처음 200줄입니다.
EPISODE 7
HOSTAL BONITA
Pukul berapa sekarang?
Itu kau, Se-ju? Kau kembali?
Hei.
Se-ju belum kembali?
Belum.
Nenek kira dia kembali.
Sedang apa kau? Kau seharusnya tidur.
Aku kemari karena kabur dari dengkuran Nenek.
Jangan melebih-lebihkan.
Dengkuran Nenek tak parah.
Ayo kembali tidur.
Nenek sering mendengkur kencang.
Nenek mendengkur parah.
Astaga, kau melebih-lebihkan lagi.
Mau dengar? Aku merekamnya.
Merekam apa?
PEREKAM SUARA
- Ini Nenek? - Ini kemarin.
PEREKAM SUARA
Ini dari pekan lalu.
Bukankah ini gila?
Kencang sekali, 'kan?
Kau tak ada pekerjaan lain?
Nenekmu mendengkur sedikit karena lelah.
Kenapa kau merekamnya?
Omong-omong, kenapa dia belum kembali?
Sudah berapa hari berlalu?
Kau sudah tidur?
Belum.
Se-ju belum menelepon, 'kan?
Dia mengucapkan selamat ulang tahun?
Tidak.
Apa yang dikerjakannya? Kenapa dia tak bisa mengirim pesan?
Dia tak boleh lupa ulang tahun kakaknya.
Bocah tak bersyukur, padahal kau yang membesarkannya.
Aku mengirim surel kemarin dan dia membacanya.
Dia membacanya?
Ya, aku yakin dia tak apa-apa. Jangan cemas.
Dan dia tak membalas?
Saat kau bilang kita harus pindah?
Astaga, anak manja itu.
Aku kirim surel lagi besok.
Kenapa orang itu, Yoo Jin-woo, bisa pergi kapan pun dia mau?
Dia datang dan pergi kapan pun dia mau.
Kenapa dia bisa pergi begitu saja? Dasar pria dingin.
Apa semua orang kaya begitu?
Kuharap kakinya segera sembuh.
SATU SUREL BELUM DIBACA
MASTER HEE-JU, INI AKU
SETAHUN KEMUDIAN
- Kau mencari toilet? - Ya.
Di sebelah sana.
LEVEL 1, MENYERANG 30, BERTAHAN 50, TANPA SENJATA
PEDANG BESI BERKARAT SERANGAN 50, DAYA TAHAN 50
Keren.
KAU BERTEMU TESTER1
Di mana...
Di mana kau dapat ini? Pedangnya.
Di kamar mandi.
LEVEL 1, MENYERANG 80, BERTAHAN 100, PEDANG BESI BERKARAT
PEMBUNUH DARI JOSEON SERANGAN 100, PERTAHANAN 100
LEVEL 1, MENYERANG 80, BERTAHAN 100
LEVEL 15
LEVEL 1
Semua kota akan seperti Granada.
Pedang pertama didapat di kamar mandi.
Duel pertama akan dimulai di tempat bersejarah, alun-alun.
Untuk Seoul, di Plaza Gwanghwamun.
- Dia pakai topi bambu. - Pembunuh dari Joseon pasti memakainya.
Aku tak suka ini.
Ini tak sebagus prajurit di Granada.
Apa tak sebaiknya kita tunjukkan mata pembunuh agar lebih mengerikan?
Kita bisa hilangkan topi bambunya. Haruskah dihapus?
LEVEL 1, MENYERANG 80, BERTAHAN 100, PEDANG BESI BERKARAT
Ya, itu lebih baik.
Bisa hilangkan satu mata?
Jadi, dia bermata satu? Bisa. Ubahlah.
Apa lagi? Bekas luka?
Apa itu?
- Baik, lebih bagus. - Mau lihat versi Jepang?
Putar.
MEMUAT
Apa yang terjadi?
Itu versi untuk Tokyo.
Untuk Beijing...
SERANGAN KRITIS -100
NYAWA
KAU DIBUNUH PRAJURIT DINASTI KHAN
KAU DIBUNUH PRAJURIT DINASTI KHAN
Versi Tiongkok tampak paling kuat. Bukankah seharusnya sama?
Kami menguji berbagai versi. Kau akan lihat.
Pak Park.
Begini cara kerja rekanan korporasi.
Silakan, totalnya 7.000 won.
Saat roti lapis tertentu
- dipesan, - Pembayaran diproses.
pengguna akan mendapat koin emas setara dengan 10 persen harganya.
LEVEL 1, MENYERANG 30, BERTAHAN 50
Saat mereka makan, nyawa mereka akan meningkat sementara.
NYAWA +100 SELAMA 1 JAM
NYAWA +100 SELAMA 1 JAM
PEMULIHAN 100
Jadi, kita bisa naikkan penjualan. Itu hasil diskusi saat ini.
Lima lokasi waralaba telah mengonfirmasi partisipasi mereka.
Lokasi ini dan...
Pak Park, kau harus pergi sekarang.
- Ke mana? - Gereja.
Gereja?
Kenapa harus ke sana?
Hari ini peringatan kematian Pak Cha.
Benar. Pukul berapa dimulai?
Pukul 14.00, sebentar lagi.
Sial.
- Lanjutkan nanti. - Baik.
Sudah setahun sejak Pak Cha meninggal?
- Waktu cepat berlalu. - Jadi...
kita belum dapat masalah.
Kita bisa lanjutkan, 'kan?
Akan siap untuk dipamerkan?
- Tak ada yang perlu dicemaskan? - Sejauh ini baik.
Baiklah.
Mana pidatoku?
- Ini, Pak. - Baik.
"Pak Cha Hyeong-seok, merupakan keluarga dan teman kita semua...
Pertama, terima kasih karena sudah bersedia hadir.
Terima kasih..."
Tuhan, mohon ampuni kami.
- Tuhan, mohon ampuni kami. - Tuhan, mohon ampuni kami.
Tuhan Yesus, mohon ampuni kami.
- Tuhan Yesus, mohon ampuni kami. - Tuhan Yesus, mohon ampuni kami.
Tuhan, mohon ampuni kami.
- Tuhan, mohon ampuni kami. - Tuhan, mohon ampuni kami.
Mari berdoa.
Tuhan.
Kaulah harapan dan cahaya bagi kami.
Kau datang.
- Mohon ampuni kami. - Maaf aku terlambat.
Izinkan kami menawarkan
persembahan pujian dan doa.
Atas nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
- Amin. - Amin.
Michael Cha merupakan keluarga, teman, dan kolega kita.
Setahun berlalu sejak Pak Cha Hyeong-seon meninggalkan kita.
Pertama, terima kasih karena mengingatnya dan bersedia hadir.
Aku ingat saat pertama bertemu dengannya.
Sekitar 17 tahun lalu di kelas kampus kami.
Saat istirahat antara kelas bisnis,
junior jurusan teknik masuk ke kelas.
Dia minta investasi pada teknologi yang dikembangkan
dan memberi presentasi.
Dia bilang akan beri satu miliar won 10 tahun lagi
jika kami investasi 100.000 won.
Karena terbujuk keberanian mahasiswa teknik ini,
aku memberikan 100.000 won, yang merupakan dana daruratku.
Dari semua orang di kelas, mungkin aku satu-satunya
yang berinvestasi pada Hyeong-seok.
Dan Hyeong-seok menepati janji.
Butuh tepat sepuluh tahun
untuk menjadikan 100.000 won itu satu miliar won.
Dia punya visi akan masa depan...
Astaga, kukira dia di Amerika.
Kenapa dia kemari?
- Siapa yang mengundangnya? - Entahlah.
Hei!
Jin-woo...
Tolong lanjutkan.
Tentu.
Aku minta maaf.
Sampai di mana tadi?
Benar.
Dia punya visi akan masa depan dan bersedia mengambil risiko.
Dia pemuda yang sangat berani.
Dia tak pernah bersantai.
Selama 17 tahun mengenalnya,
dia terus berusaha mengejar tujuan tanpa henti.
Percaya bahwa masa depan negara ini bergantung pada sains dan teknologi,
dia bekerja dengan tanggung jawab tulus.
Semangat tak terhentikannya
mungkin menjadi alasan
dia wafat di usia yang sangat muda.
Aku ingin menceritakan kisah lain
dari saat kami mengembangkan bisnis bersama.
Kurasa sekitar tahun 2007, jika tak salah ingat.
Perusahaan hampir bangkrut...
Aku tak pernah menyangka kau akan datang.
Karena aku tak bisa menghadiri pemakamannya tahun lalu,
kurasa setidaknya aku harus kemari.
Bagaimana keadaanmu? Kau sehat?
Kau mencemaskanku?
Lalu? Bagaimana keadaanmu belakangan ini?
Aku baik-baik saja.
Kudengar kau banyak minum-minum.
Tak perlu cemas.
Kau masih minum obat?
Seharusnya berhenti.
Kau harus berusaha.
Aku mencobanya.
Bumi dan surga penuh keagungan.
No comments yet. Be the first to leave one.