처음 200줄입니다.
Masalahnya kau tak punya alasan kuat untuk bercerai.
Kalau anda punya alasan lain, katakanlah. / Misalnya?
Misalnya suamimu pemabuk, suka memukul atau tidak menafkahimu.
Tidak, dia bukan suami seperti itu, sebaliknya dia pria yang baik dan santun.
Kalau begitu kenapa kau ingin bercerai?
Karena dia tidak mau ikut denganku.
Kalau dia bilang mau ikut, aku akan menarik gugatan ceraiku sekarang.
Kau mau? / Tidak, aku tak mau.
Pak Hakim, tanyakan kenapa dia tak mau. / Kau sudah tahu alasannya.
Aku belum tahu, jelaskan sekali lagi.
Suruh dia memberiku alasan padaku kenapa sekarang saatnya harus ke luar negeri.
Berikan satu alasan bagus kenapa kita harus tinggal. / Aku akan memberikanmu seribu alasan.
Satu saja. / Salah satunya Ayahku. Aku tak bisa meninggalkannya. Kau mau alasan lainnya?
Tapi kau bisa meninggalkan istrimu?
Kapan aku meninggalkanmu? Kau yang membawaku ke sini.
Kau yang menggugat cerai dan menghancurkan hidupku.
Saat kau menyuruh istri dan anakmu untuk pergi, bukankah itu meninggalkan?
Pak Hakim, bukankah itu yang dia katakan?
Ya, dan akan kukatakan sekali lagi. Kalau kau tak mau tinggal denganku,
aku takkan memaksamu. Pergilah. Tenanglah. Pelankan suaramu.
Dulu kau bilang ingin hidup bersamaku, sekarang kau tak mau.
Kapan kau memilih sebaiknya pergi ke luar negeri... / Apa maksudmu "memilih'?
Kita berdua yang merencanakan ini.
Pak Hakim, setelah semua usaha dan biaya yang dikeluarkan selama 18 bulan...
...akhirnya kami memperoleh visa...
Visa ini sudah 6 bulan berlalu, dan akan berakhir dalam 40 hari...
Kenapa kami harus kehilangan kesempatan ini?
Kau tak mau kehilangan kesempatan, baiklah, berikan satu alasan.
Kau tahu keadaan kita sekarang, tapi kau tetap saja membawaku ke sini
Berikan satu alasan.
Dia mengunakan ayahnya yang menderita Alzheimer sebagai alasannya.
Aku tidak menggunakannya sebagai alasan, kau yang menyuruhku memberi satu alasan.
Ayahnya penderita Alzheimer. Dia bahkan tak kenal anaknya sendiri.
Kenapa kau bilang begitu? Kenapa itu jadi masalah?
Apa dia tahu kau anaknya?
Tapi aku tahu dia ayahku.
Apa masa depan putrimu tak penting bagimu?
Siapa bilang ini tentang putri kita? Kau kira hanya kau yang peduli padanya?
Semua anak yang tinggal di negeri ini, menurutmu tak ada yang memiliki masa depan?
Aku ingin anakku tidak dibesarkan di situasi seperti ini. Sebagai ibunya, aku berhak.
Situasi seperti apa? Situasi yang mana, Bu?
Bukankah sebaiknya besar di sini dengan kedua orangtuanya, daripada di sana tanpa ayahnya?
Itulah kenapa aku ingin dia ikut dengan kami.
Aku tidak bisa pergi. Sudah berapa kali aku katakan. Apa harus kuulangi lagi?
Jadi dia tak mau ikut, bagaimana dengan nasibku?
Tak ada. Kembalilah ke kehidupanmu.
Jika kami bisa melakukannya, aku takkan menggugat cerai.
Bu, dia juga harus menyetujui gugatan ini. Gugatan ini harus disetujui kedua belah pihak.
Tadi, dia bilang setuju. / Pak, Anda bersedia cerai?
Jika dia lebih memilih luar negeri daripada keluarganya aku tak keberatan, dia boleh pergi.
Oke, dia setuju. Bagaimana dengan putriku?
Semuanya harus ada ijin. Berapa usia putri Anda?
Dua minggu lagi dia akan berusia 11 tahun.
Dia tak boleh pergi tanpa ijin ayahnya.
Ayahnya tak akan mengijinkannya.
Itu masalah kalian berdua.
Tolong, Pak, kesini dan paraf ini.
Pak Hakim, saya ke sini berharap anda dapat menyelesaikan masalahku.
Anda juga, silahkan ke sini. Paraf ini.
Dimana? / Di sini.
Dia boleh mengambil semuanya. Berikan putriku padaku.
Aku terikat dengan anakku, dia bahkan tak mau ikut denganmu.
Dia tak mengerti. / Kenapa kau bilang dia tak mengerti?
Dia sudah 11 tahun. Kenapa dia tak mengerti?
Silahkan paraf di sini, dan jangan membuang-buang waktu pengadilan.
Hanya kau saja yang mengerti. / Tidak, kaulah yang paling mengerti segalanya...
Jangan buang-buang waktu pengadilan.
Pak Hakim, apa yang harus kulakukan? Aku hanya punya waktu 40 hari lagi.
Bu, masalah kecil tidak perlu ke pengadilan. / Apa maksudmu masalahku kecil?
Masalah kecil?
...masalahku tidak kecil...
Masalahnya adalah putriku. / Bu, itu anaknya juga. Dia juga berhak.
...Saya seorang hakim, dan saya bilang masalahmu kecil...
...tolong paraf di sini, dan silahkan keluar.
THE SEPARATION OF NADAR AND SIMIN
Bu, anda bilang lantai dua. / Ini memang lantai dua, Pak.
Jadi, yang paling bawah lantai berapa?
Itu basement, itu lantai satu, dan ini tentu saja lantai dua.
Kami dibayar hanya untuk dua lantai.
Kalian akan kubayar. / Tapi hanya untuk dua lantai.
Aku tak paham maksudmu, Pak.
Ini tak benar, dari bawah ke sini semuanya ada tiga lantai.
Aku akan bayar kelebihannya. Sekarang, minggirlah aku mau lewat.
Permisi, Nona?
Bilang pada ayahmu, mereka telat.
Kenapa tak Ibu katakan sendiri?
Apa aku salah bicara? / Apa janji kita?
Tapi aku sedang belajar.
Ayah.
Hai. / Hai.
Aku akan segera ke sana.
Bu, aku tak tahu apa kau sudah diberitahu tahu apa tugasmu, tapi,
aku ingin kau merawat ayahku.
Membereskan rumah juga termasuk,
tapi yang penting kau harus memberikan obatnya tepat waktu.
...jangan gunakan kompor, jangan buka pintu ini, jadi dia tak bisa keluar. Jendela harus tertutup.
Aku berangkat kerja pukul 07:30. Kau harus ada disini sebelum aku berangkat kerja.
Pukul 07:30 terlalu pagi.
Jika harus tiba tepat waktu, aku harus berangkat dari rumah pukul 05:00 / 05:30.
Naiklah!
Pukul 08:00 bisa?
Tak masalah jika kau tiba pukul 08:00.
Bunyikan bel, tetangga kami akan membukakan pintu depan,
aku meletakkan kunci di sini. Kau bisa menggapainya, kan? / Ya.
Maaf, berapa bayaran per bulannya?
Sebentar...
300.000 per bulan, Bu. / Tapi, itu terlalu kecil.
Tidak, biasanya segitu. Tanyalah tetangga di sini.
Rumahku jauh, aku harus berganti beberapa bus untuk ke sini.
Dengar, hanya ini yang aku mampu. Kau yang memutuskan menerimanya atau tidak.
Berikan mereka buku-buku ini.
Kembaliannya tak ada, Bu.
Beritahu aku besok, karena aku punya calon lain.
Jadi, jika kau tidak bisa, aku tak akan kehilangan penggantimu.
Termeh! Pakaianmu!
Kau nggak ikut?
Kenapa Ibu bawa buku-bukunya? / Aku membutuhkannya.
Semua ini hanya untuk dua minggu?
Terima kasih. / Sama-sama.
Biasanya, ibumu menggunakan yang mana? / Apa aku harus bertanya padanya?
Kau ingin mempermalukan Ayah, sebelum ibumu pergi?
Simin, kau mau kemana? / Aku akan segera kembali.
Kau pergi kemana? / Keluar. Ada yang harus kukerjakan, aku akan kembali.
Aku akan kembali, Ayah.
Aku ada janji.
Aku bilang buat ke angka 4. / Kenapa ke-4?
Bisanya memang begitu.
Ibu biasanya membuat ke angka itu karena warnanya luntur.
Oke, kalau begitu kita buat ke-4 peduli amat...
Mulai hari ini kita atur semua yang ada di rumah ini ke angka 4.
Apa Ibu benar-benar pergi?
Dia akan kembali. / Termeh!
Ya? / Datanglah ke kamar kakekmu.
Kakek.
Ayah?
Ayah?
Termeh, sayang, pergilah ke kamarmu.
Ayah, berdirilah, lepaskan tangannya.
Lepaskan tangannya. Berdirilah, aku mau membawamu ke toilet.
Ayo, berdirilah, ayah.
Kemana kau bawa aku?
Ke toilet, lalu aku mau pergi membeli koranmu.
Sayang, ayah bilang pergi ke kamarmu. Cepat, pergilah.
Kemana kau bawa aku? / Ayolah.
Jangan letakkan tanganmu di situ.
Aku bawa CD Shajarian ini.
Bawalah semua yang kau butuhkan. / Tidak, hanya ini.
Selamat tinggal.
Saya kira anda tinggal di sana juga
Tidak, aku pindah ke rumah ibuku untuk sementara.
Ini akan sedikit sulit.
Dengarlah, aku percaya pada suamiku sepenuhnya untuk hal ini.
Jangan khawatir, dia orangnya baik,
lagipula, dia bahkan takkan ada di rumah.
Pagi hari, saat kau tiba di sana, dia sudah berangkat kerja,
dan begitu juga sore hari, saat dia tiba kau sudah pulang,
dan anakmu juga ikut denganmu,
dengan begitu anakku tak sendirian, mereka akan bermain bersama
Berikan jawaban melalui adik iparmu.
Kau mau kemana?
Ini apa?
Oksigen.
Apa itu oksigen?
Menyingkirlah, kau akan membangunkannya.
Aku tak mendengar apapun.
Apa yang dilakukan alat ini?
Hai.
Kau mau kemana?
Aku mau membeli koran. / Apa?
Beli koran.
Sudah ada koran di kamarmu. Kemarilah.
Sini, kuantar ke kamarmu.
Aku akan mengantarmu ke kamar, lalu aku akan memberimu makan.
Ibu...
Dia pipis di celana.
Duduklah di ranjang.
Apa ini?
Kau mau kemana? Masuklah.
Masuklah, tutup pintunya dan pakai sepatumu, lantainya basah.
Biasanya dia bilang kalau mau buang air.
Dengar, bawa dia ke kamar mandi..
Aku tak bisa datang sekarang. Aku mengajar sampai pukul 12:00.
Teleponlah suamiku. Kau sudah meneleponnya? Kau punya nomornya?
Kalau begitu catatlah.
Ada pena dekat telepon.
Kalau aku berikan celana, Anda bisa ganti sendiri, kan?
Pakaianmu. Kalau aku beri pakaian, anda bisa ganti sendiri, kan?
Simin? / Kau bisa membersihkan dirimu sendiri?
Bisa, kan? / Simin?
Aku akan letakkan pakaianmu disini.
Bersihkan dirimu, lalu kenakan pakaian ini.
Aku letakkan handukmu di sini.
Mengerti? / Ya.
Bersihkan dirimu supaya kau merasa nyaman.
Letakkan celanamu di keranjang itu.
Bisa, kan?
Celanamu! Lepaskanlah.
Lepaskan celanamu, dan pakai yang kuberikan padamu.
Celananya, oke?
Simin...
No comments yet. Be the first to leave one.