처음 200줄입니다.
TRUE TO LOVE
TRUE TO LOVE
KARAKTER, ACARA, LOKASI, DAN KEJADIAN DI DRAMA INI HANYA FIKSI.
Jangan terlalu terburu-buru.
EP 12 SEPERTI ADEGAN DALAM DRAMA
Apa kau mau ke bioskop denganku?
Ayo kita pergi.
Perhatian.
Ayo kita pulang lebih awal hari ini.
- Benarkah? - Itu bagus.
Kedengarannya bagus!
- Ya! - Bagus.
Baiklah.
Mari kita selesaikan lebih awal.
Lalu nanti malam,
ayo kita semua pergi ke bioskop bersama.
- Apa? - Kenapa?
Hari ini adalah "Hari Budaya".
Sebagai orang di industri budaya, kita perlu melakukan bagian kita.
U-ri.
Silakan diskusikan film apa yang akan kita tonton
dan pesan tiket.
Baik.
Bukankah itu bagus? Kita semua menonton film bersama.
Ya.
U-ri.
Aku mungkin akan pingsan dengan sakit perut parah nanti.
Tak perlu beli tiket untukku.
Aku akan membantu rekan kerjaku yang sakit perut parah.
Aku akan mengantar rekan kerjaku yang sakit perut parah
dan orang yang membantunya ke rumah sakit.
Baik.
Aku merasa kurang sehat.
Aku sudah ada janji.
Aku juga.
DAFTAR PESERTA MENOLAK - TAK ADA BALASAN
Ibu menemui para bibi?
Sekarang?
Aku punya rencana hari ini.
Ini tidak akan lama.
Datang dan sapa mereka sebentar saja.
Ibu banyak membanggakanmu.
Jika kau tidak datang, Ibu akan sangat malu.
Setidaknya jadilah anak baik untuk ini.
Baik.
Aku hanya akan mentraktir kalian lalu pergi.
- Itu saja, oke? - Tentu.
Sang-jin. Aku sudah memesan tiket film.
Omong-omong, kau mau ke mana?
Aku akan langsung ke sana nanti.
Aku punya urusan lain.
SMS aku informasi tiketnya.
Baik. Kau sungguh akan datang, 'kan?
Tentu saja. Aku pasti datang.
Lewat sini, Pak.
Dia mengelola klinik gigi anak.
Dia pernah menikah sebentar dan bercerai, sama sepertimu, jadi...
Ibu, ayolah...
Aku bilang aku tak mau menikah.
Siapa yang menyuruhmu menikah?
Duduk saja dan makan bersamanya, demi Ibu.
Setelah itu, Ibu tidak akan ikut campur lagi.
Halo.
Maaf aku sangat terlambat.
Aku terjebak kemacetan.
Tidak apa-apa. Aku juga baru sampai.
IBU
Silakan masuk ke Teater Tiga.
Sang-jin, bateraiku lemah.
Aku akan menunggu di depan teater.
Kebetulan sekali.
Aku tahu.
Kau datang sendirian?
Tidak, aku bersama teman.
Dia terus melihat kita.
Apa?
Bo-ra.
Mereka menonton film yang sama.
- Ini... - Halo. Aku ibu Su-hyeok.
Ini suamiku.
Senang bertemu denganmu.
Halo, Bu.
Halo, Pak.
Jadi, kalian sedang kencan?
Kau bersama wanita cantik ini?
Terima kasih banyak.
Tapi kau terlihat lebih cantik.
Astaga, pujianmu manis sekali.
Aku belum pernah melihatnya bersama wanita.
Itu sebabnya Ibu kira kau menyukai pria.
Sayang...
Bukannya aku akan keberatan sama sekali.
Kau tahu itu, 'kan?
Tidak peduli apa katamu, Ibu selalu ada untuk mendengarkanmu.
Ibu selalu menunggumu menelepon.
Jika kau sedang kesulitan dan membutuhkan hiburan,
datanglah ke Ibu kapan saja, mengerti?
Baiklah, Bu.
- Bapak. - Ya.
A-young, ayo berhenti mengganggu kencan mereka.
Ayo lanjutkan kencan kita sendiri.
Baiklah.
- Senang bertemu denganmu. - Aku juga.
Aku berharap kita bisa makan bersama hari ini.
Tapi aku tahu kalian pasti punya rencana.
- Ayo makan bersama saat kau bisa. - Tentu.
Kapan kau bisa?
- Kalau aku... - Kalian sebaiknya pergi.
Ayo pergi.
- Hati-hati. - Ayo pergi.
Kita pergi sekarang?
Baik.
Kau tidak mirip ayahmu.
Apa?
Ayahmu sangat penyayang.
Mereka pasangan yang manis.
Aku sebenarnya terkejut.
Aku tidak percaya suami istri
seperti dalam drama benar-benar ada di dunia nyata.
Sepasang suami istri yang masih bergandengan,
saling memanggil nama depan, dan menikmati kencan.
Omong-omong, kenapa kau memanggil ibumu "Ibu",
dan memanggil ayahmu "Bapak", bukan "Ayah"?
Pria biasanya memanggil ayah mereka "Ayah".
Apa kau diajarkan begitu?
Benar juga.
Aku memanggil ibuku "Ibu"
dan ayahku "Bapak".
Ibuku bercerai ketika aku masih kecil.
Dia menikah lagi
saat aku sekitar kelas lima SD.
Jadi, ayahku saat ini adalah ayah tiriku.
Maaf. Aku tidak tahu.
Tidak perlu minta maaf.
Tentu saja kau tidak tahu.
Setelah dipikirkan, aku belum pernah membicarakan ini
kepada siapa pun selain Sang-jin.
Ayahku jatuh cinta dengan ibuku pada pandangan pertama.
Dia ingin segera menikahi ibuku.
Tapi dia tak tahu
ibuku enam tahun lebih tua darinya dan punya seorang putra.
Sampai mereka menikah,
orang tua mereka menentang sangat keras
hingga itu cukup dramatis.
Itu sungguh seperti cerita dalam drama.
Kisah cinta pria lebih muda yang tak kenal takut dan romantis.
Seorang anak yang menyaksikan perceraian orang tuanya
belajar sesuatu lebih dahulu sebelum tahu soal cinta.
"Orang yang jatuh cinta bisa tak saling mencintai lagi.
Cinta bisa berubah."
Itulah alasan aku merasa tak nyaman menunjukkan emosiku
dan jelas memiliki masalah dalam hubungan asmaraku,
itu menurut analisis ibuku.
Saat kecil,
aku hampir tak pernah menangis atau tersenyum. Aku selalu membaca buku.
Ibuku sangat ingin memahami isi pikiranku.
Jadi, dia mulai belajar psikologi anak di kemudian hari.
Dia mendapat gelar doktor dalam psikologi anak.
Jadi, apa dia bilang dia bisa memahamimu sekarang?
Tidak.
Dia bilang dia bisa memahami anak lain, tapi masih sulit memahamiku.
Selalu seperti itu.
Aku juga. Asmara orang lain itu mudah,
tapi hubungan asmaraku sulit.
Pikiran orang yang kita sayangi selalu rumit.
Saat masih kecil,
ketika melihat orang tua kita bertengkar, tetapi tidak bercerai,
kau tahu apa yang dipelajari?
"Menunjukkan emosi terdalam di antara seorang pria
dan seorang wanita bukanlah hal indah.
Itu sangat tidak berarti dan menyedihkan."
Itu sebabnya sangat sulit bagiku untuk jujur dalam hubungan asmara.
Itu berdasarkan analisisku.
Pokoknya, itu sebabnya aku menyukai drama.
Awalnya, aku menaikkan volume di TV
karena muak mendengar mereka bertengkar.
Melihat karakter saling menampar wajah, menyiram air ke wajah,
berteriak, atau saling menabrak dengan mobil, itu agak menghiburku.
Aku berpikir, "Beginilah orang lain hidup.
Jadi, keluargaku relatif normal."
Baru kemudian aku menyadari bahwa itu disebut "sinetron".
Sang-jin, bateraiku lemah.
Aku akan menunggu di depan teater.
U-RI
Telepon tidak aktif.
Anda akan terhubung ke pesan suara dan dikenai biaya setelah bunyi...
- Hei. - Filmnya sudah selesai? Kau menikmatinya?
Apa? Ya.
Aku lelah. Aku akan pulang lebih awal.
Beri mereka makanan enak, traktiranku, dan sampaikan salamku.
Tidak, aku tidak bersama mereka.
Aku terlambat memeriksa pesan U-ri.
Yang lainnya menjawab mereka tidak bisa datang.
Apa?
Kau di mana sekarang?
Aku?
Aku...
Baiklah, tak apa-apa. Sampai jumpa.
U-ri.
Sang-jin.
No comments yet. Be the first to leave one.