最初の150行です。
- Aldo. - Apa?
Sayang.
Ya, Sayang?
Ya. Aku lagi mau sarapan, nih.
Biasa. Sama Nino.
Sayang.
Mau lagi, dong.
Nanti?
Nanti kamu berenang?
Aduh.
Aku ada ujian. Aku tak bisa menjemputmu, kayaknya.
Bagaimana, ya?
Um...
Oh. Baik. Begini saja. Nanti aku coba minta tolong sama Nino, ya.
Ya. Nanti kukabari kamu secepatnya. Pasti.
Baik. Dah.
No.
Aku minta tolong, dong.
Nanti, Virnie mau berenang. Sehabis itu dia mau ke sini.
Aku tak bisa menjemputnya. Aku ada ujian.
Tolong jemput dia, dong. Agak sore.
Bisa, tidak?
Terima kasih.
Aku pergi dahulu, ya.
Ya!
- Sudahi dahulu. Sudah! - Sudah?
Itu Nino.
Nino. Itu, Nino.
Sedang apa dia?
Hai, Nino!
Kamu mau berenang?
Uh... Tidak, kok.
Cuma disuruh Aldo menjemput doang.
Baiklah.
Aku mau berbilas dahulu, ya.
Oh? Ya. Uh, Ya.
Dah, Nino.
Ya, Sayang. Kami sudah di jalan, kok.
Apa, sih? Kamu tak sabar banget.
Ya? Nanti, deh. Sabar.
Aku juga kangen padamu. Dah!
No.
Bisa berhenti, tidak?
Kita cari warung untuk membeli air minum.
Haus, nih. Ya?
Kamu mau, 'kan?
Mang.
Ya. Apa?
Air minum. Dua gelas.
- - Hei!
Air minum. Dua gelas!
Uh. Ya, Empok.
Mang! Air minum. Dua gelas.
Eh, iya. Salah, ya?
- Dua, Sayang. Dua. Dua gelas. - Oh. Sudah dua.
Mang. Sedotannya di mana?
Sedotan!
Terlalu besar! Yang sesuai, dong.
Wah, terlalu panjang.
Berapa?
Dua.
- Harga. - Wah, ngeri! Ya. Dua ribu!
Oh. Dua ribu.
Ini, Sayang. Dua ribu. Ya?
Ah. Ya.
Dah!
Aduh.
Seumur hidup, baru pernah melihat pepaya matang di pohon.
Do!
Hai!
Terima kasih, No.
- -
- Apa, sih? - Kok, kamu tak menjemputku?
Aku sudah bilang. Aku ada ujian.
- Hm? -
- Ya. Aku kangen benar. - Benar? Kangen apa?
- Semuanya. - Kenapa?
Nino.
Mobil Aldo tak ada?
Dia ada kuliah tadi pagi.
Kuliah?
Dia tak menelepon tadi pagi?
Tak seperti biasa.
Baiklah.
Aku jalan dahulu, ya? Dah!
Nino! Boleh minta tolong, tidak?
Ritsletingku terbuka. Bisa, 'kan?
Ayo. Tolong.
Terima kasih, ya.
Sudah?
- Ya. Maaf, ya. Kotor. - Dah!
Jika seseorang ingin membuat lawan jenisnya jatuh cinta...
maka ia harus mencuri tali pocong perawan.
Tali pocong harus diambil...
sebelum 40 hari dari hari kematiannya.
Ya.
Aku harus mencari mayat perawan.
- -
Mayat ditaruh di luar. Memangnya cucian kotor?
Jangan durhaka pada orang tua. Celakalah, kamu.
- -
- Mana mayatnya? - Sudah kutaruh di dalam.
Yang benar?
Tak percaya. Itu! Benar, 'kan?
Wah! Ya.
Tak percaya, sih.
Ya, sudah. Masukkan saja ke dalam lemari. Ayo.
Buset. Berat sekali, ya.
Orang masuk neraka. Jadinya berat sekali.
Mahasiswi gantung diri...
Delapan belas tahun.
Hah?
Ini anaknya Om Frans.
Tali pocong harus diambil sebelum 40 hari dari hari kematiannya.
Pasti masih perawan.
- Belum makan kamu, Yan? - Kalau makan angin...
sudah dari tadi, Bang.
Sampai perutku kembung. Kalau makan nasi, boro-boro.
Duit untuk beli berasnya saja, belum Abang berikan.
Baru menimbang buatku saja sudah senewen sekali.
Aku sudah sampai sini. Tak boleh mundur.
Aku harus mendapatkan tali pocong perawan.
Bang!
- Bang! - Hm?
Pulang yuk, Bang. Aku mengantuk.
Pulang? Enak sekali kamu mau pulang.
Hei. Kita di sini bekerja menunggui kuburan ini.
Karena kuburan ini belum 40 hari.
Bagaimana kalau ada yang mencuri mayatnya? Akan berabe.
Percayalah padaku, Bang.
Aku yakin.
Ini zaman modern.
Mana ada orang mencuri mayat?
Ada-ada saja, nih.
Tingkahmu.
Hei! Tugas kita di sini menunggui kuburan.
Sudah, titik.
Bawel. Berisik.
Memangnya aku burung beo? Berisik.
Hei! Mau ke mana kamu?
- Tidur dahulu! Mengantuk. - Hei, Yan!
Keterlaluan kamu.
Tidur saja dilarang. Mata sudah mengantuk, tak boleh tidur.
Bagaimana nanti... ketahuan.
Astaga! Si bodoh!
Dilarang tidur, dia tidur.
Disuruh menjaga kuburan, dia malah tidur.
Bang?
Ada kunang-kunang hinggap di bulan.
Tidurnya seperti orang mati.
No comments yet. Be the first to leave one.