200 baris pertama.
Di bawah rerimbunan pohon maple ini.
Hiduplah seekor hewan. Yang berjiwa sebuas hewan hutan.
Akulah Kesatria Gagah Berani.
Namun disayangkan.
Pembawaanku seperti ini.
Itu suaranya.
Lolongan dari para anjing liar.
Aku datang, teman-teman! Aku akan ikut bergabung.
Aku akan menuju ke hutan. Hanya tinggal memanjat ini.
Ups, aku lupa tembok ini tinggi.
Mereka memanggilku. Mereka butuh diriku untuk berburu.
Mereka sudah tahu soal kekuatanku yang hebat.
Di luar sana, aku bebas berkeliaran. Demi mangsa, aku akan membunuh, aku--
Ooh, apa itu?
Lihat anjing memakai pita itu.
Banyak balon.
Itu artinya akan ada masalah.
Waktunya naluri pertahananku yang mengambil alih.
Muffin? Kaukah itu, Muffin?
Ibu, kumohon! Sudah kubilang namaku Napoleon. Aku ini penakluk!
Semoga dia tak melihat pot bunga itu.
Astaga, mereka datang!
Ayo, Nak. Kau di mana, Muffin?
Muffin! Di mana Muffin-ku? Ayo, Muffin!
Muffin, Sayang--\ Aku tak apa.
Hei, ada permen.
Lihat mereka. Aku bisa berlari sepuluh kali lebih cepat dan...,
...mereka tahu itu.
Lihat mereka. Jika kuserang, maka mereka pasti akan berteriak-teriak.
Hei, aku dapat ide. Mari kita lempar bocah konyol ke air.
Maksudku bocah konyol! Bukan anjing!
Muffin yang pintar.\ Aku benci air.
Kau manis, Muffin kecil yang manis. Kau sangat menggemaskan, Muffin.
Hei, anak-anak, saatnya memotong kue ulang tahun!
Hei, tunggu aku!
Hei! Hei! Bagaimana denganku?
A... Aku tak bisa berenang.
Oh, tolong jangan sampai jatuh.
Muffin, apa kaki kecilmu kena basah?
Kaki kecil? Apa lagi yang kuharapkan?
Aku dikutuk berwajah manis.
Akan kuperlihatkan ke mereka.
Bagaimana jika sedikit air liur di topi baling-baling ini?
Jika baling-baling berputar, ada badai air liur.
Kau mau ke mana, Sayang?
Hanya ingin bersenang-senang, Bu.
Hei, lihat itu!
Ada hal yang baru untuk diselidiki oleh Napoleon.
Orang-orang bersorak sorai saat Napoleon masuk ke keranjang.
Dengarkan saat mereka berseru!
Muffin! Segera keluar dari sana! Cepat!
Tak ada Muffin di sini. Hanya ada Napoleon.
Ayolah, Ibu. Aku hanya bermain.
Loncat keluar sekarang! Kubilang loncat keluar, sekarang!
Lihat aku! Aku terbang! Terbang tinggi di langit, aku-- ooh.
Muffin, loncat turun dari sana sekarang juga!
Oh, dia sudah terlalu tinggi.
Ibu... Haruskah aku terjun?
Jangan! Jangan terjun!
Pepohonan akan menahanmu.
Tetaplah di dalam keranjang. Dan jangan berbuat hal bodoh.
Duduk yang diam. Kau akan baik saja.
Sungguh keren.
* Ada dunia baru di luar sana, datang mencariku. *
* Semua menunggu di depan, tak ada yang di belakangku. *
* Jika aku tak bermimpi, jika aku tak mencoba, *
* bagaimana kuakan tahu, sejauh mana aku terbang? *
* Mungkin akan ada puncak gunung, agar aku bisa meluncur turun. *
* Mungkin ada sungai deras dan luas, agar aku bisa mengarunginya. *
* Hanya dengan bermimpi, jika aku tak mencobanya, *
* bagaimana aku bisa tahu sejauh apa aku dapat terbang? *
* Aku terbang tinggi dan bebas, ada mentari menyinari diriku. *
* Mungkin ada kota-kota di balik atap-atap itu. *
* Samudera setelah lautan. *
* Aku akan terbang tinggi ke langit lainnya. *
* Tak ada yang pernah sejauh itu. *
* melewati bintang yang jauh, mungkin lebih jauh. *
Ayo kembali dan mengulangnya lagi.
Jangan! Kembali! Kembali ke kereta.
Angin bodoh. Kau bertiup ke arah yang salah.
Ini buruk. Ini sungguh pertanda buruk.
Aku menuju ke arah--
Air!
Sesuatu hal yang paling kubenci selain masuk ke air...
...adalah berada jauh tinggi di atasnya.
Hei! Tolong! Ada anak anjing di atas sini!
Apa menurut kalian, ini bukan hal yang aneh?
Ayo, Balon. Turun, turun, turunlah!
Jangan! Tetap, tetap di atas!
Aku tak menyukai semua air ini.
Membuatku mabuk laut dengan melihatnya.
Apa itu?
Tolong, tolong.
Berhenti! Hei, perlahan!
Takkan ada yang menemukanku di sini.
Kapan anjing mulai bermigrasi? Hei! Aku bicara denganmu.
Aku tak melihatmu.
Namaku Muffin. Maksudku, Napoleon.
Aku Birdo. Birdo Lucci.
Kau sedang apa? Sedang apa kau di sini?
Mencoba untuk turun. Kau harus menolongku.
Aku tak menyukai terbang. Lihat, kita mendekati daratan.
Mungkin aku bisa melompat.\ Kembali ke keranjang, bola bulu!
Kau tak boleh keluar. Kau harus duduk. Duduk! Duduk, Anjing Pintar.
Anjing nakal! Tidak! Anjing nakal!
Jangan coba keluar. Masih terlalu tinggi.
Astaga.
Jadi bagaimana caraku turun?\ Aku punya ide.
Lihat. Kau bisa berhenti bergerak? Berhenti bergerak!
Berhenti mematuk!\ Hewan berbulu sinting!
Aku sudah duduk diam.\ Aku punya ide.
Waktunya harus sangat tepat, begitu kita berada di atas pantai.
Apa yang akan kau lakukan?
Keranjangmu terbang menuju ke Tenggara dengan--
Ada apa? Kau ke mana?\ Aku tak apa.
Sekarang, untuk mendaratkan keranjang ini dengan sempurna--
Hanya cukup--
Aku tahu persis yang kulakukan.
Tenang.
Ini akan membuatmu--
Bagus, mendarat dengan mulus.
Kepakkan cakarmu, Napoleon! Kepakkan cakarmu!
Aku bicara apa? Loncat keluar! Kau akan tewas dalam--
Astaga! Apa yang kulakukan?
Astaga!
Itu pendaratan mulus?
Aku benci begitu yang kau maksud itu pendaratan buruk.
Buruk atau tidak, aku mendaratkanmu, 'kan?
Leherku. Itu lebih baik.
Sedikit memar, tapi aku tak apa.
Bahkan, aku sangat bersemangat dan bebas.
Dan aku tak ada perankah?
Kau mendengarku? Napoleon!
Ke mana bola bulu itu lari?
Lihat itu. Dunia yang kutinggalkan.
Selamat tinggal, Kota. Ini peluangku untuk bebas,...
...hidup bebas tanpa aturan,...
...berburu dan bermain, dan tidur selarut yang kuinginkan.
Sampai jumpa, Ibu.
Hei! Itu anjing-anjing liar!
Birdo, ikut aku. Kita akan mencari mereka bersama.
Kita ibarat dua petualang.
Aku akan menyalak jika mencium bau mereka.
Dan kau akan mencricit jika melihat mereka di atas.
Aku tak mencricit. Aku berkicau. Suara yang berbeda jauh.
Suara cricit itu menyebalkan dan tak enak didengar.
Tapi berkicau itu merdu dan menenangkan. Tweet, tweet--
Halo?\ Maaf, aku sangat bersemangat.
Bergabung dengan makhluk buas.
Kau terlihat sangat buas dengan pita merah itu.
Aku ingin menolongmu, tapi aku tinggal di hutan itu.
Ke sanalah tujuan kawananku.
Aku terpisah saat aku berhenti untuk menolongmu.
Sekarang bagaimana jika kita berdua pulang bersama?
Tidak! Aku tak mau pulang dan jadi hewan peliharaan.
Tidak, tidak... !
Anak anjing yang menyangkal takdirnya, itu sangat buruk.
Kau takkan bertahan semenit pun di alam liar.
Kau akan tewas sebelum malam tiba.
Besok burung pemangsa akan mematuk daging dari tulangmu.
Mematuk-matuk matamu!\ Kau cuma mau menakutiku.
Aku tak perlu menakutimu.
Ada banyak hewan lain yang akan melakukannya.
Jika menurutmu aku ingin tetap di sini dan melihat, kau gila!
Aku tak memercayaimu dan aku tak mau kembali sekarang.
Aku sudah memutuskan. Sekarang, di mana mereka?
Di mana aku akan berada jika menjadi anjing liar?
Suaranya berasal dari sana!
Andai di rumah, aku sudah harus tidur saat ini.
Tapi di sini, semua aturan tak berlaku.
Aku bisa terjaga semalaman jika aku mau.
Aku bisa pergi ke mana pun. Ini menyenangkan.
Siapa?
Siapa?
Ini aku.
Pulanglah ke rumahmu, Anak Anjing.
Aku tak melihat anak anjing di sini.
Hal buruk bisa terjadi pada hewan peliharaan di alam liar ini.
Ya, tentu saja. Apa misalnya?
Mereka belajar membunuh dan mereka tak bisa berhenti.
Kau hanya ingin menakutiku.
Aku pernah melihatnya. Itu terjadi pada seekor kucing.
Aku terjerat sarang kusut.
Kemari untuk mengagumi karya seni seindah ini?
Sebenarnya aku penasaran. Kau tahu tempat yang enak untuk tidur di sini?
Apa sarangku kurang indah? Aku tak memakai jarum rajut.
Hanya delapan kaki kecilku.\ Kurasa kau terlewat satu tempat.
Baiklah, di mana?\ Di sana. Di sana!
Jauhkan hidungmu dari situ! Kau tahu berapa lama aku harus--
Hei, hati-hati ekormu!\ Maaf!
Singkirkan ini dariku!
Lihat ulahmu. Untunglah kau bukan seekor lalat.
Akhirnya berhasil melepas sarang itu dari hidungku.
Aku tak pernah melihat pohon seperti itu.
Sepertinya ada ruang di batangnya.
Dan sepertinya itu tempat sempurna untuk bermalam.
Bahkan aku mencium bau makanan. Siapa tahu ada yang tinggal di sini.
Halo?
Apa itu tikus?
Di mana mereka menyimpan kudapannya?
No comments yet. Be the first to leave one.