처음 157줄입니다.
Seperti halnya awan gelap yang menghasilkan hujan.
dan memebersihan dirinya sendiri.
Seperti halnya air di sungai membersihkan dirinya sendiri.
dengan menyingkirkan kotoran yang ada disungai.
maka dengan cara yang sama, kewajiban bagi seorang raja
menghukum dirinya sendiri, untuk memurnikan dirinya.
Bagaimana bisa aku meninggalkan tanggung jawabku?
Dengan bertobat.
Itu lebih besar dari keadilan dan hukum, Pandu.
Pertobatan sejati adalah sebuah cara dibanding cara lainnya
dalam hidupmu dalam menghapus sebuah kesalahan.
Aku mengerti
tapi aku khawatir memikirkan nasib HAstinapura.
Apakan tahta ini akan kosong lagi?
Bahkan sambil memikul tanggung jawab kerajaan
Kau bisa menjalani hidup sebagai seorang pertapa.
Tidak, paman.
KAlo seseorang membangun rumahnya dengan pondasi yang tidak kuat,
maka rumah itu pasti akan hancur.
Kalo aku menjalani tugas hidup ku ini
cepat atau lambat aku akan lupa dengan pertobatanku.
dan terjebak dalam kesenangan duniawi.
Akan Bagaimana perasaan mu nanti, paman?
Dimana setelah 25 tahun
Kau memberi Hastinapura kepada seorang raja
yang tidak mampu melakukan kewajibannya?
Aku adalah saksi dari kemampuanmu.
Aku tahu tidak ada orang lain yang mampu selain dirimu.
Di saat-saat terakhir,Rsi Kindam mengajukan sebuah pertanyaan tentang...
Raja macam apa aku ini.
apa aku tidak bisa membedakan antara perwujudan rusa dengan manusia?
pertanyaan itulah yang selalu menghantuiku, paman.
Kita telah melarang kakak naik tahta...
karena keadaannya saat ini.
Tapi, sebagai seorang raja
kebaikan apa yang telah aku lakukan?
Aku mohon di hadapanmu, paman.
ijinkanlah aku hidup di hutan saja.
Biarlah aku penuhi hukumanku.
Atas kesalahan yang tlah kulakukan.
Semoga Tuhan melindungimu.
Mejalani hukuman atas kesalahan,
itu hal yang penting bagi manusia, yang mulia.
Saat Jiwa terbakar di Neraka
rasa Sakitnya tidak tertahankan.
Karena itu...
untuk menghapus dosa, dalam hidupnya....
itu tindakan yang baik. - Berhenti ngoceh, Sangkuni!
Aku tidak mengoceh, Yang mulia..
Aku tidak mengoceh.
Jika aku berada di posisi Prabu Pandu
aku juga akan melakukan hal yang sama.
Aku akan melakukan pertobatan,
dan menghabiskan sisa hidupku menjalani hukumanku....
Dan aku pasti mengizinkan kamu melakukannya.
Tapi aku tidak bisa mengizinkan Pandu tinggal di dalam hutan
Dia adalah adikku.
Aku membayangkan kehidupan sulit yang akan dia lalui.
Itu membuatku gugup.
Sulit! Sulit!
Kau adalah orang yang baik, Yang Mulia.
untuk itulah, adiku dianugrahi
seorang pria sepertimu...
Dia sangat beruntung.
Ibarat air yang jatuh,
di atas permukaan daun teratai
Air itu tidak akan bisa bertahan.
Begitu pula..
Dosa..,
Kejahatan,
Godaan,
keserakahan,
Tak dapat kau buang dari hatimu.
Kenapa kau mengganti topik pembicaraan kita, Sangkuni?
apa hubungannya ini dengan hatimu?
Bagiku inilah yang terpenting, Yang Mulia.
Seorang saudara
yang telah menipumu,
menurunkan tahtamu..
Seseorang saudara
yang telah mempermalukanmu
Dihadapan anggota istana
Namun, justru pada orang yg sama
kau curahkan rasa sayangmu.
Tidakkah kau
Khawatir akan masa depan anak-anakmu nantinya
Tapi kau, malah mengkhawatirkan keadaan adikmu
yang telah menipumu.
Kau anak tertua, yang mulia
Kau anak tertua...
Kak Shakuni!
Gandhari?!
Kata-kata yang terucap dari bibir,
harusnya mampu digunakan sebagai obat
sehingga dapat menyembuhkan rasa sakit dari hati seseorang.
Tetapi kau menggunakan kata-katamu untuk memicu rasa sakit
itu tidak benar.
Bagus, Gandhari.
Bagus...
Setelah menikah, seorang gadis berubah menjadi seorang istri
dan berani memberikan nasihat kepada kakaknya
Semua orang berkata begitu...
Tapi kali ini aku menyaksikan dan mendengarnya sendiri.
Aku tak sedang memberimu nasehat, kak.
Kumohon, Kak Syakuni.
Jangan kau coba untuk memecah belah keluarga kami.
Aku tidak bermaksud memecah belah, adik Gandari.
Bukan maksudku untuk demikian.
Biarlah Bhatara Yama Mencabut nyawaku, jika aku melakukannya.
Aku ingin menunjukkan padanya jalan yang benar.
Kau sendiri telah menutup matamu sekarang.
komitmentmu terhadap perkawinanmu itu sangat luar biasa...Gandhari
Tapi,
untuk memberi tahu suamimu bagaimana jalan hidupnya..
diperlukan orang yang bisa melihat...
Kak, Sangkuni ..!! - Dengarkan aku!
Biarlah suamimu yang memutuskan,
yang mana yang benar, yang mana yang salah?
Setelah Prabu Pandu pergi..
Tahta Hastinapura ini
akan menjadi hak anakmu sebagai rajanya.
Ini adalah harapan paling
besar yang dimiliki oleh anak-anakmu.
Jadi, bila waktunya tiba..
Apakah Prabu Pandu, demi anakmu ia harus rela
melepaskan kekuasaannya?
Akankah ia melakukan hal luar biasa seperti itu?
sudah pasti, Tidak! Tidak.
Andai memang ia memiliki jiwa besar dalam hatinya,
maka Yang ia lakukan adalah..
ia takkan rela menipu kakak kandungnya sendiri.
Saat takdir memainkan perannya,
dan Prabu Pandu, atas keinginannya sendiri
akan menyerahkan tahta Hastinapura
lalu siapakah kita, sebagai manusia
yang tak berdaya, yang mau merusak rencana dari penguasa takdir..
Aku hanya ingin mengatakan ini.
selanjutnya, harus dipikirkan olehmu, yang mulia...
Salam, Yang Mulia.
Yang mulia..
tolong katakan Pandu untuk mengurungkan niatnya pergi ke pengasingan.
Diamlah.
dan biarkan aku merenung, Gandari.
Hal apa yang membuat kami harus menerima..
kehidupan dalam pengasingan, yang mulia?
Kau membunuh rusa itu tidak disengaja, bukan?
Ini bukan hukuman dari dosa, Madri
Tapi, karena kelengahanku.
Kalo seorang raja, melakukan kejahatan yang tidak disengaja
keadilan dan kedamaian tidak akan mungkin ada di kerajaan itu.
Waktu kau memintaku untuk mengambil perut rusa itu...
Aku sadar akan dosa dan kejahatanku.
itu artinya aku yang salah dan aku menerima itu..
hukumlah aku untuk hal itu..
tapi, bagaimana harus kau tanggung beban ini dalam pengasingan panjang?
Tidak, Madri! Ini bukan salahmu.
Meminta sesuatu dari suami
No comments yet. Be the first to leave one.