처음 200줄입니다.
Kalau mau jujur, aku sama sekali tidak sudi kalian menginjakkan kaki di rumahku.
-= Episode 14 =- Kalau mau jujur, aku sama sekali tidak sudi kalian menginjakkan kaki di rumahku.
-= Episode 14 =- Cukup!
Mau apa kau sekarang?
Aku tidak akan menemuinya lagi.
Aku bilang aku tidak akan menemuinya lagi.
Kelak aku tidak akan bertemu dengannya lagi, jadi tolong hentikan.
Nuna.
Jangan bicara lagi.
Joon Hee...
Lain kali baru dibicarakan lagi.
Kita cukup sampai di sini saja.
Kita akhiri saja.
Nuna!
Jin Ah Nuna!
Ngapain kau?
Ada orang-tua di sini, kau mau ngapain?
Minggir!
- Mau apa kau ini? - Yoon Jin Ah!
- Yoon Jin Ah! - Kenapa aku ditarik?
Lepaskan!
Buka pintunya!
Kampret satu itu!
Nuna!
Lepaskan!
Buka pintunya!
Nuna.
Yoon Jin Ah!
Jangan nangis.
Aku tidak apa-apa, karena itu janganlah kau menangis.
Anu... maaf.
Tidak apa-apa.
Karena aku kebanyakan minum, jadi berbuat kesalahan.
- Tapi Abeonim sama sekali tidak-- - Itu...
Jin Ah Nuna...
Aku tahu, aku tahu. Jangan khawatir.
Aku permisi.
Lepaskan aku!
Kenapa sih kau ini?
Lepaskan!
S
Su
Sub
Subt
Subti
Subtit
Subtitl
Subtitle
Subtitle o
Subtitle ol
Subtitle ole
Subtitle oleh
Subtitle oleh:
Subtitle oleh: ~
Subtitle oleh: ~ D
Subtitle oleh: ~ Da
Subtitle oleh: ~ Dam
Subtitle oleh: ~ Damn
Subtitle oleh: ~ Damn!
Subtitle oleh: ~ Damn!S
Subtitle oleh: ~ Damn!Su
Subtitle oleh: ~ Damn!Sup
Subtitle oleh: ~ Damn!Supe
Subtitle oleh: ~ Damn!Super
Subtitle oleh: ~ Damn!SuperS
Subtitle oleh: ~ Damn!SuperSu
Subtitle oleh: ~ Damn!SuperSub
Subtitle oleh: ~ Damn!SuperSub I
Subtitle oleh: ~ Damn!SuperSub In
Subtitle oleh: ~ Damn!SuperSub Ind
Subtitle oleh: ~ Damn!SuperSub Indo
Subtitle oleh: ~ Damn!SuperSub Indon
Subtitle oleh: ~ Damn!SuperSub Indone
Subtitle oleh: ~ Damn!SuperSub Indones
Subtitle oleh: ~ Damn!SuperSub Indonesi
Subtitle oleh: ~ Damn!SuperSub Indonesia
Subtitle oleh: ~ Damn!SuperSub Indonesia ~
Subtitle oleh: ~ Damn!SuperSub Indonesia ~
Diterjemahkan oleh: ~ totoro ~
Seo Joon Hee!
Dengar musik sebentar bagaimana?
Mau ke atas minum secangkir teh?
Masuklah ke dalam.
Berkat kau aku bisa pulang dengan aman.
Sepertinya ke depannya aku tidak perlu mengkhawatirkan Joon Hee lagi.
Dia bertumbuh dewasa dengan baik.
Sungguh mirip dengan ibunya.
Dari semua kata-katamu yang pernah kudengar, inilah yang paling membuatku senang.
Jangan menjalani hidup sambil membawa kebencian terhadapku.
Sama halnya dengan menyia-nyiakan hidup kalian.
Jika kelak bertemu secara kebetulan,
bertemulah sambil tersenyum.
Hati-hati di jalan.
=Salah sambung ya?=
Memang benar mau telepon Abeonim.
=Aku sudah mempersiapkan diri menerima omelan.=
Harus siap bathin.
Nuna!
Halo?
Yoon Jin Ah?
=Lagi ngapain?=
Bisa ngapain?
=Kau pasti sangat marah.=
Yang marah bukan aku.
Aku tahu kau marah.
Aku juga tahu situasi yang terjadi membuat hatimu menderita.
Sepenuhnya bisa kupahami.
- Walaupun paham... - =Aku rindu padamu.=
Tunggu aku! Aku segera ke sana.
=Tolong bukakan pintu.=
Nuna...
Boleh aku masuk ke dalam?
Punya teh apa? Sekarang ini aku tidak begitu pingin minum kopi.
Buka saja lemarinya. Di dalam situ ada.
Maaf.
Karena ucapan ibuku, aku jadi emosi.
Aku juga ingin supaya situasi yang kacau itu bisa diselesaikan secepatnya.
Sudah kubilang aku paham itu.
Kau marah.
Serumit apapun itu,
kata pisah itu tidak seharusnya diucapkan.
Saat itu aku merasa sangat kacau.
Aku tahu.
Sudahlah.
Sepertinya belum.
Mau aku marah sungguhan?
Mau aku teriak aku marah sekali sambil menggebrak meja?
Makanya aku minta maaf.
Setelah melempar kata "putus" kau langsung pergi aku harus bagaimana?
Kau sendirian bagaimana?
Menangis lagi dengan sedih?
Tidak bisa dihubungi sama sekali.
Kau tahu seperti apa perasaanku barusan?
Tahu.
Tahu betul.
Kata-kata seperti itu memang tidak seharusnya diucapkan.
Aku telah bersalah.
Kelak tidak akan terulang lagi.
Coba lihat gayamu yang seperti akan mengulah lagi.
Lalu... aku harus bagaimana?
Aku telah melakukan kesalahan fatal. Kau mau aku bersujud?
Pada saat benar-benar emosi orang terkadang suka mengucapkan kata-kata yang tidak sepantasnya diucapkan.
Masa kau tidak pernah berbuat salah?
Setidaknya aku tidak akan berbuat kesalahan seperti itu.
Ada yang boleh dikatakan, dan ada yang tidak boleh.
Di saat seperti itu bagaimana bisa kau...
Sebelah sana bunyi-bunyi terus soalnya.
Kalau begitu kau padamkan dulu 'api' mu habis itu baru hubungi aku boleh?
Kebetulan airnya sudah mendidih, boleh aku sekalian masak ramyeon?
Kau kenapa?
Perutku terlalu lapar, tidak kuat menampung kemarahanmu.
Ramyeonnya aku makan sendirian?
Kau tidak berencana makan sesuap?
Aku...
Mau langsung pulang saja?
Aku sudah minta maaf.
Aku tahu harus membuat emosimu reda.
Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya sehingga aku seperti ini.
Kita cuma perlu berdialog dengan tulus untuk menghilangkan kesalahpahaman ini.
Kenapa harus membuatku marah terus?
Aku bukan mau membuatmu marah.
Karena aku tahu aku telah bersalah.
Jika pembicaraan diteruskan lagi masalahnya akan kembali membesar.
Aku takut berbuat kesalahan dan mengucapkan kata-kata yang tidak sepatutnya.
Kenapa kau masuk ke bawah selimut?
Aku takut kau terlalu marah dan melemparku ke luar pintu rumah.
Mati pun aku tidak akan keluar.
Selagi aku masih bicara baik-baik sebaiknya kau segera keluar.
Satu...
Dua...
Kalau kau nangis, kau tidak boleh makan ramyeon.
Masakkan aku ramyeon.
Lain kali masih mau begitu lagi?
Lihat aku!
Yoon Jin Ah!
Hmm?
Seumur hidupmu kau harus tetap berada di sisiku.
Kau masih harus mempertimbangkannya?
Aku bisa kesal nih!
Pertama-tama...
Pertama-tama?
Kau harus melakukannya seperti yang kubilang.
Kau sudah datang?
Tidurmu nyenyak?
Iya.
Barang-barangnya sudah beres?
Iya, sudah beres.
Baik.
Kau tidak perlu masuk lagi.
Jangan cemberut saja.
- Aku ke kamar mandi sebentar. - Iya.
- Ya. - =Sudah janji lho!=
Jangan pasang muka cemberut.
Sudah janji mau mengantar dengan baik-baik.
=Iya.=
Kalau begitu terus, aku pulang langsung nih!
=Kubilang aku sudah tahu.=
Nuna sedang mengawasimu jadi lakukan yang terbaik.
Kau sama sekali tidak mirip denganku.
Aku sama sekali tidak pintar dalam hal menilai perempuan.
No comments yet. Be the first to leave one.