처음 200줄입니다.
Ada kekuatan dan kelemahan di dunia ini.
Itu peringkat yang menentukan bahkan di antara dua orang.
Peringkat itu biasanya ditentukan seperti ini.
Jika kau punya uang lebih, bisa pinjamkan 20.000 won?
Apa maksudmu? Kenapa meminta hal seperti itu?
Seburuk apa meminjam 20.000 won?
Kau punya banyak uang!
Jika punya banyak uang, apa aku makan kulit babi, Bodoh?
Aku pasti makan daging.
"Bodoh"? Kita seumuran.
Kita sebaya!
Tapi kau lahir bulan September.
Apa lebih tua patut disombongkan?
Pertama, usiamu.
Itu tak berlaku lama.
Apa katamu, Keparat?
Apa katamu tadi?
Kalian sedang apa?
Kalian sama buruknya. Untuk apa berkelahi?
Jika mau berkelahi, gunakan tinju kalian.
Aku akan memukulmu malam ini.
Memang kau bisa melawanku?
Aku sopir taksi swasta.
Jangan meremehkan sopir pribadi!
Kedua, sepandai apa pun kau bertarung. Itu masih berlaku,
tapi jika tak memakainya dengan baik, kau akan terkena pukul juga.
Astaga!
Sopir taksi swasta? Jangan sombong.
Rasakan pukulanku!
Rasakan!
- Beraninya kau! - Tunggu!
Dasar keparat rendahan menyedihkan!
Apa yang kalian lakukan di restoranku?
Begitu sudah mabuk, kalian hanya bisa berkelahi.
Bawa pulang saja, Keparat! Kalian kekanak-kanakan sekali!
Keluar.
Sudah mau pergi? Keluar!
Aku pinjamkan 20.000 won.
Terima kasih.
Bu, kami bayar tunai.
Makanannya lezat.
Ketiga, cara bicara.
Itu cara terbaik yang paling murah dan efektif.
Mereka yang bicara lantang biasanya menang.
Pak, seharusnya 15.000 won.
Harga yang kau berikan terlalu tinggi.
Kulihat toko lain menjualnya 10.000 won.
Aku tak menjualnya seharga itu. Kau bicara omong kosong.
Jika 19.000 won? Aku tak punya uang.
Lihat. Aku tak punya uang di dompet.
Aku tak menjualnya seharga itu.
- Ini cantik. - Selamat datang.
Berikan kelimanya.
- Tentu, totalnya 150.000 won. - Baik.
Keempat, jumlah uang yang dimiliki.
Tak ada yang bisa mengalahkan orang yang punya uang.
Aku pulang, Ibu.
- Kang-ja. - Ya?
Kenapa tak pernah pulang tepat waktu untuk memasak?
Namun, ada pengecualian dalam menentukan kekuatan.
Maaf, Ibu. Banyak sekali pelanggan di sore hari.
Ibu sudah bilang jangan membuka restoran di sore hari.
Jika membukanya di sore hari, mereka akan ingin minum.
Bukankah akan mencurigakan, jika kebanyakan pelanggan sopir pria?
Kau tak mendengar nasihat Ibu?
Astaga, aku lapar karena berolahraga.
Di mana sisa rotinya?
Astaga, lihat dirimu.
Kau memasak untuk pelanggan pria lain,
sementara kau hanya memberi roti kepada suamimu yang bekerja keras?
Astaga, kini dunia sudah terbalik.
Aku akan segera masak. Makanan segera siap.
- Mau ke mana, Ah-ran? - Pergi les.
Tapi kau tak ada les hari ini.
Ada les merias.
Jika kau bilang, ibu pasti pulang cepat untuk membuatkan makan malam.
Tunggu, ibu akan mengantarmu.
Lupakan saja.
Apa maksudmu?
Ah-ran.
Oh Ah-ran!
- Apa? - Lihat!
Pakai ini. Masih dingin di malam hari.
Lehermu harus hangat...
Astaga, aku tak mau.
Kenapa kau terus menolak semua yang ibu katakan?
Itu karena Ibu terus bersikeras.
Murid SMA mana yang memakai itu?
Wanita tua saja tak memakai syal murah begitu.
Ini tak murah.
Harganya 19.000 won.
Jika Ibu suka, pakai saja.
Tunggu, kalau begitu...
setidaknya terima ini.
Beli makanan dalam perjalanan.
Kau tak bisa belajar dengan perut kosong.
Astaga, dasar gadis keras kepala.
Tak peduli setua, sekuat, atau sekaya apa pun dirimu,
ada seseorang di dalam hubungan yang selalu kalah.
Orang yang lebih mencintai selalu yang lebih lemah.
Seperti itulah
arti seorang putri bagiku.
Memberi makan anakku lebih penting
daripada mengisi perutku sendiri.
Itu hubungan yang aneh dan misterius.
Aku seorang ibu.
Kau!
Ah-ran!
Kau!
Kau!
Lepaskan dia sebelum kau bicara.
Astaga.
Memang kau siapa, Ah-ran?
Siapa kau sampai berani mencampuri urusan Yi-kyung?
Ambil ini dan pergilah.
Apa kau semulia itu?
Apa kalian pasangan?
Siapa kau sampai memberi uang?
Kau tak tahu mereka pacaran?
Benarkah? Kenapa aku tak tahu?
Sejak kapan kalian pacaran?
Maaf.
- Berhentilah cemburu. - Cemburu?
Aku?
Aku ingin muntah setiap kali melihat wajahnya.
Itulah kecemburuan.
Cemburu karena kau selalu mengganggu gadis-gadis yang lebih cantik darimu.
Wajahmu jelek sekali sekarang.
Aku ingin muntah.
Dasar jalang! Kau gila?
Ah-ran.
- Ada apa? - Kenapa mereka berkelahi?
- Apa yang terjadi? - Apa yang kau lihat?
Hei, kau gila?
Kau tak paham apa pun?
Apa yang kau lakukan?
Kalian sungguh pacaran?
Kurasa ada telepon untukmu.
Halo.
- Astaga! - Ayo pergi.
Kalian membuatku gila.
Kalian membuatku sangat gila.
Kalian mau dihajar?
Jangan begitu.
Kulitmu jadi jelek jika marah.
Benar, jangan begitu. Biar aku saja.
Haruskah aku melihat darah malam ini?
Aku tak bisa merokok karena terlalu berisik.
Go Bok-dong, gadis-gadis ini...
Kau punya pemantik?
Pemantik? Tidak.
Jika tak punya, berlarilah mencarinya.
Baik.
Maaf! Tasku.
Maaf.
Cepat!
Aku terus bertemu denganmu.
Jangan terlalu sering bertemu.
Ayo pergi.
Maaf, Ah-ran.
Itu gara-gara aku lagi.
Ayo lari.
Apa?
Hujan turun. Ayo lari.
Astaga.
Dia lucu sekali.
Dia komedian berkelas.
Latar belakang pendidikannya luar biasa.
Dia dari universitas bergengsi.
Benarkah? Sudah kuduga kelasnya berbeda.
Orang bodoh tak akan menganggapnya lucu.
Hujan turun.
Sayang, kurasa akan terus hujan.
- Sayang... - Sayang!
Aku tak harus bekerja besok jika hujan turun.
Bagus! Aku tak harus bekerja besok.
Jika kau tak harus bekerja besok, mau minum arak beras?
Ibu membaca pikiranku.
Aku memikirkan arak beras dan panekuk kimchi.
Pikiran kita sama.
Kang-ja, buatkan panekuk kimchi.
Pakai kimchi fermentasi.
- Beri banyak tuna. - Benar.
Ibu, aku harus ke tempat les Ah-ran.
Dia tak membawa payung.
Bagaimana dengan panekuk kimchi kami?
Ada kimchi di lemari es. Makanlah tahu dengan kimchi.
Itu juga kimchi fermentasi.
Setidaknya belikan kami arak beras.
Sayang, belikan Ibu. Aku akan kembali.
Astaga, lihat dia.
Astaga, dia membuatku kesal.
Semua perbuatannya membuatku kesal. Astaga.
Berhenti berolahraga dan belilah arak beras.
Kenapa bukan Ibu yang pergi?
Kau mau membuat panekuk kimchi?
Baik, biar kubelikan. Tolong minggir.
- Ayo! - Hei!
Kenapa kau?
- Berapa nilai ujianmu? - Jelek.
No comments yet. Be the first to leave one.