처음 200줄입니다.
SAPI
Tangkap dia. Jangan sampai lolos.
Apa yang kalian lakukan? Pergi dari sini!
Kenapa kalian mengganggunya?/ Kami tidak mengganggunya.
Tidak? Aku lihat kalian memasukkan dia ke kolam.
Siapa yang harus di salahkan kalau dia sakit?
Ini semua salah Saffar?
Dia yang mengajak anak-anak kecil untuk mengganggunya.
Salahku? Kalau begitu mari kita lanjutkan lagi.
Hai, Ketua/ Hai.
Ini sebuah keajaiban.
Putra Safir mengalami perubahan...
...setelah dia pulang dari kota.
Apa yang dia pelajari di sana?
Kau mau minum susu? Hassan sedang menggembala sapi.
Satu-satunya sapi di desa ini.
Salam, Hassan.
Mari duduk dan minum teh dengan kami. Kau pasti lelah.
Jaga jarak. Jangan mendekat!
Jangan berdiri di sini! Pergi sana!
Ayo pergi!
Kau disini?/ Terima kasih, Ketua.
Darimana saja kau?
Orang-orang menunggu susu.
Aku membawanya ke padang rumput.
Jangan beri makan sembarangan/ Pergi, Nak!
Ada apa Hassan? Kau sensitif sekali hari ini.
Aku melihat Bolouris.
Apa?
Bolouris? Dimana?
Menjauh darinya!/ Aku sudah bilang untuk menjauh.
Mereka berada di atas bukit.
Berapa banyak?
Tiga orang. Seperti biasa.
Ketua, aku sudah katakan kita harus melakukan sesuatu.
Tapi tak seorangpun mendengarkan!
Sekarang bagaimana?
Kita tak bisa berbuat banyak.
Bolouris tidak percaya pada apa pun.
Kita pasrahkan saja pada Tuhan.
Mereka akan semakin kejam kalau kita melakukan sesuatu.
Mereka mengambil 3 dombaku.
Mereka menghancurkan hidupku, dan tak ada seorangpun yang peduli.
Sapi Hassan mungkin berikutnya.
Apa?
Sapiku?
Jangan sampai!
Aku ingin kalian semua tahu.
Mendengar nama mereka saja sudah membuatku muak.
Aku harus balas dendam pada mereka.
Caranya?
Sedang ku pikirkan.
Sedang ku pikirkan?
Apa gunanya balas dendam kalau kau takut pada mereka?
Anak kurang ajar.
Hassan, jangan keluarkan sapimu.
Kau tak perlu menggembala sepanjang hari.
Dia benar, Hassan. Lagipula sapimu sedang hamil.
Lebih baik dia tetap di kandang.
Kenapa buru-buru?
Aku mau ke kandang.
Lalu tidur lebih awal.
Karena besok aku harus berangkat pagi-pagi.
Sampai jumpa/ Sampai jumpa.
Bu! Bawakan aku lampu.
Pastikan tidak ada sesuatu yang bisa membuatnya takut.
Sini.
Malam ini aku akan tidur di kandang.
Kenapa? Ada masalah?
Bolouris sedang berkeliaran.
Apa ini milik Bolouris?/ Iya.
Kau mencurinya?/ Iya.
Ya Tuhan!
Mengapa ini terjadi padaku? Tuhan!
Ada apa?
Menyingkir! Menyingkir!
Pergi dari sini!
Bernafaslah. Bernafaslah!
Bernafaslah!
Beri dia air.
Goyangkan tangannya.
Minum! Minum! Atas nama Tuhan.
Eslam! Eslam!
Apa yang terjadi?/ Urus dirimu sendiri!
Mengapa ini terjadi padaku?
Ini mengerikan.
Ada apa?
Katakan apa yang terjadi?
Sapi Hassan mati.
Aku sedang mengambil air.
Lalu sapi itu berbaring di tanah...
...dengan mulut penuh darah.
Tapi mengapa?
Dia tidak sakit, kan?
Tidak.
Dia baik-baik saja pagi ini.
Dia makan tanpa henti.
Ini pasti ulah Mata Iblis.
Mata Iblis? Dia bilang mulutnya yang berdarah.
Itu dia!
Semoga Tuhan melindungi kita semua dari Mata Iblis.
Eslam! Eslam!
Apa yang terjadi?
Jangan ikut campur.
Aku harus bagaimana?
Tolong beritahu aku.
Kita tak bisa berbuat apa-apa.
Dia sudah mati dan takkan bisa kembali lagi.
Kita harus bagaimana, Islam?
Hassan yang malang.
Kasihan dia.
Mungkin karena ular.
Percaya atau tidak...
...Bolouris yang membunuhnya.
Bagaimana mungkin?
Jelas sekali. Mereka yang melakukannya.
Setiap ada yang mati kau selalu menyalahkan mereka.
Iya.
Orang kafir itu selalu mencuri milik kita.
Lalu membunuh sisanya.
Jangan berdebat.
Mari kita cari solusinya.
Kau sudah lihat, Ketua!
Aku bingung sekali.
Bagaimana reaksi Hassan kalau dia sampai mengetahui kejadian ini?
Dia benar. Dia benar.
Aku mengerti perasaannya.
Apa yang harus kita lakukan, Ketua?
Aku belum tahu.
Dengarkan!
Saat Hassan kembali.
Jangan ada yang memberitahu kalau sapinya mati.
Tunggu dulu.
Dia pasti akan mencaritahu kalau sapinya tidak ada.
Benarkan, Ketua?
Dia benar, Eslam.
Jika sapi itu tidak ada di kandang, dia pasti bertanya.
Dengar! Jangan pernah menyinggung apapun soal sapi itu.
Biarkan istrinya yang memberitahu...
Kalau sapinya sudah mati.
Tunggu dia selesai bicara!
Baiklah, Ketua!
Katakan saja kalau sapinya kabur.
Hassan takkan percaya.
Dia tahu bahwa sapi itu tidak pernah kabur.
Dia benar, Eslam.
Sapi itu sedang hamil.
Dia pasti sedih kalau tahu sapinya sudah mati.
Istrinya memberitahu Hassan kalau sapi itu kabur...
...dan Esmayil sedang mengejarnya.
Tapi Eslam, aku di sini. Aku belum pergi ke mana pun.
Kau tinggal bersembunyi saja.
Akhirnya ada solusi.
Aku mau tanya.
Kita apakan sapi itu sekarang?
Kita harus sembunyikan di suatu tempat.
Hassan tidak akan menemukannya.
Bagaimana kalau kita potong dulu?
Aku tidak setuju.
Pertama, memotong hewan yang sudah mati adalah perbuatan dosa.
Kedua, bagaimana jika nanti Hassan mencaritahu?
Kita buang saja di lembah?
Tidak. Orang akan melihat.
Cepat atau lambat Hassan pasti mengetahuinya.
Lalu bagaimana?
Aku juga bingung.
Bantu kami, Tuhan.
Semoga Tuhan memberikan jalan keluar.
Putar dia.
Semoga Tuhan membantu kita. Tuhan tolong kami.
Jangan sampai Hassan tahu masalah ini.
Semoga rahasia ini terjaga.
Jika rahasia ini bocor. Dialah pelakunya.
Hei!
Aku bicara padamu. Dengarkan baik-baik.
Jangan beritahu Hassan masalah ini.
Kemarilah!
Cepat!
Jangan beri tahu Hassan...
...kalau sapinya sudah mati, mengerti?
Iya.
Dia bisa menjaga rahasia. Dia tidak sebodoh itu.
Tunggu sebentar!
Kau akan memberitahu Hassan kalau sapinya sudah mati, bukan?
Iya.
Aku punya ide.
Bagaimana kalau kita ikat dia didalam gudang?
Ya benar.
Esmayil?/ Iya?
Sebaiknya kau sembunyi sebelum Hassan melihatmu.
Baiklah. Aku diam dirumah saja.
Jangan. Lebih baik kau tinggal di rumah orang lain.
Dia benar.
Pergilah ke rumah Abbas!
Tuhan Maha Penyelamat.
Selamatkan kami dari masalah ini.
Duduk.
Kemari.
Ayo pergi.
Hassani? Hassani?
No comments yet. Be the first to leave one.