처음 200줄입니다.
Lihat sinar matahari di celah pepohonan.
Aku tahu. Indah sekali.
Sebenarnya ada pohon di sekitar sini yang berusia lebih dari 1.400 tahun.
- Kita harus pergi melihatnya. - Pergi melihat pohon?
- Kurasa tidak, Paddy. - Jangan tidak asyik.
Itu akan menyenangkan, aku janji. Dan mendidik.
Tahu hal lain yang menyenangkan dan mendidik?
Pergi ke kolam renang di dataran tinggi.
Tidak cukup antibiotik di dunia yang bisa membuatku ke kolam itu.
Kau tidak takut kena kencing nanah, Dom?
Aku akan melakukan apa pun yang dia suruh.
Jika acaranya adalah melihat pohon tua itu, aku ikut, Paddy.
Terima kasih, Dom.
Kupikir akhir pekan ini harus tentang kita bertiga...
Bermain bersama.
Bukan kebersamaan kita dengan 200 pria gay telanjang di kolam.
Astaga.
Astaga!
Lihat ini!
Astaga, Dom! Tempat ini begitu menakjubkan!
Baiklah. Jujur saja, ini lebih baik dari yang kukira.
Maksudku. Itu keren.
- Siapa yang tahu Lynn begitu kaya? - Ini juga tempat kebanggaan Lynn...
- Jadi, dilarang merusak apa pun. - Baik.
Saatnya aku mencari pria tua penyokong.
Karena komentar itu, kau dapat tempat tidur susun.
Kurasa aku yang mengeluarkan barang dari mobil?
Tentu aku tidak akan lupa.
Ya.
Tidak, aku sungguh mengerti. Ya, jendelanya terkunci.
Ini menakjubkan atau mengerikan?
- Kupikir keduanya. - Kenapa rambutnya keriting sekali?
Kenapa ada burung hantu terbang di belakang?
Aku tahu. Mungkin tidak perlu dibahas.
Dan jangan membahas pria tua penyokong, ya.
- Ini dia. - Astaga.
Apa ini? Apakah ini setangkai mint?
- Benar, kutemukan di semak belakang. - Astaga, kau luar biasa.
Lihat, ini tepatnya yang kita butuhkan.
Mint segar, kedamaian, ketenangan, keagungan alam di sekitar kita.
- Benar. Bersulang. - Ya, bersulang.
Mau tambah vodka? Mau buka lemari minumannya?
Jangan coba-coba.
Ya, kupikir mungkin...
Kita sebaiknya tidak mabuk akhir pekan ini.
Kupikir kita harus membuat perjanjian, di sini, sekarang juga...
Bahwa kita tidak boleh terlalu mabuk atau...
- Apa? - Ayolah.
Jangan bilang kalau ini semacam intervensi.
Tidak, ini bukan intervensi. Benar, Dom?
- Dom, benar? - Dom?
Aku lebih suka dirimu yang sedang kacau...
Karena itu mengurangi kenarsisanmu.
- Namun Patrick memaksa... - Aku tidak memaksa apa pun.
Kalian berdua telah merencanakannya...
- Seperti pasangan penyihir tua. - Tidak. Itu bukan...
Itu tidak benar. Tidak seperti yang kau pikirkan.
Aku hanya merasa seperti... Mungkin tidak usah minum alkohol.
Aku ingin kalian tahu kalau aku baik-baik saja.
- Baik? - Baik.
Hanya karena aku memilih untuk tidak berkubang dalam penderitaanku...
Aku tidak berkubang.
"Astaga, apa yang harus kulakukan dengan Richie? Kutelepon?"
"Kukirim SMS? Ku-Instagram?"
- "Ya ampun, dia tampan sekali". - Itu tak seperti aku.
Dom, apa itu terdengar seperti aku?
Suaramu sedikit lebih tinggi, namun itu cukup mirip.
Kalian tahu kalau mabuk sambil mendekatkan penis ke wajah...
Sebenarnya bukan hal terburuk di dunia.
Baik, sayangnya aku tak seperti dirimu dan aku tak tertarik...
Untuk mabuk-mabukan dan membawa sembarangan orang masuk rumah...
Lalu bercinta dengan gaduh sampai aku harus pakai penutup telinga.
- Itu hanya satu kali, paham? - Aku tidak bisa tidur.
- Aku bisa mendengarmu... - Teman-teman, sudahlah.
Jika tidak jaga sikap, kita pulang saja.
Tidak, kau benar, Dom. Mari kita bersantai, bernapas.
Aku benar-benar mengajak ke sini, karena kupikir...
Kita membutuhkan liburan ini.
Ini bukan intervensi.
Jujur, aku butuh akhir pekan ini, meski kalian tak butuh.
- Kenapa kau butuh liburan? - Butuh saja.
Aku tidak lihat kalau ada buah ceri.
- Kau mau ceri? - Tentu.
Ceri? Mari kita menikmati ceri...
Dan teh mint yang telah dibuatkan Dom untuk kita...
Dan, kalian tahu, menikmati pemandangan indah ini.
Jadi, sebenarnya, ketika penduduk asli Amerika datang...
Ke hutan ini, mereka tidak menghabiskan waktu di sini...
Dan mereka pergi karena takut pohon-pohon yang tinggi ini...
Ada hantunya.
Lebih dari 1.000 tahun dan pohon ini hanya berdiri di situ...
Tahu persis apa tujuannya.
Untuk berdiri kokoh, tumbuh, dan terlihat bagus saat melakukannya.
Akan menyenangkan jika kita bisa bercinta di bawahnya.
Astaga, mengapa kau selalu melakukan itu?
Banyak hal yang lebih penting dari seks.
Maaf.
Sekarang apa?
Mendaki lagi?
Hei. Sedang sibuk apa?
Aku tadi mencoba menghormati privasinya Lynn...
Tapi aku menemukan album foto...
- Jadi, terlanjur. - Astaga.
Kupikir aku setuju dengannya supaya bisa melihat isi tempat ini...
- Tanpa ada dia di sini. - Apa yang sedang kau cari?
Entahlah. Sesuatu yang membantuku...
Untuk lebih mengenalnya. Lynn tidak suka bercerita.
Itu mirip seseorang yang kukenal.
Masalahnya, aku sungguh ingin mengenal dia lebih baik...
Yang langka sekali untuk kulakukan.
Aku mengerti kenapa dia tidak mau menceritakan masa lalunya...
- Juga mengenai Brian, namun... - Mereka terlihat begitu tampan...
Dan bahagia. Maaf.
Tidak apa-apa. Itu benar.
Astaga.
Ini sangat menyedihkan.
Ya, tetapi pada saat yang sama...
...penting baginya untuk membahas hal-hal seperti itu kepadaku.
- Bukankah begitu? - "Kebahagiaan..."
"Bukanlah di tempat lain, tapi di tempat ini".
"Bukan beberapa saat ke depan, tapi saat ini".
- Benarkah? - Itu kata Walt Whitman.
- Itu kutipan yang hebat. - Aku tak peduli siapa dia. Astaga.
Astaga! Sepertinya aku sudah lupa bagaimana rasanya punya kekasih.
Bukankah punya kekasih itu menyenangkan?
Bisa menyebutnya dengan panggilan "Kekasih"?
Dapatkah kau menyebut seorang pria 59 tahun kekasihmu?
Kau dapat memanggilnya apa pun yang kau mau.
Ya, kau benar. Astaga, aku harus tenang.
- Kau baik-baik saja? - Ya.
Kau sudah merelakan Richie pergi, 'kan?
Ya, kurasa. Maksudku...
Aku menyesal dengan caraku menghadapi segala sesuatu...
Dan aku merindukannya, tapi...
Kau pernah melakukan hal-hal yang mengejutkan dirimu sendiri?
- Apa maksudmu? - Kau tahu, apa kau pernah...
Terkejut dengan perilakumu sendiri?
Apakah kita masih berbicara tentang Richie?
Lupakan saja. Ini tidak penting.
Kurasa aku ingin pergi jalan-jalan...
Sebelum kita main monopoli...
Karena aku mendengar burung pelatuk di luar.
- Aku ingin melihatnya. - Burung pelatuk?
Kau tahu, mereka benar-benar ada di sini.
Jadi, maukah kau mendengarkan Agustin?
Apa yang harus kudengarkan?
Jika dia masturbasi, kau tinggalkan saja dia.
Namun jika dia menangis, panggil aku.
Jika dia melakukan keduanya bersamaan...
Kau tangani sendiri saja. Itu cukup sering terjadi.
- Astaga. - Jangan beri tahu dia yang barusan.
- Sampai jumpa. - Baik.
Oriental Avenue. Silakan bayar, berengsek.
Tidak, itu rasis. Aku tak mau bayar uang sewamu.
Tidak, jalannya yang rasis, bukan aku.
Bukan berarti kau sudah bayar sewa.
Kuberi kau kesempatan. Jalan lagi.
Baiklah, ini dia, Paddy.
- Apa? Apakah kita berbalik? - Dayung ke sisi lain sekarang.
- Tapi, bukankah kita ke arah sana? - Benar! Aku hanya...
- Kita memang mau ke sana. - Aku memutar perahunya.
Lalu, kenapa kita jalan mundur?
Astaga. Ini pantai yang paling gay.
Aku tidak tahu ada pantai di sini.
Aku tidak tahu banyak yang telanjang di pantai ini.
Kita sampai.
Kurasa kita harus mampir.
Paddy, kau pun bisa bercinta jika kita mampir.
Tidak, teruslah mendayung.
Sepertinya kita tidak akan sampai ke ujung sungai.
Tidak, ayolah. Kita pasti bisa.
Ke depan, Semuanya. Mari kita terus maju.
- Paddy, santai saja. - Fokus pada hadiahnya.
Astaga, ini indah.
Dom, kupikir kita menemukan aliran kita di sini. Benar, 'kan?
Astaga.
Ada banyak pria di sini.
Ciumlah bau testosteron itu.
Kita di pantai pria berbulu, Sayang.
- Ada banyak sekali pria. - Hei!
- Hei! - Apa kau mengenalnya?
Tidak sama sekali.
Ayo pesta dengan yang lain!
Maaf, aku sedang tidak boleh nakal.
Dengan berewok seperti itu, tidak mungkin kau tidak nakal.
Datanglah ke hutan malam ini. Ajak Seal Pup (Anak anjing laut).
- Siapa saja boleh masuk. - "Seal pup"?
Di mana tempatnya?
- Para peri akan memandu kalian. - Apa itu seal pup?
Kupikir seal pup adalah seseorang yang tak berbulu dan pendek.
Tunggu, dia memanggilku pendek?
Kita butuh mandi, semprotan serangga, minuman dingin...
Lalu kita siap untuk main board game.
- Lagi? Board game? - Ya.
Halo, Para Jalang.
- Apa-apaan? - Ya, tepat sekali. Apa-apaan?
Kalian berniat mengadakan pesta khusus pria...
- Tanpa aku? - Kau bekerja.
Tadinya aku bekerja, kemudian semua orang mati...
Dan sekarang aku bisa senang-senang.
No comments yet. Be the first to leave one.