosankan, ya.

Ada apa, Pak Tua?

Tak makan?

Hoi.

Ada hal yang ingin aku perlihatkan.

Dasar.

Apa ini sikap yang pantas bagi samurai?

Padahal perang masih belum berakhir.

Akan kubalaskan dendam ayah.

Kau...

Anaknya Ginsichi, 'kan?

Sasamaru, kau harus jadi lebih kuat

dan balaskan dendam ayahmu!

Hentikan.

Kau harus berlatih dan melawan dia dengan adil.

Menyerang ketika tidur itu tindakan pengecut.

Kau itu pria yang membuat orang lain berdosa.

Saat perang melawan Mongol ini berakhir, apa yang akan kaulakukan?

Pergi mencari perang lain?

Kau sudah tak punya tempat untuk kembali.

Selain di sini.

Kalau kau bilang pada yang lain...

Mau kau anak kecil sekalipun, akan kubunuh kau.

Sedang apa?

Aku datang untuk bangunkanmu.

Dasar pemalas.

Sendirinya padahal bilang kalau perang belum berakhir.

Kalau sampai terbunuh saat tidur jangan salahkan aku, ya.

Justru karena sedang perang, kita harus tidur selagi sempat.

Karena kita tak tahu apa yang akan terjadi.

Apa yang terjadi di gerbang selatan?

Entahlah,

tapi hakim sedang menuju ke sana.

Nah, 'kan?

Kami doakan kekalahan Mongol.

Perlihatkanlah jalannya pada kami.

Dengan ini kami akan buat permohonan pada Dewa.

Apa ini?

Rusa? Babi hutan?

Apa yang terjadi?

Sudah seperti perburuan para tuan besar, ya.

Mangsa yang dikejar oleh banyak pemburu.

Apa maksudnya, Jinzaburou?

Mereka datang kemari karena kabur dari kejaran tentara.

Tapi saat Mongol datang siang tadi, hal ini tak terjadi.

Para binatang memberi tahu kita, kalau pasukan berikutnya yang datang akan lebih banyak.

Saking banyaknya sampai para binatang tak punya tempat untuk bersembunyi,

sehingga mereka berbondong-bondong lari kemari bagaikan gelombang.

Tentara besar?

Lebih banyak dari siang tadi?

Jangan khawatir, Toibarai sekalian.

Mau berapa pun Mongol yang datang,

kita tinggal beri mereka pelajaran seperti siang tadi.

Siapa yang khawatir?

Aku siap untuk berperang!

Ya! Yang bisa lindungi Istana Kanatanoki ini hanyalah kami!

Terlalu kecil ambisimu!

Bilang begini, "Yang bisa lindungi Tsushima itu hanyalah kami!"

Semangat mereka tinggi.

Kalau musuh datang lagi, kita tinggal usir mereka.

Sampai pasukan bantuan tiba.

Kami mohon panduan-Mu.

Perlihatkanlah jalan yang harus kami tempuh.

Tetua!

Dia tak bernapas.

Ini lo, ini.

Aku menemukannya mengambang dekat pantai.

Aku langsung bawa dan sembunyikan di sini.

Saat lihat apa yang terjadi pada Shiraishi, aku sadar...

Tempat ini sudah jadi neraka yang tak tertolong.

Tak ada yang bisa kita lakukan di sini.

Kalau begitu, kenapa kita tak pergi saja?

Aku sudah curi makanan dan air minum tadi siang.

Kita bisa langsung berangkat dari sini!

Di Hakata juga ada uang yang kukubur.

Kalau mau bantu, nanti akan kuberi sepertiganya.

Bagaimana? Mau?

Siapa juga yang bakal langsung percaya.

Apa perahu ini ada layarnya?

Ya, ada, kok.

Ini. Cukup kuat, 'kan?

Angin ini...

Kalau kita pakai angin anaji, kita bisa sampai ke Kyuushuu.

Meski harus ambil jalan memutar.

Tak kusangka kau akan tertarik.

Amushi, kau bagaimana?

Mau pulang ke ibu kota, 'kan?

Ya, sih.

Siapa juga yang mau, Tua Bangka!

Hitari bagaimana? Douen?

Aku akan cari perahu yang lebih besar.

Aku tak mau bernasib sama seperti saat datang.

Angolmois: Record of Mongol Invasion subtitles in other languages

More Indonesian subtitles for Angolmois: Record of Mongol Invasion

Commenti

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left