처음 200줄입니다.
REVENANT
KARAKTER, TEMPAT, ORGANISASI, DAN KEJADIAN DALAM DRAMA INI HANYALAH FIKSI
ADEGAN MELIBATKAN AKTOR CILIK DIREKAM DALAM SITUASI AMAN
ADEGAN HEWAN DIREKAYASA
DAN DIREKAM SESUAI PANDUAN KESEJAHTERAAN HEWAN
Kau sudah besar.
Kau masih kecil saat itu.
Apa kau ingat...
hari itu?
- Letakkan itu. - Ibu?
Ibu bilang letakkan itu!
Ada apa?
Ibu, kita mau ke mana?
Ibu membuatku takut.
Aku ingin pulang.
Aku tidak suka ini.
Tidak, Haesang.
Tidak.
Menurutmu siapa yang membunuh ibumu?
Aku?
Atau...
kau?
Aksesori rambut biji pir itu...
diberikan kepada para gadis kecil yang rambutnya baru mulai tumbuh.
Itu bukan aksesori biasa.
Itu jimat yang membawa
harapan keselamatan dan kesehatan...
untuk gadis tersebut.
Siapa pemilik...
aksesori rambut ini?
Entah itu kau atau orang lain,
tapi aku akan menemukannya.
Dengan begitu, aku bisa tahu namamu.
Dua puluh satu.
Dua puluh satu.
Seratus tujuh puluh enam.
Nona Sanyeong.
Dua puluh satu.
Seratus tujuh puluh enam.
Kenapa...
aku di sini?
Kenapa aku di sini?
Kita ke sini bersama?
Ambil ini.
Tidak terjadi apa pun, ambillah ini.
"Dua puluh satu. Seratus tujuh puluh enam."
Kau ingat mengatakan angka-angka itu?
Apa itu?
Aku tidak tahu.
Angka-angka itu muncul begitu saja di benakku.
Seolah-olah seseorang di dalam diriku...
yang mengatakannya.
"Dua puluh satu. Seratus tujuh puluh enam."
EPISODE 4
"Dua puluh satu. Seratus tujuh puluh enam."
Apa maksud angka-angka itu?
Pasti ada kaitannya dengan roh jahat.
Aku akan menyelidikinya. Kau pulang dan beristirahatlah.
Apa aku sungguh...
tak melakukan apa pun di sana?
Ya.
Kegelisahan ini menggerogotiku.
Aku tidak ingat bagaimana aku meninggalkan toko akuarium.
Aku bersumpah...
tadi aku sedang di rumah, tapi saat sadar, sudah di jembatan.
Aku terus melihat dan mendengar hal-hal aneh.
Entah apa lagi yang mungkin kulakukan.
Aku takut.
Kau akan baik-baik saja di siang hari.
Hantu menghindari cahaya.
Tapi kau harus waspada dengan air, bahkan di siang hari.
Air penuh dengan energi negatif.
Kau harus berhati-hati, terutama saat hujan.
Tunggu di sini.
Apa ini?
Kudengar kau butuh uang.
Tidak, terima kasih. Tidak perlu.
Roh jahat mengincar kelemahan terbesar korban mereka.
Ia akan terus melakukan itu, jadi, ambil saja.
YANG TERBAIK, GARAM BANK GARAM
Terima kasih sudah mengantarku.
Sampai jumpa.
Tunggu!
Ambil kembali!
Sudah kubilang ambil ini!
Anggap saja sebagai pinjaman.
Jumlahnya terlalu banyak.
Uangnya terlalu banyak.
Rumah kami tidak sebesar rumahmu.
Lima juta sudah cukup. Lima puluh juta itu terlalu banyak.
Aku sudah mengambil lima juta.
Kukembalikan 45 jutanya.
Aku pasti akan mengembalikannya.
Aku juga akan membayar penuh dengan bunga.
Terima kasih. Akan kumanfaatkan dengan baik.
Apa? Profesor itu memberimu uang?
Kenapa?
Dia tak asal memberikan uang itu, aku meminjam darinya.
Aku akan segera membayarnya.
Hei, Ibu tidak menyukainya.
Ibu tidak mau kau menemuinya lagi.
Karena dia mempelajari folklor?
Ibu.
Kenapa Ibu sangat membenci Ayah?
Tidak tetaplah tidak.
Sebaiknya kau dengarkan Ibu.
Ada apa denganmu? Kau membuang kesukaanmu.
Benar.
Roh jahat mengincar kelemahan terbesar korban mereka.
Jika ingin bertarung dengan baik,
aku harus menghilangkan semua kelemahanku.
"Dua puluh satu. Seratus tujuh puluh enam."
Kau akan memeriksa angka itu?
Chae Su, seorang pejabat sipil, menulis Kisah Seol Gongchan
selama pemerintahan Jungjong dari Joseon.
Dia bilang hantu itu kidal.
Kisahnya fiksi, tapi itu menggambarkan pemikiran orang-orang dahulu.
Wanita itu mengambil aksesori dengan tangan kanannya.
Artinya dia waras saat itu.
Tapi roh jahat yang memberitahunya angka-angka itu.
Roh jahat itu bisa saja sengaja membocorkan angkanya.
Aku tahu,
tapi ia memulai perkelahian lebih dahulu.
Aku tidak bisa mundur sekarang.
- Halo. - Halo.
Apa kata pemilik toko akuarium?
Pikirannya masih kacau.
Bahkan dokter bilang dia butuh istirahat.
Kau menyerahkan kasus rentenir ke Kantor Polisi Gwangcheon,
padahal kita yang mengerjakan semuanya.
Kenapa kau masih melihat rekaman itu?
Mereka bedebah yang mengincar mahasiswa miskin.
Memeras dan mengancam pasti keahlian mereka.
Dia mungkin memalsukan semuanya karena merasa bisa mengancam Gu Sanyeong.
Hei, bisa perbesar wajahnya?
Berhenti.
Lihat. Dia tersenyum.
Kau melihatnya di rekaman.
Pria itu yang berulah, Gu Sanyeong hanya menonton.
Hanya itu.
UNIT INVESTIGASI JATANRAS 4 TIM 3
Kau mau ke mana?
Aku terus terpikirkan tentang memar di pergelangan tangannya.
Aku harus menyelidiki ini.
Pak, kita sudah sepakat aku akan memilih kasus berikutnya.
Kasus ini belum berakhir, Berandal.
- Kalian pergilah dahulu. - Baiklah.
Mereka pasti berlarian dengan penuh semangat.
Kau tidak malu?
Tidak.
- Sanyeong. Itu Sanyeong. - Kau belum pulang?
- Kau masih bekerja? - Sampai jumpa di sekolah.
- Sampai jumpa besok. - Dah.
STIK COKELAT KACANG
Ke sebelah kananmu.
- Apa? - Kau akan menabrak.
Terima kasih.
Apa?
Salju turun.
Apa yang terjadi kepadamu?
- Pak, halo. - Hei.
Hei, kau bilang kematian ibu Profesor Gu
akan dianggap sebagai bunuh diri?
Ya, Pak. Masih banyak pertanyaan tentang kasus ini,
tapi tidak ada bukti.
Buku catatan yang terbakar bagaimana? Kau sudah memulihkan sesuatu?
Ya.
Mereka hanya bisa menyelamatkan ini.
Tapi itu tidak berkaitan dengan kasusnya.
"Gadis Muda Hilang selama Dua Pekan."
Hei, boleh kubawa ini?
Kau punya aslinya, bukan?
Ya.
HWAWONJAE
Orang yang paling tahu tentang roh jahat.
Ayah.
Aku yakin dia tahu
arti 21 dan 176.
HANTU YANG DIJELASKAN DALAM FOLKLOR OLEH GU GANGMO
PENULIS GU GANGMO
"Tanggal 16 Januari kalender bulan, hari ke-16 setelah tahun baru."
"Didirikan kuil di Biro Ritus Negara,
yang mengawasi upacara peringatan selama Era Joseon."
"Enam roh disegel ke arah timur dan sembilan disegel ke arah barat.
"Hantu remaja adalah hantu anak-anak
yang mati karena cacar atau kelaparan."
Kau tampak sangat terkejut.
Ya.
Kurasa kau juga mencari tahu arti di balik angka-angka itu.
Aku pasti datang ke tempat yang tepat
jika melihatmu di sini.
Buku ini diterbitkan pada tahun 1998 dan ini buku satu-satunya.
Aku tidak tahu kenapa.
Dia terus menulis tesis,
tapi tidak pernah menerbitkan buku lagi setelah ini.
Aku tahu setiap detail di buku ini.
Tapi baik buku ini
maupun buku folklor lainnya,
tidak ada yang menyebutkan dua angka itu,
angka 21 dan 176.
No comments yet. Be the first to leave one.