Le prime 200 righe.
"Kita, rakyat...
Ingin membentuk persatuan yang lebih sempurna."
Pada 221 tahun lalu...
Di aula yang masih berdiri di seberang jalan...
Sekelompok pria berkumpul dan dengan kata-kata sederhana ini...
Meluncurkan eksperimen yang mustahil bagi Amerika...
Dalam hal demokrasi.
Dokumen yang mereka buat...
Akhirnya ditandatangani...
Tapi pada akhirnya belum selesai.
Itu ternoda...
Oleh dosa terbentuknya bangsa ini atas perbudakan.
Aku mencalonkan diri sebagai presiden...
Pada momen bersejarah ini...
Karena aku sangat percaya...
Bahwa kita tidak bisa menyelesaikan tantangan generasi kita...
Kecuali jika kita selesaikan bersama.
Kecuali kita menyempurnakan persatuan kita.
Dengan memahami bahwa kita mungkin memiliki cerita yang berbeda...
Tapi punya harapan yang sama.
Bahwa kita mungkin tidak terlihat sama...
Mungkin asal kita berbeda...
Tapi kita semua ingin bergerak ke arah yang sama...
Yaitu menuju masa depan yang lebih baik untuk anak-anak...
Dan cucu kita.
Keyakinan ini berasal dari kepercayaanku yang teguh...
Terhadap kesopanan dan kemurahan hati rakyat Amerika.
Namun, itu juga berasal dari kisahku sendiri.
Aku putra orang kulit hitam...
Dari Kenya, dan seorang wanita kulit putih dari Kansas.
Aku dibesarkan dengan bantuan kakek kulit putih...
Yang selamat dari Depresi Besar Amerika...
Untuk mengabdi di Pasukan Patton selama Perang Dunia II...
Dan nenek kulit putih yang bekerja di lini perakitan bom...
Di Fort Leavenworth saat kakekku di luar negeri.
Aku bersekolah di beberapa sekolah terbaik di Amerika...
Dan pernah tinggal di salah satu negara termiskin di dunia.
Aku menikah dengan orang Amerika berkulit hitam...
Yang di dalam dirinya mengalir darah para budak dan pemilik budak...
Hal yang kami wariskan kepada dua putri kami yang berharga.
Aku punya saudara, saudari, keponakan, paman, dan sepupu...
Dengan berbagai ras dan berbagai warna kulit...
Tersebar di tiga benua. Selama aku hidup...
Aku tidak akan pernah lupa...
Bahwa tak ada negara lain di Bumi ini...
Yang bisa menjadi latar tempat kisahku.
Ini kisah yang tak menjadikanku kandidat yang paling konvensional...
Tapi ini kisah yang tertanam dalam genetikku.
Gagasan bahwa negara ini lebih dari sekadar bagian-bagiannya.
Bahwa dari banyak orang, kita adalah satu.
Berlawanan dengan klaim beberapa kritikusku, kulit hitam dan putih...
Aku tak pernah senaif itu untuk percaya kita bisa melampaui...
Pembagian rasial kita dalam satu siklus pemilihan umum...
Atau dengan satu kandidat.
Namun, aku menyatakan keyakinan yang kuat.
Keyakinan yang berakar pada keyakinanku terhadap Tuhan...
Dan keyakinanku terhadap rakyat Amerika...
Bahwa dengan bekerja sama...
Kita bisa bergerak melewati luka rasial lama kita.
Sebenarnya, kita tidak punya pilihan.
Kita tidak punya pilihan jika ingin terus bergerak...
Menuju persatuan yang lebih sempurna.
Bagian pertama
Perkenalkan Barack Obama...
Pengacara hak sipil Chicago dengan latar pendidikan Harvard.
Obama telah melakukan dan melihat banyak hal selama 34 tahun hidupnya.
Dia dibesarkan di Hawaii, Indonesia...
Dan merupakan salah satu dari sedikit orang Afrika-Amerika...
Yang bisa memamerkan bukti nyata asal-usul Afrika yang dia miliki.
Orang tuaku membuatku menghargai budaya yang berbeda...
Tapi gagasan bahwa satu budaya atau ras lebih unggul dari ras lain...
Bisa dikatakan tak pernah terpikirkan olehku.
Orang tuaku bertemu di Hawaii.
Ayahku bagian dari gelombang pertama pemuda Afrika yang ke luar negeri...
Untuk mendapatkan pendidikan.
Mereka akhirnya menikah, memilikiku.
Ayahku memutuskan ingin meraih gelar doktor...
Dan mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Harvard.
Beliau pindah ke sana...
Tapi perpisahan membuat mereka sulit untuk tetap bersama.
Belum lagi mereka adalah pasangan antarras...
Di ambang gerakan hak-hak sipil.
Ibuku dari Kansas...
Beliau lahir...
Dari pasangan orang kulit putih tipikal Amerika Barat Tengah.
Yang menjadikan mereka luar biasa adalah...
Mereka ternyata lebih berpikiran terbuka...
Juga menerima perbedaan dan keberagaman...
Daripada kebanyakan generasi mereka dan masyarakat saat itu.
Jadi, aku tak merasa...
Ada perbedaan soal rasku...
Saat aku tumbuh besar.
Maksudku, Hawaii adalah...
Semacam wadah peleburan yang unik.
Saat usiaku enam tahun...
Ibuku menikah lagi dengan orang Indonesia.
Kami pun pindah ke Indonesia...
Yang jelas membuatku merasa berbeda...
Tapi itu lebih karena aku orang Amerika...
Yang hidup di negara dunia ketiga...
Alih-alih karena fakta bahwa aku orang Afrika-Amerika.
Mungkin tidak sampai aku kembali dari Indonesia...
Dan usiaku sekitar sepuluh tahun...
Hal itu menjadi masalah.
Aku dapat beasiswa ke sekolah persiapan di Hawaii.
Pada saat itu, tiba-tiba aku melihat sekeliling dan berkata...
"Tidak banyak orang yang mirip denganku."
Saat dia datang... Saat Barry baru datang ke sekolah...
Aku bersemangat.
Bagiku, sebagai gadis kecil...
Aku tak ada di sana dari kelas satu hingga lima...
Aku selalu sendirian.
Saat aku bilang sendiri...
Maksudku karena hanya aku gadis kulit hitam di sana.
Diejek sepanjang waktu...
Sangat sulit bagiku.
Aku tak suka kulitku sendiri.
Jadi, saat melihatnya, aku berpikir...
"Dia sama sepertiku, tapi seorang pria.
Tapi warna kulitnya sama, mungkin kami bisa menjadi sekutu.
Mungkin kami bisa bekerja sama dan aku tak akan terlalu diejek."
Ras campuran Amerika
Ibuku menanamkan dalam diriku...
Pemikiran...
Bahwa menjadi orang Afrika-Amerika adalah hal yang luar biasa.
Kau tahu? Bahwa itu istimewa.
Aku tak begitu mengenal ayahku saat tumbuh besar.
Beliau meninggalkan ibuku saat usiaku dua tahun...
Dan aku tak benar-benar bertemu dengannya lagi...
Sampai usiaku sepuluh tahun.
Pada dasarnya, aku tahu tentangnya lewat kisah dari ibuku...
Serta kakek dan nenekku.
Mereka setuju bahwa beliau pria terpintar yang pernah mereka temui.
Jadi, citra yang kumiliki...
Tentang menjadi orang Amerika kulit hitam...
Hampir seluruhnya positif.
Ironis sekali...
Aku mendapat pelajaran sejarah orang kulit hitam yang luar biasa...
Dari wanita kulit putih asal Kansas.
Ibuku benar-benar seseorang...
Yang sangat memahami gerakan hak-hak sipil...
Sampai itu hampir seperti agama sipil kami.
Beliau terus membicarakan King dan Malcolm...
Juga perjuangan yang terjadi di Amerika Serikat.
Karena prasangka dan pikiran yang sempit...
Orang kulit hitam ditahan di luar arena politik...
Tapi kurasa hari itu akan datang tak lama lagi...
Yaitu saat suara orang kulit hitam sendiri akan cukup kuat...
Untuk berkoalisi dengan liberal di komunitas kulit putih...
Dan memilih presiden Amerika Serikat berkulit hitam.
Sekolah Punahou Honolulu, Hawaii
Kenangan pertamaku bertemu Barry Obama...
Adalah saat teman kami berdua memperkenalkan kami.
Hanya ada empat murid kulit hitam dari 1.600 murid...
Di SMA tahun itu.
Barry murid tahun pertama. Dia baru masuk SMA.
Kami bicara tentang sekolah...
Kami membicarakan wanita...
Kami membahas apakah gadis yang tak berkulit hitam...
Di sekolah kami, yang merupakan semua gadis di sekolah kami...
Mau berkencan dengan kami.
Kami terbiasa berada dalam situasi...
Saat hanya kami orang kulit hitam di sana...
Atau kami menjembatani dua budaya.
Maksudku, itu bagian dari bagaimana kami tumbuh besar.
Kami mengadakan rapat berdiri sekitar sepekan sekali...
Dan kami menyebutnya "sudut etnik".
Itu sarkasme.
Kami membicarakan masalah sosial...
Karena itu penting bagi kami.
Salah satu pertanyaannya adalah...
Akankah kami melihat presiden kulit hitam di masa kami?
Kami semua setuju...
Bahwa akan ada presiden kulit hitam, tapi bukan pada masa kami.
Saat aku remaja...
Dan sedang bergumul dengan masalah identitas rasial...
Dan tidak adanya seorang ayah di rumah...
Aku bereaksi...
Dengan melibatkan diri dalam berbagai...
Perilaku yang tidaklah aneh...
Dari seorang pria kulit hitam...
Di seluruh negeri.
Aku sering bermain basket...
Tidak serius bersekolah...
Terlibat perkelahian...
Minum dan mengonsumsi zat yang tidak selalu legal.
Saat itu juga Roots ...
Pertama kali ditayangkan di televisi...
Dan ada banyak ikon identitas kulit hitam...
Seperti Shaft dan Superfly ...
Memaksaku yang sedang menjalani SMA mencari tahu...
Apa artinya menjadi orang kulit hitam di Amerika...
Dan juga merangkul warisan ras campuranku.
Universitas Occidental Los Angeles, California
Kami berdua kuliah di Universitas Occidental pada musim gugur 1979...
Dan kami satu asrama.
Barack selalu sangat percaya diri.
Dia orang yang menyenangkan, santai...
Dan pandai bicara.
Ternyata aku sangat suka membaca...
No comments yet. Be the first to leave one.