最初の200行です。
Saat usiaku sepuluh tahun, orang tuaku mengajakku menonton film La Strada
yang disutradarai oleh Fellini.
Menceritakan penampil jalanan miskin, menyedihkan, dan dalam hitam putih.
Aku tidak bisa melihat intinya.
Kita seharusnya menonton film Disney!
Maaf!
Biarkan aku lewat.
TAHUN 1993
Sampai nanti!
Pada usia 20 tahun, aku berkuliah.
Aku mencari sesuatu untuk mendedikasikan kehidupanku.
Tapi masa-masa kuliahku berlalu terlalu cepat.
Kuliahnya dibatalkan!
Kau belum dengar?
Belum.
Dia mengacaukan wawancaranya.
Semua orang mulai mencari pekerjaan.
Aku tidak tahu apa yang ingin kulakukan.
Akan ada hal-hal yang tidak kau sukai dari pekerjaan apa pun.
Tapi jika kau menyukainya...
Menginaplah di sini malam ini.
Aku berencana begitu.
Sepupuku Michiko tinggal sendiri. Dia datang ke Tokyo untuk sekolah.
Kau mengikuti arus.
Sedangkan Noriko...
Apa?
Kau terlalu banyak menganalisis.
Diam.
Mengenai Michiko, semuanya tampak jelas.
Tapi orang bilang aku membosankan, terlalu analitis, lamban.
Kau tahu,
dia benar-benar hebat.
Bu Takeda. Tidak ada yang membungkuk seperti dia.
Bu Takeda membungkuk secara berbeda?
Itu membungkuk biasa, tapi entah kenapa berbeda.
"Namaku Takeda." Cara dia mengatakannya dan membungkuk.
Indah sekali.
Apa?
Kabarnya dia mengajar upacara teh.
Kau tak tahu?
Tidak.
Dia sudah melakukannya bertahun-tahun. Sendirian di rumah besar itu.
Bagaimana jika kau belajar upacara teh?
Kenapa?
Kenapa tidak?
Aku lebih suka flamenko atau Italia.
Ide bagus!
Aku mau.
Kalau begitu, lakukanlah! Itu hal yang baik.
Semua gadis melakukannya sebelum menikah.
Jadi, kenapa tidak belajar?
Michiko akan melakukannya.
Ikut aku, Noriko.
Dasar ceroboh!
Ya, mereka juga menyebutku ceroboh.
Aku membencinya.
Omong-omong, kini aku akan mempelajari upacara teh.
Saat itu musim semi.
Di sekitar sini, bukan?
Coba kulihat.
Lewat sini.
Ke arah sana.
Itu dia.
TAKEDA
Aku gugup.
Halo!
Halo.
Halo.
Silakan masuk.
Murid-murid lain datang pada hari Rabu.
Kau baik-baik saja?
Tapi kalian pelajar, jadi, kita lakukan hari Sabtu. Masuklah.
- Terima kasih. - Terima kasih.
Tunggu saja di sini, ya?
- Baik. - Baik.
Luar biasa.
Besar sekali.
Noriko.
Apa arti tulisannya?
Entahlah.
"Tiap hari adalah hari yang baik," itulah artinya.
Haru Kuroki
Kilin Kiki
Mikako Tabe
Kisah Orisinal Noriko Morishita
Ditulis dan Disutradarai oleh Tatsushi Omori
EVERY DAY A GOOD DAY
Baiklah.
"Angin sejuk datang dari selatan," itulah yang tertulis di kaligrafi.
Angin musim semi berembus dalam dua wanita muda yang baik.
Ini sempurna.
Sekarang, kain sutra ini
adalah serbet.
Jika tak dilipat dengan baik, tak akan terbuka dengan benar,
jadi, ingat ini.
Ambil sisi yang tak dijahit,
bukan sisi yang dijahit, dan letakkan di kanan.
Bagus.
Sekarang dari kiri, lipat.
Lalu dari bawah ke atas.
Benar.
Angkat,
lalu lipat lagi.
Dengan tangan kananmu, seperti ini,
ambil dan masukkan ke kimonomu.
Berpura-puralah kau memakainya.
Sekarang keluarkan lagi.
Buka
dan angkat di sudut ini.
Sekarang tempelkan kedua sudut.
Ya, seperti itu.
Lalu kaitkan pada ikat pinggang.
Berpura-puralah kau memakainya.
Mengerti? Sekarang lipat
dan lipat sekali lagi, lalu tarik.
Lalu ambil segitiga ini...
Ya, biarkan jatuh.
Pegang dengan jari telunjukmu dan putar ke samping.
Sentakkan untuk hilangkan debu. Cobalah.
Sekali lagi.
Itu suaranya.
Sekarang angkat dengan tangan kananmu
dan lipat dalam tiga bagian.
Dalam tiga bagian.
Seperti ini.
Sekarang lipat lagi
dan pegang seperti itu, lipat sekali lagi.
Ke arah tangan satunya, dan lipat ke belakang di bagian yang menonjol.
Tahan, lalu lipat lagi.
Lalu dengan tangan kananmu, letakkan di lututmu.
Itulah "melipat serbet".
Begitulah caranya.
Sekarang, di sini ada wadah teh.
Ambil satu.
Dengan serbet,
seka tutupnya untuk memurnikannya.
Kiri ke kanan, sisi jauh dan sisi dekat.
Sisi jauh, sisi dekat.
Seka sampai bersih.
Lalu kembali ke lutut.
Karena ini hari pertama kalian,
aku akan membuatkan kalian teh.
Silakan.
Untuk manisan.
Tidak ada teh.
Dalam upacara teh, kau makan manisan dahulu.
Manisnya!
"Roti iris".
Gunakan kertas di sana.
- Terima kasih atas makanannya. - Terima kasih atas makanannya.
Minum semua teh di mangkuk, dan membuat suara di akhir.
Suara?
Ya. Itu pertanda kau sudah menghabiskan semua tehnya.
Aneh sekali!
Benarkah?
Aneh sekali!
PEKAN BERIKUTNYA
Sekarang kita melatih gerakan dasar.
Kita akan melakukannya secara terpisah.
Kalian harus menguasai semuanya.
Ini pengaduk teh, begini cara menggunakannya.
Letakkan pengaduknya
di sisi terjauh mangkuk, lalu tarik ke arahmu seperti ini,
dan kembali dengan satu putaran pergelangan tangan.
Letakkan perlahan, pegang mangkuk dengan tangan kiri,
angkat, dan putar saat kau melakukannya.
Aku akan melakukannya lagi.
Putar saat kali pertama, ya, menyeluruh.
Sekali lagi, putar.
Lalu yang ketiga.
Apa gunanya ini?
Untuk melembutkan pengaduk sambil memastikan
ujung-ujungnya tak berjumbai.
Saat kau menurunkannya untuk kali keempat,
jangan diangkat lagi.
Terus aduk...
Tarik ke arahmu, lalu putar, dan keluarkan.
Kenapa kau memutar pergelangan tangan seperti itu?
"Kenapa"?
Begitulah caranya.
Kau memasukkannya kembali. Tunggu, tidak.
Putar mangkuknya untuk menghangatkannya.
Satu, dua, tiga, dan lagi.
Tahan, lepaskan...
Pegang memanjang, satu, dua, tiga.
Lalu lipat menjauh darimu tiga kali. Satu kali...
Pegang menghadap ke bawah, lalu masukkan ke mangkuk.
Lalu ambil lagi, masukkan ke mangkuk,
turunkan ke kiri,
lalu putar ke kanan, naik kembali, turun, keluar, dan masuk kembali.
Kenapa pola itu?
"Kenapa"?
Aku tidak tahu.
Tidak penting apa artinya.
Begitulah caranya.
Mungkin tak masuk akal bagimu,
tapi begitulah Cara Teh.
SATU PEKAN BERIKUTNYA
- Hari ini kita akan berlatih membuat teh. - Baik.
Ini yang disebut "prosedur".
No comments yet. Be the first to leave one.