Le prime 200 righe.
Norman, kemari. Kemari.
Norman.
Lekas.
Burung loon. Burung loon.
Mereka menyambut kita kembali.
Aku tak dengar apa-apa.
Perhatikan tempat ini.
- Berantakan. - Tak butuh waktu lama.
Semua ini akan rapi kembali.
lebih hangat.
Teleponnya berfungsi!
Setidaknya menurutku.
Halo.
Halo!
Siapa ini?
Siapa yang ada di dalam foto ini?
Siapa ini?
Halo. Siapa ini?
Operator?
Apa maumu?
Kau yang menelepon. Kau pasti ingin sesuatu.
Oh, sebentar.
Aku yang menghubungimu, tapi kau tak pernah angkat.
Bagaimana kabarmu?
Bagus.
Dengar, ini dengan Norman Thayer, Jr. Posisi Golden Pond.
Aku ada permintaan yang aku ingin kau lakukan.
Hubungi aku kembali. Kau bisa melakukannya?
Aku mau mengecek teleponku, melihat apa masih bisa berdering.
Tak pernah berdering di sepanjang musim dingin. Kemungkinan ada bagian yang rusak.
Kau punya nomorku?
Aku tak tahu.
Ada angka sembilannya, Itu saja yang aku tahu.
Ada di buku! Kau pasti punya buku telepon.
Norman Thayer, Jr.
Lekas kau coba.
Siapa ini?
Ada yang mengetuk pintu.
Ini aku, dasar pikun!
Lihat dirimu.
Lihat diriku?
Sedap dipandang?
Oh, Norman, sungguh indah sekali.
Semuanya terjaga.
Burung kecil yang mungil, dedaunan yang kecil.
Aku lihat sepetak tanah berisi bunga-bunga yang mungil
di sisa gedung aula yang tua.
Aku lupa nama dari bunga itu.
Kecil, bunga kuning yang mungil.
Mau membantuku dengan selimut berdebu ini?
Aku tak punya kegiatan lain yang bisa kulakukan.
Ayo.
Apa yang kau lakukan di hutan?
Norman, menurutmu apa yang kulakukan?
Aku mengumpulkan kayu.
Aku bertemu dengan sepasang yang menyenangkan.
- Huh? Di mana? - Di hutan.
Sepasang manusia?
Bukan, sepasang hewan antelope.
Tentu saja, sepasang manusia.
Namanya Migliori.
Migliori? Nama apa-apaan itu?
Aku tak tahu, sayang. Mungkin dari Italy.
- Mereka tiba dari Boston. - Mereka bisa bicara inggris?
Tentu saja mereka bisa bicara Inggris.
Mereka baik, sepasang manusia separuh baya, seperti kita.
Kalau mereka seperti kita, berarti mereka tidak berusia separuh baya.
Tentu saja mereka berusia separuh baya.
Separuh baya berarti di tengah-tengah, Ethel.
Separuh kehidupan. Manusia takkan hidup hingga usia 150!
Kita jauh dari usia separuh baya, itu saja.
Memang.
Kita bukan separuh baya. Kau lapuk sedangkan aku tua.
Kau berusia 70-an sedang aku berusia 60-an.
Baru-baru ini saja, berlaku buat kita berdua.
Kau mau habiskan penghujung siang ini
dengan bertingkah menyebalkan seperti ini?
Kita bisa kalau kau mau.
Ya Tuhan.
Keluarga Miglioris, berapapun usia mereka,
telah mengundang kita makan malam beberapa waktu yang lalu.
Bukankah itu baik?
Tidak, aku tak yakin perutku siap menerima makanan rigatoni.
- Itu alasannya. - Oh, tidak!
Elmer yang malang!
Dia terjatuh dengan cara yang mengerikan.
Elmer muda yang malang, hidup yang kau jalani.
Dia cinta sejati pertamaku.
Kesimpulannya aku bukan di urutan yang pertama.
Memang, kau lelaki cadangan yang tak sepadan untuk Elmer.
Sekarang dia terjatuh.
Mungkin dia ingin bunuh diri. Mungkin dia ingin dikremasi.
Mungkin terkena kanker atau dimakan rayap atau yang lain.
- Diam, Norman. - Bukan cara yang buruk untuk mati, huh?
Membalikkan mantel itu, membuangnya di menit terakhir,
berakhir pada tungku pembakaran mayat... tak ada yang tersisa.
Norman, bisakah kau diam?
Kapan hidanganku disiapkan, lakukanlah untukku.
Menyelimutiku dengan mantel mengarahkannya dalam posisi terbalik.
Mungkin bisa dicoba demi memenangkan satu putaran.
Norman Thayer Jr, pesonamu sudah luntur
semenjak kau mengacak-acak humorku yang lucu.
Bukan pesona.
- Hanya saja terlintas di benakku saat ini dan seterusnya. - Tiap lima menit.
Kau tak punya kegiatan lain lagi yang harus kau pikirkan?
Tak ada yang benar-benar menarik.
Apa yang membuatmu berhenti?
Kenapa kau tak menyelam dan mulai melupakannya?
Lalu meninggalkanmu berdua dengan Elmer?
- Kau pasti sudah gila! - Oh, ya Tuhan.
Ayo, bantu aku membawa sampan itu dari teras.
Norman, kau sedang mendayung?
Tentu saja aku sedang mendayung.
Maka kau tak mau mengemudikannya.
Kau mau aku yang di belakang?
Sudah pasti aku tak mau.
Norman!
- Ya Tuhan, ada apa? - Lihat, lihat!
Oh, lihat, aku lihat burung loon.
Oh, cantik sekali!
Ini, ini.
Lihat.
- Kau bisa melihatnya? - Tidak.
Oh, Tuhan! Itu dia burungnya.
Oh, sungguh cantik sekali.
Ya, burungnya besar.
Aku belum pernah lihat burung loon besar dalam hidupku.
Di sana ada perahu.
Ayo lebih dekat.
Sepasang suami istri.
Kupikir mereka tahu kehadiran kita.
Ya, benar.
Apa mau mereka?
Hey, pergi!
Pergi!
- Ethel, apa yang kau lakukan? - Apa maksudmu dengan apa yang sedang kulakukan?
- Jangan kau lakukan. - Memang kenapa? Kau sendiri melakukan.
Sudahlah, aku jelaskan nanti.
5, 6, 7, 8, 9, 10, 11.
Bagaimana? Tepat di depanmu.
Kau di mana?
Aku di mana?
Oh, ayo. Jangan bilang seperti itu.
5, 6, 7, 8, 9, 10...
11, ya.
Selamat malam, pangeran tampan.
5, 10, 15, dan 20.
Astaga, ibu!
Kau mau tinggal di sini menjaga perahunya
selagi aku pergi ke toko?
Kupikir aku memenuhi syarat menjaga perahu ini.
Ikutlah bersamaku kalau kau mau.
- Tidak, terima kasih banyak. - Baiklah.
- Halo, Sumner. - Selamat pagi, Mrs. Thayer.
- Bisa kau isi penuh? - Tentu.
Norman akan membantumu.
Semuanya $38, Mr. Thayer.
Tuhan...
kalian tahu berapa harga bensin sewaktu aku seusia kalian?
12 sen per galon.
Itu benar?
Aku bahkan tak tahu mereka mengongkosi bahan bakar itu.
Kalian siapa, dua pemuda dungu?
Kalian pikir menyenangkan menjadi tua?
Tubuhku menderita.
Bahkan terkadang aku tak bisa pergi ke kamar mandi di saat aku menginginkannya.
Tapi aku masih kuat, biar aku beritahu kalian. Aku bisa hajar kalian berdua dasar bocah ingusan!
Norman! Ayo jalan.
Terima kasih, anak-anak.
Aku yang antar pulang.
- Kau yakin? - Ya.
Kalau aku salah jalan dan mengarah ke Michigan
atau di suatu tempat, hanya memastikan agar kau tahu.
Ada yang mengetuk pintu.
Ini aku, dasar pikun!
- Kau dari mana saja? - Memetik buah strawberi.
Ada banyak sekali pohon strawberi
- di sepanjang jalan kota tua itu. - Bagus sekali.
Apa yang kau lakukan di sini
di pagi hari seperti ini, Norman, di luar sepengetahuanku.
Aku sedang baca
surat kabar kemarin demi pekerjaan yang bermanfaat.
- Mulai lagi. - Prospek yang sangat cerah, menurutku.
Sopir, pekerjaan lapangan.
Dairy Divine membutuhkan... ember es krim.
Kupikir aku bisa melakukan pekerjaan seperti ini.
Bagaimana? Bagaimana menurutmu?
Apa yang kau lakukan saat kau menelepon lalu mereka berkata,
"Datanglah kemari dan mulai bekerja besok"?
Aku akan pergi ke sana dan mulai bekerja besok.
Oh, demi Tuhan, Norman,
Ada apa denganmu?
Dengar, mana korannya.
Kenapa kau tak bawa ember
untuk memetik buah strawberi lagi?
Aku akan buatkan strawberi shortcake yang lezat untuk makan siang.
Ayo.
Kau memintaku memetik buah strawberi?
Ya. Haruskah aku cantumkan ke dalam lembar ujian?
Aku tak yakin aku tahu bagaimana cara memetik strawberi.
No comments yet. Be the first to leave one.