Le prime 200 righe.
Ibu...
Ibu!
- Astaga! - Astaga!
Apa itu?
Lihat.
Eunseom.
Apa itu benar?
Kau sungguh bermimpi?
Kau baru saja
terbangun dari mimpi?
Aku yakin begitu. Ini selalu terjadi.
Dia tidur di rumah pohon agar tak ketahuan.
Apa? Maksudmu dia bermimpi?
Kau serius?
Bagaimana dia bermimpi?
Eunseom bisa bermimpi.
- Apa? - Apa?
- Mimpi? - Bagaimana?
- Bagaimana bisa? - Begitukah?
Untuk bermimpi, harus berlatih lama seperti kepala suku.
Dia tak pernah berlatih.
Namun, tetap bisa bermimpi!
Yeolson!
Aku mau bicara.
Tanya adalah anak Komet Biru. Dia akan jadi kepala suku berikutnya.
Namun, dia tak bisa bermimpi.
Namun, Eunseom bisa.
Itu artinya Eunseom mencuri mimpinya Tanya!
- Itu benar. - Ya.
Mimpi tak seperti itu.
Eunseom.
Kau curi mimpi Tanya?
- Bukan begitu, Ayah Yeolson. - Biar Eunseom bicara sendiri.
Ini pengadilan.
Kita harus saling bicara serasa sederajat.
Kau mengerti?
Ya.
Kau mencuri mimpinya Tanya?
Memang benar aku bisa bermimpi.
- Dengar? - Dia mencurinya.
Namun, orang tak bisa mencuri mimpi orang lain.
Tidak ada yang tahu apa itu mimpi.
Akan kuberi tahu apa itu.
Kau berbaring di malam hari.
- Berbaring? - Berbaring?
Berbaring.
Itu terjadi saat tidur.
- Tidur? - Dengar.
Seseorang mendadak muncul atau aku pergi ke suatu tempat.
Semua terjadi tanpa kita sadari. Paham?
- Dia tadi pergi? - Dia di sini.
- Kau ada di sini. - Kami tak lihat apa pun.
Intinya, itu terjadi tanpa kita sadari.
Semua muncul tanpa aku sadari.
Jadi, bagaimana bisa kucuri mimpi orang?
Dan... Dengarkan aku!
Aku sudah bermimpi jauh sebelum datang kemari.
Bagaimana kalian bisa berpikir kucuri mimpinya Tanya?
Tidak, tunggu! Dengar!
Dia bohong!
Tidak ada yang bisa begitu.
Apa orang bisa lahir dengan kemampuan bermimpi?
Aku juga mau bicara!
Eunseom jelas mencuri mimpi Tanya!
Mungtae, jelaskan kenapa kau berpikir begitu.
Tanya lahir saat Komet Biru muncul.
- Ya! - Benar.
Eunseom juga lahir di hari yang sama.
- Ya. - Ya.
- Dan? - Lalu kenapa?
Karena mereka lahir di hari yang sama.
- Kau serius? - Dasar bodoh.
Itu benar, 'kan, Ibu Choseol?
Itu benar, 'kan, Ibu Choseol?
Tidak sepenuhnya benar.
Dasar bodoh.
Buksoe, silakan bicara.
Kulihat Eunseom melakukan
- Tarian Spirit Choseol! - Apa?
- Itu sama! - Tarian yang sama?
- Namun, itu sulit. - Dia belajar tarian Choseol
supaya bisa mencuri mimpi.
Dia harus berlatih sendiri untuk bisa bermimpi!
- Ya, benar. - Itu masuk akal.
Tarian hanya boleh dilakukan
oleh Choseol dan keturunan kepala suku.
- Dia benar! - Hanya keturunannya.
Aku hanya...
sekali melihatnya
secara kebetulan.
Kau bisa sempurna menirukannya hanya dengan sekali lihat?
Eunseom bisa meniru apa pun setelah sekali lihat.
Dan
dia hafalkan untuk mengajariku
karena aku masih sulit menghafal tarian.
Tanya, kau ditipu Eunseom.
Jelas ada yang salah dengannya. Dia pandai berbohong.
Juga ada keropeng biru di tubuhnya.
Ya, dia benar. Darahnya juga ungu.
Kami melihatnya, itu sangat aneh.
Tanya, dia mencuri milikmu.
- Dia pencuri! - Ya!
- Kalian salah. - Dasar pencuri!
Buksoe benar.
Eunseom pencuri.
Dia mencuri kuda.
Dia curi kuda yang kita buru.
- Apa? - Apa?
- Apa? - Aku mau makan kudanya!
Dasar kau...
- Teganya kau? - Kenapa mencuri kuda?
Kau bercanda? Astaga.
- Hei. - Apa?
- Astaga. - Ini...
Kemari.
- Lihat. - Dia benar.
Dia pembohong, pencuri, dan orang aneh.
Beraninya dia curi kuda yang kita buru untuk suku kita?
- Teganya kau lakukan ini? - Astaga.
Ini kejahatan terbesar dalam Suku Wahan.
Kau sungguh curi kuda ini?
Jawab aku!
Eunseom
tak mencuri kuda ini agar bisa memakannya sendiri.
Kenapa membelanya lagi?
Tanya.
Kau tahu Eunseom mencuri kuda ini?
Ya, aku juga tahu.
- Apa? - Namun,
Eunseom tak inginkan kuda ini
- untuknya sendiri. - Lantas?
Cepat jelaskan!
Dia taruh kuda ini di sini
demi kita.
Apa maksudmu kulakukan ini demi kita?
- Untuk kita? - Kenapa begitu?
Apa maksudnya?
Dia lakukan untuk kita?
Apa maksudmu demi kita?
Dia lakukan ini demi Suku Wahan.
Eunseom...
Aku harus bilang apa?
Beri tahu mereka.
Tidak bisa menghindar lagi.
Katakan!
Mau kau apakan kuda ini?
Itu...
Sebenarnya, aku...
Aku mau tunggangi kuda ini!
Apa?
Bicara apa kau, Bodoh?
- Apa? - Apa?
- Apa? - Tunggangi kuda?
- Apa itu? - Apa?
- Tunggangi kuda? - Apa itu?
- Bagaimana kau bisa melakukannya? - Apa?
- Ya... - Ya, itu benar. Ya.
Kucoba menunggangi kuda ini.
Jika bisa ditunggangi...
Bicara apa aku?
...bagus untuk Tanya karena dia berlatih di tempat jauh.
Kupikir itu bagus
untuk Ayah Yeolson yang bepergian, berdagang dengan suku lain.
Maka kucoba menunggangi kuda.
Apa ini masuk akal?
Aku serius.
Kuda berlari lebih cepat daripada kita.
- Kau bercanda? - Omong kosong.
Kau berharap bisa menunggangi kuda?
Kenapa dia
selalu sangat...
Sudah kubilang, dia aneh.
Ini membuktikan aku benar!
Jelas ada yang salah dengannya.
Semua ucapan dan pikirannya aneh.
Dia mengubur biji ek di tanah, bilang akan tumbuh lagi,
- saat kita tak punya cukup makanan. - Ya, kita harus mengusir Eunseom.
- Ya! - Benar!
Namun, adakala ide anehnya ternyata berguna.
Siapa lubangi rumah agar dapat sinar matahari?
- Eunseom. - Eunseom.
Namun, kali ini dia mencuri kuda!
- Harus diusir. - Benar.
- Dia hanya mau menungganginya. - Kalian pikir itu masuk akal?
- Mustahil! - Tidak!
- Omong kosong! - Itu mustahil.
- Bagaimana dia terpikir tunggangi kuda? - Omong kosong.
Aku, Yeolson,
pemimpin suku ini,
dapat keputusan bijak.
Aku mau Eunseom berhasil menunggangi kuda
saat bulan purnama lagi.
Jika gagal melakukannya,
akan kuusir dia dari desa kita.
- Bijak! - Sangat bijak!
- Dia bijak. - Ya.
- Lakukanlah itu. - Ayah Yeolson...
Astaga.
- Menakjubkan. - Ide bagus.
Mengesankan.
No comments yet. Be the first to leave one.