처음 188줄입니다.
[Diadaptasi dari novel karangan Yidu Junhua "Cinta Berbuah di Tengah Bintang"]
[makhluk hidup di Empat Alam terlahir dari Energi Murni dan Kotor.]
[Namun, ada kekuatan kekacauan yang berniat memusnahkan dunia.]
[Syukurlah, Suku Dewa dari Alam Langit tidak takut akan kematian]
[dan menyegel kekuatan kekacauan di Tanah Keruntuhan.]
[Tanpa disangka, Pohon Suci Ungu tumbuh di nadi tanah Bukit Timur,]
[berakar hingga ke laut dan menjadikan kekuatan ini sebagai tanah.]
[Ia melahirkan sekuntum bunga kembar yang bisa menyerap air dan lumpur,]
[Demi melindungi keselamatan para makhluk, Empat Alam hanya bisa bekerja sama]
[untuk meratakan Bukit Timur dan membasmi bunga kembar.]
[Siapa yang menduga, tubuh spiritual bunga kembar tidak musnah.]
[akhirnya ia mendatangi Dunia Manusia melalui perut Permaisuri Suku Manusia.]
Permaisuri!
Permaisuri, lebih kuat!
- Lebih kuat, Permaisuri! - Permaisuri!
Permaisuri, lebih kuat!
Permaisuri.
Permaisuri, lebih kuat!
Aku sungguh iri pada para pelayan Tuan Putri Qingkui.
Tidak seperti kita yang harus menjaga Yetan si Pembawa Sial itu.
Bukankah Tuan Putri Qingkui dan Tuan Putri Yetan
sama-sama keturunan keluarga kekaisaran?
Kau baru masuk istana, ada yang tidak kau ketahui.
Kedua Tuan Putri ini sama statusnya, tapi berbeda nasib.
Tuan Putri Qingkui adalah putri sulung Kaisar,
dilahirkan dengan tanda keberuntungan.
Sejak kecil sudah diangkat sebagai Selir Langit oleh Suku Dewa.
Dia menawan dan bermartabat, selalu menjadi panutan wanita di dunia.
Kalau Tuan Putri ke-2 Yetan berbeda.
Dia adalah Istri Putra Mahkota Suku Chenyuan.
Katanya, saat dia lahir, muncul pertanda buruk dari Langit.
Mendiang Permaisuri juga meninggal karena kesulitan melahirkannya.
Ibu asuh yang dekat dengannya pun meninggal dengan cara aneh.
Karena itu, Kaisar baru mengisolasinya di Aula Zhaolu.
Aku sudah tidak ingat,
selama 18 tahun ini, sudah berapa kali aku dikucilkan, difitnah, serta ditindas
secara terbuka dan diam-diam.
Semua orang berpikir,
sudah seharusnya aku tetap diam dan menerima penderitaan,
serta menerima takdir langit.
Namun, aku tidak mau.
Aku ingin membuat mereka melihat, bahwa aku Yetan,
tidak akan pernah tunduk pada dunia yang tidak manusiawi ini.
Manusia dan Dewa punya etika.
Qingkui, kau tidak boleh kehilangan etika sehari pun.
Yetan.
Kau yang hari ini sedikit lebih nakal dibanding yang kemarin.
Kaisar memberikan titah,
Tuan Putri Yetan tidak boleh keluar tanpa perintah.
Aku sudah dikurung selama 18 tahun, apakah masih belum puas?
Lusa adalah hari pernikahanku dan kakakku.
Sebelum pergi, aku harus melampiaskan amarahku.
Lusa adalah hari pernikahanku dan adikku.
Aku sudah menemani Ayahanda selama 18 tahun.
Pergi mendadak seperti ini benar-benar membuatku tidak tenang.
Temani aku pergi ke kamar tidur Ayahanda.
Sebelum pergi, aku ingin pergi menemaninya lagi.
- Tuan Putri. - Tuan Putri.
Qingkui datang untuk memberi salam kepada Ayahanda.
Mohon laporkan kedatanganku.
Lapor, Tuan Putri Qingkui, saat ini Kaisar tidak ada di aula.
Lalu, ada di mana?
Orang Suku Chenyuan sangat keras kepala, sering berkelahi, kasar dan kejam,
menghalalkan berbagai cara agar bisa bertahan hidup.
Buku sebagus ini benar-benar sangat bermanfaat.
Dasar anak durhaka dan pembangkang,
berani-beraninya kau mengikat ayahandamu sendiri.
Cepat lepaskan aku...
Apakah kau masih pantas menjadi ayahandaku?
Kau lihat, apakah di dunia ini ada ayah yang memperlakukan putrinya seperti ini?
Sejak aku dilahirkan, kau sudah mau membunuhku.
Selama 18 tahun ini, yang aku terima hanyalah pengurungan dan makian.
Pernahkah kau memberikanku kehangatan sedikit saja?
Secara hukum, kita memang ayah dan anak.
Namun, kita berdua justru lebih mirip musuh yang sudah bertikai selama 18 tahun.
Aku tahu, kau pasti ingin membahas pertanda baik dan buruk itu lagi.
Namun, Langit yang menentukan takdir,
mana bisa diatur olehku yang saat itu masih bayi.
Palingan, ini karena aku saja yang kurang beruntung.
Kau sangat menyayangi Qingkui, tapi selalu memakiku makhluk jahat,
menyalahkanku tidak sebanding dengan Kakak,
tahukah kau bagaimana perasaanku?
Lusa aku akan menikah ke Alam Chenyuan.
Di keluarga lain, sebelum seorang putri menikah
seharusnya ayah dan putrinya akan saling tidak rela berpisah.
Namun, aku malah memperhitungkan semua ketidakadilanmu di sini.
Ini sungguh konyol!
Karena kau tidak menyukaiku, mengapa kau harus melahirkanku?
Jawablah!
Mengapa kau harus melahirkanku?
Tuan Muda menyuruhku menemanimu karena takut kau ditindas,
bukan untuk menemanimu bersandiwara di sini.
Selain itu, kainmu ini sudah berbau busuk.
Kau membuat mulutku berbau.
Berubah lagi, sandiwara belum selesai.
Tidak mau!
Jika kau sungguh tidak senang,
langsung temui dan hadapi ayahandamu saja.
Apa gunanya melakukan permainan palsu ini setiap hari?
Menyebalkan!
Aku beri tahu padamu, aku tidak akan mau
mengungkapkan isi hatiku pada orang berhati batu itu.
Kau harus berubah lagi.
Kau!
Lihat saja.
Pertunjukan akhir yang kunantikan akan segera ditampilkan.
Kui'er.
Ayahanda.
Kita berdua benar-benar sehati.
Ayahanda baru saja ingin pergi menemuimu.
Tidak disangka, kau justru mendahului Ayahanda.
Jika ada urusan, Ayahanda cukup memanggilku saja.
Untuk apa Ayahanda repot-repot datang secara langsung?
Tidak apa-apa.
Lusa putriku akan menikah ke tempat jauh.
Ayahanda juga ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan Kui'er.
Aku juga memikirkan masalah pernikahan,
makanya aku menyulamkan beberapa baju untuk Ayahanda.
Ke depannya kita akan tinggal di dua tempat yang berbeda.
Bila Ayahanda memakai baju sulamanku, mungkin bisa meredakan rasa rindu.
Kui'er, kau sudah berniat.
Kui'er juga menyulam sapu tangan untuk Ayahanda.
Ini untuk Tan'er.
Tan'er juga akan menikah ke tempat jauh.
Aku juga sedang berencana pergi mengunjunginya.
Jika Ayahanda ada waktu luang,
bagaimana jika pergi ke Aula Zhaolu denganku?
Jika Tan'er bertemu Ayahanda, dia pasti akan bahagia.
Aku dan makhluk jahat itu selalu berpisah dengan perasaan tidak senang.
Kali ini berbeda.
Lusa Suku Dewa dan Suku Chenyuan akan datang untuk menjemput pengantin.
Kalian ayah dan anak.
Aku tidak percaya,
apakah Ayahanda tidak mau mengucapkan perpisahan dengan Tan'er?
Cepat bersujud dan meminta maaf padaku.
Dengan ketidakadilanmu selama 18 tahun,
aku menyuruhmu bersujud beberapa kali saja sudah terlalu mudah untukmu.
Aku tidak mau.
Mau bersujud tidak? Tidak mau bersujud, 'kan?
Aku akan memukulmu sampai kau mau bersujud.
Ayahanda!
Suruh temanmu yang dari Alam Binatang itu jangan bersembunyi lagi.
Aku sudah melihat semuanya!
Menghina ayahanda serta melawan Kaisar.
Kau benar-benar tidak pernah mengecewakanku seperti biasanya.
Ayahanda, jangan marah lagi.
Semua ucapan Tan'er ini bukan berasal dari hati.
- Sebaiknya gunakan kesempatan ini... - Semua itu ucapan dari hatiku.
Kau berkata aku menghina ayahanda serta melawan Kaisar.
Lalu, kau mengurung putri kandungmu selama 18 tahun,
kau termasuk ayah baik macam apa?
- Kau! - Ayahanda!
Jangan halangi dia, biarkan dia memukulku.
Kui'er!
- Kakak. - Makhluk jahat!
Jika rasa sakitmu dan kakakmu tidak terhubung, aku pasti sudah...
Sehingga bencana hari ini juga tidak akan terjadi.
Setelah kau tiba di Alam Chenyuan,
kau bebas melanggar hukum dan berbuat jahat.
Kau juga bebas membunuh makhluk hidup.
Namun, kau masih bukan Istri Putra Mahkota, aku berhak mengatur dan menghukummu!
Pengawal!
Tahan makhluk jahat ini di penjara!
- Baik! - Baik!
Ayahanda.
Jangan menyentuhku!
Aku tahu jalannya.
Ayahanda.
- Ayahanda. - Kui'er.
Jangan memedulikannya lagi.
Katanya hari ini Putra Mahkota Xuanshang selesai berkultivasi tertutup.
Lusa dia akan menjemputmu ke Langit.
Jika kita membiarkan Yetan terus berbuat jahat di istana,
tidak masalah jika hanya membuat malu,
tapi akan gawat jika sampai merusak pertemanan manusia dan dewa.
Jangan memedulikannya lagi.
Asalkan kau bisa selalu menemani di sisi Putra Mahkota ,
Ayahanda dan Suku Manusia akan bisa tenang.
Baik.
Memperbaiki Tanah Keruntuhan sangat membahayakan nyawa.
Kaisar Langit, Youqin dan Qingheng masih sangat kecil.
Sebagai Permaisuri Langit,
seharusnya kau mengutamakan kepentingan publik.
Bisa-bisanya kau mengutamakan perasaan.
Jika pangeran tidak berkultivasi tertutup sejak kecil,
ketika terjadi masalah di Tanah Keruntuhan,
bagaimana pula mereka bisa mengambil tanggung jawab besar?
Adik masih kecil,
No comments yet. Be the first to leave one.