最初の200行です。
LOVE NEXT DOOR
Tunggu, Sayangku. Akan kubuat bagus untukmu.
Apa yang harus kulakukan?
Jangan khawatir. Besok akan hilang saat kau bangun tidur.
Bagaimana kalau tidak hilang?
Kalau begitu...
aku tanggung jawab.
Aku, Bae Seok-ryu, akan bertanggung jawab atasmu, Choi Seung-hyo.
Aku janji.
Janji kelingking.
Baiklah. Hebat.
EPISODE 12 CINTA MONYET
Baiklah. Ayo makan.
Aku tak butuh lagi susu pisang. Kenapa kau beli?
Itu adalah itu, ini adalah ini.
Apa?
Apa artinya "itu"? Apa maksudmu dengan "itu adalah itu"?
Apa menurutmu? Itu adalah "itu".
Dalam bahasa Inggris, "itu" kata penunjuk.
Aku tahu. Itu artinya.
Tapi maksudku... adalah...
Astaga.
Kata ini kehilangan makna.
Hei.
Apa?
Sekarang kita apa?
Entahlah.
Hubungan apa pun setelah ciuman?
Hei!
Ciuman itu...
Bisakah kau tak menyebutnya tiba-tiba begitu?
Aku tak mencium temanku.
Kataku jangan lakukan itu!
Kita tak ciuman sekarang. Tadi.
Tidak, maksudku...
Jangan menyebut kata itu.
- Kata itu? Ciuman? - Hentikan!
Aku juga tak melakukannya dengan temanku.
Sudah jelas.
Kita bukan teman lagi.
Masa 30 tahun persahabatan berakhir begitu saja?
Itu hal tersulit yang pernah kulakukan.
Lebih mudah memenangkan medali Olimpiade.
Seung-hyo! Seok-ryu!
- Pak Yoon. - Apa? Kalian sudah bertemu?
Tadi kau panik mencarinya.
Kukira dia berutang kepadamu.
- Sungguh? - Ya.
Astaga, Pak Yoon! Kapan aku bersikap seperti itu?
- Kau tadi... - Astaga.
Kalau begitu, ada apa kau kemari?
Kenapa kau datang jauh-jauh dari Seoul untuk menemuinya?
- Sebenarnya... - Hei!
- Tunggu! - Aku terkejut.
Kalian kira aku kemari untuk menemuinya?
Aku cuma mampir karena sedang di sini, kupikir kuhubungi saja dia.
Begitu rupanya.
Ya, jadi kenapa kau kemari?
Aku cuma mampir!
Aku cuma mampir, kuhubungi dia.
Baiklah.
Namun, ini jauh. Kenapa kau datang kemari?
Tidak, itu urusan pribadi!
Itu urusan pribadi, kenapa kalian terus bertanya?
- Tak kusangka dia begitu. - Tunggu, apa kau menangis?
Apa aku berbuat salah?
- Aku dimarahi. - Dia marah?
Ini yang kuyakini.
Jika suka memasak,
kita harus mencoba makanan dari Provinsi Gangwon
yang secara lembut menonjolkan cita rasa asli bahan-bahannya.
Jadi, kau datang jauh-jauh kemari untuk makan?
Lihat? Sudah kuduga kau tak percaya,
jadi aku tak mau memberitahumu.
Benar.
Gajami sikhae ini sangat lezat. Sungguh.
Gajami sikhae? Apa?
Sikhye dari ikan? Astaga.
Itu merah. Aku tak kuat pedas.
- Tak seperti bayanganmu. - Apa?
Kedengarannya sikhye, tapi bukan minuman.
- Ejaannya berbeda. - Benarkah?
- Ikan sebelah. - Baik.
Tambah beras, garam, dan difermentasi.
- Itu cara membuatnya. - Difermentasi?
Dia menggodamu. Dia suka masakan ikan fermentasi.
Apa?
Kau penikmat makanan!
Aku tak menganggap diriku "penikmat".
Dia menandai lebih dari 100 restoran pada peta Greip.
Tepatnya 328 sejak kemarin.
Bisa bagikan kepadaku?
Tidak!
Akan kuwariskan ke anak kembarku.
- Kumohon! - Tapi...
kau sudah banyak membantu kami.
Jadi, akan kuberikan kepadamu.
Terima kasih! Kalau begitu, kutraktir.
Terima kasih! Mari makan!
Kau pasti lapar. Makan ini.
Aku.
Kau suka kepiting bumbu, 'kan?
- Makan ini. - Suka?
Tidak? Kalau Na-yun? Kau suka apa?
Kau. Aku suka kau.
Baik, makan yang kau suka.
Aku mau makan itu. Tampak lezat.
Makanlah.
Baiklah.
Tekstur gajami sikhae luar biasa.
Bisa kulahap habis.
- Makan. - Ya.
Ya?
Boleh aku masuk?
Tentu saja.
Hei, tidak apa-apa aku menginap di sini?
Sungguh, aku bisa cari tempat lain.
Ada banyak kamar kosong.
Ini.
Kurasa kau butuh pakaian ganti.
Baiklah, terima kasih.
Astaga, aku sering meminjam pakaian.
Kamar mandi di ujung, kau bisa membersihkan diri.
Baiklah.
Apa ada serangga?
- Tidak. - Baiklah.
- Kau tak pergi? - Apa?
Bukankah kau akan pergi?
- Cuma sebentar... - Seung-hyo!
Seung-hyo, kau di mana?
Pergilah. Dia mencarimu.
Kau yakin ingin aku pergi?
Apa?
Tadi dan sekarang.
Kenapa kau menatapku tajam?
Apa maksudmu?
Tatapanku sangat lembut.
Coba lihat di kaca saat mengatakannya.
Tunggu sebentar.
Apa kau cemburu?
Jangan mengada-ada. Cepat pergi.
Jangan tertawa. Ayo.
Baik, aku pergi. Kenapa didorong?
Pergilah.
Seung-hyo.
Apa?
Tak ada istriku, aku tak bisa tidur.
- Sudah tidur? - Belum.
Mau pergi keluar?
Dekat pohon 10 menit lagi.
Sudah larut. Kenapa belum tidur?
Kau juga.
Aku sedang membaca.
Mokminsimseo? Buku karya Jeong Yak-yong?
Ya.
Siapa yang membaca buku itu kini?
Aku.
Ini karya klasik sepanjang masa.
Ini mengajarkan wibawa, tanggung jawab, dan memimpin dengan contoh.
Cara untuk menjalani kehidupan.
Buku ini memberi pencerahan hidup.
Baiklah, jangan marah.
Memangnya aku marah?
Kau sepertinya tak tahu nilai buku ini.
Omong-omong, menyenangkan di sini.
Sayang aku cuma menginap semalam.
Kau bisa datang lagi.
Kutemani kau besok.
Pekerjaanmu?
Aku selesai lebih cepat.
Aku berencana pulang lusa, tapi bisa lebih awal.
Mari pulang bersama.
Bagaimana? Kau mengemudi kemari.
Aku harus mengembalikan mobil Mo-eum.
Untuk mobilku...
- sewa sopir pengganti. - Kau gila?
Kau tahu betapa mahalnya itu?
Ya, itu terdengar gila bagiku juga.
Namun, jika kupikir-pikir,
aku sadar lebih penting bersamamu.
Ayolah. Yang benar saja.
Kau menyukaiku sebesar itu?
- Ya. - Baiklah.
Seberapa besar kau menyukaiku?
Meski 30 tahun bersama, aku belum muak denganmu.
Itu agak berlebihan.
Jangan hitung sewaktu kita berpisah.
Itu tak pernah ada.
Aku selalu bersamamu.
Di sini.
Saat usia delapan,
kau menyiram cat kepadaku.
Saat usia tujuh,
kau menempelkan stiker tato di wajahku saat aku tidur.
Saat usia enam,
kau memberiku permen ajaib
yang membuat bibirku ungu agar bisa mengejekku.
Saat usia lima, aku membuang permen karet di rambutmu.
Astaga.
Bagaimana bisa kau menyukaiku setelah mengalami semua penderitaan itu?
No comments yet. Be the first to leave one.