Le prime 195 righe.
Kota sains yang memiliki penduduk dua juta tiga ratus ribu jiwa, Kota Akademi.
Aku yang di sana, Kamijo Touma,
adalah esper berlevel nol dan tidak berkemampuan.
Harusnya begitu, sih.
Tapi, tangan kananku ini bisa menghapuskan segala jenis kekuatan
dengan kekuatan misteriusnya.
Karena itu, sekitarku...
semua kebahagiaan dan berkah Tuhan pergi menjauh.
Apa ini semacam hukuman?
Apa latarku ini tidak terlalu berlebihan?
Suatu hari, seorang suster bernama Index,
yang mengingat 103.000 buku sihir terlarang jatuh dari langit.
Setelah itu, aku jadi diserang oleh Penyihir Api yang mengikutinya.
Aku pun dihempaskan kakak cantik yang memakai katana.
Aku juga bertarung dengan esper terkuat yang bisa memanipulasi vektor.
Aku juga selalu saja terlibat dengan esper level 5, Biribiri, Misaka Mikoto.
Bahkan, sampai muncul banyak gadis yang mirip dengan Biribiri.
Saat mengingat kejadian menyangkut sains dan sihir yang pernah kualami,
entah kenapa, dunia ini terasa makin aneh.
Duh, aku makin tidak mengerti.
Gereja Katolik Roma dan Kursi Kebajikan Tuhan jadi mendunia.
Sebenarnya apa yang terjadi, sih?
Hei, Tsuchimikado.
Kamu pasti tahu sesuatu, kan?
Apa yang sedang terjadi di dunia ini?
Siapa dan apa yang mereka incar?
Kumohon, beri tahu aku!
Melangkah membawa bom waktu
Cepatlah karena bumi terus berputar!
Meski tak ada yang bisa kulakukan lagi
Akal sehat mendadak hilang
Takdir yang saling menyentuh
Terbasahi oleh hujan kebencian
Mengapa rasa takut dan ragu menambah beban di hati?
Jantungku berdebar kencang seperti meriam api
Bersiap!
Semua yang tertarik ke tempat ini
Melampaui arti dan harapan yang diinginkan
Hatiku yang mencoba tetap tegar
Aku bisa rasakan itu dalam diriku
Dengan segenap jiwaku, hanya satu hal saja
Menuju ke hatimu
Mandi! Mandi! Mandi!
Berbusa! Berbusa! Mandi!
Duh.
Jangan kabur dulu, Sphinx.
Sebentar lagi, Touma akan membelikan kita makan enak, lo.
Hebat, bisa kering tanpa menggunakan sihir.
Sains Kota Akademi memang luar biasa.
Ah, selamat datang, Touma.
Dasar.
Karena terlalu lama, kukira kamu tak akan kembali.
Aku khawatir, tahu.
Ah, maaf, maaf.
Jadi, Touma.
Sarapannya mana?
Soal itu...
Kayaknya dompetku jatuh di suatu tempat, deh.
Jadi, aku tidak bisa belanja...
Terus, makanannya?
Yah, begini...
Manusia tak akan mati meski tidak makan sekali.
Kalau ditahan dulu, makanannya bisa terasa lebih nikmat.
Selain itu...
Touma!
Sial banget!
Nah, dengarkan.
Ibu tidak akan marah,
jadi tolong jelaskan pada Ibu kenapa bisa jadi begini?
Kalian tidak bisa menjelaskannya?
Soalnya...
Soalnya, saat aku dan Aogami Pierce berdebat soal gadis kelinci yang paling menarik,
Tsuchimikado tiba-tiba bilang,
"Gadis kelinci itu bagusnya berwarna putih,"
sambil mengatakan hal tak jelas lainnya.
Fukiyose, kamu juga ikut-ikutan?
Tidak, kok!
Aku hanya ingin membungkam anak-anak bodoh ini!
Meski begitu...
Bukankah kamu sedikit berlebihan?
Berkat itu, debat kami terhenti tanpa hasil.
Pendapatku masih tetap, lo.
Hidup gadis kelinci putih berdada rata!
Kamu masih berani berkata begitu?
Kamu tidak peduli selama gadis itu masih anak-anak, kan?
Duh, sudah cukup!
Sepulang sekolah nanti, kalian harus mencabuti rumput di belakang gedung olahraga.
Paham, kan?
Baik.
Ah, gawat.
Kalau begini, aku tak akan sempat mengejar diskonan toserba.
Semuanya salah Tsuchimikado.
Benar banget.
Bahkan aku juga sampai terlibat...
Lo?
Tsuchimikado?
Baiklah.
Tidak, biar aku saja.
Ya.
Sisanya, tolong kamu bereskan.
Dasar.
Mereka masih saja berlebihan.
Kamu benar.
Omong-omong, Bu Oyafune,
apa rajutan itu ingin dijadikan hadiah?
Bu-Bukan.
Bukan berarti aku baru merajut sekarang karena ragu akan selesai saat Natal.
Kemarin pagi, di kawasan Perancis yang bernama Toulouse,
terjadi demonstrasi skala besar mengenai keagamaan.
Karena kejadian itu, terjadi gangguan lalu lintas di sana.
Perselisihan Gereja dengan Kota Akademi menimbulkan ketakutan berlebih,
apalagi sehubungan dengan insiden dan tindakan yang mereka sebabkan.
Panasnya.
Baik, kerja bagus.
Kenapa pameran senjata bisa ramai bisa ramai begini?
Masih mending karena masih hari kerja.
Besok mungkin lebih ramai karena dibuka untuk umum.
Coba lihat itu, Shirai!
Itu adalah tank generasi kelima!
Ah, yang di sana itu punya sistem peluncur misil otomatis!
Wah, bahkan ada Power Suit yang sedang ramai dibicarakan!
Hebat banget!
Yang hebat itu kamu, Uiharu.
Dasar, kenapa dia tidak membalas pesanku?
Ayunda.
Ada apa, Ayunda? Kamu terlihat gelisah begitu.
Eh? Tidak, kok. Acara ini ternyata ramai juga.
Benar, sih.
Selain itu, juga cukup mencolok.
Judgement juga tidak pernah ditugaskan untuk berjaga seperti ini, kan?
Paling hanya semacam demonstrasi tidak berguna, kan?
Mereka juga selalu mengincar kesempatan begini.
Mengincar?
Kamu terlalu berlebihan.
Memang banyak hal mencurigakan terjadi belakangan ini.
Sudah waktunya kita pergi. Ayo, Uiharu.
I-Iya.
Sampai jumpa, Ayunda.
Kami pergi dulu.
Ya, kerja bagus.
Benar-benar tidak berguna.
Sialan.
Mereka jelas tak akan datang membantu.
Persahabatan kalian sungguh luar biasa.
Hei, Fukiyose.
Padahal UTS kita dibatalkan,
kenapa kamu masih belajar saat istirahat?
Karena UTSnya dibatalkan,
seluruh nilai kita akan ditentukan di UAS, kan?
Malah jadi tidak bisa bersantai.
Begitu, ya...
Omong-omong, aku tak akan meminjamkan catatanku.
Ya-Yah, belajar itu bukan segalanya!
Omonganmu membuatku terdengar kalau bisaku cuma belajar saja.
Memangnya kamu bisa hal lain?
Begini-begini, aku bisa melempar bola dengan kencang, lo.
Meski aku tidak tertarik dengan bisbol, sih.
Begitu, ya.
Kalau perlu, akan aku tunjukkan pakai bola ini.
Bersiaplah di sana.
Eh? Seriusan, nih?
Serius banget.
Aku ini selalu serius, lo.
Ba-Baik.
Silakan dilempar.
Baiklah.
Jangan sampai lari setelah melihat lemparan berkecepatan 150 km/jam, lo.
Tu-Tunggu, Fukiyose.
Apaan, sih?
Rokmu!
Ka-Kamu baik-baik saja?
I-Itu cuma lemparan lurus biasa...
Duh...
Berhenti ngambek dong, Sphinx.
Aku minta maaf karena sudah memaksamu mandi bersamaku.
Ah, Maika.
Sementara ini, aku tinggal di sebelah, jadi aku datang memberi salam.
Karena aku akan sering memasak sesuatu,
jadi kamu bebas ikut makan.
Benarkah?
Ah, Sphinx! Tunggu!
Hoi!
Tolong jaga apartemenku, ya!
Tunggu!
Tunggu, Sphinx!
Tunggu!
Wah, ada apa?
Lagi tersesat, ya? Kemarilah.
Anak baik. Bagus, bagus.
Sphinx!
Ini kucingmu?
Namanya Sphinx.
Pulang, yuk, Sphinx.
Aduh.
Kami berdua habis bertengkar. Lalu, dia kabur.
No comments yet. Be the first to leave one.