Epen Cupen the Movie

Epen Cupen the Movie

Indonesian 字幕をダウンロード

リリース情報

Epen Cupen The Movie 2015 NF WEB-DL
解説: Putra14
Netflix Retail.

タグ

other
公開日: 2020-11-27
ダウンロード: 12
聴覚障害者向け: No

Indonesian字幕のプレビュー

最初の161行です。

- -

- - Hei! Mace!

Saya sedang tidur, kau berteriak.

Membuat saya kaget dan terbangun. Kau kenapa?

Justru saya yang mau bertanya.

Sudah tiga hari ini, kau mimpi apa sampai berteriak terus?

Saya baru bermimpi perang.

Kau mimpi perang. Mungkin kau bercita-cita jadi tentara.

Jangan gila. Kau hanya bermimpi.

Mace, jangan cerewet.

Kau kira saya main-main, bukan?

Saya betul-betul bermimpi.

Lalu Vera di mana?

Dia sedang mencuci piring di belakang.

Vera!

Vera!

Kau kenapa?

Saya panggil baik-baik, kau menjawab begitu pula?

- Anak model apa ini? -

Aduh. Iya, Bapak.

Nah, begitu. Hei.

Pergi, panggil kakakmu.

Aduh, saya lagi mencuci piring.

Sudah. Panggil Kakak Cello dahulu.

Katakan Bapak memanggilnya. Ini penting.

Kalau begitu, Bapak yang mencuci piring, ya?

Ya sudah, biar Bapak yang mencuci piring.

- Ya sudah, akan saya panggil. - Iya.

Nah, begitu.

Kakak Cello!

Kakak Cello, Bapak menyuruhmu pulang.

Ada apa?

- Katanya, ada keperluan penting. - Sudah. Nanti malam saja.

Saya mau ke ujung. Ada acara Mop di sana.

Cepatlah. Nanti saya yang dimarahi.

Kau pulang lebih dahulu sana.

Saya beri tahu Bapak, Kakak malas pulang, ya.

Beri tahu saja.

Ya sudah.

Mengganggu saja. Memang penting?

Iya, ini ada satu cerita Mop.

Suatu hari, Tete ingin pulang kampung.

Tete pergi ke pelabuhan dan bertanya seperti ini.

"Pak Kapten Kapal, kira-kira kapal ini berangkat jam berapa?"

"Jam dua. Jadi, Tete bisa pulang untuk istirahat. Ini masih terlalu pagi."

Tete berkata, "Oke, Cucu. Tete akan pulang."

Sampai di rumah, Tete berkata,

"Cucu, Kapten berkata kapal berangkat jam dua."

"Jadi, Tete tidur dahulu. Tete lelah."

Jadi, selama tiga hari berturut-turut,

Bapak selalu bermimpi tentang perang.

Tidak tahu kenapa.

Di medan perang itu, Bapak melihat saudaramu.

Kenapa Bapak tidak pernah cerita bahwa saya punya saudara lain?

Mace! Pakai barang lain saja.

Mengelap pakai sarung saya pula.

Kau pikir air mata saya ini virus?

Sampai tidak boleh memakai kain sarung busuk itu?

Coba Mama dan Bapak ceritakan yang sebenarnya.

Kenapa harus dirahasiakan?

Saya sudah dewasa.

Apakah saya bukan anak kalian?

Kau asli, anak laki-laki Mama yang paling ganteng, bukan orang lain. Mana ada?

Mama cetak, langsung jadi.

Sudah, ceritakan yang sebenarnya.

Tidak usah berputar-putar. Putar sini, putar sana.

Bukan begitu, Cello. Sebenarnya, kau punya saudara kembar.

- - Kembar?

Kembar?

Betul, Cello.

Waktu itu, Bapak membawanya bersama-sama pergi cari ikan.

Sedangkan Cello tinggal dengan Mama di rumah.

Bapak bermaksud saat itu, supaya mengurangi beban kerja Mama di rumah.

tapi dia hilang saat masih kecil.

Bapak!

- Bapak! -

Bapak!

Itulah ceritanya, Cello.

Tadi, dia melarangku mengelap air mata.

Sekarang, dia mengelap air matanya sendiri.

Ini sarungku, bukan punyamu.

Lalu, apa hubungannya dengan mimpi Bapak?

Mimpi itu tandanya dia masih hidup.

Jadi, Bapak mengira selama ini dia sudah mati?

Betul, Cello. Kita sudah mencarinya.

Tapi lewat mimpi itu, Bapak yakin dia masih hidup.

Hanya saja, dia di medan perang.

Ha? Medan perang?

Di mana itu, Bapak?

Bapak juga tidak tahu.

Tapi lewat mimpi itu, ada dua petunjuk yang Bapak dapatkan.

Apa itu, Bapak?

- Sabar dahulu. Biar Bapak ingat. -

Papan nama Jalan Bomel,

gambar rusa jantan.

Pokoknya, di mana ada perang, di situ kau akan menemukan saudaramu.

Kenapa wajahku bau sabun, ya?

Vera, tadi kau memberi Mama kain apa?

Kain cuci piring, Mama.

Anak kurang ajar! Kau pikir wajah Mama ini piring?

Sebelum kau pergi, ini sedikit uang yang Bapak simpan selama ini.

Ambil dan gunakan baik-baik selama perjalanan.

Terima kasih banyak, Bapak.

Bapak, dunia ini tidak seluas kampung kita,

tapi seluas apa yang saya yakini, saya bisa menemukannya dengan hati.

Dan saya janji akan membawa dia pulang ke sini.

Oke.

Kakak Cello!

- Kau mau pergi? - Iya.

Saya membawa makanan untuk Kakak.

Oke.

Ada minuman juga, tapi cuma sedikit. Karena di rumah, air tinggal sebegini.

Kalau Kakak haus, minum air laut saja, ya?

Tidak apa-apa.

Pokoknya, Kakak Cello pergi dan harus kembali.

Soalnya, saya di sini, masih setia menunggu Kakak.

Kenapa dari dahulu tidak bilang?

Saya sudah mau berangkat.

Waduh, kalau terjadi apa-apa di jalan nanti, kau rugi.

Halo, Bang? Abang sudah di mana?

Sudah sampai di Kupang? Tunggu di situ, Bang.

Aku sudah di jalan. Sedang menyetir.

Macet. Oke, tunggu di situ, Bang.

Tunggu. Menunggu. Ruang tunggu.

Kota ini maju sekali.

Sekarang, sudah banyak mobil.

Permisi. Bapak-Bapak. Saya mau menumpang bertanya dahulu.

Apakah Bapak tahu medan perang ada di mana?

Apa maksudmu "medan perang"?

Saya mencari saudara saya di medan perang.

Apakah kau gila?

- Tidak. - Kau tidak waras.

Di situ ada batu.

Oh, itu?

Bawa ke sana dan lempari mobil-mobil itu.

- Ya. - Nanti, di situ ada medan perang.

Atau lempari rumah-rumah di situ. Nanti, akan menjadi medan perang.

Tidak, Bapak. Saya tidak mencari masalah.

Saya hanya mencari medan perang. Kalau begitu, saya permisi.

- Berhati-hatilah. - Iya.

- Baik, Bapak. - Ya.

Halo?

Sinyalnya timbul tenggelam.

- Halo, Bang? - Iya, halo?

Sudah aku ikuti semua yang Abang katakan.

Transaksi bisnis ini harus dilakukan di luar ruangan supaya untung, bukan?

Ah, iya. Itu bagus.

Bisnisku buruk sekali, Bang.

Mudah-mudahan ramalan Abang tepat.

Percayalah dengan perkataan Abang.

- Ramalan Abang banyak yang gol. - Ha?

Gol? Abang meramal dengan bola kristal atau bola kaki?

Bola. Kepalamu bola!

Abang sudah berpengalaman.

- Oh! - Percaya, ya?

Percaya. Percaya, Bang.

Sudah. Tutup teleponnya, ya?

- Oke. - Ya. Aku capai.

- Oke. - Ya.

Sudah.

Halo, Bang?

Epen Cupen the Movie subtitles in other languages

コメント

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left