Before, Now & Then

Before, Now & Then (Nana)

Indonesian 자막 다운로드

릴리스 정보

Before Now & Then Nana 2022 AMZN WEB-DL
다음의 해설 Aurora Patandean

태그

Web-DL
web-dl
web
WEB-DL
게시일: 2022-08-02
다운로드: 228
청각 장애인용: No

Indonesian 자막 미리보기

처음 200줄입니다.

Ceu Ningsih.

Berapa lama lagi ingatan tentang dia...

akan terus tersimpan di kepalaku?

Tapi kenapa sekarang aku sudah mulai lupa wajahnya?

Nana!

Ayo kita teruskan lagi perjalanannya, Nana.

Bau tubuhnya pun aku sudah mulai lupa, Ceu.

Assalamualaikum.

Kenapa ya?

Apakah ini pertanda...

dia sudah mati?

Nana!

Nana!

Ayo!

Kita harus segera pergi.

Ceu ...

Kenapa kita pergi buru-buru seperti ini?

Lewat jalan seperti ini?

Kalau kita lewat jalan besar...

akan ada yang menyusul dan mengejar kita.

Siapa?

Belanda?

Jepang?

Bukan.

Gerombolan.

Sudah,

jangan banyak tanya.

Ayo.

Dengar, Nana...

Gerombolan yang dulu membawa suamimu...

sekarang ingin membawamu juga, ke hutan.

Mereka bilang,

kamu akan dinikahkan ke komandan mereka.

Sama seperti ...

Teh Dedeh,

Ipah,

Mimin, Imas.

Tapi bukankah mereka tahu ...

kalau aku sudah punya suami?

Entahlah, Nana.

Yang jelas ...

beberapa hari lalu...

mereka menemui Bapak.

Kalau Bapak menolak,

akan dituduh tidak mendukung perjuangan mereka.

Lalu kenapa kita harus kabur?

Kalau gerombolan itu datang menjemput saya,

nanti bagaimana dengan Bapak?

Kalau mereka tidak menemukanmu...

mereka pasti akan membawaku sebagai gantinya.

Karena itu Bapak menyuruh...

supaya kita berdua cepat pergi.

- Assalamualaikum - Wa'alaikumsalam

Kelihatannya Bapak mau pergi ke masjid, ya?

Kalau begitu, mari berangkat sama-sama.

Kebetulan kita juga mau ke masjid.

Baiklah.

Mari.

"Ingatlah,

Kita hidup di dunia...

hanya sebagai wayang,

raga tak punya kuasa.

Jika langkah kita sesat,

napsu akan membuat kita menyesal.

Raga yang akan menanggung sial."

Nyi Nana...

apa semua sayuran di kebun,

sudah dikirim ke Jakarta?

Sudah, Kang Lurah.

Tinggal buncis dan kentang di kebun Selatan.

Nanti sore akan dikirim ke Semarang.

Siang ini, Saya harus ke bank dulu.

Nyi Nana makin pintar saja, mengurus kebun.

Semua ini Kang Lurah yang mengajarkan.

Iya.

Tapi kamu juga cepat belajar.

Bagaimanapun juga...

saya hanya orang kampung.

Kang Lurah yang menyelamatkan saya dari pelarian.

15 tahun sejak kita menikah,

bukan waktu yang sebentar, Kang.

Sudah 15 tahun ya?

Tidak terasa ya.

Tapi...

Nyai masih tetap cantik.

Masih muda.

Banyak lelaki muda yang mengagumimu.

Ada-ada saja Akang ini.

Tidak.

Hanya ingin memuji Nyi Nana saja.

Sebentar.

Coba ambilkan kotak di atas meja itu.

Coba dibuka.

Bagus sekali.

Kalau memakai itu,

Nyi Nana pasti makin cantik.

Mami.

Dais mau bantu?

Kenapa ya...

para perempuan...

rambutnya pasti panjang?

Kenapa juga,

setiap hari harus digelung?

Malah kadang harus disanggul.

Seorang wanita harus pintar menjaga rahasia.

Masalah apapun yang terjadi dalam rumah tangga,

akan disimpan di belakang rambutnya.

Mami punya rahasia?

Kalau Dais, punya rahasia?

Dais ingin punya rambut pendek.

Seperti laki-laki.

Supaya kalau keramas tidak lama.

Permisi, Bu.

Neng Dais, ayo mandi.

Kan mau sekolah.

Silakan, Jeng Mami.

- Itu punyaku! - Punyaku!

- Itu punyaku! - Punyaku!

- Itu jambuku! - Punya Dais!

Jambu yang merah, punya Kang Gani.

Jambu yang putih, punya Dais.

Hore!

- Dan tidak boleh saling mencuri. - Lihat saja nanti.

Awas saja!

Ibu.

Punya siapa ini?

Bukankah punya Ibu?

Saya temukan di kamar Bapak.

Oh, terima kasih.

Tadi ada perempuan antarkan daging.

Katanya, untuk Bu Nana.

Siapa?

Saya juga kurang tahu.

Baru pertama kali lihat.

Mau dimasak apa, Bu?

Tidak usah.

Simpan saja di atas beras.

Baik, Bu.

Ini adalah wawancara.

Ini pertama kalinya dia berbicara di televisi.

Reporter Oltmans menanyakan,

bagaimana serangan komunis bisa dicegah.

Ini semua bergantung pada masyarakat Indonesia...

dalam merespon kegiatan...

yang didukung oleh Partai Komunis Indonesia.

Dais sudah makan?

Sudah, tadi disuapi Bapak.

Hasil panen sekarang lebih bagus.

Pinjaman bibit dari Bah Acong sudah kita kembalikan.

Simpanan hasil penjualan...

bisa kita pakai membeli tahah yang dulu itu.

Itu ada daging di dapur.

Mau dimasak apa untuk nanti malam?

Dibikin gepuk saja, Mami.

Atau semur daging seperti biasanya.

Tapi dimasak besok saja.

Karena nanti malam, Dais akan pergi sama Bapak.

Ada peresmian hotel baru di Lembang.

Ibu?

Ada kurir menunggu di depan.

Iya?

Sayangku...

Kapan berkunjung ke rumahku untuk makan siang?

Kang Lurah, ini ada yang kirim surat.

Mengajak makan siang.

Dia ingin Kang Lurah singgah di rumahnya.

Sepertinya perempuan.

Sebentar, Nak.

Kabarkan padanya...

saya tidak bisa.

Assalamu'alaikum.

Dais sudah siap?

Sudah.

Cantiknya.

Andi,

Dais ngga punya baju yang lebih bagus?

Ini sudah yang paling bagus, Nyai.

Gimana kabarnya, Ceu?

Dari mana?

Tadi dari rumah Teh Ntin.

Menemani dia.

Kasihan dia, semenjak dicerai suaminya, jadi linglung.

Tidak tahu harus bagaimana lagi.

Suami dan anak-anaknya tidak pernah diurus.

Yang dilakukan cuma kerja terus.

Wajar kalau suaminya melirik perempuan lain.

Ayo berangkat.

Ayo.

Pergi dulu ya, Mami.

Maaf, Ceu.

Penjual daging di sini, yang mana ya?

Itu, Mak Ino.

Tidak ada yang lain?

Tidak ada. Kalau penjual daging, hanya Mak Ino.

Saya paham kekhawatiran Nyai.

Kita memang harus berhati-hati sama komunis.

Maksudnya apa, cerita seperti itu?

Kalau dilihat, juga sudah kelihatan bedanya, Nyai.

Terima kasih, Ceu.

Nyai? Sedang apa di sini?

Before, Now & Then subtitles in other languages

댓글

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left