最初の200行です。
MUSIM INI DI MYTHIC QUEST
Kau tahu Ian. Ia lakukan apa yang ia mau. Dia bosnya.
Tapi bukan bosku. Kami setara sekarang.
Agar jelas saja, aku bosnya.
Kami lakukan ide kami berdua. Jadi kami bagi dua ekspansinya.
Hasilnya sempurna.
Tapi tak bisakah kau lihat kalau itu masalahnya?
Hanya butuh satu ide bagus untuk mengulur waktu.
- Mari beker… - Astaga.
Kakiku mati rasa!
- Tidak, jangan disentuh! - Aku tak tahu harus apa.
Mulai berkencan lagi.
Dirty Dave sudah meluncurkan profil kencannya.
Mengunggah foto pernikahanmu di profil kencanmu?
Aku memotongnya dari foto.
Dia yang memotongmu dari foto.
Kuminta departemen seni membuatkan sesuatu untukmu.
Bagaimana?
Itu jauh lebih aneh.
Kau harus menjaga pikiran dan tubuhmu tetap tajam.
Dan itulah bagian dari menjadi bos. Memang selalu begitu.
Mungkin aku tak mau melakukannya dengan cara yang biasanya.
Bagus. Mari kita panggil Doc Brown, dan suruh dia bawa mobil DeLorean.
Kita kembali ke masa lalu untuk mengubah sifat manusia.
Siapa itu Doc Brown?
MYTHIC QUEST MUSIM 2 AKAN MULAI DALAM 3, 2, 1
Oke. Ekspansi baru.
Tugas pertama untuk rekan baru.
Lembaran baru. Awal baru.
Sampai jumpa Raven's Banquet . Halo… hal lainnya.
- Oke, aku berpikir… - Aku pikir…
- Kita punya ide. - Ya.
Itu bagus. Direktur kreatif bersama.
- Ya, sekarang setara. - Kau mau duluan?
- Sungguh? Oke. - Ya.
Aku pikir ekspansi yang baru bisa berlatar di laut.
Aku berpikir di daratan.
Yah, tak akan tuntas hari ini, jadi aku akan pergi.
Tunggu, kau mau pergi?
Ya, kau tahu? Mungkin aku akan ke gurun untuk sementara waktu.
Untuk menjernihkan pikiranku, menjalin koneksi dengan wujud fisikku.
Aku tak tahu orang yang lebih terhubung dengan wujud fisiknya daripada kau.
- Terima kasih. - Itu bukan pujian.
Baiklah. Sampai jumpa minggu depan.
Minggu de… Tidak, kau tak bisa pergi seminggu. Kita baru saja mulai.
Jangan khawatir. Akan kuminta David untuk menutup kantor selama aku pergi.
Tidak. Kau tak perlu menutup kantor. Ada aku di sini.
Aku akan mengutak-atik ekspansi baru. Aku tak butuh kau.
Oke. Kau tak butuh aku. Baiklah.
Hanya sedikit saran, Pop.
Kau tak akan menyelesaikannya hari ini. Bersantailah sejenak.
Pergi dan mabuklah.
Mungkin bercinta.
Bisa menjernihkan pikiranmu.
Sampai jumpa.
Bercinta.
Tadi itu bagus.
Bagaimana bagimu?
Harus kubilang, Pop.
Tadi itu cukup buruk.
Jadi…
Everlight cukup seru, 'kan?
Ya.
Hei, jadi…
Aku berpikir.
- Mungkin kita harus… - Apa kabar, Nona-nona?
Kalian sibuk?
- Ya, sebenarnya, kami sedang… - Baiklah, kupikir kita bisa mengobrol.
Seperti, obrolan kecil sesama wanita.
Simpan pengendalinya.
Jadi aku berpikir kita bisa mengobrol soal, apa yang ada di pikiran kita,
apa yang terjadi di dunia ini.
Sejujurnya, aku sedang merasa…
Aku pikir aku yang bicara dan kalian mendengarkan.
Bukannya aku tak peduli dengan apa yang mau kau bilang, tapi…
aku tak peduli.
Hanya saja… Ada hal yang tak bisa kupendam,
dan aku bisa bicara dengan kalian, karena tak ada yang memperhatikan kalian.
Jika kalian menyebarkannya, kalian akan dipecat.
Apa?
Apakah obrolan wanitamu selalu melibatkan ancaman terselubung?
Maaf. Apa itu terselubung? Aku ingin ancamannya jelas.
Jika kalian sebarkan obrolan ini, kalian akan dipecat.
Omong-omong, aku sedang sering mengalami…
mimpi terkait pekerjaan.
Yah, tidak, lebih ke mimpi buruk. Itu mengacaukan pikiranku.
Kau mimpi bercinta dengan Ian, 'kan?
Apa? Tidak!
Tidak! Tidak, tidak. Diamlah! Tidak.
- Bagaimana jika benar? - Bukan masalah besar.
Aku juga pernah.
Apa? Tidak!
Maksudku, kau pernah?
Ya. Cukup lumrah untuk bermimpi soal atasanmu.
Bukan perkara seksual. Lebih ke soal kekuasaan.
Tapi Ian bukan bosku lagi. Kami setara.
Alam bawah sadarmu tak berpikir begitu.
Dengarlah, mimpi itu hanya gambaran kalau kita butuh persetujuan dia.
Benar.
Jadi karena itu setelahnya ia bilang kalau itu buruk.
Ia tak bilang padaku kalau itu buruk. Ia menyukainya di mimpiku.
- Kukira itu tak seksual. - Memang tidak.
Kenapa kau peduli kalau ia menyukainya?
Aku hanya bilang kalau aku lebih jago soal itu daripada Poppy.
Aku bisa mendengarmu. Dan, tidak, kau tak lebih jago.
Aku sangat lihai dalam bercinta, oke? Aku sangat jago.
Oke.
Terserahlah. Katakan saja bagaimana cara menghentikannya.
Yah, jika itu soal kekuasaan,
mungkin kau perlu menegaskan kewenanganmu di kehidupan nyata.
Dan mungkin alam bawah sadarmu akan memahaminya.
Ya.
Tidak, aku suka itu. Menegaskan kewenanganku. Akan kulakukan itu.
Akan kulakukan itu. Obrolan wanita selesai.
Itu aneh, ya?
Ya.
Sangat aneh.
- Kau mau bicara? - Tidak.
Tidak. Aku baik-baik saja.
Hai, Carol. Aku butuh bicara denganmu.
Tidak. Ini awal baru, kau ingat?
- Kumohon, ini tak seperti yang kau kira. - Ini bukan soal Dana?
Oke, ini seperti yang kau kira. Tapi masalahku adalah…
Oke, jadi…
Kukira Dana dan aku akan berlanjut ke tahap berikutnya.
Ternyata ia bahkan mungkin bukan seorang penyuka sesama.
Sebenarnya tak apa. Ia tak harus begitu.
Dia bisa saja biseksual atau "Q," kurasa.
Sejujurnya, aku tak tahu apakah "Q" berarti queer atau masih mempertanyakan.
Maksudku, dia pasti cisgender. Tapi itu tak penting.
Kecuali ia bukan cis. Astaga, Carol. Bagaimana jika ia bukan cis,
dan aku selama ini hanya berasumsi kalau ia adalah cis?
Oke. Astaga, pikiranmu tak rasional.
Kau benar. Maafkan aku.
Aku hanya… Aku tak mau mengatakan hal yang salah dan menyinggungnya.
Hal ini sangat penting untuk dibicarakan.
Aku membicarakannya…
di seminar yang kuadakan menyoal diskriminasi di tempat kerja
dan tak ada yang hadir.
Termasuk kau.
Ya, aku ada urusan di hari itu.
Baiklah. Mari kita bahas satu per satu
karena kau berhak mendapatkan apa yang kau mau kapan pun kau mau.
Aku merasakan agresi mikro, Carol.
Yang kau rasakan adalah agresi makro.
Dengar, masalahnya adalah kau malah bicara denganku saat kau harus bicara dengannya.
Kau sibuk berusaha tak menyinggungnya hingga kau tak bicara jujur.
Astaga, kau benar. Aku hanya perlu berterus terang.
Aku harus pergi ke forum-forum untuk mempelajari soal "Q" ini dan…
kami bisa membicarakannya.
Terima kasih, Carol. Aku merasa dilihat dan didengar.
Itu masalahnya, karena aku tak mau melihat ataupun mendengarmu.
Tebak siapa yang baru saja dikacaukan Ian.
Hei.
Tidak!
Maksudku… siapa?
Aku.
Kutemukan ini tertempel di jendela kantorku saat aku tiba.
"Tempe"?
Ya. Tempe, Arizona. Tempat Ian menghabiskan cuti panjang tahunannya.
Ayolah, itu bukan cuti panjang.
Itu perkemahan bagi pria berusia 40 tahun yang ingin belajar bela diri.
- Menyedihkan. - Sangat menyedihkan.
- Kau tahu soal ini? - Semacam itu.
Ia memintaku menjaga cincin-cincinnya,
karena mereka tak ternilai, dan ia mendapatkannya di Amazon.
Astaga… Ada apa dengan cincin-cincin itu?
Kurasa ia pikir itu membuatnya tampak lebih muda.
Kau tahu ia mencukur janggutnya karena mulai beruban?
- Kau tahu ia mengonsumsi pil rambut? - Ia menyebutnya…
Vitamin.
Dokter apa yang meresepkan vitamin? Menyedihkan.
Sangat menyedihkan.
Aku harus apa sekarang?
Ian dan aku harusnya berbicara dengan Montreal
mengabari mereka soal ekspansi baru. Tapi ia pergi begitu saja.
Yah, kau tahu Ian. Ia lakukan apa yang ia mau. Dia bosnya.
Tapi bukan bosku. Kami setara sekarang.
Ya. Asal kau tahu, aku bos di sini.
Ia bekerja untukku, dan kau juga.
Tapi kau benar. Kau tak di bawah Ian lagi.
Yo.
Apa?
Di posisi barumu. Ini waktunya kau berada di atas.
Regangkan kakimu, gerakkan layaknya seorang bos.
Ya, kau bisa bantu aku.
Dan jika Ian tak suka, persetan dengannya.
Aku tak mau! Aku tidak…
Apa maumu, David? Aku sangat sibuk.
Hanya judul untuk ekspansi baru.
Baiklah. Kami belum dapat judulnya.
Ian dan aku punya ide yang berbeda
terkait judul ekspansi baru.
Lihat, aku hanya…
Poppy! Aku tak peduli. Ya, aku hanya butuh judul.
Jika kita tak punya judul yang bagus, Montreal akan memaksakan judul yang buruk.
Jadi aku butuh judul yang bagus, dan aku butuh itu sekarang.
Oke, ya. Bisa kulakukan. Aku tak butuh Ian.
Aku punya kewenangan, dan akan kutegaskan…
- Judul? - Baiklah. Ya, tidak, oke.
No comments yet. Be the first to leave one.