처음 200줄입니다.
Akhirnya di rumah.
Butuh berapa lama perjalanan naik van?
Tidak lama.
Kehidupan semua orang di dunia lewat di depan mataku.
Itu waktu yang kumiliki.
Kukira kita akan mati di van itu.
Besar kemungkinannya.
Perjalanan van itu terasa lebih lama daripada berkereta dari Paris ke Praha,
padahal ada sekelompok pria Prancis menyanyikan "Sk8er Boi"
dan bau lapangan sepak bola di sekeliling kita.
Ya ampun. Kalian sudah pulang.
Morey, mereka sudah pulang.
Kalian terluka? Berdarah?
- Kami baik-baik saja. - Mereka baik-baik saja.
- Morey. - Ya?
- Mereka baik-baik saja. - Baik.
Apa yang terjadi pada kalian?
Menurut rencana perjalanan Rory,
mestinya kalian pulang hari Sabtu.
Rencana perjalanan Rory?
Jadi, waktu kalian tak muncul, kami panik.
- Morey. - Ya?
- Bukankah kita panik? - Ya.
Morey, pernahkah kau terpikir untuk keluar di waktu begini?
Di Minggu malam, aku sudah sangat labil.
Kukira kalian diculik Sandinista gila.
Karena Sandinista populer di Prancis.
Terakhir, aku mulai menghubungi konsulat-konsulat.
- Konsulat-konsulat? - Berapa?
Asaga, semuanya.
Pokoknya, kalian di sini.
Mari masuk. Aku mau dengar tentang Eropa.
- Morey, aku akan masuk. - Baik.
Kau beri dia rencana perjalanan kita?
Kupikir ada baiknya seseorang tahu keberadaan kita.
Kau beri dia rencana perjalanan, dan dia menelepon semua konsulat.
Jika kita tertangkap menyelundupkan ganja dan dipenjara di Turki,
apa Ibu tak mau seseorang tahu kita di Turki?
- Dari mana ganja ini? - Ibu di kafe, bertemu pria,
dia merayu dan memasukkannya saat Ibu tak melihat.
- Setidaknya katakan dia tampan. - Lumayan untuk pengedar ganja.
Aku membuat cokelat panas.
Astaga, dia membuat cokelat panas karena kau beri rencana perjalanan.
Mungkin aku yang memberinya itu, namun Ibulah
penyebab kita ditangkap karena penyelundupan narkotika.
Tiada tempat bagi kenyataan di dunia kita.
Baiklah. Aku ingin dengar semua tentang Eropa.
Ayo, ceritakan.
- Apa yang kalian lihat? - Semuanya.
Notre Dame, Pemandian Romawi,
- Basilika Santo Petrus. - Ibu menyentuh Sri Paus.
- Kau bercanda. - Aku menyentuh mobilnya.
Salah satu penjaga berpakaian lucu itu menangkap basah aku.
Untung Ibu jago main mata.
Main mata dengan pria bertopi pom-pom dan pakai rok adalah pencapaian.
Kedengarannya perjalanan kalian seru.
Memang.
- Kau tak apa? - Ya.
Aku hanya agak mengantuk.
Tentu saja. Pasti kalian kelelahan.
Aku akan pergi.
- Terima kasih, Babette. - Selamat malam. Tidur nyenyak.
Kita bicara besok.
Morey, aku akan pulang!
- Aku akan merapikan barang. - Besok.
Tidak, jika kubiarkan bermalam, semua akan menjijikkan.
Semua sudah menjijikkan.
Ya Tuhan.
- Ranjangmu nyaman. - Jangan terlalu nyaman.
- Aku akan tidur di atas Ibu jika perlu. - Astaga.
- Cium ini. - Apa?
Aku lupa bantal tak perlu berbau kaki.
Harus kuakui, bagus juga aku menginap di hostel di usia 30-an,
- dan ini alasannya. - Aku merindukan kalian.
Jika kulakukan di usia 20-an atau remaja,
aku akan cukup naif untuk berpikir bahwa hostel itu eksotis dan romantis.
Namun di usia 30-an, kau cukup umur untuk tahu hostel jorok
- dan harus dihindari. - Aku memimpikan kalian di Copenhagen.
- Kau di sana, dan kau dan kau. - Dengar.
Karena sudah tidur di pesawat, kita harus tidur dan bangun pagi.
Jangan sampai pekan ini kacau karena penat terbang.
Kita harus menetapkan pola tidur normal.
Baiklah.
Aku akan mandi dan membiarkanmu mencium laci kaus kakimu.
Tutup pintunya.
Halo, Cowok.
Gilmore, Lorelai. Ya.
Nama putriku juga Lorelai.
Sangat membingungkan, atau dalam kasusmu, sangat memudahkan.
Tidak, kami tak pernah hilang. Itu kesalahan besar.
- Bicara dengan siapa? - Belgia.
Ya, Babette Dell.
Dia keliru dengan tanggal ketibaan kami
dan dia cemas, tapi kami baik.
Kami di sini. Kami suka kentang goreng kalian.
Baik, tentu. Dadah.
Baiklah, Belgia selesai, Lisbon meneleponku.
Berlin tak mengerti maksudku, dan Paris kesal.
- Pada siapa? - Entah.
Aku akan istirahat, lalu bicara dengan Belanda.
- Aku tak percaya Babette melakukan ini. - Dia cuma sayang kita.
Jangan terlalu baik, ya? Karena aku harus membayar mahal.
Cobalah menjadi seperti anak-anak yang orang akan bilang, "Masa? Diculik?
- Mengurangi masalah." - Bagus sekali.
Hei, untuk siapa rosario ini?
- Milikku. - Kenapa Ibu butuh rosario?
- Ini bagus. - Itu untuk berdoa.
Berdoalah semoga cocok dengan setelan biruku.
Mereka baru saja memberi Ibu suit junior dengan ranjang besar dan jakuzi di neraka.
- Alas piring Pietà ? - Gipsi.
- Bagaimana perasaanmu? - Tidak buruk. Hanya agak bingung.
- Butuh bantuan obat flu? - Kita beruntung tak penat terbang.
Semoga saja, karena pekan yang sibuk menanti kita.
- Benarkah? - Ya, bahkan,
aku memegang jadwal semua kegiatan
yang akan kita lakukan di pekan ini.
Pekan terakhir kehidupan Rory Gilmore
sebelum dia memasuki aula suci Yale University yang penuh ivy .
- Tolong jadwalnya. - Baik.
Hari ini, bagi oleh-oleh, lalu ke mal.
- Baik. - Besok, kita bangun pagi
dan menonton tiga film jelek yang sedang tayang.
Lalu makan malam di rumah Nenek.
Yang tak kutuliskan
dengan harapan ia akan menghilang.
Baik, esoknya, kita ke New York,
melihat galeri-galeri keren, ke Strand.
- Ya. - Piza di John's.
Minggu, beli semua kebutuhan kuliah, barbeku di rumah Sookie.
Senin perawatan kuku, wajah, rambut, ke cenayang, dan bersiap untuk Selasa.
Hari yang ditunggu.
Godfather I, II, dan III,
dengan ekstra adegan kematian Sofia selama keluarga Mallomar tahan.
- Hari sempurna. - Setuju.
Kurasa kita punya cukup biscotti yang dibawa dari Milan
- untuk sepekan ini. - Bagus. Semua beres.
Jadi, mari kita mulai. Keluarkan barang-barang ini.
Baik.
Kita banyak oleh-oleh.
- Kita suka orang sebanyak ini? - Tidak.
Mungkin hati kita lembut setelah tua.
Baiklah, sebaiknya kita bawa tas jinjing.
- Tas jinjing apa? - Pasti ada.
- Di mana tas jinjingnya? - Maaf.
Tiap wanita yang pernah belanja produk Clinique 75 dolar
- punya tas jinjing. - Kita tak punya.
Bagaimana kita membawa ini?
Kini kita wanita aneh beransel.
Salah satu julukan lebih baik yang disematkan ke kita.
Mari kita bersikap efisien.
Mulai dengan Patty, jalan searah jarum jam, terakhir Andrew.
Terus pakai anekdot "Ibuku menyentuh Sri Paus".
Itu cepat, segar, dan semua orang suka.
Sempat mampir di Luke's? Aku kelaparan.
Tentu saja.
Ini pekan kita. Pekan ini, kita berbuat sesuka hati.
Aku suka pekan ini.
Aku penasaran apa Luke dan Nicole benar-benar berpesiar.
- Kukira dia mau pergi. - Aku tahu, tapi apa jadi?
- Kenapa tidak? - Entahlah.
Karena dia harus berkemas dan pergi, juga beli baju renang.
Kuharap dia pergi. Dia butuh liburan.
Tampaknya dia amat menyukai Nicole.
Ya, benar.
- Kelihatannya Soda Shoppe sudah buka. - Keren.
- Aku akan membunuhmu. - Tak mungkin.
Aku akan membunuhmu. Mestinya sejak dahulu.
Mestinya aku membunuhmu saat kau membuat tanaman unicorn di taman.
- Tapi itu sudah berlalu, 'kan? - Aku merindukan itu.
Apa pendapatmu, momen biscotti?
Tentu saja.
- Tak perlu berteriak, Luke. - Kau pasang jendela raksasa di tembokku.
- Lalu? - Jendela raksasa, di sini.
Kau bisa melihat kedaiku,
dan saat aku di kedaiku, aku bisa melihat toko bodohmu.
Aku tak mengerti kenapa tempatmu kedai, dan tempatku toko bodoh.
Lihat tempat ini. Lihat dirimu.
Kau cuma butuh enam penguin menari dan Mary Poppins di pojok
untuk menghidupkan saat-saat terburuk masa kecilku.
Kurasa kau tak punya masa kecil. Kau muncul dari kepahitan, Pengganggu.
Kau tak bisa mengubah struktur ini tanpa persetujuanku.
- Apa? - Tanganmu di dekat Wax Lips.
- Lalu? - Tolong dipindahkan
agar tak sengaja menyentuh permen itu.
Lucas.
Sedang apa kau?
Hentikan sekarang juga.
Lihat semua permen cantik ini.
- Hentikan sekarang juga. - Astaga.
- Apa? Ada apa? - Luke.
- Ya, akhirnya dia marah. - Kita lupa Luke.
Lupa Luke apa?
Kita lupa membawakannya oleh-oleh. Tidak.
- Kita terus menunda. - Tak ada yang cukup bagus.
Mestinya kita belikan baju matador.
Jadi, bagaimana?
Kita harus beli sesuatu di sini,
dan beri tahu dia itu dari Denmark.
- Beli apa? - Sesuatu.
Apa? Ini Stars Hollow.
No comments yet. Be the first to leave one.