最初の200行です。
Erna, sudah siap?
Sabar.
Dil!
Adil!
Adil.
Dayat.
Kurip.
Kalah karena dicurangi...
...tidak terlalu memalukan.
Namun, andai tadi Adil memukul saat aku meneriaki.
Pasti jatuh dia.
Sebagai pamanmu, Dil,...
...aku malu diolok-olok orang di lepau.
Paman Rustam.
Azan.
Nanti sajalah.
Isya itu waktunya paling lama.
Sampai menjelang subuh.
Sekarang, dengarkan petuahku.
Hebat, Rustam. Kau tidak mendengar azan itu?
Pantas saja anak-anak ini kalah terus.
Kau tidak sembahyang?
Tidak usah, ya?
Ayo, sembahyang.
- Kalian, kemari. - Sembahyang.
Kalian sudah lupa di mana sekolah dan di mana gelanggang?
Kalau begini caranya, tidak perlu sekolah sampai kelas enam.
Kalian sudah bisa menjadi tukang tagih utang yang menakutkan...
...di tengah pasar.
Sekarang, pergi ke belakang.
Bersihkan halaman belakang sambil menghafal surat Asy-Syams.
Mengerti?
- Mengerti. - Mengerti, Pak.
Santai sajalah. Tidak perlu seperti itu.
Di, kenapa kau melempar serbuk jerami ke wajahku?
Apa tidak ada cara lain yang diajarkan gurumu untuk menang, Di?
Serbuk jerami apanya? Kita memang bertanding di mana?
Bukan di tempat penggilingan padi, tapi di gelanggang.
Sudah jelas kau melempar serbuk jerami ke wajahku. Kau bilang tidak!
Kau tidak usah mencari alasan. Akui saja kalah!
Berdoa kepada Tuhan agar kau sampai ke final semester depan.
Kita bertarung lagi!
Mati.
Tuduhan Belanda bahwa Haji Agus Salim...
...menggalang dukungan de jure internasional...
...secara ilegal adalah salah.
Menurutku, sebagai menteri luar negeri,...
...itu memang kewajiban beliau.
Sekian dariku. Terima kasih.
Yat.
Yat, tunggu!
Ada apa, Rani?
Yat, kenapa Adil dan Hardi tadi berkelahi?
Tentang Adil?
Adil kalah di gelanggang pertandingan. Mungkin dia tidak terima.
Namun, Adil tidak cedera, 'kan?
Tidak, tapi dia kalah.
Terima kasih, Yat.
Rani...
- Rani mau ke mana? - Mau pulang.
- Ayo pulang bersama. - Tidak.
Adil tadi berkelahi, ya?
Apa? Dari mana Ibu tahu?
Dari Etek Rabiah.
Seisi sekolah tadi melihat katanya.
Bedakan antara sekolah dengan gelanggang, Nak.
Nanti dikira Adil anak yang tidak dididik orang tua.
Itulah, Bu. Semua karena teman Adil. Dia curang saat di gelanggang.
Ida.
Ya, Tek.
Alhamdulillah, Dil.
Haji Asni memberikan zakat...
...dari anaknya yang sukses di rantau untuk kita.
Menerima zakat, Bu?
Kita ini termasuk di delapan asnaf.
Begitukah, Bu?
Adil ini anak Ibu. Aku sehat, bisa membantu Ibu mencari uang.
Kau sekolah saja dahulu.
Kalau sudah besar,...
...baru Adil mencari uang.
Tek, mi rebus tiga, telur lima.
Pulang dari rantau,...
...memesan mi rebus.
Man, apa susah sekali hidup di rantau?
Cibia dan Buya Rustam.
Tidak, aku hanya rindu makan mi rebus.
Susah mencarinya di rantau.
Rustam kerja apa sekarang?
Aku sekarang...
...berfokus untuk mengembangkan perguruan silatku.
Hebat itu, Rustam.
Sudah berapa orang muridnya?
Banyak.
Kemarin ini banyak.
Namun, sekarang aku berfokus mencari generasi yang tangguh.
Jadi, aku kurangi.
Alhamdulillah.
Sekarang ada tiga orang.
Irman, kenapa sudah pulang saja?
Aku pulang sebentar saja. Rindu orang tua.
Baik, aku mau memasak mi ini dahulu.
- Assalamu'alaikum. - Wa'alaikumussalam.
Kuahnya yang banyak, ya, Man.
Agar cepat kenyang.
Tek.
Apa pekerjaan Irman di rantau?
Pulang-pulang malah memesan mi rebus. Kasihan juga melihat dia.
Kabarnya, dia...
...bekerja di Kedutaan Inggris.
- Assalamu'alaikum. - Wa'alaikumussalam.
Melamun, Nak?
Bu.
Boleh aku membawa rendang sedikit untuk di rantau?
Kenapa baru sekarang ingin merantau?
Sudah malu aku di kampung, Bu.
Setiap ada yang pulang dari rantau,...
...aku tidak tahu harus bilang apa.
Irman, yang waktu kecil biasa-biasa saja,...
...sudah bekerja di Inggris sekarang.
Tidak ada orang pergi merantau hanya karena malu, Nak.
Dahulu, alasan Rustam tidak mau pergi merantau...
...karena mau mengajar Adil dan kawan-kawannya bersilat.
Kau bilang kasihan dengan Adil...
...karena hanya Rustam satu-satunya paman pengganti ayah Adil.
Ya, Bu.
Namun, Ibu sendiri tahu.
Anak-anak itu kalah terus.
Ilmuku?
Ibu tahu sendiri.
Sudah jadi beban berat, Bu.
Kalau anak-anak itu masih ingin belajar silat,...
...mereka bisa mencari guru lain.
Makanlah dahulu.
Ya, Bu.
Uda.
Pasang, Da.
- Di situ. Ya. - Ya.
Pas?
Bagus sekali.
Paman, ayo berlatih.
Tunggu sebentar.
Ayo, bersiap-siap.
Sekarang, buka langkah.
Apa jurus baru kita sekarang, Paman?
Jurus baru kita adalah bagaimana bisa berlari kencang...
...jika dikejar lawan.
Ini sungguhan. Ayo bersiap-siap. Buka langkah.
Hei, Dayat! Cepatlah!
Paman Rustam sudah menunggu!
Ini dahulu, Uni.
- Assalamu'alaikum. - Wa'alaikumussalam.
In sya Allah dalam waktu dekat ini, Uni.
Baik, tapi tolong diusahakan, Ida.
Ya, Uni.
Silakan diminum.
Yat, tambahkan 2.000.
Sebentar lagi aku akan dipanggil.
Adil.
Terima kasih.
Nanti aku ganti, tapi pakai kelereng.
- Sekarung, ya? - Kenapa banyak sekali?
Untuk dilempar ke kepala Hardi.
Syukurlah, Rustam akhirnya pergi juga merantau.
Rasakan kau, Cibia.
Siapa lagi temanmu di kampung ini?
Itu bagus daripada dia hanya memenuhi kampung ini saja.
Mau apa di kampung?
Mengajar silat, tapi entah silat apa yang diajarkan kepada anak-anak itu.
Anak-anak itu pun mau saja dibohongi. Temanmu itu, Cibia.
Sebentar, Paman.
Cibia.
Kalian tahu tidak?
Rustam sudah pergi merantau.
Dia pergi merantau.
Nenek!
Nenek!
Ke mana Paman Rustam?
Nenek kira kalian sudah tahu.
Rustam sudah pergi tadi pagi.
Beliau kemarin tampak seperti tidak akan pergi ke mana-mana.
Kenapa Paman Rustam pergi merantau?
Dengan siapa kami akan berguru?
Biarlah dia pergi belajar ke rantau...
...supaya bisa menjadi guru yang pantas...
...untuk anak-anak di kampung ini nanti.
Hei!
Dengan siapa kalian akan berguru silat?
- Denganku saja, ya. - Sombong sekali kau.
Kalian mau ikut bertarung. Bagaimana bisa menang tanpa guru?
Daripada kalah telak,...
...lebih baik Adil tidak usah ikut mendaftar.
Sabar, Adil.
Isi dadamu bara semua, ya?
Kalau tidak dilerai, sudah aku hajar kau.
Sabar, Adil.
Rip.
Itu baru ilmuku, belum ilmu Adil.
Rip.
Kurip, bangun. Rip.
Kau terlalu banyak omong.
No comments yet. Be the first to leave one.