Snow White with the Red Hair

Snow White with the Red Hair (赤髪の白雪姫)

Indonesian 자막 다운로드

릴리스 정보

01 Pertemuan Mengubah Warna Takdir
다음의 해설 Inisial ZA
https://www.facebook.com/ZainuddinAri

태그

other
게시일: 2016-01-16
다운로드: 20
청각 장애인용: No

Indonesian 자막 미리보기

처음 186줄입니다.

Ketemu!

Ini Spellamiso, tanaman perenial yang termasuk famili Ao-Shidare.

Kalau akarnya dikukus dan dikeringkan,

bisa dipakai untuk turunkan nyeri demam.

Celaka, sudah waktunya buka toko!

Ini

adalah jalan hidupku.

Kisah hidupku.

Kalau bisa memilih,

aku mau teruskan jalan hidupku tetap seperti ini.

ZainuddinAri mempersembahkan

Cerita

Pertemuan ... Mengubah Warna Takdir

Cermin, wahai cermin. Siapa gadis yang paling cantik di daerah ini?

Pangeran Raj.

Ada apa, Sakaki?

Itu bukan cermin.

Dia itu intelijen dari kota.

Ehem!

Dia kerjanya hanya cerita apa yang dilihatnya di kota, mirip cermin!

Baiklah, tolong jangan terlalu banyak bercanda.

Kau juga, jangan diam saja! Ceritakan semua kabar terbaru!

Ba-Baik!

Pangeran bertanya soal gadis paling cantik di kerajaan Tanbarun ini, 'kan?

Bagaimana kalau gadis yang itu saja?

Gadis itu?

Benar. Dia gadis yang lahir dengan rambut warna merah cerah, seperti warna apel.

Namanya Shirayuki.

Terima kasih, Mbak!

Jangan lupa minum obatnya, ya!

Sampai jumpa lagi, Nak Shirayuki.

Cepat sembuh ya, Kek Yoshi!

Maaf menunggu!

Berikutnya obat untuk Nek Kino, ya?

Oh, tak apa.

Dari tadi aku sudah puas pandangi rambutmu yang indah itu, kok.

Terima kasih!

Tapi, mumpung sudah ke sini, sekalian dibuatkan obat saja, ya?

Aku punya tanaman obat yang bagus, jadi bawa sekalian, ya!

Kau memang ahlinya kalau soal tanaman obat!

Andai mendiang kakek dan nenekmu bisa lihat kau yang sekarang ini.

Anu, Nek Kino?

Aku baru ingat!

Tungku di rumah kutinggal menyala tadi!

Eh?

Gawat, gawat.

Nanti kuantarkan ke rumahnya saja, deh.

Ada yang ketinggalan-

Jadi selirnya Pangeran Raj?

Benar, dengan kata lain, jadi istri mudanya.

Mustahil.

Mana mungkin beliau mau dengan gadis desa yang warna rambutnya aneh sepertiku.

Aku hanya akan permalukan pangeran.

Justru itu yang buat Pangeran Raj tertarik denganmu.

Pokoknya, kau harus datang menghadap ke istana besok.

Persiapkan dirimu secantik mungkin dari sekarang.

Nek Kino butuh obat pereda nyeri punggung dan pencegah radang di sekitar trakea.

Di keluarganya bu Yuri, ayah dan anak bayinya sedang kena flu.

Nah, sisanya...

Semuanya beres, deh.

Sebenarnya ini bukan salahmu.

Selamat tinggal, Tanbarun.

Permisi!

Permisi!

Apa ada orang di rumah?

Tak enak juga kalau aku masuk tanpa izin.

Langitnya sudah mulai gelap.

Aku juga mulai kelaparan.

Mitsuhide, Kiki! Aku duluan, ya!

Ho-Hoi, mau lewat situ lagi?

Aduh.

Kau tak apa-apa, Zen?

Kau terluka? Kepalamu terbentur?

Berapa satu tambah satu?

Dua.

Lo, kau ini siapa, ya?

Ini aku, Mitsuhide!

Oh, jadi itu nama aslimu?

Kiki! Kau juga ikut-ikut, nih?

Lalu,

kau ini sebenarnya siapa?

Sedang apa kau di tengah hutan begini?

Ah, tidak, aku hanya cari jalan kabur yang tak banyak dilewati orang, lalu...

Warna rambutmu aneh juga.

Ya, orang-orang juga sering komentar begitu.

Tangan kananmu cedera!

Lalu kenapa?

Aku ini tabib. Kalau mau, ada salep untuk lukamu-

Tak perlu.

Eh?

Bisa jadi itu racun atau semacamnya.

Kalau tiba-tiba diberi begini, orang mana yang tak curiga?

Aku bukanlah orang bodoh,

jadi takkan semudah itu percaya pada orang lain.

Intinya, lukaku ini bukan urusanmu.

Oh.

Kalau sudah paham, cepat pergi dari sini.

Ya, dia ada benarnya juga, sih.

Kelihatannya di mana pun pasti ada saja orang sombong begini.

Ha? Mau apa?

A-Apa-apaan...

Aku tak hobi jalan-jalan sambil bawa racun.

Wah, kena kau, Zen.

Maaf soal yang tadi. Namaku Zen.

Aku Shirayuki.

Salam kenal, Shirayuki.

Memang, tadi aku jadi salah mendarat juga gara-gara ada kau.

Ha?

Rumah ini kosong, jadi kami sering main ke sini.

Lalu, orang yang kalah main catur di sana itu namanya Mitsuhide,

dan yang menang itu Kiki.

Zen, kenapa kau yakin kalau aku pasti kalah tanpa lihat papannya?

Firasatku saja.

Kau memang kalah.

Nah, sudah selesai.

Wah, teknikmu bagus juga, Shirayuki.

Sudah biasa.

Tadi sudah kubilang, aku ini tabib, 'kan?

Ya, ya.

Lalu, kenapa tabib sepertimu harus kabur dari rumah?

Alasannya tak penting, kok.

Aku mau cari angin dulu.

Eh, mau apa ikuti aku begini?

Tak pantas rasanya kalau gadis yang terluka, dibiarkan jalan sendirian di tengah hutan.

Dasar orang aneh.

Aku sudah terbiasa keliling hutan dan gunung waktu masih belajar jadi tabib.

Di sini waktu dan udaranya terasa berbeda dibanding di kota, dan rasanya sangat nyaman.

Ya, aku juga setuju.

Barusan itu jujur dari dalam hati, ya?

Aduh!

Duh.

Oh, rambutmu tersangkut.

Rambutmu ada yang lebih panjang sendiri, nih.

Eh?

Oh, berarti ada yang terlewat.

Maaf, Zen. Bisa bantu potongkan sisanya?

Ha?

Tak harus rapi, kok.

Oh, tak bisa.

Aku tak berani potong rambut wanita!

Apa rambutmu itu dipotong karena ada hubungannya dengan alasanmu kabur dari rumah?

Kalau kau cerita alasannya, pasti akan kubantu.

Dasar pelit.

Kau diminta jadi istri muda?

Pelakunya itu orang kaya yang belajar dewasa

di wilayah prostitusi dan makanan sehari-harinya koin perak.

Dia pikir rambut merah itu langka, lalu mau dijadikan hak miliknya sendiri.

Kalau tawarannya kuterima, rasanya aku jadi seperti apel yang dibeli di pasar buah.

Shirayuki-

Makanya,

aku mau buat dia muak pelan-pelan,

dan kuberi potongan rambutku.

Keputusan yang luar biasa!

Eh?

Baguslah, kau bisa kabur dari bajingan itu.

Rambut merahmu itu sangat berharga, 'kan?

Rambut merah yang berharga?

Ya.

Merah itu bisa dibilang warna takdir, 'kan?

Mungkin sekarang kau kesal dengan rambutmu,

tapi bisa saja kau bertemu hal bagus gara-gara rambut itu!

Ca-Cara berpikirmu luar biasa, ya!

Wah? Jadi kagum, ya?

Kelihatannya gadis itu memang tak mencurigakan.

Bukan hanya itu, Zen juga kelihatan tertarik padanya.

Apa ini?

Itu pita yang kupakai untuk ikat potongan rambutku!

Eh?

Jadi, kau kabur dari Tanbarun, ya?

Orang ini sampai jauh-jauh lewati area perbatasan hanya demi dirimu, tahu!

Kelihatannya orang ini benar-benar keras kepala.

Ya, 'kan?

Jangan malah tertawa!

Memangnya ini serius sekali, sampai kau harus seberangi perbatasan?

Masalahnya, orang yang mengejarku itu...

Dia putra sulung kerajaan Tanbarun.

Si Raj?

Pangeran bodoh itu, ya?

Kau tak apa-apa?

Hebat, dia bahkan terkenal bodohnya sampai ke kerajaan seberang.

Dia biang masalahnya, ya?

Dia pasti selidiki catatan orang- orang yang seberangi perbatasan.

Bahkan bisa sampai sejauh itu, ya?

Kalau sudah suka pada sesuatu, pasti langsung dianggap jadi hak miliknya.

Sekalipun harus rampas kebebasan? Apa itu wajar?

Rasanya mulai menyakitkan.

More Indonesian subtitles for Snow White with the Red Hair

댓글

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left