처음 200줄입니다.
Keseharian berbasis hubungan mendua kami dimulai.
Di hari pertama,
Saki mikir yang aneh-aneh terhadapku,
aku melihat sesuatu yang seharusnya tak kulihat,
dan aku mengurung diri di toilet.
Namun, aku sangat senang karena bisa tinggal bersama Naoya.
Agar hubungan ini bisa berlanjut,
kami harus merahasiakan hubungan kami di sekolah.
Aku harus berpura-pura tak mengenal Naoya dan Saki.
Seharusnya begitu,
tapi, aku membuat bekal untuk tiga orang.
Padahal kami tak boleh memakannya bersama.
Hanya karena tak ingin rahasia mendua ini terbongkar,
berpura-pura tak mengenal Nagisa di sekolah
itu tidak baik, ya?
Ya.
Tempat ini cukup ramai.
Mari kita makan diam-diam di sini.
Ya, kita harus tenang agar tak mencolok.
Kalian sampai melakukan ini untukku ....
Tak usah dipikirkan.
Namun, saat Naoya mau memacariku meski harus mendua,
itu sudah membuatku cukup bahagia.
Jika aku mengharapkan kedekatan kita di sekolah,
bukankah aku terlalu egois?
Be-Benarkah?
Kamu dengar sesuatu?
Gawat.
Selain itu, bekal ini ....
Kamu membuatnya agar kita bisa makan bersama di sekolah, kan?
I-Itu ....
Mi-Minase.
Kamu terlalu merendah!
Suaramu terlalu keras!
Jadi, aku benar, kan?
Jika kita bisa makan bersama di sekolah ....
- Enak. - Ya.
Baguslah.
Itu bisa membuatku sangat bahagia.
Mari kita makan bersama!
Apa ada orang di sana?
Tak ada orang yang boleh ke situ, loh.
Gawat! Ayo kita pergi!
Jangan sembarangan
Tolong didengarkan
Ada sedikit persinggungan
Sebaiknya hal ini segera dibicarakan
Dibicarakan
Sebuah kewajaran
Dan hal-hal di luar kewajaran
Coba disandingkan
Manakah yang lebih memberatkan?
Ini membingungkan, ini membutakan
Sebutkanlah kata-kata yang indah di masa depan
Pokoknya yang mendebarkan
Kata-kata bocah tak karuan
Bagai lantunan tarian keegoisan
La, la, la, la
Ah, la, la, la
Hanya hal buruk yang kuperhatikan
Perasaanku berakhir dalam ketidakpedulian
Jangan sembarangan
Tolong didengarkan
Siapa yang harus dipukul sebagai pelampiasan?
Ini karena impian yang belum berjalan
Jangan sembarangan
Ayo kita cari tempat untuk makan bersama.
Tapi, aku hanya membuat bekalnya tanpa berpikir panjang ....
Tak usah dipikirkan!
Benar! Biarkan kami melakukan ini!
Naoya ... Saki ....
Apa tak ada ... tempat yang aman?
Maaf.
Kalau kalian mencari tempat sepi di sekolah,
aku tahu tempatnya.
Benarkah?
Saat SMP, aku sering menyendiri di tempat itu.
Informasi sedih macam apa itu?
Po-Pokoknya, mari kita ke tempat itu dulu.
Ya.
Bagaimana dengan tempat ini?
Ini toilet!
Baunya busuk!
Sedikit.
Ini bukan sedikit lagi, kan?
Mana mungkin kita bisa makan di tempat seperti ini?
Ta-Tapi ....
Toilet belakang gedung sekolah itu jarang dibersihkan,
dan tak ada orang yang ke sini saat istirahat siang.
Tempatnya jorok!
Apa tak ada tempat lain?
Ka-Kalau begitu ....
Di belakang toilet.
Masih bau busuk!
Toilet pria dan wanita itu busuknya tiada tanding!
Kupikir tempat ini tak sejorok tadi.
Tidak!
Ada serangga menjijikkan!
A-Apa ada tempat lain yang tak berbau busuk?
A-Aku tahu.
Bagaimana kalau di sini?
Ini masih toilet!
Toilet di gedung ekskul itu cukup bersih,
jadi, baunya tak terlalu tercium.
Tapi, ini masih toilet!
Lagian, Naoya.
Kenapa kamu ikut masuk ke toilet wanita?
U-Untuk makan bekal bersama kalian.
Astaga, cepat keluar!
Ah, berhati-hatilah saat keluar dari sini.
Ya ampun.
Apa yang mereka lakukan di toilet?
Apa, ya?
Bu-Bukan begitu!
Saki.
Tolong cari tempat lain selain toilet.
Kalau seperti itu,
kurasa tak ada tempat aman lagi ....
Masih ada banyak tempat yang lebih baik, kan?
Benar juga.
Bagaimana kalau gudang olahraga?
Itu bagus.
Jika dibandingkan dengan toilet, tempat itu lebih sering dikunjungi ....
Tidak apa-apa.
Tempat itu sepi saat istirahat siang.
Tapi, toilet bisa menghapus kemungkinan dibuka dari luar.
Bisa berhenti pakai toilet buat perbandingan?
Ah, maaf.
Ta-Tapi ....
Rahasia kita sampai terancam karena keegoisanku ....
Nagisa.
Itu masih belum cukup untuk disebut egois.
Tapi, kamu boleh egois.
Apa pun yang terjadi, kita harus berpikir
untuk menemukan solusinya.
Kalau dijalani, mungkin ini akan mudah.
Kalau sulit, nanti pasti ada jalannya.
Be-Beneran di gudang olahraga?
Ya.
Ah, tapi, kuncinya ....
Tak ada cara lain!
Jendela sebelah sini terbuka, loh.
Gunakan aku sebagai pijakan dan masuklah.
Ba-Baik.
Bagaimana?
Mataku!
Jangan melihat celana dalamnya!
Bagus, kita berhasil.
Kemudian ....
Begini!
Ini bisa menutupi kita kalau ada orang yang masuk.
Ah, kurang lima sentimeter ke kanan.
Saki?
Ya, sudah bagus.
Naoya.
Minase.
Hubungan mendua ini,
terjadi karena keegoisanku.
Pasti ada banyak masalahnya,
tapi, aku ingin berusaha keras,
dan aku tak menyesal dengan ini.
Setidaknya, aku senang karena bisa bersamamu.
Naoya ....
Artinya, sejak hubungan ini dimulai,
orang yang paling egois dan merepotkan,
adalah aku.
Itu benar sekali.
Keegoisan yang dimaksud Nagisa itu masih terbilang kecil.
Benar juga, sih.
Maaf.
Tapi ....
Terima kasih.
Aku ...
... ingin makan bekal bersama kalian.
Baiklah, mari kita makan.
Ya.
Selamat menikmati.
Ah, telur gulungnya kuambil.
Ah, Saki?
Enak.
Bekal buatan Nagisa memang sangat enak.
Aku senang mendengarnya.
Ya, rasanya enak, Minase.
Namun, situasi ini sangat aneh, ya.
Tapi, ini menyenangkan.
Yah, ada senangnya juga, sih.
Saki ....
Ya.
Mari pertahankan hubungan baik ini.
Tapi, tempat ini sangat berdebu, ya.
Lain kali, mari kita bersihkan.
Ah, mau bawa camilan juga?
Aku akan berusaha keras untuk membuat bekalnya.
Bahagia.
Omurice.
Oh.
Roti isi daging.
Astaga.
Nasi kepal udang tepung.
Bekal buatan Nagisa memang selalu terperinci, ya.
No comments yet. Be the first to leave one.