Le prime 200 righe.
=Dewi dan Pedang Kesatria 1=
=Episode 27=
Tang Yu.
Ah Nu?
Kenapa kau ke sini?
Senior Bibi Suci bilang kau belum boleh berjalan.
Aku hanya ke sini untuk melihat obat yang kau masak.
Biar kubantu kipaskan.
Sebentar lagi akan selesai.
Kau beristirahatlah dulu.
Aku tidak mau.
Aku bersusah payah untuk bisa keluar.
Biarkanlah aku bermain di sini sebentar.
Tang Yu, kau kenapa? Wajahmu pucat sekali.
Apakah kau sakit?
Mungkin
aku stres karena memikirkan cara agar kau mau minum obat.
Sembarangan. Jelas-jelas aku suka minum obat.
Benarkah?
Baguslah kalau begitu.
Minumlah jenis obat pertama ini dulu.
Jangan terburu-buru.
Ada yang mau kutanyakan kepadamu.
Apa itu?
Bukankah kau bilang bahwa aku pernah menyelamatkanmu saat kecil?
Kalau begitu, ceritakanlah bagaimana aku menyelamatkanmu?
Apakah sudah bisa bercerita?
Aku adalah orang Zhongyuan.
Saat kecil, aku ikut orang tuaku
datang ke Nanzhao untuk berdagang,
lalu kami menetap di sini.
Entah kenapa
kami sering berpindah tempat tinggal.
Kami tidak akan menetap lama di setiap tempat.
Oleh karena itu,
aku tidak pernah punya kawan,
juga takut untuk berteman.
Saat malam tahun baru waktu itu,
jalanan dipenuhi oleh lampion,
sangat ramai sekali.
Saat itu, kami akan berpindah lagi.
Namun, aku ingin sekali bermain keluar.
Jadi, aku pun pergi ke jalanan sendiri secara diam-diam.
Aku bermain cukup lama
dan baru pulang saat tengah malam.
Sepulangnya ke kediaman,
aku melihat ibuku
memasak banyak makanan kesukaanku.
Terutama adalah
kue panggang wijen.
Kue itu sangat wangi
dan garing.
Permukaannya ditaburi penuh dengan wijen.
Aku benar-benar sangat lapar,
hanya sibuk makan sendiri.
Saat sibuk makan,
aku menyadari ada jejak darah di depan pintu
yang mengalir masuk secara perlahan.
Aku mengikuti jejak darahnya.
Lalu, aku melihat mereka...
Mayat mereka.
Sejak saat itu,
aku mengemis di jalanan untuk melewati hidup.
Terkadang ada orang baik yang akan memberiku makan,
tapi kebanyakan
aku harus memungut makanan.
Di hari saat bertemu denganmu,
aku memungut sebuah kue panggang.
Itu sama persis seperti buatan ibuku,
yang wangi dan garing.
Permukaannya penuh akan wijen.
Beraninya mengemis di wilayah kami.
Pukul dia!
Jumlah mereka banyak, aku tidak bisa melawan.
Jangan memukulku.
Aku hanya bisa melindungi kue panggang itu dengan erat.
Saat kesadaranku kabur,
aku mendengar suara seorang gadis kecil.
Kalian menindas seorang anak kecil di siang bolong begini.
Apa hebatnya itu?
Lagi-lagi, ada satu orang yang mau ikut campur.
Kau pergi atau tidak?
- Kalau tidak, kami juga akan memukulmu. - Ayo, maju.
Dia melihat aku baik-baik saja,
lalu dia menarikku.
Namun, ada banyak orang pada hari itu.
Kami pun terpisahkan.
Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Namun, aku bisa mendengar suara lonceng miliknya.
Itu adalah suara paling merdu
yang pernah kudengar dalam hidup ini.
Tang Yu,
aku tidak akan membiarkan siapa pun menindasmu lagi.
Siapa pun itu.
Cepat sedikit.
Pelan-pelan.
Pelanlah sedikit.
Duduklah di sini.
Akhirnya, aku keluar.
Lihatlah apa yang kubawa.
Ah Nu.
Ada apa denganmu?
Apakah kau mendengar kicauan elang ini terasa sangat familier?
Aku seperti pernah mendengarnya di suatu tempat.
Ah Nu,
mari kuantar pulang untuk beristirahat.
Kita baru saja keluar, mari bermain sebentar lagi.
Aku masih ingin mendengarmu meniupnya sebentar lagi.
Cepatlah.
Aku...
Aku tiba-tiba merasa kurang enak badan.
Kalau begitu, cepat kita pulang.
Baik.
Tunggu.
Aku tetap saja merasa kicauan elang ini sangat familier.
Aku seperti pernah mendengarnya di suatu tempat.
Sepertinya saat sedang bersamamu.
Apakah kau mengingatnya?
Aku tidak ingat lagi.
Ah Nu.
Mari kuantar kau pulang.
Baik.
Tuan Muda, ini barang yang Tuan Muda minta.
Semua sudah beres.
Letakkanlah di sini.
Cendekiawan.
Kenapa kau bangun sepagi ini?
Apakah tubuhmu sudah membaik?
Sudah jauh membaik.
Mari.
Kak Li, aku mau bertanya, apakah hubungan kita akrab?
Lumayan.
Hubungan kita hanya sekadar teman seperjuangan.
Ini kau ambil saja.
Ini...
Ini barang apa? Misterius sekali.
Paviliun Wanfujin,
Biro Kain Jinxiuyuan,
Kedai Minum Jinlingchun.
Aku mencari Kak Li kemari karena mau memintamu
untuk membantu mengambil barang di beberapa tempat itu.
Mengambil barang?
Barang apa?
Baiklah, aku akan pergi sekarang.
Kau istirahatlah baik-baik.
Tunggu.
Adik Sepupu lebih mengenal wilayah ibu kota.
Tunggulah dia untuk pergi bersamamu.
Kakak Sepupu menyuruhku menemanimu beli barang apa?
Coba perlihatkan padaku.
Barang apa ini?
Perlihatkanlah padaku.
- Jangan ganggu. - Kau mau perlihatkan atau tidak?
Kalau tidak, aku akan mengeluarkan cambuk.
Perlihatkanlah padaku.
Untuk apa mengeluarkan cambuk? Ini.
Gelang emas, anting-anting emas, kalung emas.
Untuk apa kau membeli semua itu?
Kau sungguh tidak paham pokok masalahnya.
Jelas sekali barang-barang itu untuk diberikan kepada Nyonya.
Cendekiawan sungguh perhatian kepada Nyonya.
Aku malas meladenimu.
Ini barang terbaru. Kalian bisa melihatnya.
- Tunggu sebentar, ya. - Nona, kami datang mengambil barang.
Mohon kalian tunggu sebentar.
Nyonya kami akan segera datang.
Kebetulan bisa melihat apakah ada model terbaru?
Kau tidak memerlukan barang kebutuhan wanita.
Kenapa aku tidak perlu?
Hasil pengerjaannya sungguh rapi.
Lihatlah yang ini.
Ini cocok.
Hanya saja, harganya sedikit...
Kenapa kau melamun?
Ini terlihat sedikit familier.
Rasanya seperti aku pernah melihatnya.
Tuan, Nona, ini adalah alas kaki sulaman yang dipersiapkan Keluarga Menteri
untuk Nyonya Cendekiawan.
- Silakan melihat-lihat. - Bagus sekali.
Di mana aku pernah melihatnya?
Sebuah kalung emas yang mencerminkan kebahagiaan dalam pernikahan.
Sepasang anting-anting yang mencerminkan momen indah dalam hidup.
Sepasang gelang emas yang mencerminkan pasangan yang serasi.
Cantik sekali.
Aku di sini mengucapkan selamat kepada kalian
pasangan hidup telah ditakdirkan langit, pasangan serasi bersatu dan menikah.
Tuan, kau salah paham.
Aku hanya membantu
Tuan Muda Keluarga Liu dan istrinya untuk mengambil set perhiasan ini.
Maaf.
Maaf, aku telah salah bicara.
Aku akan segera membungkusnya. Tunggu sebentar.
Baik.
Tuan, Nona.
Ketua, kami datang untuk mengambil arak Nv'erhong.
Tuan, Nona, duduklah sebentar di sini.
Baik.
Biar kuberi tahu,
tempat kita ini
tiba-tiba kedatangan wanita cantik yang misterius.
No comments yet. Be the first to leave one.