처음 200줄입니다.
CRASH COURSE IN ROMANCE
Jae-woo! Tiarap!
Apa itu?
JUMLAH RASA BENCI MENJADI SUKA
EPISODE 3
Ini sama saja dengan percobaan pembunuhan.
Untung saja meleset, bayangkan jika ada yang terluka.
Ini masalah serius.
Siapa pun orang gila itu,
kita tak pernah tahu kapan dia akan melakukannya lagi.
Sebagai penjaga masyarakat, kau harus menangkap…
Pelindung.
Sebagai pelindung masyarakat.
Sama saja. Omong-omong…
Jadi, kalian berdua hanya sebatas pemilik toko dan pelanggan?
Benar.
Bagaimana, ya?
Sebenarnya bukan hanya itu.
Secara teknis, hubungan kami
juga sebagai pelaku dan korban.
Pria tua itu mencuri dan membawa kabur ponsel adikku…
"Tua", katamu? Aku tak mencurinya, dasar wanita tua.
"Wanita tua"?
Dasar pria tua.
Pak, tampaknya ada sedikit kesalahpahaman.
Aku sudah menawarkan ganti rugi,
tapi dia menolaknya.
Padahal aku memberikan ponsel model terbaru.
Kau belum sadar juga.
Jika bersalah, seharusnya minta maaf dengan tulus.
Jika kau memberiku ponsel terbaru, haruskah aku berterima kasih?
- Kau anggap aku apa? - Aku akan minta maaf dengan tulus.
Maaf, aku sudah membuat kesalahan besar. Puas?
Lihat. Gaya bicaranya menyebalkan.
Dia berbakat membuat kesal orang.
Terima kasih atas pujiannya.
Cukup.
Jika ingin berdebat, silakan lakukan di luar.
Apa ada orang di sekitarmu yang patut dicurigai?
Orang yang kira-kira tak menyukaimu atau punya dendam.
Tak ada.
Aku sudah 14 tahun berbisnis di sini.
Kami berusaha sebaik mungkin
untuk bersikap ramah dan bisa memuaskan pelanggan.
Entahlah. Aku melihatmu bertengkar dengannya sejak tadi.
Pak.
Bisa bicara empat mata sebentar saja?
Tak akan lama.
Cepat kembali.
Tak boleh ke dalam?
Jangan ke situ.
- Jangan? - Jangan.
Maka, di sini saja.
Bisa saja…
aku targetnya.
Apa?
Apa maksudmu?
Benar. Itu aku.
Siapa…
Entah bagaimana harus menjelaskannya.
Sebenarnya, aku adalah selebritas
yang diperhatikan banyak mata.
Saat di luar, orang-orang akan memotretku,
lalu diunggah ke media sosial.
Mereka akan membicarakan yang kulakukan dan yang tak kulakukan.
Suatu kali…
Aku menguap seperti ini.
Mereka memotretku, memperbesarnya, dan mengunggahnya. Katanya aku mengiler.
Namun, itu tak benar.
Itu hanya kopi yang tertinggal di bibirku.
Ini risiko ketenaran.
Penderitaan yang tak bisa dihindari ketika menjadi terkenal.
Siapa sebenarnya kau?
Tampaknya, tak ada kenalanmu yang belajar untuk masuk universitas.
Aku Choi Chi-yeol.
Sang guru bintang.
Choi Chi… Siapa?
Pak Choi!
- Pak Choi. - Pak Ji.
Kau bisa tenang sekarang.
Tak akan apa-apa.
Semua akan baik-baik saja.
Tak apa-apa.
Menyebalkan.
Kau tak apa-apa?
Tarik napas yang dalam.
Ada obat penenang di toserba?
Kau selama ini membeli makanan di Banchan Terbaik Bangsa?
Kenapa tak bilang? Aku bisa membelikannya.
Aku bisa kehilangan muka
setelah melarangmu ke sana.
Aku juga ingin memilih langsung lauknya.
Orang yang melempar bola logam itu…
Mungkinkah penguntit?
Aneh dia tiba-tiba tak terlihat.
Atau Chiyeolpayah? Pasti bukan.
Pembenci daring itu pengecut.
Mereka hanya bisa bergunjing.
Atau Direktur Cha dari Akademi Perfect M?
Dia sering melakukan trik licik.
Entahlah.
Istirahat dahulu. Wajahmu masih pucat.
Benarkah?
Tadi aku sangat ketakutan.
Tanpa sadar aku langsung tiarap.
Bola logam itu menghancurkan kaca jendela berkeping-keping.
Melihat kecepatan dan percepatannya,
setidaknya jarak penembaknya sepuluh meter.
Melihat sudutnya, sepertinya tak ditembakkan dari atas.
Jika ditembakkan dari mobil yang bergerak,
lintasannya mungkin tertangkap kamera pengawas di sekitar situ.
Dengan menganalisis rekamannya, aku mungkin bisa tahu asal tembakannya.
Aku akan memeriksanya besok.
Sungguh tak terduga. Bagai petir di siang bolong.
Jika tahu akan begini,
aku tak membersihkan kaca pekan lalu.
Polisi bilang apa?
Penyelidikannya takkan mudah.
Terlebih, tak ada kamera pengawas di sekitar sini.
Masa bodoh.
Semuanya kacau jika aku bersama si harimau itu.
Ponsel, kaca, uangku habis.
Maksudmu, Choi Chi-yeol?
Aku bicara soal si harimau, kenapa membicarakan Choi Chi -yeol?
Diamlah. Aku sedang sensitif hari ini.
Baik.
Tapi yang kulihat di halte bus adalah Choi…
Cukup!
Kau pergilah jalan-jalan!
Lalu, makan wafelmu. Dasar menyebalkan.
- Tapi si harimau itu Choi Chi-yeol. - Kau…
- Sudah selesai, Bu. - Terima kasih.
Berapa totalnya? Kau terima kartu kredit?
Tentu.
Totalnya 1.028.000 won termasuk biaya konstruksi.
Bayar 1.020.000 won saja.
Apa? 1.020.000 won?
Kuatkan dirimu, Bu Nam.
Tampaknya, ini bulannya kau kehilangan uang.
Uangku habis dan aku sangat stres.
Jika tahu ini akan terjadi, seharusnya kuterima saja ponsel itu kemarin.
Benar.
Sebenarnya aku agak malu saat kau menceramahinya
tentang meminta maaf.
Apa dia akan kembali membawa ponselnya?
Kalau kau jadi dia?
Apalagi setelah niat baikmu diabaikan.
Niat baik, apanya? Itu karena dia bersalah!
Terkadang aku tak tahu kau berpihak pada siapa.
Kau berpihak pada pria, 'kan?
Aku tak bisa mengelak.
Aku suka pria.
Bukankah kau harus pergi?
Pergi ke mana? Aku harus bekerja.
Kau bilang akan mengantre di akademi untuk menandai kursi Hae-e.
Benar. Aku lupa.
Aku pergi.
Titip toko, ya.
Larilah, Haeng-seon.
Ayo!
Permisi. Kenapa di lingkungan ini kamera pengawasnya sedikit?
Itu yang ingin kutanyakan padanya.
Tapi dia sudah pergi.
Tak apa-apa.
Mungkin dia sedang sibuk.
Astaga, dingin!
Dasar kau…
Salahku.
Itu Pak Choi Chi-yeol!
- Itu dia! - Pak Choi!
Di mana?
Aku melewatkannya lagi.
Padahal aku ingin melihatnya langsung.
Yeong-ju, aku titip toko, ya.
Maaf.
Astaga.
Aku nomor 30.
Mari fokus pada kondisi bahwa perbedaan umumnya adalah bilangan bulat.
"Saat syarat urutan di bawah terpenuhi, temukan suku ke-20.
Jadi, sub satu dan sub dua…"
UJIAN AKHIR SEMESTER 1, HARI KE-4 SASTRA, MATEMATIKA
Menu spesial hari ini ditambah sup, silakan bayar 14.500 won.
Silakan masukkan kartunya.
Kata "silakan" tak menjadikanmu sopan.
Kau ingin sopan kepada siapa?
Kepadaku?
Atau kepada kartuku?
Terima kasih makanannya.
Bagaimana ujianmu?
Aku mengerjakannya dengan baik.
Sedikit kesulitan di bahasa Inggris, tapi aku akan dapat peringkat pertama.
Kalau begitu, tak perlu khawatir.
Kerja bagus.
Kau sudah berjuang.
Senangnya jika bisa libur sehari.
Kau pasti lelah harus langsung ke akademi.
Tapi mau bagaimana? Ayo bekerja keras sedikit lagi.
Meski bagimu ujian masuk universitas
hanya sesaat dalam hidupmu,
tapi nilai akademik terekam selamanya.
No comments yet. Be the first to leave one.