Everything Calls for Salvation

Everything Calls for Salvation (Tutto chiede salvezza)

Indonesian 字幕をダウンロード

シーズン 2

リリース情報

Everything Calls for Salvation S02 ITALIAN NF WEB h264-EDITH
解説: tedi
Retail NF (5 eps)

タグ

webdl
公開日: 2024-09-26
ダウンロード: 40
聴覚障害者向け: No

Indonesian字幕のプレビュー

最初の200行です。

Hei! Kau di mana? Kenapa kau tak angkat?

Kami takut setengah mati!

Semuanya baik-baik saja, Bu. Aku tidur di rumah Gianluca.

Aku akan bekerja, sudah telat. Nanti kutelepon balik. Dah.

MINGGU KEEMPAT

- Pagi. - Pagi.

Ada kejutan.

Bunda Maria.

Bunda Maria.

Lihat siapa yang kembali.

Dia datang sendiri. Dia masuk dan berlari ke kamarnya.

Hei! Madonnina!

Madonnina.

Selamat pagi, Madonnina.

Kau mengenaliku, 'kan?

Ini reuni keluarga.

Dia perlu mandi.

- Bunda Maria! - Apa? Apa yang terjadi?

Bunda Maria!

- Bunda Maria! - Kurasa dia menginginkan ranjangnya.

Benar. Paolo, kau keberatan memberikannya kepadanya?

- Ya, tak masalah. - Jadi, benar. Dia di sini.

Selamat datang kembali, Madonnina. Kita lengkap sekarang.

- Bunda Maria. - Aku bukan Bunda Maria.

Untuk sekarang. Tapi akan kuusahakan. Kau bisa tinggal di sini.

Dia juga mengenali Cimaroli. Dia hanya mengabaikan kita, Dok.

- Terima kasih sudah mengalah. - Santai saja.

- Ranjangnya kosong, silakan. - Bunda Maria.

Bunda Maria.

Boleh masuk?

Pak Marchetti, silakan masuk.

- Pagi, Dokter. - Pagi.

Daniele, kau juga.

Jadi...

Pak Armando, sayangnya Carabinieri bilang

rumahmu secara ilegal dihuni oleh keluarga dengan anak di bawah umur.

Rumahku?

Ya.

Jadi, sekarang,

kau tak punya alamat tetap dan kau juga tak bisa tinggal di sini.

Kenapa tak bisa?

Armando, hadapilah. Kau tak punya kondisi kejiwaan.

- Tidak? Maksudku... - Tidak, dan kau seharusnya senang.

Sekarang, kau hanya bisa tinggal di Balai Kota.

Tapi Balai Kota memberiku rumah itu.

Aku tahu. Ini tidak adil.

Aku melamar ke panti jompo umum.

Rumah untuk lansia.

Semoga ada kabar baik.

Aku hanya ingin tempat untuk mati dengan tenang. Hanya itu yang kuminta.

Armando.

Begini. Mereka bisa memulihkan ini.

Ini albumku.

Yah...

Itu aku di Ostia. Lihat? Itu ibuku.

Itu ayahku.

- Pria tampan. - Ya, 'kan?

Dia bajingan.

Tapi dia yang paling menyayangiku di dunia.

Dia selalu mengajakku. Ke mana-mana.

Ibuku ingin aku tetap di rumah.

Ayah tak akan menurutinya.

Tidak.

Kali pertama kami pergi ke arena pacuan kuda di Tor di Valle...

Mungkin usiaku lima tahun.

Sungguh menyenangkan.

Pacuan kuda pertamaku. Balap geratih. Aku masih mengingatnya.

Saat tumbuh dewasa, aku mengerti alasan ibuku tak mau aku ikut dengannya.

Bukan karena dia tak menyayangiku. Sebaliknya.

Bersama cintanya, dia menularkan kecanduannya.

Aku mulai bertaruh, sama seperti dia.

- Kau pernah bertaruh? - Selalu.

Aku kehilangan segalanya. Sama seperti dia.

Dia sangat menyayangiku.

Saat kami menang dan kuda kami juara pertama,

dia sangat senang sampai melambungkanku.

- Dia akan menangkapku juga. - Pasti.

Pergilah.

Tidak sampai kau mendengarkan yang harus kukatakan.

Silakan.

Itu benar. Aku memang egois.

Aku lancang, tapi saat melihatmu di ranjangku...

Kau pikir seluruh dunia harus tahu?

Kenapa kau selalu coba menghancurkan hidupku?

Kau tak mengerti, Daniele?

Apa?

Aku mencintaimu, Bodoh.

Aku mencintaimu.

Ingat ciumanmu saat aku keluar dari sini?

Ya, tapi aku melakukannya untuk mengesalkan ayahmu.

Tidak. Bagiku, itu hal yang luar biasa,

itu membuatku berpikir kita mungkin...

Gianluca, aku suka perempuan.

Kau selalu tahu itu. Aku tak bisa berbuat apa-apa.

Ya, kau pernah bilang. Itu sebabnya...

Kita tak bisa bertemu lagi.

Apa maksudnya?

Kau tahu, Daniele. Aku sudah coba, tapi cukuplah.

Aku tak bisa lagi menjadi sahabatmu untuk masalah hatimu. Sakit.

Aku lebih suka kita tak bertemu lagi.

Meski kau cinta terhebat dalam hidupku.

Gianluca.

Sayang sekali kau melewatkanku.

Masuk.

- Kau sedang apa? Menulis puisi? - Tidak, hanya surat untuk Pino.

Surat untuk Rossana, perawat malam. Dia tak bisa menulisnya.

Semoga kau dibayar.

Apa kabar?

Entahlah. Baik? Buruk?

Ibu sudah cerita.

Hidup itu keras, seperti biasa.

Tapi setidaknya, di tempat kerja membaik.

Terkadang, aku bahkan terkesan aku bisa membantu.

Itu bagus. Jadi, apa yang salah?

Apa yang salah?

Aku takut mereka akan membawa pergi Maria. Aku takut.

Tidak akan.

- Tidak? - Tidak.

Geser sedikit.

Ayo lihat tulisanmu.

"Kau hal pertama yang kupikirkan di pagi hari

dan terakhir sebelum tidur."

Astaga, kuno sekali.

Apa? Begitulah Pino. Kuno.

Lalu Rossana apa? Biarawati yang terkurung?

Jika seseorang menulis sesuatu seperti ini,

aku akan menertawakannya.

Karena kau galak. Kau mau memukul Nina jika aku tak menghentikanmu.

Jangan sebut nama itu. Atau nama ibunya.

Sumpah, akan kutampar wajah mereka.

Plak, plak! Benar-benar menyakiti mereka. "Tontonlah ini di video!"

- Hei! - Apa?

Ada apa ini?

Ada apa, Giovanni? Kami hanya bersenda gurau.

Kalian mengganja.

Ganja? Matamu! Kami konyol sejak lahir, Giovanni.

Sungguh? Geser.

- Tidak! Apa yang... - Kau bodoh? Kau akan merusak ranjangnya!

Kau melompat ke arahku? Beratmu satu ton!

Polisi dilarang di ranjangku!

- Kau menyinggung polisi. - Rasakan ini!

- Telepon temanmu. - Pegang dia. Seperti saat kita kecil!

"Hanya untuk membawa mawar paling merah dalam hidupmu, begitu dekat denganku."

Entahlah.

Kau tak suka? Jika kau membacanya seperti itu...

Ini bagus, meski aku paham setengahnya.

- Faktanya, tapi dia... - Teman-teman.

Dia tak akan menyukainya. Dia pintar. Dia akan mengejek kita.

- Atau dia akan sadar kau berhati penyair. - Ya.

Oke, akan kucoba. Nanti kukabari, ya?

Tutup mulutmu...

Paolo. Mancino memanggilmu.

Ya, terima kasih.

Armando.

Hei.

Astaga, cukup bergaya!

Itu cocok padamu.

Kau mendandaninya?

Apa, Keparat?

Tidak.

- Jika butuh sesuatu... - Tidak, pergi.

Entahlah.

Aku agak takut padanya.

Sekarang, dia tampak sangat kesepian.

Bagus, kau membuat kemajuan.

Kau menjaga jarak aman.

Apa perlu mencari nomor telepon orang tuanya?

Kita bisa menghubungi dahulu, siapkan mereka.

Mungkin dia takut ditolak, tapi mungkin dia salah.

Maju selangkah, mundur dua langkah. Ini bukan main-main.

Bukan begitu. Rachid sudah dewasa.

Kita tak bisa melakukan apa pun atas namanya.

Aku pertama masuk ke sini sebagai pasien.

Aku di sekolah hukum, tahun pertama.

Aku pulang dan mendapati tunanganku bersama pria lain.

Ingatanku kabur, seperti mimpi buruk.

Berteriak, memukul, berdarah.

Lalu, dirawat paksa di sini. Elisabetta baru mulai kariernya.

Cimaroli?

Ya. Dia menyelamatkanku. Usianya baru 30 tahun.

Saat aku keluar,

aku meninggalkan Hukum dan masuk Kedokteran.

Sisanya kau bayangkan sendiri.

Bangsal psikiatri

adalah batas yang sebenarnya tak ada.

Hanya ada satu perbedaan antara kita dan mereka.

Kesempatan.

Ayo. Kembalilah bekerja.

- Kau tak boleh di sini, Paolo. Pergi. - Dokter.

Kubilang pergi!

- Tidak... - Apa yang terjadi?

- Tidak ada. - Sungguh?

Dia masuk dan menutup pintu. Dia tak membahayakan.

Paolo, ini serius. Itu tak boleh terulang.

- Kau dengar aku? - Ya.

Maaf, Alessia.

Maaf, kalian semua.

Paolo, hei.

- Ada apa? Apa katanya? - Aku tak tahu. Dia ingin bicara.

Aku takut.

Everything Calls for Salvation subtitles in other languages

More Indonesian subtitles for Everything Calls for Salvation

コメント

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left