처음 200줄입니다.
- Satu makanan? - Bebas?
- Apa pun? - Aku...
- Asparagus mayo. - Lasanya.
- Piza. - Sebuah...
Kue cokelat hangat dengan gula kelapa.
Telur goreng dengan kentang goreng.
- Salad vegan mentah. - Aku makan piza tiap hari.
- Udang bawang putih. - Es krim vanila di piring terpisah?
Kuning telurnya harus benar-benar matang.
- Dengan gandum bulgur. - Yang paling banyak dagingnya.
Aku benci saat mereka menyentuhnya.
- Tidak rusak. - Daging sapi, babi, dan ayam.
Dan kunyit.
Sebuah benda...
- Apa saja? - Ya...
Pulpen itu.
- Pisau lipat. - Kapak?
- Dildo. - Belati.
Bercanda.
Lukisan yang sangat indah.
Kau bisa jamin aku akan dapat piza tiap hari?
Aku jamin.
Maksudku, aku akan sangat kesal jika tak dapat piza.
Seberapa kesal?
Kau tahu alasanku di sini, 'kan?
Di sini tertulis kau mencoba membakar rumah orang tuamu
saat mereka tidur.
Sekesal itu.
Apa kalian tak punya malu? Dasar bajingan.
Apa yang kau lihat?
- Dua puluh satu! - Dia, yang sembunyi.
Pria di Tingkat 21!
Dia makan daging dari piza dan daging babi has!
Hari pertama, dan kau sudah membuat masalah!
Dua puluh satu!
Hei! Jangan!
- Jangan. - Dasar pemula.
Berapa kali kami harus memberitahumu?
Aku cuma boleh makan makananku?
Ya. Atau makanan hasil penukaran yang telah disepakati bersama.
Itu Hukum.
Maksudmu Hukum yang diabaikan siapa pun yang makan makananku?
Kami urus itu besok.
Jangan seperti Orang Barbar dan makan semaumu.
Tidak. Orang Barbar sesungguhnya ada di Tingkat 21 yang makan makananku.
Kurasa setidaknya aku berhak makan...
Kau berhak meminta kami, Loyalis, melindungi makananmu. Ya.
Kami mengurusnya.
Jika begini cara Loyalis menangani sesuatu,
kita akan punya masalah.
Itu tak mudah, tapi sejak Revolusi Solidaritas dimulai,
Lubang menjadi lebih adil tiap bulan.
Dengan bantuan semua orang, Hukum akan segera mencapai tingkat terbawah.
Kau tak mengerti jika kau makan makanan orang lain,
orang itu akan merasa dirugikan
dan berhak makan semau mereka?
Itu akan merugikan orang lain, lalu merugikan lebih banyak orang.
Itu memiliki efek domino, membuat orang di tingkat terbawah tak dapat makanan.
Kau sudah selesai?
Dengar, Bodoh, itu yang akan terjadi jika kau makan sayap ayam itu.
"Bodoh"?
Lihat perbuatan si bodoh ini.
Mereka benar. Itu yang akan terjadi.
Tentu. Mudah bagimu mengatakannya.
Tak ada yang makan kroket busukmu.
Kau mau?
Tentu.
Tapi aku tak mau ada kejutan lagi besok, mengerti?
Bagus. Sekarang, makan cepat sebelum platform turun.
Administrasi melarang kita menyimpan makanan.
Ada hukuman. Dan hukumannya sangat berat. Mengerti?
Aku paham.
Kenapa mereka tak menghukum para bajingan di Tingkat 21 yang makan pizaku?
Kita yang membuat aturan soal makan makanan kita, bukan Administrasi.
Ingat, bulan ini kalian cukup beruntung untuk bangun di Tingkat 24.
Bulan depan, mungkin tak seberuntung itu.
Tapi perbuatan kalian di hari pertama kalian sangat terhormat.
Hormati orang lain dan jaga tingkat kalian.
Jangan dikalahkan Lubang.
"Jangan dikalahkan Lubang."
Siapa namamu?
Zamiatin.
Perempuán.
Perempuán.
Sebenarnya, makanan favoritku adalah
kroket ham yang biasa dibuat mantanku.
Tapi tentu, itu mustahil sekarang.
Apa kau merindukannya?
Apa yang kau cari di Lubang?
Waktu.
Aku butuh waktu untuk melupakan perbuatanku.
Empat puluh empat!
Empat puluh empat!
Empat puluh empat.
Empat puluh empat.
Empat puluh empat!
Empat puluh empat! Sampaikan informasinya!
- Empat puluh empat! - Sampaikan!
Rantai komunikasi terputus di Tingkat 44,
dan entah apakah makanan dibagikan dengan adil dari sana ke bawah.
Bukankah mulai dari Tingkat 21?
Ada berapa tingkat?
Tiga ratus tiga puluh tiga.
Tidak penting ada berapa tingkat.
Yang penting, makanan mencapai mereka semua.
Besok, rekan kita dari Tingkat 19 dan 20
akan turun ke Tingkat 21 untuk mempertahankan pizamu.
Dan orang-orang dari Tingkat 42 dan 43 akan turun ke Tingkat 44
agar orang-orang di bawah bisa makan.
Begitu cara kerjanya.
Kini, sebaiknya kalian mundur.
Apa? Kami tak boleh berdiri di sini?
Bagaimana perasaanmu?
Saat aku hampir membunuh orang tuaku?
Permisi. Sebentar.
Berdasarkan ini, kau mencoba membakar kamarmu,
tapi kau berubah pikiran 30 detik kemudian.
Hanya keranjang sampah, autobiografi yang kau tulis,
dan dua kotak piza kosong yang terbakar.
Ketahuilah, Berengsek,
mereka mengirimku ke sini karena takut kepadaku.
Di mana makananku?
Di mana makananku?
Di mana...
Apa yang terjadi?
Orang-orang di Tingkat 21 melawan.
Aku takut mereka mendapat hukuman berat.
- Siapa berikutnya? Kau. Kau. Ayo lakukan. - Bajingan...
Baiklah!
Ayo, 22!
Ayo!
Mereka ada di platform.
Jika mereka tak bisa dihentikan di 22,
kami yang harus bereskan mereka.
Dan kau juga.
Apa maksudmu kita?
Aku datang bukan untuk bertarung. Tak ada yang bilang soal bertarung.
Aku maafkan mereka untuk kemarin.
Patahkan rangka ranjang dan cabut jeruji!
Ini. Sekarang!
- Bagaimana ini? - Entah.
Revolusi Solidaritas!
Cepat, Sialan!
Hei!
- Ada apa? - Mereka ingin bertarung.
- Apa? - Untuk makanan. Orang di atas.
Kami?
Hei, kalian di atas! Dengar? Kalian mendengarku?
Akan kuberikan pizaku. Ambil saja.
Tapi tolong jangan lukai kami.
- Hei! - Sial.
Panas, panas, panas!
Platformnya.
Makanannya! Kita harus singkirkan makanannya! Bantu kami!
Dingin.
Mereka akan membekukan kita.
Dingin!
Dingin.
Sudah.
Sudah semua.
Sudah.
Bagus.
Berani sekali.
Apa dia belum sadarkan diri?
Ya.
Kau mau piza?
Mau piza, Bajingan?
- Mau? - Stop!
Pelanggar ini menyebabkan banyak kerugian.
Karena dia, takkan ada yang makan hari ini.
Tapi itu bukan cara kami.
Bukan.
Cara kalian melakukan sesuatu terlalu lembut untuk itu.
Apa?
Mungkin bukan hanya dia yang bertanggung jawab.
Kemarin, aku bisa saja makan yang lain.
Ada banyak makanan, tapi kalian melarangku.
Itu salah kami?
Maksudku, terkadang memberi orang sedikit kebebasan...
Tidak! Tutup mulutmu sekarang!
Tidak.
Kebebasan tak berhubungan dengan makan semaumu.
Tidak. Mengerti?
Dia sudah mati.
Tidak. Keparat! Dasar bajingan!
Itu sangat berani.
Cukup!
Kita apakan dia?
Kalian diam saja.
Aku turun dengannya sampai menemukan Yang Diurapi.
Yang Diurapi...
Mereka yang cukup beruntung untuk bertemu sang Master.
Pria yang mendirikan prinsip Hukum.
Mereka bertugas menegakkannya dengan bijak...
Tunggu.
Sang Master?
Sebagian orang memanggilnya
Almasih
atau Hidalgo.
Tak ada yang tahu apa dia masih hidup.
No comments yet. Be the first to leave one.