The Hunt

The Hunt

Indonesian 자막 다운로드

시즌 1

릴리스 정보

The Hunt S01E01 (The Hardest Challenge) BluRay ID
다음의 해설 cortex

태그

BluRay
게시일: 2018-01-12
다운로드: 61
청각 장애인용: No

Indonesian 자막 미리보기

처음 200줄입니다.

Duel antara pemburu dan buruan

adalah peristiwa yang dramatis di alam.

Taruhannya tak bisa lebih tinggi lagi.

Bagi kedua pihak, ini masalah hidup dan mati.

Tapi yang mengejutkan, pemburu yang biasanya gagal.

Untuk memiliki peluang bertahan hidup,

predator harus benar-benar selaras dengan arena perburuannya sendiri.

Setiap habitat membawa tantangan yang berbeda.

Serial ini akan menyingkap hal yang tak terungkap sebelumnya,

berbagai strategi luar biasa predator dalam menangkap mangsa.

Tapi bagi yang paling mahir sekalipun,

sukses tak pernah menjadi jaminan.

Seekor macan tutul betina berkeliaran mencari mangsa.

Sedikit predator yang menanamkan rasa takut.

Tapi di tempat terbuka,

peluangnya sedikit untuk mendapat tangkapan.

Untuk berhasil, ia harus berjarak beberapa meter dari mangsa, tanpa terdeteksi.

Strateginya dengan memanfaatkan selubung,

mengenakannya seolah jubah kasat mata.

Ia ahli dalam mengendap.

Impala adalah mangsa kesukaannya.

Yang satu ini di luar jangkauannya.

Ia harus lebih mendekat, dalam jarak empat meter.

Ia hanya punya satu kali terjangan yang cepat.

Ia harus tetap tersembunyi sampai berada dalam zona serangan.

Tapi tak melihat bukan berarti hilang kesadaran.

Impala punya pendengaran dan penciuman yang sangat tajam.

Kini, satu-satunya mangsa yang bisa ia lihat berada di area terbuka.

Tapi macan tutul adalah hewan paling serbaguna dari semua kucing besar,

mahir menemukan selubung di tempat yang paling sukar.

Dinding terjal kanal itu kini membuatnya tersembunyi untuk sebuah sergapan.

Impala jantan itu cukup dekat, tapi terlalu besar untuk ditangkap.

Ia harus melewatinya tanpa terlihat.

Jika jantan itu melihatnya, persembunyiannya akan terbongkar.

Perlahan-lahan.

Untuk sukses di sini, ia harus temukan mangsa yang merumput dekat tepian.

Atau lebih baik, berada dalam kanal itu sendiri.

Frustasi.

Keberhasilan akan mengatasi rasa lapar selama seminggu.

Tapi selama ada mangsa di sini, masih ada harapan.

Mengintip ke atas adalah sebuah resiko,

tapi itu cara tercepat menemukan target baru.

Terjangan berkecepatan 40 mil per jam, dan semua berakhir kurang dari enam detik.

Kecuali gagal.

Dengan terhuyung-huyung, impala itu lolos secara ajaib.

Ini sergapan berburu yang sempurna, tapi tak ada yang bisa ia pamerkan.

Tapi kemudian, enam dari tujuh macan tutul gagal dalam berburu.

Strategi berburu macan tutul bergantung pada tempat persembunyian.

Tapi bagaimana kau menangkap mangsa

di tempat yang yang tak ada celah untuk bersembunyi?

Itulah tantangan yang dihadapi anjing liar Zambia.

Kawanan yang sangat dekat ini terdiri dari satu ekor betina dewasa

dan 12 anaknya yang lahir tahun lalu.

Tak seperti macan tutul yang penyendiri,

kelangsungan anjing liar ini bergantung pada kerja tim.

Anjing-anjing yang bermain dan bekerja bersama.

Tiap pagi, kawanan ini menuju dataran terbuka, mencari mangsa.

Sang Induk memutuskan ke arah mana mereka pergi.

Selanjutnya tetap saling berdekatan.

Mereka akan terus pergi sejauh bermil-mil hingga menemukan mangsa yang tepat.

Zebra dewasa, tantangan yang terlalu besar.

Begitu juga dengan tsessebe.

Seekor obiri adalah target yang lebih mudah.

Tapi, layakkah diupayakan,

terutama pada oribi yang bugar dan lincah seperti satu ini?

Lebih baik menghemat tenaga mereka untuk sesuatu yang lebih besar...

Seekor wildebeest.

Inilah yang mereka cari.

Para anjing harus membuat wildebeest berlari.

Sukses mereka raih dengan membuatnya tumbang dalam pengejaran panjang.

Selagi mangsa berlari, para anjing memiliki keuntungan.

Tapi saat wildebeest menghadang mereka, situasi jadi terbalik.

Menghadapi barisan tanduk itu, kawanan ini tak berdaya.

Tapi tak semua wildebeest punya keberanian untuk berhenti.

Kini, pertandingan yang sesungguhnya dimulai.

Wildebeest adalah hewan besar dan kuat.

Tapi para anjing punya stamina.

Saat ini, pemburu dan buruan mencetak waktu 40 mil per jam.

Kawanan anjing mampu pertahankan kecepatan ini sejauh bermil-mil.

Wildebeest tak mampu.

Seekor wildebeest terpisah, kemudian dua lainnya.

Perpecahan itu membingungkan kawanan yang tak berpengalaman,

membawa mereka ke arah yang berbeda-beda.

Si induk dan satu anaknya terus maju.

Kawanan lainnya berhenti, yakin mendapat target yang lebih mudah.

Ini sebuah kesalahan.

Bagai monster berkepala dua, masing-masing saling melindungi.

Dan para anjing tak bisa berbuat apa-apa.

Di depan, pengejaran masih berlanjut.

Wildebeest lain terpisah.

Kini si induk memiliki satu sasaran.

Tapi itu akan sia-sia tanpa bantuan dari kawanan lainnya.

Situasi di sini menemui jalan buntu.

Anak-anak anjing kehilangan waktu yang berharga.

Mereka berusaha menyusul induk mereka.

Kembali di depan, si induk mulai kelelahan.

Dan wildebeest menyadarinya...

Melompat-lompat untuk menunjukkan ia masih kuat dan tak layak dikejar.

Tapi kaki-kaki muda yang masih segar menyusul cepat.

Saat satu anjing kelelahan,

selalu ada anggota tim lainnya yang mengambil alih ke depan.

Para anjing kini berjumlah lengkap untuk merobohkan wildebeest.

Tiap gigitan beresiko mematahkan rahang,

tapi menyasar ke kaki adalah satu-satunya cara menghentikannya.

Dan mereka harus lakukan itu sebelum ia mencapai tempat aman dalam kawanannya

beberapa ratus meter di depan.

Setelah 20 menit pengejaran, tenaga wildebeest nyaris terkuras.

Kali ini tak ada tempat berlindung dalam kawanannya.

Stamina anjing membuahkan hasil.

Yang mereka harus lakukan kini cukup menumbangkan buruan mereka.

Bekerja sebagai satu kawanan memungkinkan anjing liar

melumpuhkan mangsa yang sepuluh kali lebih berat.

Tapi banyak mulut butuh banyak makanan.

Harga yang mereka bayar untuk jumlah sebanyak ini

adalah menyadari bahwa mereka akan mencoba hal sama lagi besok,

dan setiap hari.

Kerja tim dan stamina di dataran terbuka Afrika

terbukti menjadi kombinasi yang unggul.

Tapi dalam dunia rimba yang lebat dan kompleks ini,

perburuan adalah permainan petak-umpet yang tiada akhir.

Di sini, ia dituntut untuk duduk diam

dan berbaur.

Karena kau tak pernah tahu siapa yang mengintai.

Bunglon Parson ahli dalam permainan "melihat-tanpa-terlihat."

Ia biarkan matanya melakukan semua pekerjaan.

Sedangkan bagian tubuh lainnya maju dalam gerak lambat

agar tak menakuti targetnya.

Masalahnya, ia hanya bisa melihat mangsa yang bergerak.

Jadi, apakah ini serangga dahan...

atau sebatang dahan?

Aha.

Saatnya mengerahkan senjata rahasia.

Lidah yang lebih panjang dari tubuhnya.

Sepupu dekat Parson, bunglon Nasutum,

memiliki senjata yang sama tapi dalam bentuk yang kecil.

Sekecil korek api, ia harus jauh lebih dekat pada mangsanya.

Tapi sekalipun matanya sebesar perutnya,

ini bukan makanan yang ia harapkan.

Di dalam hutan,

sulit menemukan mangsa berukuran tepat jika kau adalah predator kecil.

Peluang menjanjikan bisa sekejap berubah mengecewakan.

Melihat mangsa dalam dunia hijau yang lebat ini sangat sulit.

Jika menemukannya, ia ingin memastikan ia tak melarikan diri.

Belalang berdoa memiliki lengan yang bisa menyerang

sepuluh kali lebih cepat dari kejapan mata.

Dan ini satu-satunya serangga yang diketahui punya penglihatan 3D.

Sempurna untuk menilai jarak serangan.

Tapi, sama seperti bunglon,

ia kesulitan melihat mangsa yang terpaku diam.

Ia butuh sedikit gerakan untuk memastikan itu makanan.

Sedikit saja tanda kehidupan.

Yap, ia bergerak.

Serangan kilat memberinya keuntungan atas mangsa serangganya,

tapi tak memberinya ketenangan.

Dalam pertandingan senjata di hutan,

seringkali ada hewan lain yang bersenjata lebih kuat.

Dan ada satu predator yang mungkin

punya jawaban tercerdik dalam menghadapi tantangan di hutan.

Ia hidup di sepanjang sungai, dalam hutan hujan Madagascar.

Serangga buruannya terbang menyusuri koridor hutan yang sama.

Tapi ada satu masalah.

Ini laba-laba pembuat jaring.

Lalu bagaimana ia bisa berada di atas sungai untuk berburu?

Ia disebut sebagai laba-laba kulit-pohon Darwin,

dan laba-laba betinanya punya strategi hebat.

Bagai Spider-Woman dalam dunia nyata,

ia semburkan helai-helai sutra dalam aliran panjang yang berkelanjutan.

Kipas bulu keluar bagai selembar layar

dan melayang pada aliran angin yang berhembus di sepanjang sungai.

Setiap beberapa detik,

ia rapatkan helai-helai itu agar tak menyebar terlalu lebar.

Angin akan melakukan sisanya,

meniupi benang menjadi satu alur, dan jembatan sepanjang 25 meter.

Kini, ia harus memperkuat jembatannya, karena jaringnya akan menggantung di atasnya.

Tapi ada sesuatu yang memantul alur di ujung sana.

Laba-laba Darwin lain mencoba ambil keuntungan dari jerih payahnya.

Ia harus berurusan langsung dengan penyusup itu.

Alur terputus adalah ketidaknyamanan, tapi tak ada yang lebih dari itu.

Dengan kait di tiap-tiap kaki, ia kumpulkan benang itu.

Ini takkan terbuang sia-sia karena ia akan memakannya nanti.

Saat semuanya tergulung, ia semburkan lagi.

Alirkan lagi alur jembatan sepanjang 25 meter.

Bagaimana laba-laba, yang tak lebih besar dari kuku ibu jari ini,

bisa dengan sangat cepat menghasilkan begitu banyak sutra telah membingungkan para ilmuwan.

Dan ini bukan sutra biasa,

melainkan serat alami terkuat di bumi. Lebih kuat dari baja.

Dan memang harus kuat untuk menjangkau sungai yang lebar.

Dengan jembatan yang kencang dan berlabuh pada tempatnya,

saatnya membangun perangkap.

Laba-laba ini mampu membangun pusaran jaring terbesar di dunia, hingga mencapai luas dua meter.

Beberapa jam sejak semburan pertama alur jembatan,

pekerjaan usai.

Kini strateginya sederhana,

duduk dan menunggu.

Dan satu putaran lagi memproduksi sutra,

membungkus makanannya untuk nanti.

Tak semua sungai menyediakan mangsa yang berkelanjutan bagi predatornya.

Di Sungai Grumeti, Tanzania, hiduplah predator tersabar di dunia.

Seekor buaya nil.

Panjang lima meter, berbobot 700 kilo...

댓글

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left